
"Lalu apa rencana mu?" tanya Risma sambil meremas tangan Arini, seolah memberitahu bahwa ia selalu mendukung apa pun keputusan sahabatnya itu.
"Apa kau akan menggugurkannya?"
"Astagfirullah, aku tidak akan menambah dosa yang telah menggunung ini," jawab Arini frustasi.
"Maafkan aku." ucap Mira menyesal. "Tapi apa Mas Budi sudah tau? Bagaimana dengan Ibu dan Bapak?"
"Belum ada yang tau selain kalian berdua dan laki-laki itu."
Risma menghela nafasnya dengan pelan. "Apa tanggapan laki-laki itu setelah tau kamu hamil anaknya."
"Yang pasti dia syok, karena dia pun tidak sadar saat melakukannya. Tapi dia ingin bertanggung jawab dengan menikahi aku."
Risma dan Mira sama-sama merasa lega, karena laki-laki yang telah menghamili sahabatnya mau bertanggung jawab.
"Syukurlah, sekarang tinggal menghadapi Ibu, Bapak serta Mas Budi," ucap Mira.
Arini menggeleng. Risma dan Mira dibuat bingung dengan keputusan sahabatnya. Arini tidak mau menikah dengan laki-laki mana pun termasuk laki-laki yang telah membuatnya hamil.
Ia akan melanjutkan kehamilannya, sampai ia melahirkan dan menyusui anaknya. Semua orang heran dengan keputusan Arini. Paman, Bibi serta sepupunya tentu saja merasa marah sekaligus kecewa bercampur sedih, karena tidak bisa menjaga Arini sampai ia harus mengalami semua ini.
Arini diungsikan ke tempat lain oleh pamannya atas permintaan Arini sendiri. Arini tidak ingin membuat malu keluarga pamannya. Ia menjalani kehamilan seorang diri di kampung halaman pamannya.
Orang-orang kampung taunya Arini telah menikah dan suaminya sedang bekerja di luar pulau. Setiap satu bulan sekali paman dan bibinya selalu menjenguknya untuk melihat keadaannya serta memastikan kebutuhannya tercukupi.
Kedua sahabatnya dan sepupunya pun selalu datang setiap ada kesempatan. Waktu terus berlalu, tak terasa Arini telah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Wajahnya mewarisi wajah ibunya. Ya, tentu saja orang akan menilai seperti itu, karena mereka tidak mengetahui siapa ayah bayi itu.
Cut Rayana Musyafia, nama yang Arini berikan untuk putrinya.
"Apa ayahnya orang Aceh?" tanya Mira penasaran.
Arini mengangguk dengan terus tersenyum sambil membelai pipi mulus putrinya. Tanpa sepengetahuan paman, bibi, serta kedua sahabatnya, laki-laki itu sesekali berkunjung untuk melihat keadaan Arini dan putrinya. Namun, Arini hanya memperbolehkan laki-laki itu duduk di teras sedangkan ia berada di dalam. Mereka berbicara dengan batas jendela dan pintu yang terbuka. Laki-laki itu pun memahami penolakan Arini terhadapnya yang ingin menikahinya.
Arini selalu menangis saat ia memohon ampunan kepada Rabb-nya. Ia sudah bertekad untuk benar-benar bertobat. Meskipun, mungkin akan dianggap aneh oleh sebagian besar masyarakat, karena kebanyakan mereka akan menganggapnya wanita bodoh dan gila.
__ADS_1
Saat Raya genap berusia dua tahun, Arini pergi membawa putrinya ke suatu daerah yang ia yakini mau mengabulkan permintaannya.
Risma mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ia diminta datang ke daerah tersebut untuk menjemput seorang balita dan jenazah seorang wanita yang langsung Risma ketahui adalah sahabatnya karena orang tersebut menyebutkan nama si jenazah.
Risma langsung teringat perkataan Arini saat terakhir kali ia menemuinya.
"Nanti, kamu jaga anaku dengan baik ya Mir. Anggap dia sebagai anakmu sendiri," ucap Arini pada Mira.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Mira. Namun, hanya ditanggapi oleh Arini dengan senyuman.
"Kamu mau kan Ris, menjadi mertua untuk anakku? Aku yakin Juna laki-laki yang tepat untuk Raya," ucapnya sambil mengusap kepala anak laki-laki yang sedang asik bermain robot.
"Anak kita masih kecil, masih sangat jauh. Kamu kenapa sih, omongannya aneh."
"Aku cuma ingin mastiin, bahwa Raya selalu mendapatkan kasih sayang meskipun bukan dari ibu atau ayahnya."
