Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
GARA-GARA SAMBAL CUMI


__ADS_3

Setelah berdiskusi, akhirnya ketua FMI memutuskan untuk mendirikan tenda di Pondok Salada. Tadinya mereka ingin sampai ke Tegal Alun, namun mereka mengurungkan niat karena Tegal Alun merupakan kawasan cagar alam.


Mereka mulai membagi tugas. Ada yang memasang tenda, sebagian ada yang menyiapkan api unggun dan para wanita mulai untuk memasak nasi. Di Pondok Salada sendiri sudah ada beberapa tenda yang sudah berdiri dari pendaki lain yang sudah lebih dulu datang. Sebenarnya, jika tidak ingin repot memasak, disekitar Pondok Salada. terdapat warung yang menjual makanan dan keperluan lain untuk pendaki. Selain warung, juga terdapat toilet, air bersih hingga penjaga hutan. Namun karena sebagian besar dari mereka adalah pendaki pemula, maka untuk membuat suasana bemar-benar seperti mendaki di gunung yang tidak ada warung ya, mereka memasak.


Tenda sudah selesai mereka pasang, sekarang tinggal menentukan dan membagi orang menjadi beberapa kelompok. Mereka semua ada tujuh belas orang terdiri dari enam orang wanita dan sebelas orang laki-laki. Sedangkan tenda yang mereka buat hanya tiga. Masing-masing tenda mampu menampung lima orang.


"Eh, cewek ada enam orang nih, jadi lebih satu," ucap Lidya setelah menghitung jumlah wanita yang ada dalam kelompoknya.


"Badannya kecil-kecil inih, bisalah dempet-dempetan. Biar makin anget," sahut Bimo sang ketua FMI.


"Enggak bisa gitu dong, lima orang juga menurutku udah terlalu banyak," ujar Lidya.


"Aku bawa tenda sendiri, walaupun kecil tapi muatlah untuk berdua," sahut Juna dengan menunjukan tenda yang ia bawa.


"Oklah sip Bro. Ntar lu bisa tidur bareng bini lu," ucap Bimo menepuk pundak Juna. "Ayo gue bantu pasang tendanya," ajaknya pada Juna.


Hari makin malam, mereka segera mengambil jatah makan malam masing-masing yang telah disiapkan oleh para gadis. Mereka sengaja hanya memasak nasi saja sehingga cepat selesai. Sedangkan untuk lauknya mereka dapat dari Raya. Ya Raya membagikan sambal cumi yang telah ia buat sebelumnya di rumah pada semua orang di sana. Saat mulai membagikan, Juna mengambil toples kecil yang berbeda dari yang lain. Namun, langsung direbut lagi oleh Raya. Raya memberikan toples yang sama pada Juna dengan yang ia bagikan untuk yang lain. Sedangkan toples cumi yang berbeda tadi ia berikan untuk sahabatnya yang tak lain adalah Dewa.


Jujur saat Juna melihat kenyataan itu ada rasa perih hinggap di hatinya. Ia pikir dengan kedekatannya dengan Raya selama ini sudah sedikit mengubah isi hati Raya. Menjadi orang yang spesial misalnya. Namun, kenyataannya ia masih sama menjadi orang asing bagi istrinya. Orang spesial bagi Raya menurut Juna adalah sahabatnya.


Meskipun kecewa, Juna tetap memakan makanan pemberian istrinya yang sudah dengan susah payah istrinya buat tentunya. Ia makan dalam diam, padahal sedari tadi adiknya berceloteh di sampingnya tetapi tidak ia hiraukan. Ia terus saja memandang ke arah istrinya yang sedang duduk bertiga dengan dua sahabatnya sambil makan sambal cumi dari toples yang berbeda tadi. Sampai akhirnya ia tersedak.


"Makanya kalau makan jangan sambil melamun Mas, keselek kan jadinya," ucap Jani sambil menepuk-nepuk punggung Juna lalu memberikan air pada sang kakak. "Untung aja keselek cumi, coba keselek piringya dikira debus kamu Mas."


Juna tidak menanggapi cibiran adiknya. Perasaan jengkel dicampur tersedak membuat wajahnya memerah. Raya menghampiri kedua kakak beradik itu setelah sebelumnya ia menyudahi makannya dan mencuci tangan.

__ADS_1


"Mas Juna enggak apa-apa?" tanyanya dengan khawatir. Orang yang ditanya hanya menoleh sekilas lalu pergi meninggalkannya begitu saja.


"Mas Juna kenapa Jan?"


"Enggak tau, lagi M kali," jawab Jani mengangkat kedua bahunya.


