Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
KOSONG


__ADS_3

Seperti biasa, Juna dan Raya bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Namun, kali ini sedikit berbeda. Ya Raya merasakannya. Kalau biasanya pasti Juna akan mengajak atau lebih tepatnya memaksa Raya untuk mandi bersama yang tentunya diawali dengan olahraga berbuah pahala terlebih dahulu. Hari ini saat bangun tidur, Juna langsung menuju kamar mandi tanpa menoleh ke arah Raya.


Raya menunggu suaminya selesai mandi dengan merapikan tempat tidur mereka yang kacau berantakan.


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Juna yang terlihat segar dan semakin tampan. Juna keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggang.


Raya menoleh ke arah sang suami yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Tidak bisa dipungkiri, pria di hadapannya ini sangatlah tampan, apalagi dengan rambut basah yang masih ada air yang menetes dari rambut hitam legam tersebut.


Seketika Juna mendongakkan wajahnya. Pandangan mereka pun bertemu. Juna langsung memutusnya terlebih dahulu.


"Tolong siapkan keperluan aku untuk seminggu ke depan," ucap Juna sambil masuk ke walk on closet.


Raya tertegun. Mengapa suasana pagi ini terkesan sangat canggung? Dan tadi apa? Juna memintanya untuk menyiapkan keperluannya untuk seminggu ke depan? Itu artinya Juna akan pergi ke Jepara dan meninggalkannya di sini sendiri?


Sudut hati Raya terasa nyeri. Raya merasakan perubahan sikap Juna kepadanya. Tapi karena apa?


Raya segera melaksanakan mandi paginya sebelum ia menunaikan sholat subuh, setelah itu ia segera menyiapkan keperluan sang suami untuk di bawa ke Jepara selama satu minggu. Meski dalam hati bertanya-tanya mengapa Juna mendadak berubah pikiran, tapi ia mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja sangat urgent sehingga Juna tetap harus pergi. Lagi pula semalam dirinya mengatakan tidak keberatan jika ditinggal ke Jepara. Meskipun kali ini ia sangat menyesalkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Raya membuat sarapan yang sangat simpel. Hanya roti panggang dengan telur mata sapi supaya cepat dapat dihidangkan dan dinikmati oleh sang suami. Karena ia mendengar Juna sedang menelpon seseorang dan memintanya menjemput ke rumah pagi ini jam setengah enam. Sedangkan saat itu Raya melihat jam sudah menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit.


Setengah enam masih sepuluh menit lagi. Itu artinya Juna masih bisa sarapan walaupun hanya dengan roti panggang.


"Makan dulu Mas, rotinya. Maaf, cuma ini biar nggak lama," ucap Raya sembari meletakan dua tangkup roti berisi telur mata sapi yang ditaruh di atas piring dan ia letakkan di atas meja di teras, tak lupa satu gelas susu putih hangat.


Juna melirik sarapan yang Raya buat. Ia mengambil gelas yang dihidangkan tersebut lalu meminumnya hingga setengah. Baru saja Juna meletakan gelasnya di atas meja, rupanya mobil jemputan sudah datang.


Vero keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Berangkat sekarang, biar nggak macet," ucap laki-laki berkaca mata itu.


"Memangnya kalian nggak naik pesawat?" tanya Raya penasaran.


"Nggak Mbak. Soalnya kita harus singgah di beberapa tempat dulu nantinya sebelum benar-benar menuju Jepara," jawab Vero menjelaskan.


"Ayok," ajak Juna kepada Vero lalu ia melihat Raya dan mengusap puncak kepala istrinya itu.


"Loh, Mas nggak dimakan dulu rotinya."


"Nggak sempat. Kamu saja yang habiskan." Juna berjalan melewati Raya menuju mobil yang terparkir di hadapannya.


"Tunggu, Mas!"


Raya berlari ke dalam rumah lalu keluar lagi membawa sebuah kotak makan. Ia lalu memasukan dua tangkup roti itu ke dalam wadah yang ia bawa.


"Makan di mobil bisa 'kan? Jangan sampai telat makan, nanti Mas Juna sakit," ucapnya sambil menyodorkan kotak makan berwarna biru muda sambil tersenyum.


Juna mengangguk lalu mengambil kotak makan itu. Kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil. Vero mengikutinya lalu menutup pintunya. Setelah itu, mobil bergerak keluar dari halaman rumah meninggalkan Raya yang berdiri mematung dengan rasa nyeri yang melingkupi hatinya.


