
[Bertemu di mana Ya?]
[Tempat biasa]
[Oke. Tunggu aku lima belas menit lagi]
[👍]
"Bagaimana?"
"Lima belas menit lagi dia sampai. Sebaiknya Mas cari meja lain dulu."
"Mas tetap di sini."
"Mas! Aku ingin negasin ke Dewa. Kalau dia lihat Mas Juna di sini, yang ada nanti dia nggak mau ngaku."
"Oke, beri dia ketegasan untuk menjauh dari kamu. Aku awasi dari meja belakang," ucap Juna lalu mengecup dahi Raya sebelum berpindah meja.
Sebelum lima belas menit, Dewa sudah sampai di tempat di mana Raya ingin bertemu dengannya. Bolehkah hatinya berbunga-bunga? Karena baru kali ini selama ia mereka bersahabat, Raya terlebih dulu minta ingin bertemu. Karena sebelum-sebelumnya, pasti kalau tidak dia pasti Diana yang mengajak bertemu terlebih dahulu, meskipun hanya tugas kuliah. Dan kali ini Raya menghubunginya terlebih dulu untuk bertemu di cafe langganan.
"Hai," sapa Dewa yang langsung duduk di kursi di depan Raya.
Raya membalas dengan tersenyum. "Pesan apa?" tanyanya kepada Dewa.
"Jus jeruk aja."
Raya segera memanggil pelayan lalu mesan minuman untuk Dewa.
"Tumben, lu ngajak gue ketemuan. Ada apa?" tanya Dewa sambil tersenyum.
"Pengen aja. Gimana perkembangan kisah cinta tak terbalas?" Raya mencoba menggali informasi apakah benar wanita yang dicintai Dewa adalah dirinya. Bukan ia tidak percaya dengan apa yang Juna katakan, tapi bisa jadi Juna hanya salah paham.
"Belum ada perkembangan," jawab Dewa lalu segera meminum jus pesanannya yang sudah ada di mejanya.
__ADS_1
"Apa wanita yang lu sukai itu tau kalau lu suka sama dia?"
"Cinta Raya, bukan sekedar suka tapi cinta," ucap Dewa menegaskan bahwa rasa yang dimiliki olehnya adalah rasa cinta, ia sangat yakin itu. "Gue rasa untuk saat ini belum, tapi gue akan tunjukan sama dia kalau gue lebih patas berada di sampingnya," jawab Dewa dengan percaya diri.
Raya menyunggingkan senyumnya. "Kenapa lu sangat yakin kalau lu yang lebih pantas dari suaminya?"
"Ya ... karena dia itu nggak bahagia sama pernikahannya, dia itu terpaksa menikah dengan suaminya yang sekarang. Dan lagi, setelah dia menikah, banyak banget masalah yang menghampirinya."
Raya menghabiskan jus yang ia pesan. Lalu ia berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Denger ya Dewa, gue pikir lu sahabat gue yang baik, tapi ternyata ...." Raya tidak sanggup lagi untuk meneruskan kata-kata pedas yang sudah terkumpul di mulutnya, tapi ia berusaha untuk menahan diri.
"Gue tau wanita yang Lo cintai itu gue 'kan?" Bahkan lu yang dengan tidak warasnya nyuruh Mas Juna buat nanyain kenapa gue mau berhubungan layaknya suami istri, lu nggak waras Wa," ucap Raya sambil geleng-geleng kepala.
"Bagus deh kalau lu udah tau gue cinta mati sama lu Ya.Dan apa kata gue itu benar 'kan, kalau lu melakukan itu semua hanya sebatas kebutuhan biologis aja, karena kalian suami istri-"
PLAK
Badan Raya bergetar setelah telapak tangannya mampir di pipi Dewa sebelah kiri.
Raya membuka tas tangannya lalu mengeluarkan satu lembar uang kertas berwarna merah lalu meletakkannya di atas meja.
