Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
AKU HANYA PENGGANTI


__ADS_3

"Apa Raya sudah tahu?" tanya Mamah Risma pada Juna saat mereka sudah tinggal berdua.


Bunda Mira sudah pulang beberapa menit yang lalu. Mereka sepakat, Sabtu malam akan dimusyawarahkan bersama. Duduk berbicara dengan menghadirkan Juna, April, Raya dan kedua orang tua mereka. Dan Risma meminta pada Mira untuk tidak memberitahukan pada suaminya terlebih dahulu. Saat makan malam hari Sabtu saja mereka katakan yang sebenarnya. Ibu dari Juna itu juga sedang menunggu suaminya yang sedang di luar kota. Hari Jumat, rencananya Anwar baru pulang, sehingga masih ada waktu beberapa hari lagi ibu dua anak itu untuk mempersiapkan diri berbicara dengan suaminya.


Juna mengangguk disertai helaan nafas yang kasar.


"Apa Mamah enggak percaya dengan Juna?" tanya Juna menatap sendu wanita yang telah melahirkannya.


"Mamah percaya. Tapi bagaimana membuktikan kebenarannya? Mamah sendiri pusing setelah melihat foto kalian yang sedang tidur tanpa busana."


Risma memijat kepalanya yang terasa pening. Ia sangat percaya dengan anaknya. Namun, ia sendiri bingung kenapa April bisa berbuat seperti itu. Padahal selama pacaran dulu, ia terlihat sebagai wanita yang baik.


"Tapi bisa juga April itu benar kalau kamu telah menidurinya, meskipun kamu tidak sadar."


"Mah, Juna itu sedang tidak mabuk. Kami saat itu sedang makan siang bersama, dan tiba-tiba Juna merasa sangat mengantuk. Sadar-sadar Juna terbangun tengah malam, sudah tanpa pakaian berada dalam kamar hotel. Apa mungkin orang yang tidur bisa berbuat seperti itu?"


"Hah! Jangan-jangan, April yang telah memperkosamu," ucap Mamah Risma.


"Nah, itu yang sedang Juna pikirkan. Juna itu tidak sadar karena tertidur bukan karena mabuk, Mah. Kalau benar apa yang Mamah ucapkan tadi, itu artinya Juna tidak perlu tanggung jawab bukan?"


"Taulah Mamah pusing jadinya. Lebih baik Mamah makan dulu, gara-gara kamu Mamah jadi lupa makan," ucap Mamah Risma berlalu meninggalkan Juna sendiri di ruang tamu.


"Kalau gitu, Juna pamit Mah, Raya pasti nyariin Juna. Tadi enggak sempat kabarin, baterai juga lowbat."


"Makan dulu. Jangan sampai kamu pingsan di jalan," ucap Mamah Risma.


"Juna makan di rumah aja Mah, bareng Raya."


"Ya, sudah. Ini bawa, ada sambal cumi sama rendang. Niatnya tadi siang mau Mamah antar ke unit kamu, tapi keburu dapat kabar yang enggak enak."


Mamah Risma menyodorkan dua kotak makan yang berisi sambal cumi dan rendang daging kesukaan anak dan juga menantunya.


Juna menerima pemberian ibunya, lalu meraih tangan sang ibu kemudian pamit pulang.


***


Raya bolak-balik melihat penunjuk waktu yang menempel di dinding. Sudah hampir jam delapan malam, tapi suaminya belum juga pulang.


Ponselnya tidak aktif ketika dihubungi. Raya mencoba menepis segala pikiran buruk yang selalu melintas di benaknya. Namun, tetap saja yang namanya perempuan pasti selalu curiga apalagi tadi siang ia melihat sendiri bahwa kakak perempuannya sedang berada di kantor suaminya.


Wajar saja jika memang April berada di kantor Juna, karena ia adalah model yang memang setahu Raya perusahaan Juna bekerjasama dengan kakaknya yang sebagai brand ambasador salah satu produk yang dikeluarkan oleh perusahaan Juna.


"Non, lebih baik Non Raya makan duluan saja. Sudah hampir jam delapan loh Non. Mungkin Tuan Juna sedang sibuk jadi tidak bisa dihubungi." Mbak Nina mencoba membujuk Raya supaya mau makan tanpa menunggu Juna.


"Raya tunggu sebentar lagi deh Mbak," tolak Raya sambil memainkan ponselnya.


"Kalau begitu, saya simpan dulu makanannya ya Non. Kalau Non Raya mau makan, nanti Mbak hangatkan lagi."


Raya mengangguk sebagai tanda setuju. "Terima kasih Mbak."

__ADS_1


"Sama-sama Non."


Mbak Nina segera membereskan meja makan yang telah ditata dengan beberapa menu makan malam yang Raya masak khusus untuk suaminya. Namun orang yang ditunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Tak terasa Raya tertidur di sofa. Juna membuka pintu langsung disuguhkan dengan pemandangan seorang wanita cantik yang tertidur pulas di sofa.


Juna menghampiri Raya. Merapikan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


"Tuan."


Juna mendongak ke arah sumber suara.


"Maaf, cuma mau bilang kalau Non Raya belum makan malam. Tadi menunggu Tuan pulang katanya."


