Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
ANCAMAN


__ADS_3

Karena sudah malam, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit keesokan harinya. Mereka akan bertemu di rumah sakit Melati sesuai dengan rekomendasi dari Risma.


Risma dan Anwar telah pulang lebih dulu. Budi masih berbicara berdua dengan Juna di teras samping rumah.


Mereka berdua saling diam. Hanya hembusan angin malam yang membuat keduanya sekedar mengusap tengkuk atau menggosok-gosok telapak tangan.


"Ayah minta maaf atas apa yang telah April perbuat," ucap Budi memecah keheningan diantara mereka berdua.


Juna tidak menjawab, masih menunggu ayah mertuanya melanjutkan ucapannya.


"Tapi, kalau itu benar anak kamu tanpa melihat kesalahan April, apa kamu mau bertanggung jawab?"


Juna mengangguk. "Kalau itu anak Juna, Juna siap untuk bertanggung jawab Yah, tapi tidak dengan menikahi April."


"Maksudnya?" tanya Budi bingung.


"Juna hanya akan menafkahi putra Juna, tidak dengan menikahi ibunya."


Budi mengangguk lalu menepuk pundak menantunya. Setelah itu Juna dan Raya pun pamit pulang.


***


Sesuai kesepakatan, Juna dan Raya kini berangkat menuju rumah sakit Melati. Saat sampai di sana ternyata Irma dan Anwar telah sampai lebih dulu dan sudah membuat janji dengan dokter Ivo selaku dokter obgyn.


"Kalian sudah datang, tinggal menunggu April sama bunda dan Ayah kamu nih," ucap Risma ketika Raya dan Juna menghampirinya.


"Sudah daftar Mah?" tanya Raya.


"Sudah, harusnya mulai prakteknya jam satu siang nanti, tapi karena Mamah minta lebih awal, jadi jam 10 dokternya sudah ada di tempat."


"Dokternya anak teman Mamah, jadi tenang aja pasti akan memberikan informasi apa adanya."


Mengambil nafas sejenak lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Tadi Mamah juga sudah ceritain semuanya. Kronologis tentang pasien yang akan diperiksa," sambung Risma lagi.


Sekitar setengah jam mereka menunggu kedatangan April, Mira serta Budi. Namun, yang ditunggu-tunggu tak juga menampakan batang hidungnya.


Juna sudah sangat geram. Ia berdiri dan mengambil gawainya di dalam kantung celana. Agak menjauh dari tempat duduk istri dan orang tuanya, ia nampak sedang menghubungi seseorang.


"Raya hubungi Bunda dulu ya Mah, siapa tau mereka terjebak macet," ucap Raya meminta ijin menelpon Mira.


Risma mengangguk. Sedangkan Anwar dengan santainya telah menghabiskan tiga batang rokok dalam waktu setengah jam.


"Papah! Jangan ngerokok terus. Ini kan di rumah sakit. Enggak lihat memangnya ada tulisan segede gitu!" tunjuk Risma pada tulisan No Smoking Area, lalu tangan mengibas-ngibas asap rokok yang mengenai wajahnya.


"Jenuh Papah. Mana itu Budi sama Mira lama banget. Niat enggak sih ke sini. Papah ke kantin dulu deh, sekalian cari tempat buat ngerokok."


"Tunggu dulu. Raya lagi menghubungi Mira. Kita dengar dulu apa alasannya sampai terlambat."


Raya terlihat berjalan menghampiri mereka."Tuh, kita tanya Raya dulu. Udah habis tiga batang baru mau nyari tempat ngerokok. Papah aneh nih."


"Bagaimana Sayang?"

__ADS_1


"Mereka lagi ada di jalan Mah, sebentar lagi sampai. Tadi katanya Mbak April enggak berhenti muntah. Makanya baru bisa berangkat."


Risma menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu ia melihat suaminya yang sudah tenang memainkan ponselnya.


"Gimana?" tanya Juna saat menghampiri mereka.


"Lagi di jalan," ucap Raya dan Risma bersamaan.


Tidak lebih dari lima belas menit, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mereka semua segera masuk ke dalam ruangan dokter. Untung saja ruangan dokter Ivo sangat luas yang bisa menampung lebih dari lima belas orang. Sehingga mereka tidak perlu berdesakan ataupun merasa kepanasan saking banyaknya yang ikut masuk.


Dokter Ivo mengernyit saat melihat rombongan beberapa orang ikut masuk ke dalam. Mengerti apa yang dipikirkan oleh sang dokter, Risma berinisiatif memberi penjelasan.


"Maklum Dokter, ini cucu pertama. Jadi semuanya ingin lihat keadaan si utun."


Dokter cantik yang memakai hijab itu tersenyum. "Iya boleh, tapi selama saya memberikan penjelasan jangan ada yang memotong ya. Untuk pertanyaannya setelah saya selesai memeriksa."


"Baik dokter."


Sang perawat menanyakan data diri pasien. Saat itu April tidak menjawab, melainkan langsung merebut pulpen dan juga kertas yang ada di tangan perawat lalu mengisinya dengan cepat. Bukannya diberikan ke perawatl yang tadi menanyakan, April malah memberikannya pada dokter Ivo. Saat dokter Ivo melihat catatan yang ada pada kertas, sang dokter langsung melihat ke arah April, yang dibalas dengan tatapan memohon pada sang dokter. Sang dokter hanya mengulas senyum.