"Mengapa Mas Juna berbeda?" tanyanya dalam hati.


Raya masih terus memandangi mobil yang Juna tumpangi, sampai mobil tersebut semakin terlihat mengecil dan tidak terlihat lagi. Tidak terasa satu tetes air matanya jatuh ke pipinya.


Ia merasakan perubahan sikap sang suami. Biasanya Juna selalu memeluk dan menciumnya sebelum mereka berpisah atau berangkat kerja. Senyum menawan juga selalu menghiasi wajah tampan suaminya. Tapi kali ini, wajah tampan itu tidak mengeluarkan senyuman sedikitpun. Datar dan tanpa ekspresi. Bahkan, Juna yang selalu menyempatkan makan masakan Raya, pagi ini tidak menyentuhnya, hanya meminum susu buatannya itu pun tidak dihabiskan.


Raya mengerjap ketika ponselnya bergetar. Ternyata ada pesan masuk dari pria yang sedang dipikirkannya. Tidak sadar ia menyunggingkan senyumnya. Hatinya merasa seperti disirami air hujan yang membuat sesak di dadanya sedikit berkurang.


[Terima kasih, sarapannya. Ini enak. Jaga diri selama aku pergi]


Raya tersenyum membaca pesan dari sang suami. Ia segera mengetik balasannya.

__ADS_1


[Alhamdulillah kalau Mas Juna suka]


[Insya Allah, Raya bisa menjaga diri]


[Mas baik-baik di sana. Jangan sampai telat makan]


Raya sedikit kecewa karena pesan yang ia kirim hanya cheklist satu. Itu artinya ponsel Juna sedang tidak aktif atau mungkin datanya dimatikan.


Tidak apa-apa pikirnya. Yang penting Juna sudah mau memakan roti buatannya itu sudah cukup menepis anggapan bahwa sikap suaminya berbeda pagi ini. Lebih baik ia bersiap-siap pergi ke depot.


Ia berniat mulai hari ini berangkat lebih awal karena sedang banyak pesanan baik buket bunga maupun tanaman hias dan buah.


Raya memutuskan berangkat dengan mengendarai sepeda motornya. Ia tidak mau mengambil resiko akan sulit mendapatkan taxi jika ia menggunakan jasa tersebut.


Raya sampai di depot pukul tujuh pagi. Depot masih sepi karena memang buka jam delapan pagi. Bahkan Ana sendiri masih sibuk mengurusi anak tampannya.


Raya larut dalam banyaknya buket bunga yang harus ia kerjakan dengan dibantu oleh dua orang karyawannya tentunya.


Tidak terasa hari beranjak sore. Ia melihat jam ternyata sudah jam empat lewat. Ia mengambil ponselnya di atas meja yang sedari tadi terasa sunyi. Ia melihat apakah suaminya sudah membalas pesannya.


Bibirnya melengkung ke bawah. Pesan yang ia kirim hanya dibaca tanpa di balas. Ah mungkin saja suaminya sangat sibuk sehingga belum sempat membalasnya.


Kemudian ia mengetikan jarinya untuk mengirim pesan kepada sang suami.


[Mas, tadi sampai jam berapa?]


[Kabari aku ya, kalau sudah di hotel]


Setelah mengirimkan pesan kepada sang suami, Raya kemudian berpamitan kepada Ana dan beranjak menuju motornya. Saat akan memakai helmnya, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Raya!"


"Mau ambil buket bunganya sekarang?" tanya Raya yang mengira Dewa akan mengambil buket pesanannya.


"Ah, iya, tapi sepertinya sudah mau tutup. Besok saja aku kembali," jawab Dewa.


"Belum tutup kok. Masih ada Mbak Ana. Ambil aja langsung."


"Besok aja deh. Lagian masih ada waktu kok."


Raya mengangguk. Lalu memakai helmnya yang tadi belum sempat terpasang.


"Udah mau pulang?" tanya Dewa.


"Yup."


"Ke cafe dulu yuk. Bentar. Gue pengen curhat nih," ajak Dewa.


Raya tampak menimbang dan memikirkan ajaran Dewa.


"Oke, sebentar aja ya. Jam lima gue harus udah balik."


Mereka akhirnya menuju cafe tempat langganan mereka saat di kampus. Letaknya ditengah-tengah. Tidak terlalu jauh baik dari depot maupun dari rumah Juna.


