Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
SAKIT = MANJA


__ADS_3

Juna membawa Raya masuk ke kamar lalu membaringkannya di tempat tidur. Raya yang tadinya berontak karena tiba-tiba digendong oleh suaminya, kini malah terlihat tidak berdaya dengan mata setengah memejam. Juna segera mengunci pintu kamar lalu kembali mendekati istrinya yang nampaknya sudah terlelap.


Juna memeluk Raya dengan erat. "Raya, aku mohon tolong aku. Aku sebenarnya juga tidak ingin memaksa ta-tapi aku sendiri tidak bisa menahannya," ucapnya dengan serak.


Juna membelai tubuh Raya dan menciumi leher jenjang dan putih milik istrinya. Tangannya mulai mengarah ke kancing kemeja Raya memerintahkan untuk segera melepasnya.


Juna menggeram saat kulit putih dari bagian tubuh istrinya mengintip. Juna sudah tidak tahan lagi, saat akan merobek baju yang dikenakan oleh Raya tiba-tiba ia mendengar dengkuran halus yang berasal dari napas istrinya. Rupanya Raya tertidur, terang saja Juna tidak mendapatkan perlawanan darinya.


Juna bertanya-tanya kenapa Raya tertidur sangat pulas, padahal dirinya sudah membuat pergerakan yang cukup mengusik apabila Raya tertidur dengan normal. Mungkinkah April mencampur obat tidur pada minuman Raya?


"Aarrgghh!" Juna berteriak lalu berlari menuju kamar mandi kemudian menyiramkan air dingin dari ujung kepalanya. Berdiri di bawah shower guna meredam hasratnya yang ditimbulkan akibat obat perangsang yang April masukan ke dalam minumannya.


Sungguh Juna tidak pernah menyangka, April akan nekad berbuat demikian, bahkan ia pun tega memberikan oba tidur pada minuman adik kandungnya.


Setelah dirasa cukup terkontrol, Juna menyudahi mandinya di bawah shower, ia lalu keluar menuju lemari untuk mengambil beberapa selimut tebal. Ia lalu hamparkan beberapa selimut itu dengan ditumpuk. Kemudian ia baringkan tubuhnya di ujung selimut dan ia berguling dengan maksud membungkus dirinya dengan selimut seperti kepompong. Hampir dua jam lamanya Juna mati-matian menahan dan melawan hasrat itu.


Paginya Raya terbangun, saat melihat jam yang ada di kamarnya, ia terperanjat. Rupanya ia terlambat bangun, sehingga waktu sholat subuh sudah terlewat.


"Astagfirullah, kenapa bisa kesiangan begini." Raya segera bangun menuju kamar mandi, namun ia melihat Juna tergeletak di lantai dengan selimut membungkus tubuhnya bagaikan kepompong.


"Ya Allah, kenapa Mas Juna tidur di sini? Mas, bangun. Mas!" Raya mengguncang tubuh Juna namun nihil, Juna tetap memejamkan matanya.


Raya lalu mendorong tubuh Juna supaya terlepas dari selimut. Tubuh Juna menggelinding dan selimut pun terlepas. Raya menghampiri Juna hendak membangunkan suaminya kembali.


"Mas, astagfirullah! badannya panas banget." Raya mengguncang kembali tubuh Juna supaya suaminya butuh cepat bangun. Juna mulai membuka matanya dengan lemah.


"Pindah ke kasur Mas. Ayok Raya bantu." Raya lalu membantu Juna bangun dengan maksud membaringkannya di tempat tidur, namun Juna menolak.


"Aku belum sholat. Antar aku ke kamar mandi ya, ingin ganti baju dan wudhu," pinta Juna yang mendapat anggukan dari Raya.


Akhirnya mereka sholat subuh berjamaah meskipun terlambat. Seusai melaksanakan kewajibannya, Juna kembali berbaring di tempat tidur. Raya pergi ke dapur membuatkan teh hangat dan juga mengambil air hangat untuk mengompres suaminya.


"Mas, minum dulu yuk tehnya." Setelah Juna menghabiskan tehnya, Raya mulai mengompres Juna.


"Mas kok bisa tidur kaya kepompong gitu?"


Juna hanya menggeleng sambil terus memejamkan matanya. Tiba-tiba ponsel Raya berdering, Raya segera menggeser layarnya.


"Halo Di."


"Jadi kan hari ini? Gue sama Dewa tunggu di tempat biasa atau lu langsung ke panti?"


Raya melirik Juna, ia merasa tidak tega apabila harus meninggalkan Juna di rumahnya dalam keadaan sakit begini. Namun, hari ini Raya ada acara rutinnya tiap bulan untuk menyambangi panti asuhan dari semenjak ia masih kuliah.


"Kayanya kali ini gue absen dulu ya Di. Mas Juna badannya panas gue enggak tega ninggalin dia di rumah gue sendirian."


"Memangnya enggak ada orang di rumah lu?"


"Ya ada, tapi kan ...."


"Ok, gue ngerti. Yaudah lu jagain suami lu, rawat sampai sembuh. Daahhh."

__ADS_1


Raya meletakan ponselnya di atas nakas. Ia meraih handuk kecil yang menempel di kening suaminya lalu mencelupkan ke wadah yang berisi air hangat, setelah itu diperas dan diletakan kembali di atas kening Juna.


"Ray, kalau kamu mau pergi gak papa, tapi anterin aku dulu ke rumah mamah," ucap Juna dengan mata terpejam dan suara yang masih lemah.


