
Sebelum baca, aku mau minta kalian untuk beri pelindung bintang pada karya ku, caranya sudah tau kan? 😘
Happy Reading
...(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)(๑˙❥˙๑)...
Baik Juna maupun Raya sama-sama belum tertidur. Meskipun mereka telah memejamkan mata, namun pikiran mereka sedang berkelana entah kemana.
Biasanya saat tidur sambil dipeluk erat oleh suaminya, pasti Raya akan tertidur dengan nyenyak. Tapi sampai sekarang ia masih belum juga bisa tertidur. Ia malah memilih menggesek-gesekan ujung hidungnya pada dada Juna. Sebentar digesek, kadang dihirup. Ia lakukan itu berulang kali hingga terdengar geraman yang keluar dari mulut suaminya.
Saat mendengar Juna menggeram, Raya menghentikan kegiatannya. Namun, beberapa menit kemudian, ia melakukan aksinya kembali sambil tersenyum. Kebiasaan baru yang mengasyikan menurutnya, sehingga bisa sejenak melupakan masalah yang sedang dihadapi.
"Raya, tidurlah," ucap Juna disela geramannya.
Raya seakan menulikan pendengarannya. Ia tetap melakukan aksinya sambil terkikik.
Juna mengangkat dagu Raya, sehingga tatapan keduanya bertemu. "Pilih tidur atau ditiduri, hn?"
Raya sedikit bangkit lalu menyerukan wajahnya pada leher Juna sambil memeluk suaminya dengan erat.
"Aku pilih yang ke dua," bisik Raya di telinga Juna.
Juna menyeringai kemudian membalikkan tubuh istrinya sehingga kini Raya berada di bawahnya.
"Oke, bersiaplah untuk tidak tidur sampai pagi."
***
Tangan Mira sedang mengolesi selai pada roti tawar yang akan ia sajikan untuk sarapan bersama suaminya. Pandangannya memang tertuju pada roti yang sedang ia olesi selai, namun entah karena melamun atau sedang memikirkan sesuatu, sehingga ia tidak fokus. Roti tersebut sudah penuh dengan selai sampai penuh, bahkan selainya sampai berjatuhan di meja.
"Bunda lagi mikirin apa?" tanya sang suami yang memperhatikan istrinya sedari tadi.
Mira mengerjai pelan. "Astagfirullah," ucapnya saat baru menyadari perbuatannya yang mengotori meja.
"Maaf Yah, Bunda buatkan lagi."
Mira lalu menyingkirkan roti yang sudah tidak berbentuk tadi lalu mengambil roti yang baru. Namun, saat akan mengolesinya dengan selai, tangannya dicegah oleh Budi. Sang suami mengambil alih roti yang ada ditangannya lalu mengolesi roti itu dengan selai.
"Bunda kenapa? cerita coba sama Ayah," tanya Budi pada sang istri yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak apa-apa kok Yah. Cuma sedikit pusing aja. Mungkin karena kemarin kehujanan pulang dari rumah Mbak Risma."
"Kemarin Bunda ke rumah Risma?"
Mira mengangguk.
"Ngapain?" sambung sang suami sambil menggigit rotinya.
"Ya ... main saja. Memangnya enggak boleh ya? Namanya besan kan banyak yang harus diobrolin."
"Memangnya kalian ngobrolin apa?"
Aduh, salah jawab ternyata Mira. Sehingga memancing suaminya bertanya lebih lanjut.
"Banyak Yah, terutama tentang anak kita. Tentang Raya, Juna, juga April," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Kenapa April dibawa-bawa juga?"
Mira menahan kesalnya. Mengapa suaminya jadi banyak bicara seperti ini? Biasanya saja berbicara hanya seperlunya.
"Nanti telat loh Yah, cepat habiskan sarapannya," ucap Mira mengalihkan pertanyaan suaminya.
Budi segera menghabiskan roti yang berada di tangannya. Setelah itu ia meminum satu gelas air putih yang telah disediakan sang istri.
__ADS_1
"April enggak sedang hamil 'kan Bun?" tanya Budi tiba-tiba setelah mengelap bibirnya dengan lap makan.
Mira terkejut dengan pertanyaan sang suami. Ia menelan salivanya yang terasa pahit dengan kasar. Dadanya berdetak dengan cepat. Mulutnya terasa kelu saat akan menjawab pertanyaan sang suami.
"Ke-kenapa Ayah bertanya seperti itu?"
"Ayah perhatikan akhir-akhir ini wajahnya tidak secerah biasanya, beberapa hari ini setiap pagi juga ia selalu mual dan muntah persis seperti waktu kamu mengandungnya."
Mira menghela nafasnya dengan pelan. Seharusnya memang suaminya ini segera tau apa yang telah terjadi pada putrinya, namun ia tak mau suaminya berbuat gegabah dengan menghajar Juna mungkin, ketika mengetahui bahwa yang menghamili putrinya adalah menantunya sendiri.
Huh. Benarkah Juan tega berbuat seperti itu? Rasanya sulit untuk percaya, tetapi bukti foto itu sudah menjelaskan segalanya.
"Mungkin karena lelah, sehingga sedikit kurang sehat. Setelah pulang dari Paris jadwal pemotretan nya sangat padat kalau Bunda perhatikan."
"Semoga saja seperti itu. Karena setau Ayah, profesi model itu banyak sisi buruknya. Padahal tinggal menurut kata Ayah saja untuk menggantikan Ayah mengelola perusahaan, tetapi ia malah memilih jadi model."
"Namanya keinginan enggak bisa dipaksakan Yah."
Budi mengangguk. Ia lalu berdiri mengambil tas kerjanya yang berada di kursi sebelah kanannya. Kemudian berpamitan kepada sang istri, tak lupa melabuhkan sebuah ciuman panjang di dahi wanita berambut ikal itu.