"Mau curhat apaan? Eh, Diana kapan balik?" tanya Raya setelah mereka sudah duduk di salah satu meja di sana dan sedang menunggu minuman datang.


Dewa mengangkat kedua bahunya. "Biasalah Diana kalau galau kan gitu. Dulu kita yang menemaninya kalau sekarang dia pergi sendiri," jawab Dewa.


"Sekarang gue kan udah nikah. Kenapa lu nggak temani aja, siapa tau ngeklik trus jadian deh," seru Raya lalu tertawa.

__ADS_1


"Gue suka sama seseorang."


Raya menghentikan tawanya. "Siapa? udah jadian?"


Dewa tersenyum kecut. "Sayangnya yang gue suka itu istri orang," jawab Dewa lirih.


"Astagfirullah! Dewa! Yang benar aja lu. Nggak ada cewek lain apa?"


"Gue udah coba lepasin. Tapi namanya hati susah untuk dilupain."


"Cewek itu tau lu suka dia?"


Dewa menggeleng. "Belum berani ungkapin."


"Lebih baik lu mundur Wa. Masa lu jadi Pebinor sih." Raya langsung menyesap minumannya yang baru saja datang.


"Masalahnya cewek itu menikah karena terpaksa. Jadi, gue yakin cewek itu nggak bahagia sama pernikahannya sekarang."


"Terus menurut lu, yang bisa buat bahagia cuma lu doang gitu?"


"Entahlah."


Dewa mengambil nafasnya lalu menghembuskannya perlahan.


"Tapi suaminya tau kalau gue suka sama istrinya."


"Pasti lu dihajar habis-habisan sama suaminya 'kan?" tanya Raya sambil tertawa karena melihat bekas memar di pelipis Dewa.


"Tapi gue minta ke suaminya, supaya ia menanyakan sama istrinya, apakah istrinya cinta ke dia."


"Gila lu Wa. Sadar woy, masih banyak cewek lain. Udah lah sama Diana aja."


***


Kini Raya sudah sampai di rumah. Ia meletakan tasnya di atas meja lalu mengambil ponselnya berharap Juna menelponnya.


Namun nihil. Lagi-lagi pesannya hanya centang biru yang artinya hanya dibaca oleh suaminya tanpa dibalas.


Raya melempar ponselnya di atas kasur lalu masuk ke kamar mandi. Ia butuh penyegaran. Setelah mandi ia makan malam dengan ditemani Mbak Nina dan Mbok Dar.


Setelah makan, ia langsung masuk ke kamar. Mencoba menghubungi suaminya, karena dia rasa suaminya pasti sudah berada di hotel untuk istirahat, mengingat sudah jam delapan malam.


Sambungan telponnya tidak diangkat juga oleh sang suami.


"Ah, mungkin Mas Juna sedang makan malam."


Ia lalu menuju lemari dan mengambil kemeja Juna lalu memakainya dengan terlebih dulu melepas pakaian yang dikenakannya.


Ia beranjak ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya. Ia mencoba menelpon lagi, siapa tau langsung diangkat oleh Juna. Namun, lagi-lagi ia harus kecewa, karena sambungannya tak juga dijawab.


Ia pun tidur sambil memeluk dirinya sendiri yang memakai kemeja Juna, seolah sedang memeluk pemilik kemeja tersebut.


Sudah cukup lama Raya memejamkan matanya namun tak kunjung bisa tidur juga. Ia gelisah. Hatinya hampa dan kosong. Ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Seharian tidak mendengar suara Juna membuat dadanya sesak. Ia tidak dapat tidur tanpa dipeluk oleh lengan kekar sang suami. Tanpa mendapatkan kecupan selamat malam. Hingga jam dua dini hari, ia masih menunggu balasan pesan dari Juna namun tak kunjung ia dapatkan.


Lama-lama bahunya bergetar. Apa yang salah dengannya sehingga suaminya sendiri mengabaikannya. Karena terlalu lelah menangis, akhirnya ia tertidur saat menjelang subuh.


Baru saja terlelap, tiba-tiba alarm berbunyi. Ia segera pergi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Setelah itu ia berniat untuk tidur lagi karena semalaman ia tidak dapat tidur sehingga kepalanya sekarang sangat sakit.


Sebelumnya ia menyempatkan melihat ponselnya, berharap ada balasan pesan dari sang suami. Lagi-lagi ia hanya bisa menelan kekecewaan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2