Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Woy! kalau mau indehoy jangan di hutan. Turun sana, cari hotel!"


Baik Juna maupun Raya sama-sama mundur, hingga tautan bibir mereka terlepas. Raya tampak malu dan salah tingkah karena ketauan sedang berciuman oleh orang lain. Meskipun ciuman yang mereka lakukan menurut Raya pastinya dapat pahala, karena mereka adalah pasangan suami istri yang sah menurut agama dan negara hahahahaha, ups! Jadi kembung deh perut.


Berbeda dengan Juna yang langsung melepaskan salah satu sepatunya lalu melemparnya ke arah orang yang telah mengganggunya sehingga merusak suasana.


Jani tergelak setelah berhasil menghindar dari serangan Juna.


"Cuma mau kasih tau, kalau renungan malam udah mau dimulai. Mau ikut gabung atau lanjutin yang tertunda tadi?" goda Jani yang membuat Raya rasanya ingin ditelan bumi.


Mereka akhirnya kembali bergabung dengan yang lain untuk mengikuti renungan malam. Renungan malam menjadi agenda wajib bagi anggota FMI yang ikut pendakian. Tujuannya untuk memberitahu bahwa tujuan dari mendaki gunung tidak hanya untuk bersenang-senang melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah dan besar atau sekedar mencari kepuasan dengan pamer foto di sosmed saja.


Namun, ada makna lain seperti yang tertuang dalam kode etik petualang bagi pencinta alam. Take nothing but pictures.


Leave nothing but foot print.


Don't kill anything but time.


Jangan mengambil apapun kecuali gambar.


Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.


Jangan membunuh apapun kecuali waktu


Pagi hari setelah saling membangunkan dilanjut dengan sholat subuh, lalu mereka prepare untuk mencari spot berburu sunrise.


Membawa bekal minum masing-masing. Tak lupa membawa senter atau headlamp karena suasana masih cukup gelap. Tidak ketinggalan pula kamera dan tripod untuk mengabadikan momen kemunculan sang surya di langit jingga.


Sampai di hutan mati sekitar jam setengah enam dengan kondisi sudah agak terang dan langit timur mulai menguning. Raya segera mengabadikan pemandangan yang ada di depannya.



Tepat jam enam sang surya mulai menampakkan diri di garis horizon timur dengan membuat warna menjadi kuning disertai langit biru dengan beberapa awan menggantung ditambah kepulan asap yang menghiasi.



Hampir semua orang yang berada di sana mulai mengarahkan lensanya baik itu ponsel maupun kamera ke arah sang surya. Begitu pun dengan Raya, Jani maupun Diana. Selain membidik kamera ke arah keindahan alam tersebut, mereka juga banyak yang berfoto dengan sunrise sebagai latar belakangnya.


Disaat semua orang menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang tampak dekat namun aslinya jauh itu, berbeda dengan Juna, ia lebih memilih menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang lainnya. Yang menurutnya lebih indah dari apa pun termasuk sang surya yang sekarang menjadi obyek bidikan kamera semua orang.


Juna mengarahkan kameranya pada obyek yang kini sedang memandang takjub pemandangan di depannya. Beberapa gambar telah Juna dapat dengan berbagai angle.


Juna berjalan mendekati Raya lalu menyodorkan botol minum yang telah dibuka tutupnya. Raya menerima pemberian Juna dan segera membasahi tenggorokannya.


Setelah merasa puas, mereka kembali ke tenda untuk berkemas. Mereka memilih sarapan di warung-warung yang tersedia di sana.


***


Raya dan Juna sampai di unit sekitar jam tiga sore. Saat membuka pintu unit, baik Raya maupun Juna sedikit terkejut karena melihat April tengah berbincang dengan Mbak Nina di ruang tamu.

__ADS_1


Mbak Nina segera menghampiri Raya dan Juna saat mendengar suara pintu terbuka.


"Saya bawakan tasnya Non, Tuan," pinta Mbak Nina pada Raya dan Juna.


"Punya Raya saja Mbak. Yang ini berat," jawab Juna melarang Mbak Nina membawakan tasnya.


"Tidak apa-apa Tuan. Nanti bawanya satu-satu."


"Ya sudah terima kasih Mbak," ucap Juna lalu beralih ke istrinya yang sedari tadi hanya diam melihat ke arahnya.


Juna menggenggam tangan Raya untuk menemui April yang sedang duduk di sofa sambil tersenyum ke arah mereka.


"Kalau tau kalian naik gunung, aku batalin deh jadwal pemotretan di Sukabumi," ucap April saat Raya dan Juna sudah duduk di sofa di depannya.


"Mbak April apa kabar? Mau minum apa? nanti Raya buatkan."