"Gak papa kok Mas. Masih ada bulan depan buat Raya ikut kegiatan itu lagi. Tapi kalau Mas Juna ingin ke rumah Mamah nanti biar Raya pesan taxi aja, motor Mas Juna tinggal dulu di sini."


Juna menyetujui ucapan Raya. Sejatinya ia sudah ingin segera pergi dari rumah orang tua Raya karena tidak ingin bertemu dengan April.


"Enggak sarapan dulu?" tanya Mira pada anak dan menantunya yang berpamitan saat bunda dan ayah sedang sarapan termasuk April.


"Nanti kita sarapan di rumah saja Bund," jawa Juna.


"Ya sudah hati-hati di jalan. Apa enggak sebaiknya di antar sopir saja? biar lebih aman. Atau mau mampir ke klinik atau rumah sakit dulu," ujar sang Bunda.


"Biar April saja yang mengantar, lagian aku sudah sembuh." April menawarkan diri untuk mengantar Raya dan Juna.


"Iya betul itu. Hitung-hitung balas Budi karena saat April sakit, Juna selalu menemani." Kini giliran sang ayah yang bersuara.


"Terima kasih, tapi taxi yang kami pesan sudah datang," tolak Juna sambil menunjuk taxi yang memang secara kebetulan sudah masuk ke halaman rumah.


Raya dan Juna segera masuk ke dalam mobil bertarif tersebut. April memandang keduanya dengan mengepalkan kedua tangannya. Namun tak berapa lama, senyumnya terbit. Ia pun memutuskan untuk masuk ke rumah.


***


"Sakit apa? kebanyakan goyang? terlalu ngoyo kamu Jun."


Juna dan Raya yang baru saja tiba di rumah orang tua Juna mendapat sambutan pertanyaan nyeleneh dari sang mamah.


Raya dan Juna kompak menggeleng. Risma pun segera mencebikan bibirnya.


"Gimana mau kuat gak gampang sakit, sarapan aja belum. Semalam memangnya enggak di jeda makan atau ngemil dulu gitu?"


"Apaan si Mamah nih." Juna langsung melenggang pergi ke kamarnya. Sedangkan Raya dibuat semakin bingung atas ucapan mama mertuanya.


"Raya bantu ya Mah."


"Enggak usah. Kamu temani Juna saja. Biasanya kalau sakit dia itu rewel suka manja." Risma mendorong Raya untuk masuk ke kamar.


Saat di kamar Raya melihat Juna sudah tidur sambil bergelung selimut. Raya menghampiri suaminya lalu segera menyingkap selimut tebal itu.


"Mas, kalau sedang demam, jangan pakai selimut tebal."


"Tapi dingin Ray." Juna berbicara dengan badan yang menggigil, gigi pun bergelutuk saling mengadu, padahal pendingin ruangan belum dinyalakan.


"Raya panggilkan dokter mau?"


Juna menggeleng, ia melambai meminta istrinya mendekat. Raya segera mendekat ke arah Juna dan duduk di pinggir ranjang.


"Ada apa?"


"Duduk di sini. Sambil selonjoran," pinta Juna pada Raya sambil menepuk sisi tempat tidur yang kosong.

__ADS_1


"Mau ngapain? aku engga ngantuk."


"Dosa loh membantah suami."


"Heemm." Raya akhirnya menuruti keinginan sang suami. Setelah ia meluruskan kakinya, Juna dengan cepat meletakan kepalanya diatas paha Raya sambil tangannya memeluk perut istrinya.


"Mas!" gerakan Juna yang tiba-tiba membuat Raya kaget.


"Sebentar Ray. Sepuluh menit. Kamu bilang enggak boleh pakai selimut, karna dingin makanya aku peluk kamu aja."


Setelah berkata pada Raya, Juna langsung memejamkan matanya. Terlihat gerak pelan antara dada dan perutnya serta diiringi deru napas yang lembut menandakan sang empunya tubuh telah tertidur.


Tangan Raya segera terulur untuk mengusap rambut hitam dan tebal sang suami.


"Kalau dilihat-lihat, Mas Juna ternyata ganteng juga. Mirip aktor Thailand siapa ya namanya. Ah, Pon iya namanya Pon siapa ya?" gumam Raya dalam hati.


Risma masuk kamar dengan membawa bubur yang telah matang. Kemudian meletakan bubur itu di atas meja di dekat jendela.


"Benar 'kan? manjanya enggak ketulungan. Enggak sesuai sama badan," ucap Risma saat melihat anaknya yang tidur di atas paha Raya sambil memeluk pinggang istrinya.


"Tingkahnya mirip sekali dengan Molly, sukanya dielus-elus sambil di pangku," jelas Risma lagi.


"Molly siapa Mah?"


"Kucingnya Jani yang tukang kawin."


Raya terkekeh mendengar ucapan mertuanya. Mertuanya ini memang kalau bicara apa adanya. Mungkin kalau ibu orang lain akan membanggakan anaknya di depan menantunya. Namun lain halnya dengan Risma, ia lebih sering menjelek-jelekan anaknya bahkan menjatuhkan Juna di depan Raya.


"Dari dulu Mas Juna begini Mah?"


"Iya dari dulu. Bahkan waktu masih pacaran sama ...."


TBC


Hai gaes...


Tipis-tipis dulu ya, sekarang masih yang manis-manis dulu, meskipun enggak terlalu manis sih


Anggap aja pendekatan setelah menikah


Konfliknya muncul secara perlahan ya


Semoga suka dengan part ini


Dukung terus Author dengan cara like, komen, vote, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya


Klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏🙏


Sampai jumpa di part selanjutnya

__ADS_1


Terima kasih 😍 😍 😘


__ADS_2