
"Ketemuan di tempat biasa ya." Setelahnya Raya mematikan sambungan telpon, kemudian memasukan ponsel itu ke dalam tasnya.
"Mbak, aku pamit ya. Mau ketemuan sama Diana," pamit Raya pada Ana yang sedang memilah bunga yang masih segar untuk ditaruhnya ke dalam ember yang berisi air, sedangkan yang layu akan ia buang.
"Hati-hati Kak Ray."
"Oh iya Mbak, kerjakan yang pesanan lili terlebih dulu ya, untuk yang lainnya besok aku bantu."
"Siap Bos," jawab Ana sambil tangannya diangkat ke sisi pelipis tanda memberikan hormat.
"Salam untuk Zein. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Di cafe Molen 99 inilah Raya duduk menunggu para sahabatnya datang. Cafe dekat dengan kampus tempat Raya kuliah dulu yang menjadi tempat nongkrong ia dan kedua sahabatnya. Tak lama dua sohibnya itu pun menampakan batang hidungnya juga.
"Wuiihhh! manten baru ngelamun aja," Ledek Diana yang langsung duduk di samping Raya.
"Macem-macem nih anak," jawab Raya.
Sedangkan Dewa langsung duduk di depan mereka.
"Pesen dulu gih. Gue juga baru dateng jadi belum sempet pesen," ucap Raya.
Mereka akhirnya memesan minuman serta beberapa camilan untuk menemani obrolan mereka.
"Gimana, gimana? enak enggak nikah? cieee yang udah enggak perawan." Ucapan Diana barusan membuat Raya melotot sedangkan Dewa hanya menyunggingkan senyumnya.
"Kalo ngomong enggak bisa ya enggak pake toa? malu tau di denger orang lain." Raya makin kesal karena Diana mencolek-colek dagunya.
"Biarin aja, enggak kenal juga mereka sama kita?"
"Kasih tau dong Ray, gimana rasanya? Kata orang awalnya memang sakit tapi lama-lama akan terasa nikmat," ucap Diana dengan suara dibuat-buat.
"Tapi aku enggak ngerasain apa-apa. Justru Mas Juna yang kesakitan," jawab Raya terus mengambil minumannya yang baru saja datang.
Setelah pelayan cafe meninggalkan meja mereka, Diana pun kembali bersuara. "Wah, mati rasa lu Ray?"
"Kok jadi bahas begituan si? kita ke sini bukannya mau tanya kabar Raya setelah menikah itu bagaimana? tertekan atau sengsara?" tanya Dewa yang mulai risih dengan obrolan dua wanita itu.
"Pemanasan napa Wa. Kaku amat lu ah," jawab Diana.
Dewa mengeluarkan earphone dari dalam tas kecilnya lalu memasangkan ke telinganya. Raya dan Diana sama-sama mengangkat kedua bahunya. "Udah cuekin aja. Jadi bebas kan kita. Ayo mulai ceritanya." Diana menginterupsi.
"Cerita apa si? Orang enggak terjadi apa-apa," jawab Raya.
"Serius?!"
Raya mengangguk. "Kasian bener itu suami lu. Dosa lu jadi istri kagak mau ngasih."
"Ck. Paling lama juga umur pernikahan gue satu tahun, tinggal nunggu mbak April pulang aja. Lagi pula diantara kami tidak ada rasa apa pun."
"Lu udah bilang sama mbak lu itu?"
"Bilang apa?" tanya Raya.
"Ya bilang kalau lu yang gantiin dia jadi pengantin wanitanya."
Raya menggeleng. "Mungkin mbak April udah tau dari bunda sama ayah atau udah tau dari mas Juna."
__ADS_1
Begitulah seterusnya berbagai macam cerita mengalir begitu saja diantara mereka. Dewa pun ikut larut dalam obrolan dua sahabatnya itu. Mereka ini bersahabat semenjak duduk di bangku SMA karena memang mereka satu sekolah. Saat kuliah pun ia kuliah di tempat yang sama meskipun berbeda jurusan. Raya sendiri masuk ke fakultas pertanian maka tidak heran jika ia lebih senang mendirikan depot bunga dibandingkan bekerja di kantor ayahnya. Untuk Diana ia mengambil jurusan sastra indonesia, dan sekarang ia telah menjadi seorang penulis. Sudah lumayan banyak karyanya yang telah diterbitkan. Sedangkan Dewa, dia merupakan seorang dokter gigi.
"Gue cabut duluan ya. Bima sudah jemput," ucap Diana pada kedua sahabatnya. "Ini semua lu yang bayar kan Ray?"
"Udah gampang. Hati-hati di jalan."
Diana keluar dari cafe. Raya mulai mengemasi barang-barangnya, setah sebelumnya ia membayar makanan yang telah mereka nikmati yang tidak Raya sangka ternyata nominalnya cukup mencengangkan hanya untuk beberapa minuman dan juga makanan ringan. Maka ia memutuskan untuk menggunakan kartu yang telah diberikan Juna padanya.
"Pulang sendiri atau dijemput?" tanya Dewa saat mereka beriringan keluar cafe.
"Naik taxi," jawab Raya.
"Gue anterin." Dewa langsung menarik tangan Raya menuju motornya.
