Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
UNGKAPAN DAN KEKECEWAAN


__ADS_3

Juna menurunkan kecepatan mobilnya. Ia melirik ke arah spion dan tersenyum sinis. Saat sebuah sepeda motor melintas melewatinya Juna langsung tancap gas menambah kecepatan kemudinya dan segera menepi setelah berhasil menghalangi laju sebuah sepeda motor.


Tanpa menunggu lama, Juna segera keluar dari mobilnya. Sang pengendara sepeda motor itu tampak kesal karena perjalanannya merasa terganggu oleh ulah mobil di depannya yang sepertinya sengaja menghentikannya.


Orang yang mengendarai sepeda motor itu yang tak lain adalah Dewa, segera membuka helmnya ketika sang pemilik mobil menghampirinya yang tak lain adalah Juna, suami dari sahabatnya.


Wajah Juna tampak biasa saja saat menghampiri Dewa ketika masih berada di atas motor.


Juna menepuk pundak Dewa untuk menyuruhnya turun dari motor.


"Kita bicara sebagai sesama lelaki." Juna menatap tajam ke arah Dewa tanpa berkedip.


Dewa menyunggingkan senyumnya lalu menuruti kemauan Juna. Setelahnya ia berdiri di hadapan Juna.


"Ada apa?" tanya Dewa dengan datar.


"Aku hanya ingin bilang, jangan terlalu dekat dengan Raya."


Dewa terkekeh mendengar ucapan Bima.


"Dari dulu kami sudah dekat Bung. Bahkan sebelum Raya menikah," jawab Dewa.


"Kalau sebelum menikah kalian dekat itu bukan urusanku. Yang pasti saat ini Raya adalah istriku." Juna memberi penekanan pada kata istri. "Jadi, aku sebagai suaminya harus menjauhkan istriku dari orang-orang yang tidak tau malu, mendekati wanita yang merupakan istri seseorang."


Wajah Dewa memerah. Antara menahan malu juga marah.


"Status Raya memang istri kamu. Tapi apa kamu sudah tanyakan ke dia kalau dia mencintai kamu?"


Juna merapatkan bibirnya. Ia tampak berpikir. Memang sampai detik ini baik Raya maupun dirinya belum mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Kalau Juna tentu saja ia mencintai istrinya itu. Bahkan saat masih berpacaran dengan April dan April mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Raya kepadanya pun ia masih mencintai Raya. Apalagi sekarang, mereka telah terikat dalam hubungan suami istri yang sah. Bahkan mereka sudah sering melakukan hubungan suami istri sampai benihnya pernah tumbuh di dalam rahim Raya walaupun tidak bertahan lama.


Namun, ia berpikir apakah Raya mencintainya? Mengingat wanita itu pun belum pernah mengatakan cinta padanya. Ah, tentu saja Raya mencintainya. Jua ingat betul saat pertama kali ia baru menikah dan meminta untuk dipijat oleh Raya.


Disitu Raya berteriak histeris karena mengira Juan akan meminta haknya. Dan Raya mengatakan bahwa ia akan menyerahkan semuanya kepada orang yang dicintainya.


Tidak perlu kalimat pengakuan cinta dari Raya. Raya sudah menerimanya lahir batin, dan juga sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri itu sudah cukup bagi Juna bahwa Raya mencintainya.


"Tentu saja Raya mencintaiku. Kalau ia tidak mencintaiku mana mungkin setiap malam kami melakukan hubungan suami istri," ucap Juna sengaja mengatakan itu supaya Dewa mundur. Sebenarnya itu tidak baik namun Juna sudah sangat muak dengan laki-laki di hadapannya ini.


"Apalagi Raya sempat mengandung anak kamu. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kami saling mencintai," sambung Juna kemudian.


Dewa terkekeh seakan mengejek Juna. Mentertawakan apa yang baru saja Juna ucapkan kepadanya.


"Semua orang juga akan melakukan hubungan suami istri kalau sudah menikah. Melakukan hubungan itu tidak perlu adanya cinta. Karena selain hak dan kewajiban, juga adanya kebutuhan biologis yang harus dipenuhi."


BUGH

__ADS_1


Juna langsung menghajar rahang Dewa ketika Dewa batu saja menyelesaikan kalimatnya. Dewa sampai terhuyung karena pukulan yang diterimanya secara tiba-tiba.


"Jangan samakan Raya dengan orang kotor sepertimu yang melakukan hubungan karena kebutuhan biologis."


Juna kembali menghampiri Dewa lalu menarik kerah pakaiannya. Mendaratkan satu pukulan lagi di pelipis Dewa.


"Jagan coba-coba ganggu dan dekati Raya!" ancam Juna lalu berbalik meninggalkan Dewa menuju ke mobilnya.


"Kalau tidak percaya, tanyakan sendiri kepada Raya. Aku yakin kamu akan percaya setelah mendengar jawaban Raya!"


Ucapan Dewa menghentikan langkah Juna. Juna tidak menoleh ke arah Dewa ia hanya mengepalkan tangannya dan mengerakkan giginya. Kemudian segera melanjutkan langkahnya menuju mobil. Setelahnya ia langsung meninggalkan tempat itu dan segera menuju ke kantor.


***


"Ka Raya belum pulang?" tanya Ana ketika melihat sudah jam lima lewat namun Raya masih asik dengan laptopnya.


"Nunggu Mas Juna Mbak," jawab Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Owh, sekarang diantar jemput suami nih?" ledek Ana sambil mengedipkan sebelah matanya.


Raya menoleh dan tertawa. "Iya, Mas Juna sampe berangkat ke kantornya siang karena harus anterin Raya dulu."


