
Mira dan Budi segera berpamitan kepada Risma juga Anwar.
"Yang sabar ya Mir. Kamu harus kuat." Risma mencoba memberi support kepada Mira karena masalah April belum juga selesai.
"Iya, terima kasih Mba."
"Nanti aku coba hubungi salah satu temanku meminta bantuannya untuk membantu mencari April," ucap Anwar kepada Budi.
Budi mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah milik orang tau Juna.
"Kasihan sekali mereka. Masalah putrinya belum juga selesai. Papah harus bantu mereka menemukan April," ucap Risma kepada sang suami.
"Papah coba hubungi Jovan dulu."
Anwar segera menjauh guna menghubungi temannya yang mempunyai bisnis di bidang pencarian orang. Risma pun kembali masuk ke dalam rumah.
Raya masih mematung menatap ke luar pintu gerbang. Dirinya merasa prihatin dengan apa yang telah menimpa sang kakak dan kedua orang tuanya. Ia juga kasihan kepada kedua orang tuanya yang harus menghadapi sikap tak terkendalinya April.
Ia sangat tidak tega melihat gurat lelah dan juga sedih baik di wajah ayah maupun bundanya. Selama ini, Raya tidak pernah melihat kesedihan yang nampak pada wajah kedua orang tuanya. Wajah itu selalu menampakan kebahagiaan.
Usapan di kedua pundaknya, sempat membuat Raya terlonjak, namun segera ia bisa menutupinya.
"Melamun?" tanya Juna dari arah belakang tubuhnya. Sudah lebih dari tiga menit Juna memperhatikan istrinya diam berdiri di teras memandang ke arah gerbang dengan tatapan kosong.
"Ayok masuk," ajak Juna. Raya pun mengikuti Juna masuk ke dalam rumah.
"Mas, bisa bantu cari Mbak April?" Raya memberikan tatapan memohon ya kepada sang suami.
"Papah, sudah meminta temannya untuk segera bertindak. Kita tinggal tunggu hasilnya saja," jawab Juna.
"Mau istirahat di kamar atau di mana?"
Raya mencebikkan bibirnya. "Jangan perlakukan aku seperti orang sakit Mas."
"Loh, kamu kan memang sedang masa pemulihan."
"Tapi aku enggak sakit," jawab Raya meninggalkan Juna sendiri.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, seorang wanita dengan menggunakan masker dan topi terlihat memasuki sebuah bangunan menyerupai rumah, namun ada beberapa orang yang mengantri di depan rumah itu.
Sang wanita menghampiri salah satu orang yang sepertinya sedang mencatat nama orang yang akan mendaftar.
"Ibu mau mendaftar?" tanya sang petugas kepada wanita itu. Wanita itu pun mengangguk.
"Silahkan isi datanya terlebih dulu." Petugas tersebut menyerahkan selembar kertas dan pulpen kepada sang wanita.
Wanita itu lalu mulai mengisi data-data yang diperlukan pada satu lembar kertas yang telah diserahkan oleh petugas. Setelah selesai, ia lalu menyerahkan kembali kepada sang petugas.
__ADS_1
"Baik, silahkan tunggu di kursi tunggu ya Bu. Nanti akan dipanggil sesuai nomor urutan," ucap sang petugas menjelaskan.
Wanita tersebut duduk dalam gelisah. Ia sendiri bingung kenapa bisa sampai ke tempat seperti ini. Maksud hati pergi dari rumah sakit untuk menghindar dari orang-orang di sekelilingnya guna untuk menenangkan diri, namun hati dan tubuh sepertinya tidak sedang dapat bekerja sama dengan baik.
Ia meraba perutnya yang masih rata, meremas baju bagian perut itu dengan gemetar. Ada rasa bimbang, kalut, sedih, marah dan rasa bersalah bertumpuk menjadi satu.
Hatinya terasa kosong, padahal kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Buktinya, meskipun ia telah membuat mereka malu, mereka tetap merangkulnya, mungkin jika orang lain akan memarahi anaknya bahkan tidak menganggapnya lagi sebagai anak. Ada juga Bimasena. Pria yang tulus mencintainya, yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Bahkan pria itu beberapa hari ini rela mengorbankan waktu tidurnya demi menjaganya. Meskipun mendapatkan tatapan sinis dan tidak dianggap keberadaannya, pria itu tetap berada di sampingnya memperlihatkan senyum hangatnya.
Ia melihat ke arah wanita yang baru saja keluar dari ruangan. Wanita itu tampak kesakitan. Berjalan tertatih dengan dibantu oleh pria paruh baya di sampingnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak ingin melihat wanita itu.
