Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
MISCARRIAGE


__ADS_3

Jangan lupa ya, sebelum baca tekan like, vote dan hadiahnya ya gaes, setelah baca tolong kasih komentarnya, jangan lupa juga bintang limanya ya hehehehe, "Banyak bgt ya permintaanya Thor?"


"Iya, biar aku semangat nulisnya." 😉


Happy Reading


~(つˆДˆ)つ。☆~(つˆДˆ)つ。☆~(つˆДˆ)つ。☆


Juna menggendong Raya menuju mobilnya diikuti oleh Risma dan Anwar di belakangnya.


"Biar Papa yang bawa mobil, kamu temani Raya di belakang," ucap Anwar pada Juna.


Risma segera membuka pintu belakang. Juna masuk ke dalam dengan memangku kepala Raya. Sedangkan Risma duduk di depan di samping suaminya.


Anwar membawa mobil dengan kecepatan tinggi, supaya mereka segera sampai ke rumah sakit.


"Hati-hati Pa." Risma mencoba memperingati suaminya supaya tetap selamat sampai rumah sakit, mengingat sang suami membawa mobil seperti sedang berada di arena balap.


Pandangan Juna tak teralihkan kemana pun. Ia fokus melihat wajah Raya berharap istrinya segera siuman. Tangan Juna mengait, menggenggam erat tangan istrinya.


Juna merasa lega saat mobilnya memasuki halaman rumah sakit dan berhenti di depan ruangan IGD. Juna segera membawa Raya masuk ke dalam IGD.


"Dokter, tolong istri saya." Juna menidurkan Raya di atas brankar.


"Tenang Pak. Apa yang terjadi?" tanya salah satu dokter yang berjaga.


"Saya tidak tau, tiba-tiba istri saya pingsan."


"Baik. Saya periksa dulu ya."


Dokter pria berkacamata itu segera memeriksa Raya. Juna menunggu di sampingnya Raya. Sedangkan Risma dan Anwar berdiri di ujung brankar.


"Apa istri Anda sedang hamil?" tanya sang dokter.


"Hamil?" Juna menoleh ke arah ibunya. "Saya tidak tau Dok," jawab Juna jujur. Ia memang tidak mengetahui apakah Raya sedang hamil, karena memang Raya tidak memberitahunya. Raya pun selama ini tidak menunjukan gejala seperti sedang hamil.


Namun, betapa merasa bersalahnya ia, kalau benar Raya sedang hamil. Seketika ia teringat semalam telah menggempur Raya habis-habisan.


"Ya Allah, jika benar Raya hamil semoga tidak terjadi apa-apa," ucapnya dalam hati menyesali tindakannya semalam.


"Sebaiknya Anda segera membawa istri Anda untuk diperiksa lebih lanjut di poli obgyn. Karena kalau menurut saya istri Anda sedang mengandung."


***


Kini, Raya telah sadar. Ia sedang duduk di kursi roda sambil menunggu namanya dioanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter obgyn.


"Apa Raya hamil Mah?" tanya Raya kepada Risma karena menyadari bahwa dirinya tengah mengantri untuk diperiksa oleh dokter obgyn.


"Belum tau Sayang. Tadi dokter di IGD menyarankan untuk diperiksa lebih lanjut di sini."


"Apa kamu tidak merasakannya?" lanjut Risma bertanya pada anak menantunya.


Raya menggeleng. Seminggu yang lalu, ia memang sempat melihat bercak coklat di pakaian dalamnya. Raya pikir wajar karena sudah waktunya tamu bulanannya datang. Namun sampai sekarang ia malah belum mendapat tamu bulanannya.


Seketika ia mengelus perut datarnya. Penuh harap semoga apa yang diperkirakan oleh dokter bahwa dirinya tengah mengandung menjadi kenyataan.


"Nyonya Rayana."

__ADS_1


Terdengar perawat memanggil nama Raya. Juna segera mendorong kursi roda yang diduduki oleh Raya masuk ke dalam ruangan. Risma dan Anwar ikut masuk juga.


"Silahkan berbaring, Bu. Kita langsung USG saja ya."