Risma memberitahu Mira serta Budi. Tentu saja mereka terkejut dengan informasi yang mereka dapatkan. Mereka tadinya tidak percaya begitu saja dengan si pemberi informasi. Namun saat mereka melihat foto yang dikirim ke ponsel Risma bahwa benar itu adalah Arini dan juga setelah mengecek rumah yang biasa Arini tempati ternyata sudah kosong.
Mereka berempat berangkat ke daerah itu, orang tua Budi sudah meninggal sejak Raya berusia satu tahun, jadi sekarang Raya adalah tanggung jawab Budi.
Arini ingin terbebas dari dosa itu. Toh dia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu, dengan menjaga anaknya dan menyusuinya sampai usia dua tahun.
Tadinya petinggi menolaknya, karena di tempatnya hukuman bagi pezina memang dicambuk tapi tidak sampai mati, hanya untuk memberikan efek jera. Namun Arini tetap kokoh pendiriannya.
Petinggi pun musyawarah dengan para ulama di sana, mereka akhirnya menyetujui, karena kalau sampai Arini bunuh diri, justru akan menambah dosa baginya.
Arini pun di rajam, hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya. Budi membawa balita yang tampak menangis karena mencari ibunya itu, ia berjanji dalam hati bahwa mulai detik itu Raya adalah anaknya, tanggung jawabnya.
Jenazah Arini di bawa ke Jakarta dan di makamkan di pemakaman dekat dengan kediaman Budi.
Raya menangis sambil memeluk foto ibunya. Hatinya sangat perih mendengar kisah yang ibunya alami. Dadanya begitu sesak mengetahui fakta bahwa ia bukan anak kandung ayah dan bundanya.
"Umi kamu wanita hebat. Mamah yakin, ia sudah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah."
"Tapi kenapa nama Raya di ubah Mah?" tanya Raya penasaran, karena yang ia tau namanya adalah Rayana Pradipta.
__ADS_1
"Namamu tidak dirubah. Apa kamu belum melihat buku nikah kamu?"
Raya menggeleng. Ia hanya menyimpannya tanpa membaca isinya.
"Di dalamnya namamu tetap Cut Rayana Musyafia binti Arini Galuh. Bahkan di akta kelahiran, ijazah pun namamu tetap nama yang umimu berikan."
"Tapi buku raport Raya namanya Rayana Pradipta, bahkan di KTP juga."
Risma menggeleng. Semua atas kerja keras dan kasih sayangnya Budi. Ia selalu meminta petugas maupun guru untuk membuatkan 2 KTP, akte kelahiran atau pun raport dan ijazah dengan nama Cut Rayana Musyafia dan Rayana Pradipta.
Bahkan saat mendaftar sekolah atau kuliah, Budi selalu yang mengurusinya. Raya hanya diminta untuk melakukan test saja.
"Jadi selama ini Raya bawa-bawa KTP palsu dong Mah."
"Bukan palsu Sayang. Itu hanya cetakan saja, tetapi tidak terdaftar."
"Sama saja palsu Mah."
Mungkinkah April sudah mengetahuinya lebih dulu kalau Raya bukan anak kandung ayah dan bunda. Ah, pantas saja ia selalu bersikap kasar waktu mereka sama-sama sekolah. Namun, sikapnya berubah menjadi baik lagi saat Raya lulus SMA, dan sekarang ia kembali seperti April saat sekolah dulu. Membalut kebencian dengan kasih sayang yang tidak pernah Raya duga.
Raya berjanji, tidak akan mengecewakan ayah dan bundanya. Ia harus membalas kasih sayang yang telah ia dapatkan selama ini. Ayah dan bundanya tidak pernah membedakan dengan sang kakak. Ia selalu mendapatkan hak yang sama.
"Raya ingin ke makam Umi, Mah."
"Besok kita sama-sama ke sana ya."
Raya mengangguk. "Emm, Mah. Apa Mas Juna sudah tau semuanya?"
"Tentu saja anak nakal itu sudah tau. Saat mengucapkan ijab kabul ia kan sadar sepenuhnya. Setelah menikah, kami langsung memberitahu Juna tentang kamu."
Raya merasa terharu, ternyata suaminya tetap menerima dan berlaku baik kepadanya meski sudah tau kebenarannya.
Sekarang fokus Raya adalah mencari keberadaan ayah kandungnya. Ia ingin sekali bertemu beliau walau hanya sebentar.
TBC
__ADS_1
Maafkan jika ada yang tidak berkenan atau setuju dengan jalan cerita ini. Karena dari awal memang sudah di setting seperti ini.