Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
Pulang


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua minggu Raya dan Juna berada di negara orang. Beberapa negara telah mereka jelajahi. Dari mulai Perancis, Swiss, Jerman, dan kini mereka sedang berada di negara kincir angin.


"Besok jadi melihat bunga?" tanya Juna sambil menyisir rambut panjang Raya yang agak sedikit kusut karena akhir-akhir ini sang empunya rambut sedang malas menyisir. Alasannya hanya karena cuaca dan hawa yang berbeda sehingga membuatnya malas untuk menyisir rambut.


Meskipun heran dengan alasan sang istri, namun Juna tetap memaklumi mood perempuan yang kadang suka naik turun atau berubah-ubah. Sehingga, demi supaya dpat melihat istrinya tetap tampil cantik dengan rambut yang indah, ia rela setiap hari menyisiri rambut istrinya dengan senang hati. Meskipun, ia akui bahwa tanpa menyisir rambut pun istrinya akan tetap terlihat cantik. Bahkan ketika rambut Raya berantakan karena ulahnya pun istrinya itu tetap terlihat cantik dan menggemaskan.


"Jadi dong. Momen yang paling aku tunggu-tunggu. Ah rasanya nggak sabar bisa melihat bunga tulip yang begitu banyaknya juga beraneka warna." Mata Raya terlihat berbinar ketika mengatakannya.


"Besok pokoknya fotonya harus lebih bagus dari foto yang sebelum-sebelumnya," ucap Raya kembali sembari mendongak menatap Juna.


Juna mencium kening Raya lalu meletakkan sisir di atas meja. "Pasti Sayang. Sekarang kita istirahat dulu yuk. Supaya besok nggak bangun kesiangan," ajak Juna kepada sang istri dengan mengulurkan tangan.


"Tapi aku mau Mas," ucap Raya sambil tersenyum.


"Mau apa?" tanya Juna seperti orang bodoh.


Raya berdiri dan tersenyum kikuk. Mendorong Juna menuju tempat tidur. "Mau yang bikin merem melek," ujar Raya tangannya melingkar di leher Juna.


"Bukannya kamu lagi datang bulan?" tanya Juna sambil menyipitkan matanya.


"Sudah selesai. Cuma dua hari, itu juga keluarnya sedikit," jawab Raya dengan tenang.


Juna menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk menahan rasa kesalnya. Sejak hari kedua mereka di Paris, rupanya Raya kedatangan tamu bulanan, sehingga membuat Juna sedikit lemas karena hanya bisa menggenggam tanpa dapat menikmati keindahan yang sudah terencana selama mereka berbulan madu. Dan baru saja kemarin Juna bertanya kepada Raya apakah tamunya itu sudah pergi supaya ia dapat kembali menghisap manisnya madu dari sang istri. Namun, jawaban Raya membuatnya sedikit kecewa. Namun, meski begitu ia tetap menikmati kebersamaan bersama istrinya dengan ceria. Karena kalau dipikirkan lagi, bulan madu tidak melulu hanya soal kegiatan di ranjang.


Sekarang Raya bilang kalau tamunya sudah pergi karena hanya hadir dalam waktu dua hari saja. Ah, sungguh Raya itu memang istri yang sangat menggemaskan. Juna pun berniat akan menghukum Raya sebagai konsekuensi Karen membohongi dirinya dan membuat si onda harus terkurung lama selama berbulan madu.


"Udah pintar bohong ya sekarang. Kemarin Mas raya katanya masih dapat. Sekarang bilangnya cuma dua hari." Jun menatap Raya yang meringis karena sudah keceplosan.


"Maafin Raya ya Sayangku. Entah kenapa rasanya malas banget kemarin-kemarin kalau mau melakukan itu. Tapi sekarang ... rasanya rindu berkeringat berdua."


Raya memasang senyum yang amat manis supaya dimaafkan kesalahannya oleh sang suami karena telah berani-beraninya berbohong. Apalagi momennya mereka sedang berbulan madu. Tetapi memang ketika Juna ingin meminta haknya rasanya Raya sangat malas melayaninya, sehingga ia terpaksa berbohong kalau tamunya masih bertandang.


"Kini Mas yang mau minta maaf. Rasanya hari ini malas sekali." Juna berpura-pura menguap dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Maaf, hari ini Mas rasanya ngantuk dan malas melakukan apa-apa," ucapnya kemudian menutupi wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


Raya melengkungkan bibirnya ke bawah. Namun akhirnya ia pun ikut berbaring di samping Juna tapi memunggunginya.


Hening, hanya terdengar suara jarum jam yang terus bekerja tanpa pernah lelah. Juna membuka selimutnya menoleh ke samping yang ternyata kosong.


"Di mana Raya?"


