Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
IKHLASKAN DAN LEPASKAN


__ADS_3

"Raya, gue sama Mamah balik dulu ya. Lu cepet balik biar gue temenin lo nya di rumah aja. Kapok gue tidur di sofa, meskipun lebar tetep aja enggak nyaman. Badan pada pegel semua," cerocos Jani saat dia ingin berpamitan dengan Raya.


"Salah siapa ngikutin tidur di sini," tukas Juna.


"Kan aku setia sama sodara Mas," jawabnya sambil membenarkan poni depannya.


"Kamu ini, sama kakak ipar sendiri enggak sopan. Panggil Mbak atau Kakak gitu. Masa la lo la lo," protes Risma pada anak perempuannya.


"Kan kita seumuran Mah, beda satu tahun doang," elaknya.


"Tetep aja. Harus ada sopan santunnya."


"Iya iya. Pamit dulu ya Mas Juna, Mbak Raya."


Raya mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih Jan, hati-hati ya."


"Pulang sana! Lagi berisik di sini juga," sela Juna sambil melirik adiknya.


"Enggak ada Jani enggak mah sepi, iya gak Ray?"


"Mbak!" Risma mencoba mengingatkan putrinya.


"Iya, Mbak Raya maksudnya."


Jani keluar terlebih dulu. Yang diikuti oleh Juna. Sepertinya Juna memberi kesempatan istrinya untuk berbicara berdua dengan mamanya.


"Mah." Tatapan Raya sendu. Syarat akan banyaknya keingintahuan dalam benaknya.


Risma memeluk anak menantunya. Tak lama ia mengurai pelukan tersebut. "Sehat dulu ya. Nanti kalau udah sehat dan pulang ke rumah, Mamah akan cerita semua. Kamu boleh tanya apa saja yang ingin kamu tanyakan."


Wanita paruh baya itu, mencium kening Raya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


Juna masuk setelah mengantar mamah dan adiknya naik taxi. Ia melihat menu sarapan yang disediakan oleh pihak rumah sakit masih utuh. Ya, memang Raya menginap bukan karena sakit typus atau apa yang memerlukan perawatan khusus dan tidak enak makan. Jadi ia memaklumi kalau istrinya tidak n@fsu terhadap makanan rumah sakit yang menurutnya tidak ada rasanya.


"Mau makan roti?" Juna memberikan roti manis isian coklat yang dibelinya di kantin rumah sakit pada sang istri.


Raya menggeleng. "Tolong antar aku ke kamar rawat Bunda Mas."

__ADS_1


"Oke, tapi nanti makan ya? Mas sudah suruh Mbak Nina bawa masakan rumah ke sini sekalian bawa baju ganti."


Raya mengangguk dengan cepat. Hal itu terlihat menggemaskan di mata Juna. Sehingga ia langsung mendaratkan cubitan kecil di pipi Raya.


***


"Assalamu'alaikum." Raya memberi salam saat pintu kamar rawat Mira dibuka oleh Juna. Kaki Raya masih sakit untuk dibawa jalan jauh, sehingga ia menggunakan kursi roda untuk ke kamar di mana Mira dirawat.


"Wa'alaikumsalam."


"Wa'alaikumsalam, Raya."


Juna mendorong kursi roda Raya untuk lebih mendekat ranjang. Raya berdiri dan duduk di tepi ranjang. Mira langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.


Mereka terisak bersama. Mereka sama-sama menangis haru sekaligus merasa lega karena orang yang dicintainya masih sehat dan tidak kurang satu apa pun.


"Maafkan Bunda Nak. Ini semua salah Bunda," ucapnya disela Isak tangisnya.


"Enggak Bunda. Bunda enggak salah, dan enggak ada yang perlu disalahkan dalam musibah ini. Semua sudah takdir dari sang Illahi," ucap Raya dengan bijak.


"Maafkan kakakmu ya Sayang. Pikirannya sedang kacau, tapi Bunda yakin April tidak ada maksud untuk mencelakakan kamu."


Raya mengangguk sambil terus mengusap punggung wanita paruh baya itu.


"Bagaimana dengan kandungannya?" tanya Raya sambil melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah, kandungannya baik dan sehat. Namun, April sepertinya masih belum bisa terima kenyataan. Ia terus-menerus memukuli perutnya. Tapi sudah dokter beri obat penenang . Ada Bima juga yang selalu di sampingnya."


