
Semua anggota keluarga duduk melingkari meja makan. Mereka semua menikmati sarapan dengan backsound ocehan Risma.
Ibu dari Juna tersebut sudah tidak sabar ingin ikut mengantar Raya ke dokter untuk memastikan bahwa menantunya itu sedang mengandung cucunya.
Namun menurutnya semua orang hari ini sangat bergerak lambat dan juga berbuat tidak sesuai dengan keinginannya. Jadilah ia mengoceh sepanjang masuk ke kamar Juna sampai keluar lagi dan diteruskan saat ini ditengah menunaikan makan pagi mereka.
"Kamu ini Juna, sudah tau hari ini mau ke dokter. Kok ya malah Raya digangguin. Jadinya kan lama. Untung saja Mama kepikiran buat telfon dokter Mita. Kalau nggak , kalian harus ikutan antri seperti yang lainnya," oceh Risma sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya.
"Gangguin apa sih Mah. Tadi Juna tuh habis bantuin Raya urutin tengkuknya. Soalnya Raya dari tadi muntah-muntah terus," protes Juna tidak terima atas tuduhan ibunya.
"Ya kamunya jadi suami jangan lamban. Harus siaga. Sat set sat set ngono loh. Udah tau istrinya muntah-muntah ya buatin minuman hangat biar berkurang rasa mualnya. Coba kalau Mamah nggak masuk ke kamar kalian. Pasti kamu bakalan pelukin Raya terus sampai sore. Orang hamil itu biasanya paling malas kalau dipeluk, pa lagi mual-mual kaya Raya gini."
Juna hanya mampu menghela napas dengan kasar dan melanjutkan sarapannya. Sedangkan Raya sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
"Kenapa Sayang? Nggak suka ya?" tanya Risma yang melihat Raya hanya mengaduk makanannya dengan dahi berkerut.
Raya tergagap. Ia tidak menyangka kalau aksinya akan terlihat oleh sang mertua. Jujur saja ia merasa tidak berselera dengan makanan di hadapannya, bahkan perutnya terasa kembali seperti diaduk. Ingin sekali ia mengeluarkan isi perutnya yang mungkin hanya terisi air tapi ia tahan karena sungkan dengan mertuanya yang sudah membuatkan makanan yang ia minta sedari subuh.
Entah kenapa ia jadi tidak suka dengan aroma rendang yang menurutnya seperti bau sampah. Padahal sewaktu di Belanda ia ingin sekali makan makanan tersebut hasil olahan mertuanya. Tapi sekarang, sudah tersaji dihadapannya dengan jumlah yang banyak justru dengan melihatnya saja kepalanya menjadi berdenyut nyeri.
Raya menggeleng dengan tidak nyaman. "Su-suka kok Mah. Tapi ... rasanya Raya pengin muntah, enek nyium baunya. Maaf ya Mah," ucap Raya lemah sambil menunduk.
"Nggak papa. Wajar kalau lagi hamil ya begitu." Risma berdiri lalu berjalan mendekat ke arah menantunya. "Kalau bikin mual nggak usah dimakan. Ganti yang lain aja ya. Mau Mamah kupasin buah atau dibuatkan jus?" Risma menyingkirkan piring Raya lalu ia bawa ke dapur. Kemudian mengambil buah yang ada di dalam kulkas dan membawanya ke meja makan.
"Biar Raya saja Ma. Mamah lanjutin sarapan nanti keburu dingin nggak enak." Raya ingin mengambil pisau dan buah yang ada di tangan Risma namun tidak diperbolehkan.
"Udah kamu duduk aja sambil nonton tv sana. Kalau duduk di sini nanti mual lagi gara-gara bau rendang."
Raya menggeleng. "Nggak papa Ma di sini aja, sekalian temenin Mas Juna. Maaf ya Ma. Mama udah capek-capek masakin buat Raya. Tapi malah nggak masuk sama sekali."
"Nggak papa, namanya hamil ya wajar kalau begitu. Pagi pingin rendang giliran dimasakin pingin yang lain. Sore nangis-nangis satu jam kemudian udah ketawa-ketawa ya wajar itu," jawab Risma. Ia memberikan buah apel dan pear yang sudah dikupas dan dipotong-potong kepada Raya.
"Itu hamil apa gila Ma? Habis nangis ketawa," timpal Juna.
Risma langsung menarik telinga Juna sampai memerah.
"Aduh! Sakit Ma." Juna mengusap telinganya yang terasa panas akibat sentuhan tangan ibunya.
