
Raya membalikkan lembaran yang lain.
November, 1997
Rasanya seperti didatangi oleh malaikat Izroil, saat melihat hasilnya.
Aku yang bersalah, aku yang berdosa. Dia tidak, sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimku sangatlah suci.
Sungguh semakin menumpuk dosa ini, apabila aku melenyapkannya.
Masih di lembar yang sama, Raya melihat sketsa wajah wanita yang sedang tersenyum namun matanya mengeluarkan air.
Raya usap wajah sketsa tersebut. Saat menyentuhnya, hati Raya terasa tercubit. Sakit. Tidak ingin berlama-lama, Raya pun membuka lembar demi lembar buku catatan milik wanita yang telah mengandung dan melahirkannya. Hingga tiba di lembar di mana Raya membacanya sambil menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara tangisnya.
Februari, 1997
Masya Allah, pertama kali aku merasakannya. Meskipun belum terlalu kuat, namun denyutan itu sangat terasa.
Saat itulah aku langsung jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta sebelum melihat rupanya. Jatuh cinta sebelum mendengar suaranya.
Tumbuh dan berkembanglah dengan baik Nak, Umi sayang kamu ❤️.
Raya sangat faham, seberapa besar rasa cinta ibu kepada anaknya. Bahkan saat anak belum terlahir ke dunia, rasa itu telah tumbuh dengan subur.
Ia pun pernah merasakan hal itu. Namun, bedanya saat rasa cinta itu hadir bersamaan dengan rasa kehilangan.
Rasa meraba perutnya, ia tak banyak berharap. Yang ia inginkan, semoga suatu saat ia bisa merasakan tendangan dari dalam perutnya, melihat perutnya membesar, mendengar jerit tangis pertama saat anaknya dilahirkan, dan kalau boleh ia berharap ada seseorang yang ia cintai, menemaninya dari awal kehamilan sampai melahirkan, serta bersama-sama merawat dan membesarkan buah hati mereka.
Ia pun melihat ke arah Juna yang sedang tertidur dengan pulas. Ia tidak ingin mengalami hal yang serupa dengan uminya.
Ia sangat tau, menjadi uminya sangatlah tidak mudah. Harus terus hidup dengan perut membesar tanpa adanya suami di sampingnya. Harus mengungsi ke desa yang jauh dari saudara. Dan pastinya berjuang melahirkan serta menyusui dengan pergolakan batin.
Raya membuka lagi lembar demi lembar yang hampir semua isinya menerangkan kebanggaan dan cinta kasih Arini kepada anak yang tangah dikandungnya.
Saat akan membuka lagi lembar berikutnya, ia merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Raya langsung tau jawabannya saat melihat tangan kekar yang melingkar di perutnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Juna dengan suara serak.
Raya dengan cepat menghapus sisa air mata yang masih mengalir lalu kemudian menutup buku berwarna hitam itu.
"Ini, mau tidur," jawab Raya sambil membalikan badannya sehingga dengan berat hati Juna melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu habis nangis?" tanya Juna ketika melihat kedua mata Raya yang masih sembab.
Raya mengangguk. "Tadi, aku coba buka buku diary milik Umi. Bukannya mampu mengobati rasa rindu ini, malah makin membuat aku semakin rindu dan ingin berjumpa dengan beliau walaupun dalam mimpi," ucap Raya sambil mencoba tersenyum kepada Juna.
Juna mendekap kepala Raya. Diciuminya rambut panjang istrinya.
"Insya Allah, Umi sudah tenang di sana. Yang terpenting jangan pernah putus mendoakannya. Supaya kita bisa sama-sama bertemu di Jannah-Nya."
Juna berbicara seperti itu ,mencoba untuk menenangkan istrinya. Tapi yang terjadi justru air mata yang telah berhenti itu kembali mengalir di pipi mulus Raya.
***
Keesokan harinya, Raya serta Juna berkunjung ke rumah Mira dan Budi. Raya ingin melihat keadaan orang tuanya dan juga menanyakan kelanjutan pencarian kakaknya.
Saat tiba di sana, Bima yang merupakan manager sang kakak pun sedang berada di sana.