"Posesif itu Kak. Mungkin Mas Juna nggak suka ada cowok lain yang anterin Kak Raya. Kemarin Kak Raya berangkat sama pulang bareng temen Kak Raya 'kan?"


"Tetep aja Kak. Yang namanya laki-laki pasti nggak mau lihat istrinya dibonceng cowok lain, mau itu sahabatnya sendiri."


"Masa, sih Mas Juna gitu. perasaan kemarin dia biasa aja," gumam Raya dalam hati.


Tidak lama dari itu, mobil Juna sudah terparkir di depan depot. Belum sempat Ia keluar, Raya sudah lebih dulu menghampirinya.


"Telat satu jam lebih," ujar Raya ketika ia sudah duduk di kursi sebelah kemudi dan memakai seat belt.


"Maaf, tadi meetingnya agak alot jadi perlu perpanjangan waktu," ucap Juna sambil mengelus puncak kepala Raya.


Raya mengangguk dan tersenyum kaku. Entah kenapa setiap kali berdekatan dengan suaminya, kinerja jantungnya selalu tidak bagus. Mungkin ia harus konsultasi ke dokter spesialis jantung dan menanyakan kenapa jantungnya selalu berdetak berkali-kali lipat ketika berdekatan dengan suaminya sendiri.


"Langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu?" tanya Juna tersenyum melihat wajah merona Raya. Kalau tidak ingat ini bukan di rumah pasti sudah ia uwel-uwel wajah gemas istrinya.


"Langsung pulang saja," jawab Raya lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela demi mengontrol detak jantungnya.


Juna mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Lima belas menit ia sudah sampai di rumah. Jalanan lumayan sepi sore hari ini, sehingga mobil yang Juna kendarai dapat melesat degan cepat sampai ke rumah.


Sampai rumah, mereka mandi secara bergantian, karena Raya harus memasak dulu untuk makan malam. Sesuai permintaan Juna,. Raya selalu menyempatkan memasak untuk sang suami baik untuk sarapan, makan siang ataupun makan malam.


"Biar Mbok Dar saja Non. Non Raya baru pulang pasti capek," ujar wanita barusia sekitar 60an itu menghampiri Raya yang sedang mencuci ikan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mbok. Capeknya ilang kalau liat Mas Juna makan dengan lahap nantinya," jawabnya sambil tersenyum simpul.


Wanita yang sudah bekerja selama puluhan tahun itu pun ikut tersenyum bahagia. Ia ikut senang Juna mendapatkan istri yang selain cantik juga jago masak. Mbok Dar sudah menganggap Juna dan Jani seperti anaknya sendiri.


"Den Juna pasti sangat beruntung memiliki istri seperti Non Raya," ujar Mbok Dar.


Raya tersenyum. "Aku yang lebih beruntung Mbok. Dapet keluarga seperti keluarga Mas Juna."


Sup ikan kuah asam sudah matang. Raya menuangnya ke dalam mangkuk lalu dihidangkan di meja makan. Setelahnya mereka makan bersama. Mbok Dar, Mbak Nina dan Pak Kasim pun ikut makan bersama dalam satu meja.


Setelah makan, Raya dan Juna ngobrol-ngobrol santai di balkon.


"Harusnya besok aku pergi ke Jepara, tapi karna kamu sendiri jadi ku suruh Vero saja yang berangkat," ucap Juna.


"Aku nggak papa Mas. Kalau penting lebih baik Mas berangkat aja. Jangan cemasin aku."


Juna tidak menanggapi ucapan Raya. Namun, ia langsung berdiri dari duduknya lalu menghampiri Raya. Dengan cepat kini Raya sudah berada di gendongan Juna.


"Mas Juna ih, seneng banget ngagetin," ucap Raya kesal sambil memukul pundak Juna.


Juna duduk di tepi ranjang sambil memangku Raya. Ditatapnya mata bulat Raya dengan sayang.


Raya gugup sehingga ia berulang kali menelan ludahnya dengan kasar. Entah siapa yang memulai, kini kedua bibir itu menyatu dan memagut dengan lekat. Seolah berlomba untuk memberikan kenikmatan masing-masing.


Juna berguling di samping Raya. Ia berusaha mengatur nafasnya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Beralih ke samping lalu mengusap keringat yang ada di pelipis Raya.


Mereka baru saja melakukan olahraga malam yang berbuah pahala. Juna menatap manik Raya.


"Aku cinta kamu," ucap Juna berbisik sambil mencium puncak kepala Raya.


Raya tersenyum. Sungguh ia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tidak sedang bermimpi kan? Suaminya baru saja mengungkapkan cinta kepadanya. Harusnya ia langsung membalas ungkapan cinta itu kepada sang suami, namun ia justru hanya tersenyum dan mengangguk karena saking gugupnya.


"Raya," panggil Juna dengan suara serak.


"Ya."


"A-apa alasan kamu mau melakukan ini semua dengan ku." tanya Juna dengan hati berdebar.


Raya bingung mengapa Juna menanyakan itu semua. Ya jelas saja karena mereka adalah sepasang suami istri. Sudah sewajarnya kan, suami istri melakukan itu.


"Ya, karena kita sudah menjadi suami istri yang sah kan Mas. Jadi kita bisa mendapatkan pahala dalam melakukan hal ini," jawab Raya.


Juna tersenyum kecut. Bolehkan ia kecewa dengan jawaban Raya?


"Tidurlah. Besok aku harus bangun pagi," ucap Juna mencium puncak kepala Raya lalu berbalik tidur memunggungi Raya.

__ADS_1


__ADS_2