
"Itu anakku 'kan?" tanya seorang pria yang duduk di samping brankar tempat April berbaring.
"Berisik!" jawab April dengan ketus.
"Ck! Kamu bilang enggak pernah cinta sama Juna, tapi kenapa bikin skenario seperti ini?"
"Bisa diam? Aku jelaskan panjang lebar juga kamu enggak akan ngerti. Sama seperti Ayah dan Bunda yang enggak pernah ngertiin perasaan aku."
April membalikkan badan memunggungi si pria yang memandanginya dengan tatapan sendu. Pria itu meraih bubur yang Mira beli sebelum ia pulang terlebih dulu ke rumah.
Pria itu menyentuh pundak April. Mengusapnya dengan lembut seraya berkata,"Makanlah dulu. Aku enggak mau kamu makin sakit. Terlebih ada anakku di perut kamu."
"Jangan sok tahu!" ketus April.
Namun setelah mengatakan itu April pun menimbang ucapan pria yang sedang menungguinya itu. Perutnya memang terasa lapar. Sudah beberapa hari ini semua makanan yang masuk ke dalam perutnya selalu dikeluarkan lagi.
April mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Pria di sampingnya membantunya untuk duduk dengan menyesuaikan brankar agar nyaman bagi ibu hamil satu itu.
"Aku suapi," ucap pria itu lalu mulai menyendok bubur dan menyodorkannya pada April.
April membuka mulutnya dan mulai makan dengan lahap.
April melirik pada mangkuk bubur yang tinggal tersisa sedikit. Ia heran kenapa pagi ini makannya sangat nikmat? Ia tidak merasakan mual ataupun muntah. Tak terasa, ia sudah menghabiskan satu porsi bubur ditambah dengan satu gelas susu ibu hamil yang telah dibuatkan oleh pria di sampingnya.
"Thank's," ucap April sambil memberikan gelas kosong bekas susu yang telah ia minum.
Pria itu mengangguk. "Sama-sama."
"Kamu pulang saja. Mungkin sebentar lagi Juna sama Raya akan datang. Aku enggak mau mereka melihatmu berada di sini."
"Memangnya kenapa? Mereka tau siapa aku."
"Aku enggak mau kamu cemburu kalau aku bermanja dengan Juna nantinya."
Pria itu terkekeh. "Kalau tidak mau bikin aku cemburu, sudahi permainanmu. Ayo kita menikah."
"Mbak."
April dan pria itu sama-sama menoleh ke sumber suara. April terkejut ternyata Raya sudah ada di pintu.
Raya melangkah masuk lalu meletakan buah-buahan yang ia bawa di atas meja.
"Bagaimana keadaan Mbak April?" tanya Raya yang bergerak mendekati sang kakak yang sedang memandangnya dengan penuh khawatir.
"Sejak kapan kamu datang?" tanya April menghiraukan pertanyaan adiknya.
Ia terlalu takut Raya mendengarkan semua percakapannya dengan pria yang kini sedang sibuk dengan ponselnya.
Raya tersenyum lalu duduk di kursi di sebelah April.
"Baru saja Mbak. Bunda di mana?"
April merasa sedikit lega. Sepertinya Raya tidak mendengar perbincangannya tadi.
"Di rumah. Juna mana?"
"Mas Juna di kantor Mbak. Maaf Mas Juna belum bisa datang ke sini," ucap Raya sambil tersenyum getir.
__ADS_1
April mengibaskan tangannya. "Sudahlah, aku mau tidur," ucapnya lalu berbaring memunggungi Raya.
"Biarkan dia tidur," ucap pria itu saat menghampiri keduanya.
Raya mengangguk. "Bang Bima sudah lama di sini?"
Bima mengangguk lalu berjalan menuju sofa untuk duduk di sana. Raya pun mengikuti langkah Bima dan duduk di sebelahnya.
"Tadi saat menghubungi April untuk mengingatkan pemotretan hari ini, Bunda yang mengangkat telponnya. Dan Bunda bilang April sedang berada di rumah sakit."
Raya mengangguk mengerti.
"Bang," panggil Raya.
"Hem?" jawab Bima tanpa menoleh ke Raya. Dia sepertinya sedang sibuk re schedule pemotretan April.
"Apa Bang Bima tahu?" bisik Raya.
"Mengenai?"
"Kehamilan Mbak April," jawab Raya dengan terbata.
***
Juna tampak melihat beberapa foto yang Vero berikan padanya. Foto-foto tersebut diambil melalui rekaman CCTV yang ada di sebuah hotel tempat Juna terbangun dengan tanpa sehelai pakaian pun.
Di sana terlihat Juna dibawa oleh dua orang laki-laki masuk ke dalam kamar. Sedangkan April tampak sedang berbincang dengan seorang wanita di dalam restoran tempat Juna dan April melakukan makan siang.
Tak lama, April segera menyusul ke dalam kamar yang ada Juna di dalamnya.
"Hanya ini saja?" tanya Juna pada Vero.
Vero memberikan ponselnya yang menampilkan video kegiatan setelah April memasuki kamar tersebut.
Wajah Juna memerah, rahangnya mengeras, bahkan tangannya terkepal hingga buku-buju jarinya memutih karena terlalu kencangnya ia mengepalkan tangannya.
"Berengsek!" teriak Juna sambil melempar ponsel itu ke sofa di sampingnya setelah menyelesaikan menonton rekaman video yang berakhir April memberikan sesuatu pada seorang wanita yang berjaga di depan kamar hotel.