Raya kemudian berbaring dengan dibantu oleh perawat dan Juna. Setelah diberi gel di perutnya oleh sang perawat, sang dokter segera memeriksanya melalu USG.


Ada rasa cemas ketika Raya melihat raut wajah dokter yang tampak mengerutkan keningnya. Setelahnya dokter itu tampak memberi perintah kepada sang perawat.


"Kita coba USG transvagin@l ya Bu," ucap sang dokter. Dokter itu tampak memegang alat seperti tongkat yang ujungnya diolesi oleh gel seperti saat perawat tadi mengolesi perutnya.


Saat mendengar ucapan sang dokter, Anwar langsung membalikkan badannya.


"Rileks ya Bu, jangan tegang."


Raya sempat terlonjak saat merasakan sesuatu memasukinya. Raya melihat dokter yang memeriksanya tampak menggelengkan kepala.


"Ibu, Bapak. Benar bahwa Ibu Raya sekarang sedang hamil. Usianya masih sangat muda sekali yaitu enam minggu tiga hari."


"Alhamdulillah." Risma langsung mengucap syukur mengetahui Raya telah hamil.


"Sebentar Bu," sela sang dokter. "Ibu Raya memang hamil, tetapi hanya ada kantungnya saja, sedangkan bakal janinnya tidak ada."


Dokter wanita itu kemudian mengarahkan kursornya pada layar yang nampak bulatan seperti gelembung yang diketahui adalah kantung janin.


"Jadi, ibarat telur hanya ada putih telurnya saja, sedangkan kuning telurnya yang bakal embrio tidak ada. Kehamilan ini biasa disebut kehamilan kosong atau blighted ovum," imbuh sang dokter.


"Lalu apa yang bisa kami lakukan Dok. Apa masih bisa dipertahankan?" tanya Juna dengan perasaan yang sudah tidak menentu. Diawal tadi ia sempat berbahagia namun seketika ia seperti dihempaskan dari ketinggian hingga ke dasar jurang.


Sang dokter telah kembali ke mejanya. Begitu juga dengan Raya yang sudah duduk bersampingan dengan Juna guna mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Apa tidak ada opsi lain Dokter?" tanya Raya berharap masih bisa mempertahankan kandungannya.


"Tidak ada Bu. Karena memang hamil kosong yang tidak ada bakal embrio. Hal ini terjadi akibat kelainan kromosom. Kelainan kromosom dapat disebabkan oleh pembelahan sel yang tidak sempurna serta kualitas sel telur dan sperm@ yang buruk. Pada hamil kosong, pembuahan (pertemuan sel telur dan sel sperm@) tetap terjadi, tapi hasil pembuahan ini tidak berkembang menjadi embrio," terang sang dokter.


"Saya sarankan untuk segera di kuret ya Bu, Pak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mumpung belum keluar sendiri. Biasanya kalau keluar sendiri akan terasa sangat sakit, belum nanti saat di kuret, biasanya akan lebih sakit. Tapi kalau sekarang sebelum keluar sendiri, lalu di kuret, tidak akan terasa sakitnya."


Juna dan Risma mengangguk. Berbeda dengan Raya yang berharap ada keajaiban sehingga kehamilannya bisa normal.


"Kalau mau, nanti saya berikan jadwal tindakan kuretnya," imbuh sang dokter.


"Nanti saja Dok," jawab Raya dengan menunduk.


"Baik, Bu. Tapi jangan lama-lama ya. Karena saya lihat tadi sudah ngeflek."


Mereka akhirnya pulang ke rumah setelah perdebatan alot antara Raya dan Juna. Juna menginginkan Raya untuk segera dilakukan tindakan kuretase, tetapi Raya menginginkan untuk pulang dulu ke rumah. Ia perlu menenangkan diri dulu. Ia belum siap jika harus kehilangan sebelum memiliki.


"Ya, sudah. Tapi Mas mohon jangan lama berfikir. Ingat tadi kata dokter, kalau harus segera diambil tindakan."


Kini Raya tengah duduk bersimpuh, setelah bersujud memohon petunjuk pada Sang Pencipta. Ia menengadahkan tangannya memohon ampunan dan juga pertolongan. Ia berharap bahwa perkataan dokter siang tadi itu salah.