"Terima kasih Mbak." Juna berterima kasih karena diberitahu bahwa istrinya belum makan. Juna menyerahkan kotak yang diberikan mamahnya tadi kepada Mbak Nina.


"Tolong siapkan makan malam ya, Mbak. Kebetulan saya juga belum makan. Saya ke kamar dulu, nanti biar saya saja yang membangunkan Raya," ucap Juna lalu segera ke kamarnya untuk berganti baju.


"Baik Tuan."


Mbak Nina segera menyiapkan makan malam untuk tuan dan nyonya nya yang sudah terlambat.


Juna keluar dari kamar sudah terlihat segar. Mbak Nina menghampiri Juna.


"Makan malam sudah saya siapkan Tuan. Saya permisi dulu. Kalau sudah selesai, panggil saya saja."


"Baik Tuan."


Juna menuju ruang keluarga di mana sang istri tadi tertidur pulas. Ia ingin membangunkan Raya untuk mengajaknya makan malam. Saat tiba di ruang keluarga, ternyata Raya sudah bangun dan sedang duduk memainkan ponselnya.


"Loh, istriku yang cantik ini sudah bangun?"


Raya hanya menoleh sekilas lalu beralih lagi menatap layar ponsel.


"Kayaknya lebih menarik ponsel dibanding suaminya ini ya," ucap Juna mengambil ponsel dari tangan Raya lalu memasukannya ke dalam kantung celana.


"Mas! Balikin!"


"Mas akan balikin, tapi setelah makan. Kita makan dulu yuk. Kamu belum makan 'kan?"


Raya segera berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju meja makan sambil menghentakkan kakinya. Juna tersenyum melihat tingkah lucu istrinya, kemudian menyusulnya ke meja makan.


Raya mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri. Kemudian memakannya dengan lahap. Juna yang melihat Raya makan sendiri tanpa menyiapkan terlebih dulu untuknya seperti biasanya lalu protes.


"Kok aku enggak disediain nasinya. Malah makan sendiri?"


"Ambil aja sendiri, punya tangan 'kan?" ucap Raya ketus dengan terus mengunyah makanannya.


Juna mengambil nasi untuknya. Ia lalu mengambil sedikit sambal cumi yang dimasak ibunya, lalu beberapa lauk dan sayuran yang telah istrinya masak pastinya.

__ADS_1


Melihat istrinya makan dengan lahap dan banyak, maka timbul ide jahil dalam otaknya.


"Makan yang banyak ya, biar nanti malam kuat mengimbangi," ucap Juna sambil mengerlingkan matanya ke arah Raya.


Raya langsung tersedak mendengar ucapan Juna yang sangat konyol. Bukan maksud ingin menolak, toh Raya juga menikmati. Wajar saja kan, mereka sudah menjadi suami istri yang sah. Melakukan itu justru akan mendapatkan pahala. Raya tersedak karena Juna berbicara dengan keras. Raya takut Mbak Nina mendengarnya.


Juna menyodorkan minum untuk Raya. Raya meminumnya sampai habis, setelah itu ia segera membereskan bekas makannya.


"Loh, udah selesai?" tanya Juna yang melihat istrinya pergi ke dapur membawa piring bekas makannya.


"Udah. Tolong beresin nanti ya Mas, aku mau tidur. Ngantuk."


Juna memandang Raya yang telah menghilang di balik pintu. Ia pun segera menyelesaikan makannya.


Setelah membersihkan meja makan, Juna segera menyusul Raya. Juna langsung masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Raya masih betah di depan cermin untuk melakukan rutinitas malamnya untuk perawatan wajahnya.


"Rendang dan sambal cumi tadi dari siapa Mas?" tanya Raya saat melihat Juna keluar dari kamar mandi.


"Dari Mamah," jawab Juna di belakang Raya. Lalu laki-laki itu memegang kedua pundak Raya hanya untuk mengecup puncak kepala istrinya.


"Mas Juna ke rumah Mamah?"


"Iya. Mamah tanya tentang kehamilan April. Ada Bunda juga di sana," jawab Juna sambil memeluk Raya dari belakang.


Mata Raya terbuka lebar. Ia melepaskan pelukan suaminya. Berdiri menghadap Juna.


"Bunda sama Mamah sudah tau?"


Juna mengangguk. Lalu duduk di pinggiran ranjang. Kemudian Raya mengikutinya.


Raya khawatir dengan perasaan mamah serta bundanya. Mereka pasti sangat kecewa dan terpukul. Terutama bunda, pasti sangat sedih.


"Mas ... se-sebaiknya Mas Juna segera ceraikan Raya lalu menikahi Mbak April."


Rahang Juna mengeras, wajahnya memerah merasa kesal dengan permintaan Raya.


"Jangan ngawur kalau ngomong," ucapnya sambil menatap Raya dengan tajam.


"Aku hanya pengganti Mas, lagi pula sesuai perjanjian awal, kita akan bercerai ...."


"Sampai kapan pun, aku enggak akan menceraikan mu!"


TBC


Dari kemarin sore belum lulus review juga 😭 jadinya kemarin terhitung gak update


Jangan lupa like like like komen komen komen vote vote vote


Terima kasih 😘 😍

__ADS_1


__ADS_2