
"Belum ada kabar tentang April, Pah?" tanya Risma kepada Anwar saat mereka sedang melaksanakan makan malam.
"Belum. Tapi anak buah Jovan menemukan jejak, kalau April sempat pergi ke klinik aborsi tak jauh dari rumah sakit," jawab Anwar.
"Klinik aborsi?" tanya Raya lirih.
"Apa itu artinya April sudah menggugurkan kandungannya?" Kini, Risma yang bertanya kepada suaminya.
"Menurut keterangan orang yang bekerja di sana, April memang sudah sempat masuk ke ruangan tindakan. Tapi, saat akan dilakukan tindakan April menghentikannya karena ingin pergi ke toilet. Dan setelah itu ia tidak kembali lagi.
"Alhamdulillah," gumam Raya dalam hati. Raya merasa lega saat Anwar mengatakan April tidak kembali lagi ke dalam ruangan untuk aborsi. Itu artinya, kakak perempuannya tidak jadi melakukan hal berdosa yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Artinya belum sempat di aborsi 'kan? Syukurlah kalau seperti itu. Paling tidak ia tidak melakukan dosa lainnya yang bahkan bisa merenggut nyawanya," ucap Risma sama seperti apa kata hati Raya.
"Iya, tapi orang-orang Jovan hanya bisa menemukan jejaknya sampai di stasiun Pasar Senen."
"Raya, apa kalian punya saudara yang tinggal di luar Jakarta?" tanya Anwar kepada Raya yang sedari tadi menyimak perbincangan kedua mertuanya.
"Ada, Pah. Kakek dan Nenek dari Bunda tinggal di Surabaya ikut Om Panji, adik bungsu Bunda," jawab Raya.
"Nanti Mamah akan beritahu bunda kamu, untuk tanyakan ke adiknya, apakah April ada di sana," ucap Risma.
"Biar Raya saja Mah."
"Enggak, Sayang. Kamu istirahat saja ya. Jangan terlalu dipikirkan. Bantu saja lewat doa."
Raya mengangguk lalu menoleh ke arah Juna yang tampaknya tidak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua dan istrinya.
Setelah makan malam, Raya langsung menuju kamar. Tidak untuk langsung tidur, hanya ingin duduk di dekat jendela kamar yang terbuka sambil memandang ke luar ke arah kolam renang.
Tak lama Raya dalam kesenangannya duduk di dekat jendela, Juna pun menyusul masuk. Ia ikut duduk di samping istrinya. Raya bergeming tidak menegur atau bahkan melihatnya. Pandangan Raya tetap lurus ke arah depan.
Bukan Raya tidak mengetahui Juna duduk di sampingnya. Namun, Raya sedang malas berbicara dengan suaminya, yang ia pun tidak tau apa alasannya.
Merasa tidak dianggap kehadirannya oleh sang istri, maka Juna mencari perhatian dengan cara merebut bantal yang sedang Raya peluk.
"Ada suami kok dicuekin. Malah memilih memeluk bantal," ucap Juna saat berhasil melepaskan bantal sofa itu dari pelukan Raya. Kemudian Juna pun berbaring dengan kepala berbantalkan paha istrinya.
Tetap tak ada tanggapan dari Raya, maka Juna mulai melancarkan aksinya agar membuat Raya tidak lagi mengabaikannya. Ia membenamkan wajahnya pada perut Raya. Sebelumnya ia menyibak baju yang Raya pakai sehingga terlihat perut rata istrinya.
Tangan kanannya melingkar di pinggang Raya sambil menggelitik pingggang wanita yang sedari siang mengabaikannya itu.
Raya berusaha menahan geli akibat serangan Juna. Maka dari itu, ia masih enggan untuk bersuara.
__ADS_1
Juna nampaknya tak mau kalah. Ia menjulurkan lidahnya demi untuk menyentuk pusar istrinya. Dan benar saja, pertahanan Raya akhirnya runtuh juga, akibat sengatan listrik yang ditimbulkan oleh kekuatan lidah Juna.
"Mas! Geli!"
Raya berusaha menyingkirkan tangan dan kepala Juna, namun tenaganya tentu saja tidak sebanding dengan Juna.
"Hahahaha, Mas lepasin!" Raya sudah tidak dapat menahannya lagi. Akhirnya tawanya pun pecah.