__ADS_1
"Kalau istri lagi hamil itu jangan ngomong sembarangan. Kata orang sunda teh pamali. Kalau kata orang jawa itu ora ilok."
"Pamali si pamali tapi jangan jewer juga dong."
"Biar kapok."
"Papa udah selesai Ma. Raya, Juna nggak papa kan kalau Papa nggak ikut mengantar ke rumah sakit?"
"Emang nggak bisa gitu Pah dibatalin?" tanya Risma yang kembali melanjutkan makannya yang tertunda."
"Nggak enak Mah. Udah satu bulan yang lalu janjiannya."
"Nggak papa kok Pah. Lagian cuma mau periksa aja,"jawab Raya.
"Iya nggak papa Pah. Mama aja yang lebay," sahut Juna.
"Iya Pah, lagian belum tentu juga aku mual karena hamil. Aku takut buat kalian kecewa," ujar Raya mengurungkan tangannya yang akan menyuapkan buah.
"Kalau Papah nggak masalah Nak. Jangan terlalu dipikirkan kalau memang belum rezeki. Kalian masih muda, masih banyak kesempatan."
"Iya betul. Mama juga nggak akan kecewa kok. Tapi kali emang beneran hamil ya Alhamdulillah," sahut Risma.
"Ya kalau itu harus, tapi nggak boleh kecewa juga kalau emang ternyata belum hamil. Boleh kecewa karen memang sedang berharap, tapi nggak usah berlarut-larut."
***
Mereka bertiga pun kini sudah sampai di rumah sakit. Tentu saja karena sudah membuat janji dengan dokter Mita, maka Raya langsung masuk ke ruangannya ditemani oleh Juna dan juga ibu mertua yang tak ingin ketinggalan berita.
"Sudah telat berapa minggu?" tanya dokter Mita ketika Raya sedang diperiksa tensi darah dan juga ditimbang berat badannya oleh perawat.
"Belum telat Dok. Tapi sudah beberapa hari ini Raya sering mual dan muntah," jawab Risma mewakili Raya.
Juna geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita yang pernah melahirkannya itu. Ia biarkan saja, toh sang mama berbuat begitu karena merasa sangat bahagia akan segera mempunyai cucu, tapi itu juga belum pasti.
"Iya Dok. Tapi sempat ngeflek dua hari waktu di Paris."
"Sudah coba tespack?"
__ADS_1
"Belum."
"Ya, sudah. Ayo, berbaring kit langsung USG saja ya. Supaya lebih jelas."
Raya pun berbaring di tempat yang sudah disediakan dengan dibantu oleh perawat.
"Permisi ya Bu," ujar perawat ketika ingin menyingkap baju Raya dan mengoleskan gel pada di perutnya.
Dokter Mita mulai menggerakkan alat dia tas perut Raya.
"Bagaimana dokter. Menantu saya hamil tidak?" tanya Risma yang sangat penasaran sambil menajamkan penglihatannya ke arah monitor.
Dokter Mita tersenyum. "Ini Bu. Coba lihat di sini," ucapnya sambil menggerakkan alat tersebut di suatu titik.
"Apa itu dok, nggak keliatan. Hitam semua," jawab Risma sambil mengucek matanya.
"Memang belum begitu jelas. Masih sangat kecil. Titik kecil berwarna hitam ini insya Allah bakal janin. Belum terlihat karena usianya masih 6 minggu. Selamat ya."
Baik Raya, Juna, maupun Risma terkejut seperti tak percaya. Raya mengelus perutnya yang masih raya dengan gemetar. Matanya pun sudah berkaca-kaca.
"Terima kasih Sayang." Juna mencium kening Raya dan puncak kepala istrinya dalam sampai ia pun ikut menitikkan air mata.
"Beneran Dokter?" tanya Risma yang saking bahagianya sampai tidak percaya bahwa menantunya beneran hamil.
"Iya Bu. Selamat ya. Ibu akan jadi nenek."
Risma segera memeluk Raya dan menepuk pundak Juna dengan kencang sehingga Juna memekik kesakitan.
"Mah!" protes Juna.
"Hebat juga kamu Jun. Udah punya kecebong aja," ucap Risma yang disambut gelak tawa oleh semua orang kecuali Juna tentunya.
"Memangnya Juna kodok?" ucap Juna kesal karena mamanya kalau bicara tidak melihat situasi. Asal ceplos saja
"Kan kamu pangeran kodok Jun," jawab Risma enteng.
"Mamah ratu kodok dong kalau aku pangeran kodok."
__ADS_1
Bersambung ...