"Assalamu'alaikum." Raya mengucapkan salam ketika memasuki rumah orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab sang bunda dari arah dapur.
"Sendiri Sayang?" tanya Mira ketika tidak melihat keberadaan Juna.
"Bareng Mas Juna, Bun. Sekarang lagi ngobrol di depan sama Bang Bima," jawab Raya.
"Alhamdulillah seperti yang Bunda lihat."
"Alhamdulillah."
"Ayah mana?"
"Ayah sedang ke kantor polisi untuk membuat laporan," jawab Mira dengan raut wajah sendu.
"Kata orang suruhan teman Papah, terakhir Mbak April ada di stasiun Pasar Senen. Apa Bunda sudah menghubungi Om Panji untuk menanyakan keberadaan Mbak April?"
Mira mengangguk. "Sudah, tapi April tidak ada di sana. Entah di mana sekarang mbakmu itu. Mana sedang hamil, dia tidur di mana, apa dia bisa makan. Bunda hanya berharap semoga tidak ada orang jahat yang memanfaatkan nya," ucap Mira yang kembali matanya berkaca-kaca.
Mira menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit apabila mengingat di mana keberadaan anak sulungnya.
Raya segera memeluk Mira. Mencoba mengatakan hal-hal yang dapat membuat Mira tenang kembali.
"Bunda," sapa Juna ketika menghampiri dua wanita yang sedang berpelukan tersebut.
__ADS_1
Mira segera melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya yang terus saja mengalir. Ia mencoba memberikan senyuman terbaiknya kepada sang menantu ketika Juna menyalami tangannya.
"Juna sama Bima mau coba mencari di pemukiman sekita Senen, karena menurut keterangan Bima, April tidak membawa apa pun termasuk KTP, bahkan uang sepeser pun tidak," terang Juna.
"Iya betul Tante. Jadi sangat tidak mungkin jika April pergi ke luar kota menaiki kereta," imbuh Bima.
"Tapi, April saat itu memakai kalung pemberian Bunda," ucap Mira.
"Kalung itu sudah diberikan kepada klinik sebagai pembayaran saat ia mencoba untuk menggugurkan kandungannya," timpal Juna.
"Apa?! Jadi April ...."
Wajah Mira langsung memucat saat mendengar fakta yang keluar dari mulut Juna.
"Tenang, Bun. Mbak April masih mempunyai hati nurani. Jadi, ia mengurungkan niatnya itu," ucap Raya mencoba menenangkan Mira.
"Ajak Bunda ke kamar. Mas sama Bima berangkat sekarang."
Raya pun menuruti apa yang Juna katakan. Setelah Juna dan Bima berpamitan, Raya segera membawa Mira ke kamar untuk istirahat.
Raya membantu Mira untuk berbaring di kasur. lalu ia menarik selimut sampai batas perut.
"Sekarang Bunda istirahat ya, Raya temani. Kita serahkan urusan pencarian Mbak April ke Mas Juna dan Bang Bima. Kita bantu doa saja dari sini."
Mira mengangguk lalu meraih tangan Raya.
"Tidurlah di samping Bunda Nak. Bunda kangen ingin peluk putri Bunda. Sudah lama 'kan kita enggak pernah tidur bersama semenjak kamu menikah."
Tanpa menunda-nunda, Raya langsung naik ke ranjang dan berbaring di samping Mira. Masuk ke dalam pelukan hangat seorang Ibu. Rasanya damai.
Akhirnya rasa rindu selama ini bisa terobati. Raya membayangkan seolah sedang dipeluk oleh dua wanita yang ia sayangi. Ia membayangkan Bunda dan Uminya sedang mendekapnya dengan erat.
Berada dalam dekapan sang bunda, membuat Raya menjadi seperti sedang dilindungi. Semoga selamanya bisa seperti ini. Ia juga sangat menyayangi kakaknya. Semoga saja April bisa ditemukan dan keadaan baik-baik saja.
Tak terasa, rasa hangat dan nyaman itu mengantarkannya ke alam mimpi.
"Umi, Raya rindu."
TBC
Maaf gaes, baru bisa update, komen yang banyak ya, tapi kalo bisa jangan hanya komen next atau lanjut hehehehe
__ADS_1
Terima kasih 😍😘