Juna tidak peduli dengan teriakan Raya, ia tetap meneruskan kegiatan yang sepertinya malah menyiksa dirinya sendiri. Karena ulahnya, sesuatu dari dirinya ada yang terbangun. Ah, sial memang.
Karena merasa sangat sulit untuk menghentikan Juna, maka Raya pun akhirnya mencubit pu ting Juna dari luar kaos yang dipakainya.
"Aaww! Sakit Raya."
Akhirnya Juna menghentikan kegiatannya karena merasakan sangat perih pada bagian depan dad@nya akibat cubitan Raya.
"Siapa suruh enggak mau berhenti," ucap Raya sambil membenahi bajunya yang tersingkap.
"Ah, ternyata rasanya sangat sakit. Panas dan perih," ucap Juna sambil mengusap-usap bekas cubitan Raya tadi.
"Mau lagi?" tanya Raya yang sudah siap dengan aksinya.
Juna dengan sigap mundur dan langsung menutupi dad@nya dengan menyilangkan kedua tangannya untuk menghindar dari tangan Raya.
"Kok aku bisa kesakitan gini, sedangkan kamu enggak. Malah kamu keliatan menikmati saat aku cubit-cubit," ucap Juna tersenyum miring.
Wajah Raya langsung memanas karena malu. Ia pun melempar bantal ke arah Juna, namun Juna berhasil menghindar sehingga bantal itu tidak jadi mendarat di wajahnya, namun berakhir di lantai.
"Loh kok marah? Memang benar kan? Kamu malah paling suka kalau aku cubit-cubit. Kalau aku belum melakukan yang satu itu, kamu selalu minta."
"Mas Juna, ih!"
Raya sudah tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia menutup kedua telinganya dengan tangannya supaya tidak mendengar godaan dari sang suami.
"Mau aku balas cubit enggak, nih?" bisiknya di dekat telinga Raya.
***
Juna sudah tertidur dengan lelap, sedangkan Raya masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih sibuk mengatur nafasnya karena kegiatan cubit-cubitan tadi.
Eh, kalau ini bukan cubit-cubit kesukaan Raya ya, tapi ini cubitan yang buat Juna kesakitan. Karena setelah digoda oleh Juna tadi, Raya benar-benar melakukan penyerangan kepada Juna.
Ia melancarkan aksinya, dengan mencubit Juna di bagian apa saja yang bisa ia jangkau. Juna sampai kewalahan menghadapi serangan dari istrinya. Bahkan ia sampai kesakitan karena bulu kakinya ada yang tidak sengaja tercabut karena saking kencangnya cubitan Raya.
__ADS_1
Karena belum merasa mengantuk, Raya membuka salah satu laci nakas, dan mengeluarkan sebuah buku yang merupakan buku diary uminya.
Raya membawa buku itu ke sofa. Duduk bersila di sana lalu dengan gemetar ia mencoba buku catatan uminya itu yang memang belum sempat ia baca.
Saat membuka halaman pertama, di sana terdapat tulisan yang cukup besar sehingga memenuhi satu lembar buku itu.
My Life.
Raya membuka lagi halaman berikutnya.
Oktober, 1997
Hari ini, aku melakukan kesalahan dan dosa besar. Aku sangat kotor. Aku benci diriku yang tidak mampu menolaknya, bahkan aku malah menikmatinya.
Astagfirullah, ampuni hamba, ya Allah.
Tubuh Raya meremang. Sebenarnya ia tidak ingin melanjutkan, namun rasa penasarannya lebih besar dibandingkan dengan rasa takutnya.
Dibukanya lagi lembaran berikutnya.
November,1997
Aku kalut saat tau kalau belum datang tamu bulananku. Aku bingung, harus bagaimana.
Di lembar berikutnya masih di bulan yang sama.
November,1997
Aku beranikan diri untuk mengeceknya. Aku membeli alat itu di apotek secara sembunyi-sembunyi. Namun, kini aku semakin takut saat melihat alat itu
Raya membalikkan lembaran yang lain.
November, 1997
Rasanya seperti didatangi oleh malaikat Izroil, saat melihat hasilnya.
TBC
Juna ... Juna, jelas beda dong cubitan kamu sama cubitan Raya 🤣
Penasaran ya, sama kelanjutannya? Ok nanti aku lanjut, mau masak dulu ya 😁😁😁
Jangan lupa like dan komennya dong, biar semangat nih xixixixi
__ADS_1
Terima kasih