Juna bergegas bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk memastikan istrinya berada di sana.


Kosong. Di kamar mandi hotel yang cukup luas itu bahkan tidak ada jejak bahwa seseorang tengah berada di sana.


Juna mulai cemas. Namun, saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia melihat pintu balkon terbuka dan ada angin masuk sehingga gorden yang tertiup angin itu melambai-lambai ke arahnya seolah meminta untuk didekati.


Juna tersenyum geli ketika melihat Raya sedang duduk di sofa yang ada di balkon dengan tubuh yang terbungkus selimut. Tak hanya itu, Juna melihat Raya sedang menghambur-hamburkan tisu setelah sebelumnya ia gulung-gulung dulu tisu tersebut.


"Harus lebih bnyak tisu yang berserakan. Supaya mas Juna mengira aku nangis semalaman di sini," ucap Raya dengan percaya diri. Semua itu tak luput dari pendengaran maupun penglihatan Juna.


Juna kemudian meninggalkan pintu balkon. Namun beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa dua buah cangkir di tangannya.


Juna langsung duduk di sebelah Raya yang tampak terkejut lalu membuang muka enggan melihat Juna.


"Aku lagi marah lho. Nangisnya juga beneran. Kok dibilang akting. Nih lihat! mataku merah kan?" Raya menunjuk matanya yang memang memerah tapi bukan karen menangis.


"Iya ... iya. Mas percaya. Nih, minum dulu tehnya selagi hangat." Juna menyerahkan satu buah cangkir kepada istrinya.


"Mintanya apa dikasihnya apa." Raya menggerutu namun tetap diterima juga cangkir dari Juna.


"Minum, biar hangat. Nanti kamu kedinginan. Sepertinya akan lama, mungkin sampai subuh."


Raya tersedak mendengar ucapan Juna. Ia lalu menatap tajam suaminya.


Juna mengangguk. "Di sini. Sekarang. Mau?" Mengedipkan sebelah matanya kepada sang istri.


Raya mengangguk cepat lalu menghabiskan teh hangat yang telah dibuat oleh sang suami.

__ADS_1


***


Setelah sarapan, mereka segera menaiki bus menuju taman keukenhof. Taman keukenhof merupakan taman bunga terbesar di dunia. Beruntung mereka berada di Belanda saat taman itu buka. Taman tersebut hanya buka sekitar minggu akhir bulan Maretsampai pertengahan bulan Mei.


Mata Raya langsung berbinar ketika melihat hamparan jutaan kuncup bunga tulip yang memanjakan mata.


Tak melewatkan kesempatan, Raya langsung mengabadikan momen berada di tengah hamparan bunga tulip di dalam kamera digitalnya.


Hampir seharian Juna mengikuti sang istri berkeliling taman tersebut.


"Hah, puasnya. Ternyata melihat di media sosial dengan melihat langsung itu beda ya. Rasanya nggak pengen pulang."


"Beneran nggak mau pulang?" tanya Juna.


Raya menggeleng. "Pengen pulang ke Jakarta malah. Pengen makan rendang buatan Mama."


"Kita cari resto masakan Indonesia, pasti ada rendangnya." Juna menggandeng tangan istrinya keluar dari taman kemudian kembali menaiki bus menuju restoran yang dimaksud.


Setelah sampai di restoran yang dituju. Mereka langsung masuk ke dalam dan segera memesan makanan yang ingin mereka makan. Di restoran itu menu Indonesianya sangat lengkap. Karedok, gado-gado, kerak telor, gudeg bahkan ada cimol dan juga cireng. Wajar saja yang punya restoran tersebut adalah orang Indonesia yang berwarga negara Belanda.


Raya hanya memesan rendang, karena memang hanya itu saja yang ingin ia makan saat ini. Sedangkan Juna ada bnyak makanan yang ia pesan.


"Yakin cuma pesan itu?" tanya Juna yang langsung dijawab anggukan oleh sang istri.


Mereka berdua menikmati makanan yang telah terhidang di meja. Juna sangat lahap menyantap semua pesanannya. Sedangkan Raya seperti ogah-ogahan.


"Kenapa? nggak enak?" Juna langsung menyendok nasi dicampur rendah yang ada di piring Raya. "Enak kok. Nggak beda dengan masakan Mama."


"Tetep aja beda," ucap Raya tapi tetap menghabiskan makannya meskipun dengan sangat lama.


Mereka kini sedang berada di bandara untuk menuju ke Indonesia. Padahal masih ada beberapa hari lagi untuk mereka berbulan madu. Namun, karena Raya selalu menginginkan masakan sang mertua dan tidak berselera makan apa saja yang telah disediakan di hotel maupun beli di resto.


Dalam perjalanan Raya hanya melamun sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


__ADS_2