Setelah mengantar suaminya berangkat kerja, Mira segera ke kamar putri sulungnya, untuk melihat keadaannya. Karena sedari tadi ia belum melihat April keluar kamar. Mira juga tidak mendengar putrinya muntah-muntah. Biasanya sehabis subuh, ia sudah disibukkan dengan rutinitas baru yaitu membantu mengurut tengkuk putrinya saat muntah-muntah di kamar mandi.
Saat masuk ke dalam kamar putrinya, Mira mendapati April sudah tergelatak di depan kamar mandi tidak sadarkan diri. Mira histeris, ia berteriak memanggil para asisten rumah tangganya.
"Mbok Darmi!" teriaknya panik. "Astagfirullah, kamu kenapa Nak," ucapnya sambil memangku kepala putrinya. Air matanya sudah bercucuran.
Mbok Darmi datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa Bu? Ya Allah, Mbak April kenapa Bu?"
"Enggak tau Mbok, cepat panggilkan Mang Jul."
Mbok Darmi segera keluar kamar untuk memanggil tukang kebun yang bekerja di rumah Mira. Karena tidak kuat menggendong April sendiri, akhirnya mereka bertiga bersama membawa April ke mobilnya. Mbok Darmi menemani April yang ditidurkan di kursi belakang. Karena sang supir sedang mengantar suaminya bekerja, maka dengan terpaksa ia yang mengemudikan mobil, membawa putrinya ke rumah sakit.
"Pelan-pelan saja Bu, Bismillah, yang penting selamat sampai rumah sakit," ucap Mbok Darmi mengingatkan Mira.
Mira bergeming, namun di dalam hati mengiyakan ucapan Mbok Darmi. Sepanjang jalan ia terus berdoa, semoga semuanya selamat sampai tujuan.
Ia beserta Mbok Darmi menunggu, duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu pasien.
"Apa Bapak tidak perlu dikabari Bu?" tanya Mbok Darmi.
"Nanti saja Mbok, kita tunggu dulu hasilnya. Semoga hanya kelelahan," sahut Mira.
Mira sangat yakin putrinya pingsan selain karena kelelahan menjalani pemotretan, ia juga menduga putrinya kekurangan asupan makanan. Mengingat semenjak ia tahu April hamil, ia melihat putrinya tidak berselera pada makanan.
***
Raya terlihat sedang merapikan dasi yang Juna pakai. Setelahnya ia mengelus dada suaminya sambil tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum? Ingat yang tadi?" tanya Juna tersenyum jahil.
Raya langsung menarik bibirnya hingga senyuman itu berganti dengan bibir yang ditekuk. Memukul pelan pundak Juna lalu berdecih.
"Sarapan dulu Mas. Kamu sudah telat loh ini."
"Maunya sarapan kamu," ucap Juna dengan suara serak.
Raya melotot. "Astaga, memang yang tadi masih kurang, sampai empat kali loh Mas."
"Kalau sama kamu enggak ada puasnya."
"Kalau sama yang lain?" tanya Raya memancing suaminya.
"Enggak tau, enggak pernah dan enggak akan pernah dengan yang lain. Cukup kamu saja."
Raya mengangguk. "Sarapan sekarang?"
Juna mengangguk lalu menggendong Raya seperti koala.
__ADS_1
"Mas! Sarapan nasi bukan sarapan yang lain," ucapnya sambil memukul punggung suaminya, ketika ia merasa Juna akan membawanya ke ranjang
Juna tertawa. "Aku pikir boleh sarapan kamu dulu." Juna lalu membawa Raya keluar kamar menuju ruang makan.
"Enggak usah ngarep! Empat hari ke depan libur, enggak ada jatah."
"Tega kamu sama suami sendiri."
"Salah sendiri tadi sampai empat kali. Kamu pikir enggak sakit?"
"Tapi tadi kamu enggak terlihat kesakitan, justru yang aku lihat kamu sangat menikmati."
"Mana ada."
Raya berpaling menyembunyikan rona merah pada wajahnya, ia lalu turun dari gendongan Juna ketika mereka telah sampai di meja makan.
"Non, ada telepon dari Ibu," ucap Nina sambil menyerahkan ponselnya pada Raya.
"Assalamu'alaikum. Ada apa Bunda?"
"Wa'alaikumsalam. Bunda telepon ke nomor kamu kenapa enggak diangkat-angkat?"
"Maaf Bunda, Raya enggak tau."
"Ya, sudah. Bunda cuma ingin kasih tau kalau April masuk rumah sakit. Kamu sama Juna bisa ke sini sekarang?"
"Raya pasti bisa Bunda, kalau Mas Juna ... Raya tanyakan dulu ya?" ucap Raya sambil melirik suaminya yang sedang asik menyuap sarapannya.
"Usahakan Juna juga datang ya Nak," pinta Bunda Mira.
"Raya usahakan ya Bunda."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Raya menyerahkan ponsel itu pada Mbak Nina setelah mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" tanya Juna.
"Mbak April masuk rumah sakit."
"Terus?"
"Bunda menyuruh kita datang ke sana."
Juna menelan kunyahan terakhir. Ia menyudahi sarapannya.
"Kamu saja yang datang. Aku tidak ada urusan dengan kakak kamu," ucap Juna lalu berdiri kemudian mencium sekilas bibir istrinya sebelum ia melangkah keluar unit yang menyisakan Raya duduk sendiri di ruang makan.
TBC
Aku kasih bonus foto RayJun deh, biar pagi ini makin semangat ❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa like, komen, vote, hadiah, bintang lima serta bintang pelindung ya 🙏😘 😍
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉
Terima kasih 😘
__ADS_1