"Berbahagialah Wa, dengan wanita yang tepat, dan itu bukan gue."
Raya berbalik lalu berjalan menuju meja di mana sang suami telah menunggu dan mengawasinya.
"Lu akan nyesel Ya, karna nolak gue!" lirih Dewa dengan geram lalu ia berjalan keluar.
***
"Istri siapa ini? Gemesin banget. Udah cinta ya, sama Mas Juna. Bahagia kan nikah sama Mas Juna?" Juna menggoda Raya sambil menciumi seluruh wajah Raya, mencubit pipinya, bahkan wajah dan leher Raya seolah-olah lolipop, sehingga dengan asiknya Juna menjilatinya sampai wajah dan leher Raya basah oleh ludah Juna.
"Mas! Ih, jorok tau," kesal Raya sambil berusaha menyingkirkan wajah Juna. Kini mereka sedang berada di balkon salah satu kamar rumah baru mereka.
__ADS_1
Sebelum Raya mengatakan ingin membeli rumah sendiri karena merasa tidak enak jika terus menerus tinggal di rumah mama mertua, juga merasa kasihan kepada sang bunda yang pastinya sungkan jika sering menemui dirinya, Juna sudah terlebih dulu membeli sebuah rumah yang cukup mewah berlantai dua yang tempatnya berada di tengah-tengah antara rumah kedua orang tuanya.
Juna membeli rumah ini sebagai hadiah untuk Raya. Karena selama ini ia belum pernah memberikan sesuatu kepada sang istri. Kalau uang sudah pasti tiap bulan uang selalu mengalir ke rekening Raya yang khusus Juna buat untuk istri tercintanya.
Setelah menemui Dewa, mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah baru mereka. Rumah berlantai dua itu masih terlihat kosong, karena memang belum ada barang apa pun yang mengisinya.
Juna sengaja tidak langsung membeli furniture dan kelengkapan perabot rumah untuk mengisi rumah barunya karena ia ingin Raya sendiri yang akan memilih semua barang yang akan menghuni rumah baru mereka itu.
Saat pertama kali Juna memberitahu Raya bahwa ia sudah membelikan rumah untuknya, pastinya Raya kesal karena Raya inginnya mereka membeli rumah memakai uang Raya juga.
"Gini saja, untuk perlengkapan rumah kamu yang beli pakai uang kamu, bagaimana?"
"Oke, Raya setuju kau begitu."
"Nih." Juna menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam dengan tinta emas kepada Raya.
"Apa ini?"
"Katanya mau beli perabotan rumah, ini Mas berikan untuk kamu. Jadi, uang yang ada di dalamnya sudah menjadi milikmu. Kamu gunakan dengan baik ya untuk mempercantik rumah kita."
Raya mencebik. "Sama aja dong, pakai uang Mas Juna," ucap Raya sambil memanyunkan bibirnya.
"Sssttt, uang suami adalah uang istri. Jadi, mulai sekarang tidak ada lagi uangku atau uang kamu. Tidak ada lagi aku atau kamu, sekarang yang ada hanyalah kita, mengerti?"
Raya mengangguk lalu memeluk Juna dengan erat lalu mengambil kartu yang Juna berikan kepadanya lalu memasukannya ke dalam tas.
"Setelah April menikah, kita bulan madu yuk," ajak Juna sambil menciumi tengkuk leher Raya. Posisi mereka masih berdiri di balkon dengan Juna memeluk Raya dari belakang.
"Mbak April yang menikah kenapa kita yang pergi bulan madu."
"Kita perlu mempunyai waktu berduaan Sayang, untuk membuat RayJun junior," bisik Juna.
"Kan udah sering, hampir setiap hari," jawab Raya sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
"Mas inginnya setiap hari tapi nggak hanya di tempat tidur. Mas ingin coba juga sensasi di dapur, di meja makan, di balkon, di ruang tamu," bisik Juna dengan suara serak.
TBC