
Sepasang suami istri sedang berbaring di atas kasur sambil berpelukan. Setelah makan malam yang selesai satu jam yang lalu, Raya dan Juna memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka di kamar saja.
Meskipun tidak langsung terpejam untuk tidur, setidaknya mereka memiliki quality time berdua.
"Mas, apa tindakan Mas Juna nanti saat makan malam keluarga?" tanya Raya yang sepertinya sangat nyaman menjatuhkan kepalanya di atas dada suaminya.
Gerakan tangan Juna yang sedang mengelus rambut istrinya terhenti. Ia baru mengingat bahwa ia belum menunjukkan video yang diperolehnya dari Vero siang tadi.
"Sebentar, ada yang ingin aku perlihatkan sama kamu." Juna beranjak menuju meja di mana terdapat sebuah benda pipih miliknya.
Setelah mengambil benda itu, ia kembali menuju istrinya yang terlihat begitu penasaran. Terlihat dari raut wajah Raya yang menunjukkan keingintahuannya tentang apa yang ingin suaminya tunjukkan kepadanya.
Juna duduk di kasur dengan bersandar di kepala ranjang yang kemudian diikuti oleh sang istri.
"Apa yang ingin Mas Juna tunjukkan sama aku?" tanya Raya antusias, meskipun ada rasa was-was di dalam hatinya namun rasa ingin tahunya lebih besar sehingga mengalahkan rasa tidak nyaman yang membuatnya khawatir berlebihan.
Juna menyodorkan ponselnya pada Raya, yang mana ia siap menekan layar datar itu sehingga terputarlah video yang menampilkan aktivitas dirinya dengan April, mulai dari makan siang hingga ia terbangun sendiri di kamar hotel dengan tanpa busana.
Raya tercengang. Kedua tangannya terangkat untuk menutupi mulutnya yang terbuka akibat rasa tidak percayanya pada sang kakak yang berani melakukan itu.
Satu tangan Raya masih menutupi bibirnya yang bergetar, sedangkan tangan yang lainnya ia bawa untuk mengelus dadanya yang berdebar cukup kencang.
"I-ini benar Mas? Aku enggak salah lihat 'kan?" tanya Raya yang masih tidak percaya, padahal sudah sangat jelas video tersebut menampilkan kakaknya yang dengan lincahnya berbuat hal yang tidak terbayangkan oleh Raya.
"Apa perlu aku jawab?" Alih-alih menjawab Juna malah bertanya balik.
Air mata Raya meluncur setetes demi setetes. Juna menangkup wajah istrinya lalu menghapus air mata yang jati di pipinya dengan kedua jempolnya.
"Tapi ... kenapa Mbak April melakukan semua ini?"
Juna mengangkat kedua bahunya. "Mungkin karena ingin secepatnya aku nikahi," jawab Juna cuek.
"Ini kejadiannya sebelum Mas Juna dan Mbak April merencanakan menikah, tapi kenapa saat hari pernikahan Mbak April memilih pergi ke Paris?"
"Itulah anehnya kakak kamu."
"Aneh juga dulu Mas Juna cinta 'kan? Atau Sampai saat ini juga masih cinta?" Raya cemberut mengingat dulu suaminya adalah mantan kakaknya.
"Terpaksa dulu juga."
__ADS_1
"Mana ada orang pacaran terpaksa Mas."
"Ada satu hal yang belum kamu ketahui," ucap Juna.
"Apa?" tanya Raya menatap lekat manik sang suami.
"Kenapa jadi gugup seperti ini?" gumam Juna dalam hati. Lidahnya terasa kelu ketika ingin mengatakan yang sejujurnya. Ingin sekali ia berkata kepada istrinya bahwa dialah wanita pertama yang mampu mengusik hatinya. Namun, kenapa mendadak ia menjadi seperti patung yang diam dan membisu. Sampai Raya lelah menanti jawaban sang suami.
"Sudahlah Mas, lupakan saja. Lebih baik kita segera tidur," ujar Raya yang langsung membaringkan tubuhnya dan memberi punggung pada Juna.
Juna hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan. Ia pun ikut berbaring lalu memeluk istrinya dari belakang.
Raya melepaskan tangan Juna yang melingkar di perutnya. Ia membalikkan badan hingga kini tatapannya beradu dengan mata tajam sang suami.