"Ray! Kamu baru pulang. Masih capek," ucap Juna tidak rela Raya membuatkan minuman untuk April.


"Seperti yang kamu lihat, aku sehat," jawab April. "Jus jeruk boleh deh Ya. Kamu kan jago kalau bikin minuman," sambung April.


"Minta Mbak Nina aja yang buatkan minuman."


"Enggak apa-apa Mas. Mas Juna mau sekalian Raya buatkan?"


Juna menggeleng. "Aku mau mandi dulu," ucap Juna hendak pergi ke kamar tapi langkahnya berhenti karena ucapan April.


"Jangan lama-lama, kita perlu bicara," ucap April dengan santai.


Raya membawa dua gelas jus jeruk ke ruang tamu. "Minum dulu jus jeruknya Mbak," ucap Raya mempersilahkan April untuk meminum minuman yang telah ia buat.


April tak menjawab tapi langsung mengambil satu gelas lalu meminumnya lewat sedotan plastik.


Setelah itu hening, tidak ada yang mau memulai untuk berbicara. Sebenarnya Raya ingin tahu apa yang ingin April bicarakan dengan suaminya, karena kalau dilihat dari muka April saat mengatakan ingin berbicara dengan suaminya terlihat serius. Namun, ia urungkan. Ada yang lebih membuat hatinya resah saat melihat April sudah berada di dalam unit.


Mungkinkah April sering main ke sini sebelumnya? Ah, tentu saja Raya, apa kamu lupa kalau kakakmu itu mantan dari suamimu? Bahkan mereka sudah sampai akan menikah, karena ulah kakakmu saja jadinya kamu yang harus menggantikan. Rupanya Raya lupa kalau ia hanyalah istri pengganti. Kenapa ia disadarkan saat sesuatu telah mulai tumbuh di hatinya?


"Mbak, aku mau mandi dulu ya."


"Bareng?"


"Ma-maksudnya?" tanya Raya memperjelas pertanyaan April.


"Mandi bareng Juna?"


"Oh, i-itu kayaknya Mas Juna sudah selesai mandinya."


"Kalau gitu, suruh Juna secepatnya ke sini."


"Iya Mbak."

__ADS_1


Raya kemudian masuk ke dalam kamar. Juna tampak sudah selesai dan dia sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


"Mas sudah mandi?" tanya Raya yang melihat suaminya tampak segar.


"Sudah. Sekarang kamu yang mandi. Air hangat udah aku siapin."


"Mas ... Mas Juna ditunggu Mbak April. Katanya ingin bicara."


"Abaikan saja," jawab Juna cuek. Ia kini malah membuka laptopnya.


Raya menghembuskan nafasnya pelan lalu menuju kamar mandi.


Saat selesai mandi. Raya melihat suaminya masih asik dengan laptopnya. Setelah menyisir rambutnya, Raya lalu mengambil laptop yang ada di pangkuan Juna.


"Raya, balikin," ucap Juna tidak terima.


"Temui Mbak April dulu, baru Raya balikin," ujar Raya yang langsung menyembunyikan laptop itu di belakang punggungnya.


"Malas! Untuk apa si dia ke sini?" tanya Juna kesal.


"Karena Mbak April ingin bicara dengan Mas Juna. Kita temui sama-sama?" Raya berusaha membujuk suaminya.


Tidak sia-sia Raya membujuk Juna. Akhirnya mereka menemui April yang masih setia duduk di ruang tamu sambil memainkan gawainya.


April menoleh saat mendengar langkah kaki.


"Aku hanya ingin bicara berdua dengan Juna," ucap April sambil memasukan ponselnya ke dalam tas.


"Raya istriku, jadi ia berhak tau apa yang akan dibicarakan kakak perempuannya dengan suaminya."


April terkekeh. "Kau yakin ingin Raya mengetahuinya?" tanya April dengan nada mencemooh.


"Baiklah, justru itu sangat menguntungkan untukku, jadi aku tidak perlu menjelaskan dua kali ke orang yang berbeda."


"Kamu sudah siap Raya, untuk mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan?" sambung April lagi.


Juna berdecak. "Berbelit-belit! Lebih baik kamu pulang saja."


Juna membalikan badannya ingin meninggalkan ruangan yang masih ada wanita yang membuatnya kesal.


"Aku hamil."


TBC


Hallo, berapa hari ya aku gak nongol? Hehehe maafkan ya, insya Allah mulai hari ini akan rutin lagi updatenya.


Gimana?gimana? part ini? seru? kesal, ingin marah?


Hehehe dateng-dateng langsung bikin orang jantungan, dasar April.

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😍 😘 😘 😍 😍


__ADS_2