Raya kembali pada kedua sahabatnya. Saat semua orang duduk melingkari api unggun sambil bernyanyi ada juga yang membaca puisi cinta untuk sang kekasih, Raya kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang ia tunggu-tunggu kedatangannya. Sudah hampir satu jam ia tidak melihat suaminya kembali berkumpul.


"Di, gue cari Mas Juna dulu ya di tenda. Takutnya dia sakit perut kebanyakan makan sambal cumi," ucap Raya pada Diana.


Diana membalas dengan mengacungkan kedua jempol nya. Raya segera menuju tenda yang akan menjadi tempat tidur mereka nanti. Saat melongokkan kepalanya ke dalam tenda, ia tak melihat sosok suaminya berada di sana.


"Mas Juna enggak ada di sini. Terus ada dimana?"


Raya mengambil headlamp yang ada di dalam tasnya. Kemudian memakainya. Setelah memastikan headlamp terpasang sempurna, ia mulai mencari suaminya di sekitar tenda. Ada banyak sekali tenda para pendaki. Ia akhirnya menuju hutan mati yang tak jauh dari tempat para pendaki mendirikan tendanya. Dengan bekal cahaya dari headlamp ya ia pakai, akhirnya ia menemukan seseorang yang ia cari.


"Ternyata di sini. Raya cari dari tadi."


Hening tak ada jawaban dari orang yang Raya ajak bicara. Hanya terlihat gerakan dari bahunya yang menandakan orang tersebut masih bernapas.


"Tadi makannya enggak dihabisin. Emang pedas ya? padahal itu aku buat yang enggak terlalu pedas. Apalagi kalau Mas Juna makan dari toples yang pertama tadi."


"Maaf ya Mas, tadi Raya ambil lagi, toples yang sudah ada di tangan Mas Juna, soalnya itu sangat pedas. Aku takut Mas Juna akan sakit perut nantinya."


Niat awal memang Raya ingin mengerjai Juna dengan membuatkan sambal cumi yang sangat pedas untuk suaminya karena kesal saat melihat story kakaknya yang menunjukan lokasi yang sama dengan sang suami. Namun, tadi saat Juna mengambil toples yang berisi sambal cumi yang sangat pedas itu, Raya langsung merebutnya, karena takut Juna kepedesan, karena ia tahu bahwa suaminya tidak suka makanan yang terlalu pedas. Maka dari itu ia berikan sambal yang sangat pedas itu untuk Dewa, karena memang Dewa sangat suka pedas.

__ADS_1


"Kita ke sana yuk Mas." Raya menunjuk teman-temannya yang sedang duduk mengitari api unggun.


Tidak ada balasan apa pun dari Juna. Juna bergeming memandang ke depan. Padahal di depannya tidak dapat melihat pemandangan apapun karena sangat gelap.


"Mas Juna marah? atau kedinginan? mau aku hangatkan?" Raya mencoba menggoda Juna dengan menaik turunkan alisnya.


"Ternyata ada yang enggak mau diganggu yah. Ya udah, Raya ke sana dulu ya Mas. Inget jala pulang ke tenda kan?"


Selesai berkata seperti itu, Raya beranjak dari duduknya untuk menuju ke area api unggun bergabung bersama yang lain. Namun saat baru satu langkah ia berjalan, tangannya dicekal oleh Juna. Ia menoleh lalu tersenyum.


"Mas Juna mau ikut?"


Juna tak memberikan jawaban sepatah kata pun. Ia menarik tangan istrinya, hingga tubuh mereka berdekatan. Setelahnya Juna merengkuh tubuh mungil sang istri. Ia hirup wangi sampo dari rambut sang istri.


"Mas?"


Juna mengurai pelukannya. Ditangkupnya wajah Raya dengan kedua tangannya. Dielusnya dengan lembut pipi chuby istrinya menggunakan jempol tangannya. Beberapa detik kemudian entah siapa yang memulai, kedua insan yang berstatus suami istri tersebut sudah saling bertukar saliva. Dinginnya malam serta hembusan angin yang membuat rambut mereka menari dengan gemulainya tidak mereka hiraukan. Mereka terbuai dengan rasa manis yang bibir mereka berikan.


"Woy! kalau mau indehoy jangan di hutan. Turun sana, cari hotel!"


TBC


RayJun jorok ih, abis makan sambal cumi belum gosok gigi udah langsung 😘 enggak liat-liat sikon nih 🤭🤭🤭


Semoga suka dengan part ini, Jangan lupa dukung terus novel ini dengan cara kasih bintang 5, like, komen, vote serta beri hadiah yang banyak ya, jangan lupa untuk jadikan novel ini favorit kalian

__ADS_1


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏 🙏 sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😍 😍 😘 😘


__ADS_2