Setelah diperiksa berat badan serta tekanan darah, kini April diminta berbaring untuk dilakukan USG. Sang perawat membuka baju bagian depan lalu mengolesi perut April dengan gel. Seketika Juna dan Anwar langsung memalingkan wajah, untuk menatap ke arah monitor yang ada di belakangnya.


Sang dokter mulai memeriksa perut April dengan menempelkan alat USG setelah sebelumnya diberi gel.


"Ini sudah terlihat kantungnya ya Bu, tapi untuk embrio masih samar hanya terlihat seperti sebuah titik saja." Sang dokter lalu memperjelas sehingga terlihat titik hitam di monitor.


"Kondisi ini wajar, karena kehamilan yang baru memasuki usia enam minggu. Untuk lebih jelasnya bisa datang kembali sekitar usia 12 Minggu ke atas ya. Detak jantungnya juga sudah bisa di dengar ya Ibu, hasilnya bagus. Di sini usianya sekitar 6 minggu 5 hari. Untuk keseluruhan normal dan bagus."


Dokter menyudahi pemeriksaan USGnya, lalu menyuruh perawat untuk membersihkan gel di perut April.


April menjawab hanya dengan menganggukkan kepala. Sedangkan yang lain hanya bisa berdiam diri dengan pikiran masing-masing.


"Enam minggu lima hari? Apa itu artinya anak itu bukan anak Mas Juna?" batin Raya bertanya-tanya.


"Apa maksudnya ini? Enam minggu? tanya batin Mira.


"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya dokter Ivo memandang April kemudian menjatuhkan pandangannya pada setiap orang yang ada di hadapannya."


Diam. Tidak ada satu orangpun yang menjawab.


"Ada yang ingin ditanyakan lagi Ibu, Bapak?" tanya sang dokter sekali lagi.


"Cukup dokter. Terima kasih." Juna menjawab pertanyaan dari sang dokter.


Setelah menerima hasil print USG, April berlari keluar ruangan.


"April!"


"Mbak!"


Semua orang menyusul April yang tampak menaiki tangga yang akan menuju lantai atas. "Mbak, Mbak April mau kemana?" tanya Raya di belakangnya ikut berlari menaiki tangga yang disusul dengan Mira, Budi, Risma dan Anwar.

__ADS_1


"April kamu mau kemana Nak? Ayok kita pulang. Kita bisa bicarakan baik-baik." Mira tersengal-sengal akibat berlari. Air mata pun sudah berjatuhan dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Yang dipikirkannya sekarang hanya satu yaitu April.


April telah sampai di lantai paling atas gedung rumah sakit ini. Ia kemudian berhenti dan memberi peringatan kepada orang yang ada di belakangnya.


"Berhenti!" teriaknya lantang. Wajahnya sudah memerah, air matanya berjatuhan entah karena malu atau apa. Rambutnya pun sudah berantakan karena tertiup angin yang cukup kencang.


"Mbak, Raya mohon. Jangan Mbak, ayok kita pulang," mohon Raya dengan hati-hati karena April dengan sekejap sudah menaiki tembok pembatas.


"Tidak Nak!"


"April!"


"Bilang ke Juna, aku akan loncat dari atas gedung ini kalau dia tetap enggak mau menikah dengan ku!" ancam April.


Kaki Risma sudah gemetar. "Pah, bagaimana ini?" tanyanya pada sang suami.


"Tenang Mah."


"Gimana mau tenang, anak orang mau loncat dari gedung setinggi ini."


Mira berlutut sambil bersimpah air mata.


"April, Bunda mohon. Turun Nak. Nanti kita bicara dengan Juna," bujuk Mira namun tidak dipedulikan oleh April.


"April! Kamu jangan nekat. Kalau kamu loncat sama saja kamu membunuh dua nyawa." Kini Budi ikut bernegosiasi.


April nampak terkekeh. "Aku mati pun kalian enggak akan peduli kan?! Semenjak anak sialan itu, aku menjadi tersingkirkan," ucapnya sambil menunjuk Raya.


Raya hanya bisa menangis sambil mengedarkan matanya. Ia mencoba mendekat untuk meraih tangan April.


"Mbak, aku mohon. Kasian Bunda dan Ayah. Kalau aku punya salah aku minta maaf."


"Jangan mendekat!" teriaknya sambil mundur.


"April! Raya kamu mundur, kamu ingin melihat kakak kamu jatuh?! ucap Mira yang secara tidak langsung menyakiti Raya.


"Juna di mana? Lagi genting begini kok malah kabur," gerutu Risma.


Dua orang security nampak muncul di belakang Risma, yang diikuti seseorang yang April kenal. April menatap tajam orang itu.


"Ngapain lo ke sini?! Ini enggak ada hubungannya sama lo!"


Pria itu tetap mendekat, meskipun tidak diinginkan oleh April.


"Tidak! Jangan mendekat!"


April mundur dan kakinya terpeleset.


"Tidak!


"Raya!"

__ADS_1


TBC


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉😍


__ADS_2