
Biasanya kalau sudah mandi badan akan terasa segar dan ringan. Namun, mandi kali ini membuat badannya remuk. Bahkan lututnya masih lemas, kakinya pun masih gemetaran. Sampai-sampai Juna harus menggendongnya keluar kamar mandi. Baju pun Juna yang pakaikan.
Malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Ini semua karena ulah suaminya itu. Ya Tuhan, jika mengingatnya, bulu kuduk Raya jadi berdiri.
"Maaf," ucap Juna dengan senyum tertahan antara ingin tertawa juga kasihan melihat kekacauan yang ia buat pada wanita di depannya.
Raya mencebik. "Setelah ini libur sebulan," ucap Raya jengkel.
"Kalau liburnya sebulan, dirapelnya lebih lama loh. Bisa sehari semalam kamu nggak tidur," ujar Juna sambil merapikan rambut Raya yang menjuntai di wajahnya.
Raya hanya bisa berdecak malas dan memukul dada Juna dengan ringan. Karena sungguh, kini dirinya seperti tidak mempunyai tenaga.
Raya pun kembali teringat betapa ganasnya Juna memangsa dirinya.
"Mas, aku bisa mandi sendiri," ucap Raya saat Juna mulai melepaskan kancing kemejanya.
"Kamu sudah sholat kan?" Kenapa saat subuh tadi nggak berjamaah?"
"Kan Mas Juna udah duluan, masa Raya minta Mas Juna sholat lagi untuk jadi imam Raya."
"Sejak kapan?"
"Su-sudah seminggu, hehehe."
"Seminggu? Astagfirullah! Sudah seminggu dan kamu diam saja?" Juna menyugar rambutnya ke belakang, menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ada rasa geli, malu dan rasa bersalah bercampur jadi satu kala itu. Raya memang sudah bersih dari seminggu yang lalu, tapi masa iya dia harus laporan ke Juna kalau dia sudah selesai masa nifasnya.
Jelas saja dirinya malu, nanti Juna pikir dirinya menginginkan sesuatu. Walaupun itu benar. Juna memang tidak pernah melihat Raya sholat, karena ketika di rumah, Juna akan sholat berjamaah di masjid bersama papanya.
Sedangkan Raya sholat di rumah, di kamar. Dan Raya tidak mungkin mencegah Juna untuk sholat di masjid. Jadi jangan salahkan dirinya jika Juna baru mengetahuinya pagi tadi saat ia akan masuk ke dalam kamar, ternyata Raya tengah melepas mukena yang dipakainya sehabis sholat.
"Kamu memang harus dihukum, kali ini hukumannya akan lebih berat," bisik Juna tepat di depan wajah Raya.
Raya menelan ludahnya dengan kasar. Bukannya ia takut akan hukuman Juna, tapi ia lebih pada rasa canggung dan khawatir tidak bisa mengimbangi Juna.
Juna mulai mendekatkan wajahnya. Dalam sekejap bibirnya telah menempel pada bibir tipis Raya. Tanpa menunggu ia sudah melahapnya bagaikan lollipop yang mengeluarkan rasa manis dan ingin terus menikmatinya.
Raya turut hanyut dalam sentuhan lembut Juna. tidak memerlukan waktu lama, Raya sudah merasa melayang. Ya sebentar lagi ia bisa mencapai bintang yang terang benderang. Sungguh melihat Juna berkeringat, akibat mengayuh cinta di atasnya membuat Raya semakin berdebar dan mendamba.
"Ngelamunin siapa?" tanya Juna sehingga bayangan Raya yang yang tengah menggapai bintang buyar sudah bagaikan dihantam meteor.
Sambil menormalkan degup jantungnya yang masih bertalu dengan cepat, Raya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bisa jalan?" tanya Juna lagi.
Raya menggelengkan kepalanya sambil berucap dengan manja. "Gendong," pintanya sambil merentangkan kedua tangannya.
Juna tersenyum, ia senang melihat sikap Raya yang manja, menurutnya itu sangat menggemaskan. Sehingga ia ia mendaratkan jarinya pada pipi Raya untuk mencubitnya. Kemudian ia segera membawa Raya dalam gendongannya. Raya dengan senang hati melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Juna.
Juna membawa Raya ke atas kasur.
"Ingin makan malam sekarang?" tanya Juna.