"Raya ingin bertemu Mbak April," ucapnya mengungkapkan keinginannya.


"Ayah rasa untuk saat ini jangan kamu jangan menemuinya. Nanti tunggu keadaannya sudah stabil."


"Iya benar. Ayah saja hanya bisa melihatnya lewat jendela. Hanya Bunda dan Bima yang tidak membuatnya berontak saat mendekatinya," imbuh Mira menjelaskan.


"Ya Allah, kasian sekali Mbak April. Semoga secepatnya kembali seperti semula," ucap Raya dalam hati.


Mira beralih memandang Juna. "Juna, tadi mamah kamu menemui Bunda. Kami sudah bicara banyak hal. Bunda ingin meminta maaf atas nama Bunda dan April tentunya." Mira menjeda dengan menghela nafas dengan pelan. "Maaf, karena Bunda sempat membenci kamu, saat April bilang sedang mengandung anak kamu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bunda. Semuanya sudah jelas. Dan Bunda sudah tau siapa ayah kandung anak yang April kandung?"


"Ya," jawab Mira dan Budi serempak.


Raya dan Juna kembali ke kamar rawat Raya setelah ia memberikan makanan yang Mbak Nina bawa.


Mira kini sedang menuju kamar rawat April. Saat Mira masuk, Bima yang sedari tadi berada di samping April, kemudian beranjak keluar. Kini tinggallah ibu dan anak berdua.


Mira duduk di kursi bekas Bima duduk tadi. Ia membawa tangannya untuk menyentuh rambut hitam anaknya. Digerakkan tangannya dengan pelan, sehingga menciptakan kenyamanan pada sang pemilik rambut.


April yang sedari tadi memang tidak tidur, menolehkan kepalanya ke arah Mira. Matanya mulai berkaca lalu mengembun. Tak lama meluncurlah bulir bening pada sudut mata bulatnya.


Mira segera menyapu air mata putrinya yang jatuh secara deras.


"Sssttt," ucapnya sambil menggelengkan tangannya.


April makin terisak. Mira segera memeluk buah hatinya. Seolah mengingatkan bahwa ia tidak sendiri. Putrinya harus kuat, dan Mira berharap putrinya tidak bertindak hal yang merugikan dirinya serta menambah dosa yang telah diperbuat.


"Keluarkan Nak. Menangis lah, jika itu bisa membuatmu lega dan tenang. Tapi perlu kamu ingat, Bunda dan Ayah selalu di samping kamu. Bunda yakin kamu anak yang baik, kamu kuat menjalani semua ini. Ikhlaskan apa yang bukan milikmu."


"Tadi Bunda juga sudah bertemu adikmu. Dia tidak marah ataupun benci sama kamu. Jadi Bunda juga minta sama kamu, supaya tidak membenci adikmu."


Hal ini yang membuat April makin kencang menangis. Ia paling benci karena Bunda dan Ayahnya tidak pernah marah, terutama kepada Raya. Apa pun yang Raya perbuat pasti selalu dianggap benar dan di dukung oleh orang tuanya.


Pernah dulu sewaktu mereka masih sekolah. Saat itu hari penerimaan raport. Diwajibkan supaya wali murid yang mengambil raport mereka. Karena mereka berbeda sekolah, maka Mira mengusulkan untuk raport Raya Mira yang ambil sedangkan Budi mengambil raport milik April.


Namun, April bersikeras bilang kalau sekolahnya mewajibkan kedua orang tuanya untuk datang. April berharap Raya akan merajuk dan ikut bersikeras meminta Mira untuk datang ke sekolahnya.


Namun, di luar dugaan, Raya justru mengalah dan ia meminta bantuan sopirnya untuk mengambilkan raportnya. Hal itu menjadikan Mira selalu memuji Raya dan membanding-bandingkan dirinya dengan anak haram yang telah diberi makan dan perhatian oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu selalu menang Raya?!" batin April sambil mengepalkan kedua telapak tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.


TBC


Jangan lupa dukung untuk author dan novel ini ya.... Tanpa dukungan dari kalian apalah author remahan ini


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😍 😍 😘

__ADS_1


__ADS_2