Vero langsung mengamati ponselnya khawatir ada yang retak atau bahkan hancur, mengingat tadi Juna melemparkannya sangat kencang.
Namun, akhirnya ia mendesah lega karena ponselnya aman terkendali.
"Sabar Bro. Apa yang bakal lo lakuin setelah melihat rekaman ini?"
"Lo sudah selidiki siapa wanita itu?" tanya Juna.
Vero mengangguk. "Dia merupakan dokter spy kandungan," ujar Vero.
Juna mengangguk. "Amankan video dan foto-foto itu. Gue akan segera membongkar kebusukan wanita itu di hadapan keluarganya," terang Juna.
Vero mengernyitkan dahinya. "Apa lo enggak berpikir dengan lo memperlihatkan video itu, artinya memang benar bayi yang ada di dalam kandungan April itu anak lo?"
Juna menggeleng. "Gue yakin itu bukan anak gue. Kalau memang benar anak gue, harusnya sekarang kehamilannya sudah jalan tiga bulan lebih, tapi kenapa perutnya masih datar? Paling enggak sedikit membuncit gitu kalau sudah memasuki empat bulan."
"Tenang Jun, jangan gegabah. Gue akan selidiki kenapa April tiba-tiba pulang ke Indonesia dan membatalkan kontraknya di Paris."
Juna menjentikkan jarinya, pertanda bahwa ia setuju dengan apa yang Vero ucapkan.
__ADS_1
"Enggak nyesel gue punya sahabat sekaligus asisten seperti lo," ucap Juna bangga sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
"Bayarannya mahal ini."
"Berapa pun akan gue bayar, asal gue bisa mengungkap kebenaran yang ada."
"Bayarannya enggak pake duit, cukup izinkan gue deketin adek lo."
Juna tertawa terbahak mendengar permintaan sahabatnya itu. Memang sedari dulu sahabatnya ingin sekali mendekati adiknya, tetapi Juna selalu melarang dengan alasan Jani belum boleh pacaran. Namun, sepertinya hal ini akan ia pertimbangkan mengingat keluhan mamahnya bahwa Jani sedang dekat dengan seseorang.
Sebenarnya baik Juna maupun mamah Risma tidak masalah Jani dekat dengan siapapun, karena gadis seumuran adiknya itu memang sudah sewajarnya berada di tahap pengenalan dengan seseorang. Nah, masalahnya kali ini adik perempuan satu-satunya itu dikabarkan dekat dengan seseorang yang masih berstatus sebagai suami orang.
"Oke gue izinkan, asal jangan pernah buat adek gue terluka."
"Yes!"
***
Raya sampai di unitnya sekitar pukul 16.30. Ia segera menyegarkan diri dengan berendam air hangat. Entah kenapa hari ini rasanya ia sangat lelah.
Ia selalu teringat ucapan Bima sang manager kakaknya itu.
"Tahu," jawab Bima santai.
"Apa Abang juga tahu siapa laki-laki yang telah menghamili Mbak April?"
"Tentu saya tahu Raya. Semua kegiatan April saya mengetahuinya. Karena memang saya yang mengatur semuanya."
"Lalu apa benar itu anak Mas Juna?" tanya Raya penasaran. Padahal Raya sangat takut akan jawaban yang diberikan Bima padanya. Ia takut jawabannya akan melukai dan mengoyak hatinya. Namun, demi mengungkapkan kebenaran, ia harus terima apa pun jawaban Bima nantinya.
"Untuk masalah itu, kamu tanya langsung saja pada kakakmu. Aku permisi dulu, ada banyak urusan yang harus saya selesaikan. Tolong jaga April," ucap Bima sambil berlalu melangkah menuju pintu.
BYURR.
Raya terkesiap karena ada seseorang yang ikut masuk ke dalam bathtub, yang membuat air di dalamnya sampai tumpah membasahi lantai kamar mandi.
Raya menatap kesal wajah tampan dihadapannya yang sedang tersenyum jahil.
"Kebiasaan banget ngagetin orang."
"Aku udah permisi dulu lho tadi sebelum masuk ke sini, tapi kegiatannya kamu terlalu asyik melamun, jadi enggak dengerin apa yang aku katakan."
"Pasti lagi ngelamun jorok ya?" sambung Juna lagi dengan meledek istrinya.
"Ngapain dilamunin kalau bisa dilakuin."
Setelah mengatakan itu Raya lalu bangkit kemudian duduk di pangkuan Juna yang berada di dalam bathtub dengan menaikturunkan alisnya.
Juna tertawa senang. "Aku suka sisi liar kamu." Kemudian Juna menarik pinggang serta tengkuk Raya secara bersamaan. Sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi pada pasangan suami istri itu di dalam sana.
TBC
Mohon maaf kalau updatenya lama hari ini, karena memang kondisi badan yang kurang fit. Setelah kemarin anak sakit sekarang giliran aku dan suami yang sakit, xixixixi tapi gak papa itu artinya Allah masih sayang sama kami sekeluarga.
Terima kasih pada teman-teman semua yang sudah mendoakan anak aku, semoga Allah membalas dengan kanaikan yang lebih baik dan besar. Terima kasih juga pada reader's setia yang selalu setia membaca dan memberi dukungan pada karya aku 😍😍😍😍
Semoga suka dengan part ini, tenang ya dimohon sabar, karena semua akan terbongkar secara perlahan, tipis-tipis aja dulu. Dibikin asik aja kaya Juna sama Raya yang bermesraan tidak tau tempat 😁🤭
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 Terima kasih 😘 😍 😘