"Iya, aku sangat lapar. Ya Allah, Mas. Dua jam loh, mana aku baru pulang kerja," jawab Raya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Juna tersenyum, lalu mengacak rambut lembab Raya. Ia sangat mengerti, karena ia pun sangat merasa lapar sekarang. Setelah seharian bekerja dengan setumpuk pekerjaan, lalu pulang hatinya mendadak bergemuruh karena melihat kedekatan istrinya dengan Dewa. Ditambah ia baru mengetahui bahwa istrinya telah seminggu selesai masa nifasnya. Di dorong rasa marah dan rindu menjadi satu, sehingga tanpa mengenal waktu ia menghukum Raya dengan sentuhan yang terkadang kasar namun suatu waktu perlahan melembut, yang pastinya membuat Raya menikmati hukuman darinya.
"Tunggu di sini. Biar Mas bawakan makanannya ke kamar."
Juna langsung keluar kamar menuju dapur. Di sana ada Nina dan Mbok Dar yang sedang merapikan makanan yang mereka hidangkan di meja.
"Eh, mau makan sekarang Tuan?" tanya Nina yang berhenti merapikan makanan di meja makan.
"Iya, Mbak. Tolong siapkan dua porsi. Aku dan Raya makan di kamar saja."
"Non Raya sakit Den?" Mbok Dar yang sedang menyiapkan nasi ke dalam piring pun bertanya mendengar kedua majikannya tidak makan di meja makan.
Mbok Dar dan Nina pun manggut-manggut.
"Mau dibawakan buah juga Tuan? Biasanya Non Raya suka makan buah setelah makan nasi. Kebetulan ada buah melon dan semangka yang sudah dipotong."
"Boleh deh, Mbak."
Nina mengambil satu nampan yang berisi dua piring nasi yang sudah berisi sayur serta lauk pauk. Mbok Dar akan mengangkat nampan yang satunya yang berisi sepiring potongan buah dan dua gelas air putih, namun segera dicegah oleh Juna.
"Biar saya saja Mbok yang bawa," ucap Juna kepada Mbok Dar.
Juna dan Nina menuju kamar. Setelah meletakan nampan yang berisi makanan, Nina pun undur diri. Setelah meletakan nampan yang berisi gelas dan buah, Juna mengambil satu piring nasi yang sudah dilengkapi sayur dan lauk pauknya.
Juna mulai menyendok dan menyodorkannya ke hadapan Raya.
"Makan dulu," ucapnya.
Raya mendongak, melihat sendok yang berada di hadapannya lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Juna.
"Mas, Juna nggak makan?" tanya Raya sambil mengunyah.
__ADS_1
"Nanti, setelah kamu," jawab Juna sambil menyuapkan kembali makanan ke mulut Raya.
Raya menerima dan memakannya dengan lahap. Setelah nasinya tinggal setengah, dan Raya merasa tubuhnya sudah lumayan ada tenaga, ia pun mengambil alih sendok yang Juna pegang.
"Sekarang, giliran Mas Juna yang makan. Ayo, aaa. Pasti lapar kan?"
Raya mengarahkan sendoknya yang berisi nasi ke depan mulut Juna. Juna menggeleng.
"Kamu dulu yang makan. Nanti Mas belakangan."
"Makan berdua akan lebih efisien. Lagian sekarang aku udah ada tenaga," ucap Raya kembali menyodorkan sendok di hadapan Juna.
Juna pun segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari Raya dengan hati berbunga.
Mereka saling menyuap, tanpa terasa semua makanan telah tandas tanpa sisa.
"Alhamdulillah," ucap Raya sambil mengelus perutnya.
"Sudah kenyang?" tanya Juna.
"Iya."
"Sudah bertenaga?"
"Iya," jawab Raya sambil tersipu.
"Mau dihukum lagi?"
"Iya."
"Ayok," ajak Juna mendekatkan wajahnya.
"Eh."
Raya sadar akan ucapannya langsung langsung melemparkan bantal yang sedang dipeluknya ke wajah Juna.
Juna beringsut, mengambil Pring dan gelas kotor bekas makan mereka lalu segera melesat keluar kamar sambil tertawa.
Wajah Raya sudah mirip seperti kepiting rebus, merah dan panas. Bisa-bisanya ia terjebak dengan pertanyaan Juna. Ia malu mengakui bahwa sebenarnya ia pun menginginkannya lagi. Sentuhan Juna sungguh membuat candu baginya. Tapi apa daya, badan yang sudah terasa remuk itu harus segera diistirahatkan.
Raya sungguh beruntung memiliki suami yang pengertian dan perhatian. Ia berjanji tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya itu. Kecuali Juna yang memilih untuk melepaskannya.
TBC
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 😍 🥰