Bisa saja kan salah. Dokter juga manusia biasa yang barang tentu bisa melakukan kesalahan. Sekarang Raya sedang menuruti apa kata hatinya, bukan apa kata akalnya. Karena sesungguhnya ia pun tau apa itu blighted ovum. Yang pasti tidak mungkin bisa dipertahankan.


Di sisi lain, Jani sedang tersenyum sendiri melihat foto laki-laki melalui akun stragramnya.


"Heh, kenapa suami orang bisa seganteng ini sih. Coba saja aku lahir sepuluh atau lima belas tahun lebih awal, siapa tau bisa berjodoh dengan kamu." Jani berbicara sendiri dengan foto di hadapannya.


"Kelamaan liat si ganteng, jadi haus ini tenggorokan," gumamnya.

__ADS_1


Jani pun keluar kamar untuk menuju dapur demi untuk segelas air supaya bisa menghilangkan dahaganya.


Saat melewati kamar Juna yang pintunya sedikit terbuka, ia mendengar suara yang membuatnya merinding dan seketika langsung membuat perutnya mual.


Ia kemudian lari sambil mengumpat sang kakak yang menurutnya tidak tau tempat.


"Haduh! Telingaku sudah ternoda mendengar suara rintihan dan des@han. Mas Juna mesum dasar," umpatnya kesal.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia segera kembali ke kamarnya. Dan lagi-lagi ia mendengar suara rintihan ketika melewati kamar Juna.


"Aakhh."


"Perlu dihajar memang Mas Juna ini," ucapnya bersungut-sungut.


Ia kemudian mendorong pintu yang terbuka sedikit. Ia berteriak kepada kakaknya sambil memejamkan mata.


"Mas! Yang bener aja dong. ! Kalau mau enak-enak, mbokya pintunya ditutup rapat, biar suaranya gak kedengeran sampai kemana-mana!"


"Sshhh."


"Jani, tolong."


Jani sekilas seperti mendengar suara rintihan dan minta tolong seseorang. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, yang seketika langsung terbelalak karena menyaksikan pemandangan di depannya.


"Ya Allah, Mbak!"


Jani langsung menghampiri Raya yang sedang terduduk di lantai dengan bersumpah darah.


"Aduh, bagaimana ini. Tolong! Mamah! Mas Juna!" teriaknya membuat Nina yang sedang melintas lantas masuk ke dalam kamar karena mendengar teriakan Jani.


"Astagfirullah, Non. Ada apa ini?"


"Mbak, tolong panggil Mamah sama Mas Juna."


Tanpa menjawab, Nina langsung berlari ke kamar Risma. Ia mengetuk pintu dengan keras. Setelah Risma membukakan pintu, Nina segera memberitahu apa yang terjadi dengan Raya.


"Kamu cepat panggil Juna. Dia sedang bersama Bapak di ruang kerja."


Risma segera berlari menghampiri Raya, sedangkan Nina langsung menuju ruang kerja.


Pintu berwarna coklat itu ia gedor dengan kencang sambil memanggil Juna.


"Ada apa Mbak?" tanya Juna setelah membuka pintu dan mendapati Nina di sana.


"Non Raya. Non Raya banyak darah di kakinya Tuan."


Juna langsung berlari menuju kamar begitu juga dengan Anwar. Juna melihat Raya yang tampak kesakitan dengan wajah yang memucat. Sedangkan darah terus mengalir dengan deras diantara kedua kakinya.


TBC


Kabur ah 🏃🏻‍♀️sebelum diserang 😁😁😁


Good Night, selamat bobo, moga mimpi indah ya, jangan seperti Raya dan Juna yang sepertinya mimpi buruk


Terima Kasih 😘


USG transvagin@l atau disebut dengan USG endovagin@l ini, biasanya direkomendasikan dokter untuk mendeteksi kondisi abnormal pada rahim atau mengecek kesehatan janin dalam kandungan. USG transvagin@l dilakukan dengan cara memasukkan alat USG yang menyerupai tongkat sepanjang 5–7 cm ke dalam vagin@.

__ADS_1


__ADS_2