"Mas."
"Hem?" Juna membelai pipi Raya dan juga merapikan rambut yang menghalangi pelihatan istrinya.
"Kalau di lihat dari video tadi, kemungkinan anak yang sedang Mbak April kandung itu anak Mas Juna dong."
"Belum tentu," jawab Juna.
"Nanti kita buktikan dengan cek usia kandungannya atau kalau perlu test DNA sekalian."
"Tapi kalau itu ternyata memang benar anak Mas Juna bagaimana?" tanya Raya cemas.
"Seperti yang sudah Mas beritahu pada Bunda dan Mamah, bahwa Mas tetap bertanggung jawab kepada anak itu tapi tidak dengan menikahi ibunya."
"Tapi ... Ayah pasti enggak akan terima."
"Sudah, sekarang lebih baik kita tidur. Untuk urusan Ayah, biar Mas yang bicara."
***
Waktu sepertinya semakin cepat merangkak. Vero telah mendapatkan informasi bahwa sewaktu beberapa hari tiba di Paris, April mengalami keguguran. Sehingga ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia dengan alasan sakit setelah menjalani kuretase di kota yang terkenal sebagai kota romantis di dunia.
Dengan mengantongi bukti-bukti yang kuat yang telah di dapatnya, Juna semakin yakin bahwa anak yang dikandung April bukanlah darah dagingnya.
Malam ini merupakan malam di mana diadakannya makan malam keluarga di rumah Bunda Mira dan Ayah Budi tentunya.
__ADS_1
Juna telah menyiapkan segala sesuatunya, baik itu mental maupun bukti-bukti yang bisa menolongnya dari wanita ular semacam April.
Tak terhitung berapa kali Raya bolak balik ke kamar mandi. Mungkin karena gugup yang menyapanya. Meskipun telah terkumpulnya bukti yang menyatakan bahwa Juna tidak bersalah, namun tetap saja ia sangat tahu sekali sifat ayahnya.
Ia juga merasa tidak tega kepada bundanya apabila nanti Juna mulai mengeluarkan bukti-bukti itu, apalagi bukti rekaman CCTV di kamar hotel.
"Sudah siap?" tanya Juna pada sang istri.
"Aku gugup Mas," jawab Raya. Kedua tangannya saling meremas untuk menghalau rasa takutnya.
Juna meraih tangan istrinya. Digenggamnya jemari lentik itu dengan erat. "Kita hadapi bersama."
Raya dan Juna sampai di rumah orang tua Raya tepat saat mamah dan papah Juna juga sampai di sana.
"Bagaimana kabar mu Sayang?" tanya Risma sambil memeluk sang menantu.
"Alhamdulillah baik Mah," jawab Raya kemudian beralih ke Anwar untuk mencium tangan pria yang terlihat berwibawa itu.
Risma kemudian menggandeng Raya menuju pintu utama yang diikuti oleh Anwar.
Juna melongo karena merasa diabaikan. Tak lama ia pun segera menyusul mereka.
"Enggak ada yang mau nanyain kabar Juna apa?" tanyanya saat sudah berada di samping papahnya.
Risma menoleh menatap putranya. "Ngapain tanya kabar kamu. Nasib kamu ditentukan setelah makan malam nanti," ucapnya sambil berbisik.
Lain halnya dengan Juna yang tampak biasa saja dengan ucapan sang mamah, berbeda dengan Raya, ia menelan salivanya dengan kasar. Tiba-tiba perutnya terasa mulas saat mendengar ucapan sang mamah mertua.
"Sudahlah Mah, ayok kita masuk. Tidak enak sudah ditunggu," sela Anwar lalu mendahului istrinya untuk masuk ke rumah yang di dalamnya ada tiga orang yang sedang duduk di sofa menunggu kehadiran mereka. Siapa lagi kalau bukan Mira, Budi dan juga April.
TBC
Jangan lupa like, komen, vote serta hadiahnya ya. Berikan juga bintang lima dan bintang pelindung untuk melindungi karya ini dari segala bentuk plagiat.
Terima kasih yang sudah mampir dan setia menunggu karya ini, meskipun author updatenya gak lancar.
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 😍🥰😘
__ADS_1