Tak lama, satu lagi wanita keluar dari ruangan dengan menangis yang sedang ditenangkan oleh wanita yang terlihat lebih tua.
Perutnya mendadak melilit. Rasa mual pun menderanya. Ia ingin pergi ke toilet, namun saat akan melangkah mencari toilet namanya dipanggil oleh seorang petugas.
"Ibu Aprilia."
Ia menoleh lalu tersenyum samar sambil menganggukkan kepalanya.
"Silahkan masuk, Bu." Petugas itu mempersilahkan dirinya untuk memasuki ruangan yang sangat dingin namun dengan penerangan yang sedikit redup.
Saat pertama kali memasuki ruangan dingin itu, terasa sangat mencekam. Di dalam ruangan tersebut ada tiga orang yang memakai jubah hijau seperti seorang dokter yang akan melakukan operasi.
"Silahkan berbaring, Bu."
April kemudian berbaring di sebuah tempat tidur, dengan satu buah lampu bersinar agak terang tepat di atas kedua kakinya.
Saat salah satu diantara ketiga orang itu memegang jarum suntik, ia berteriak.
"Tenang Bu, Ibu harus rilex supaya berjalan dengan lancar. Kalau Ibu tegang, bisa membahayakan nyawa Ibu."
"Toilet."
"Ibu ingin ke toilet?"
"Ya. Toilet."
"Silahkan Ibu keluar dari ruangan ini, lalu belok kanan. Tenangkan dulu diri Ibu, nanti kembali ke ruangan ini. Tapi jangan lama-lama ya Bu."
Tanpa menjawab, April segera bangkit lalu berlari keluar. Bukannya menuju toilet, ia malah pergi ke luar gerbang lalu mencegat taxi yang sedang melintas.
Masuk ke dalam taxi, lalu duduk dengan kepala ia sandarkan pada kursi penumpang. Air mata yang ia tahan sedari tadi pun akhirnya luruh juga.
"Tujuan kemana Mbak?" tanya sang pengemudi taxi.
"Stasiun."
***
"Lo yang sabar ya Raya. Nanti minta Aa Juna supaya sering-sering garapin ladangnya, supaya cepat memetik hasilnya."
__ADS_1
"Sok tau lo Di."
"Emang begitu, ya nggak Wa?" Diana mencari dukungan dari Dewa sahabatnya.
Kedua sahabat Raya sedang berkunjung ke rumah mertua Raya. Niat awalnya sih, ingin menjenguk Raya, tapi jadinya malah ngerumpi.
Dewa hanya menghedikan bahunya, lalu beralih ke ponselnya lagi.
"Eh, tapi April beneran bukan lagi hamil anaknya Juna 'kan?" tanya Diana ingin tahu.
"Kalau dilihat dari umur kandungannya sih, bukan."
Seketika wajah Raya berubah menjadi sendu, karena mengingat umur kandungan kakaknya hampir sama dengan umur kandungannya. Seandainya situasinya bisa ditukar. Kenapa nggak April saja yang keguguran. Ia sangat menginginkan bayi itu. Lagi pula dirinya sudah terikat dengan pernikahan yang sah, sedangkan April ....
"Astagfirullah." Pikirannya sepertinya mulai ngawur, karena sama saja ia seperti kufur nikmat.
"Yang hamilin April namanya Bima? kok sama namanya kayak mantan lo Di?" tanya Dewa tiba-tiba.
"Sama nama tapi beda orang Bro. Yang hamilin April itu Bimasena, sedangkan mantan gue itu Abimayu," jawab Diana.
"Eh, bentar-bentar deh. Apa tadi Lo bilang? Mantan?" tanya Raya pada sahabatnya.
"Iya, gue udah putus sama Bima seminggu yang lalu."
"Kenapa?"
"Dia udah dijodohin. Dan dia memilih wanita pilihan orang tuanya."
"Sabar Di." Kini Raya yang mencoba berempati pada sahabatnya.
"Udahlah, nggak usah di pikirin," jawab Diana santai.
"Lo jomblo dong sekarang, sama kaya Dewa. Kenapa kalian enggak jadian aja?"
"Gue, sama Dewa? Iyyuuhhh. Males banget. Dewa mana doyan apem."
"Huss. Ngaco."
"Tau nih. Emang Bima beneran doyan apem?" tanya Dewa.
"Doyan kali, buktinya dia sering kissing sama ...."
"Sama apa Di? Jangan macem-macem ya," ancam Raya.
Diana mendekatkan bibirnya ke telinga Raya untuk berbisik.
"Cuma nyusu doang kok."
"Astagfirullah!"
__ADS_1
TBC
Jangan lupa like, like ,like dan komen ya, vote dan hadiah juga sangat diterima 😁🤭