"Kalau lu nganterin gue yang ada bolak balik Wa. Gue sekarang tinggal di unit Mas Juna, jadi enggak searah sama rumah lu."
Dewa tidak menanggapi perkataan Raya. "Ayo, naik."
Dewa memang tidak bisa dibantah. Akhirnya Raya menurutinya. "Motor lu tinggi banget Wa. Gimana naiknya gue."
"Tangan lu pegangan pundak gue."
Dan akhirnya Raya berhasil duduk di belakang Dewa. Dewa mulai melajukan motornya meninggalkan area parkir.
***
Raya sampai di unit sekitar jam empat sore. Ia berencana akan mencuci pakaian karena dari pertama ia tinggal di sini ia belum pernah mencuci.
"Ah, sebaiknya aku cuci baju dulu baru setelah itu mandi terus masak deh."
Setelah menaruh tasnya di dalam kamar, ia menuju ke laundry room yang ada di lantai atas.
"Pantesan di kamar rapih banget. Ternyata diumpetin di sini. Aku cuci sekalian atau pisahin aja ya?"
"Huh, baiklah. Karena aku ini istri yang soleha, maka aku cuci sekalian deh."
Raya mulai mengeluarkan pakaian kotor Juna yang ada di mesin cuci. Ia mulai memisahkan antara pakaian yang berwarna dan berwarna putih. Dikhawatirkan ada pakaian yang mudah luntur, sehingga bisa mengakibatkan noda pada pakaian yang lain. Walaupun Raya yakin, pakaian Juna tidak ada yang mudah luntur karena jelas pakaiannya branded semua. Tapi untuk jaga-jaga tidak masalah 'kan? Dari pada nanti Raya kena omel.
Saat sedang memilah, Raya menarik kain berwarna hitam berbentuk segitiga ke hadapan wajahnya. "Ihhhhh!" Ia lalu melemparkan kain itu. "Harus juga ya, aku yang cuci kain segitiganya? kenapa enggak di pisah aja, seenaknya aja dicampur dengan pakaian yang lain," gerutu Raya.
Raya mengambil ponsel yang ia letakan tak jauh dari tempatnya duduk. Ia lalu mulai menghubungi nomor pemilik kain segitiga tersebut.
"Ada apa?"
"Mas! kain segitiga milik Mas, enggak bisa ya enggak dicampur dengan pakaian kotor yang lainnya?"
"Maksudnya?"
"Aku mau nyuci baju. Dengan kebaikan hati, aku mau sekalian nyuciin baju Mas Juna, tapi kenapa harus ada kain segitiganya sih. Aku kan geli. Lain kali jangan di gabung dengan pakaian kotor yang lain. Mas pisahin aja."
Muka Juna di sana tampak mengeras. "Diam di sana. Sebentar lagi aku sampai unit!" Sambungan telpon pun terputus.
"Kenapa? aneh banget. Bukannya jawab 'oh iya Raya, lain kali aku pisahin deh' eh malah main matiin aja."
Dengan berat hati dan mata setengah terpejam, ia mengambil kain segitiga milik Juna yang ia lemparkan tadi. Kemudian ia mulai mencuci semua pakaian yang ada.
"Nah, beres. Mandi dulu deh baru jemurin, setelah itu masak."
__ADS_1
Selang waktu setengah jam, Juna telah sampai di unitnya. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju kamar istrinya.
"Raya!" teriaknya.
"Raya yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, keluar dari kamar karena mendengar Juna manggilnya, eh ralat, lebih tepatnya meneriakinya.
"Ada apa Mas? tumben jam segini udah pulang?'
"Mana kain segitiga milikku?" jawab Juna balik bertanya.
"Ada di atas," jawab Raya sambil menunjuk laundry room.
Juna lalu meraih tangan Raya kemudian membawanya ke tempat yang di tunjuk oleh Raya.
"Mana kainnya?" tanya Juna.
"Buat apa? udah aku cuci. Tuh, ada di jemuran."
Juna mengambil beberapa kain segitiga miliknya. "Gara-gara ini, kamu menelpon saya saat meeting?!"
"Mana Raya tau kalau Mas Juna lagi meeting."
"Kamu tau Ray? Kamu itu sekarang istriku, jadi sudah sewajarnya seorang istri mencuci kain segitiga milik suaminya."
"Tapi kan geli Mas."
"Geli apa jijik?!"
"Dua-duanya. Eh."
"Geli karena kamu ngebayangin isinya?"
"Iya." Raya langsung membulatkan matanya saat menyadari jawabannya. Ia menepuk-nepuk keningnya. "Kenapa jadi keceplosan gini sih," ucapnya dalam hati.
"Anggap saja kamu latihan, supaya terbiasa sebelum kamu melihat isinya," ujar Juna dengan tersenyum menggoda. Lalu ia menempelkan kain segitiga yang masih lembab itu ke wajah Raya.
"Arjuna Wisesaaaa!!"
TBC
Kenapa harus kain segitiga yang jadi masalah. Padahal banyak kain bentuk lainnya kan? 😁😁
Halo.... Jumpa lagi dengan Rayjun (Raya Juna)
Insya Allah hari double up untuk mengganti karna kemarin tidak up
Semoga suka ya dengan part ini
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Berupa like, komen, vote, dan hadiah sebanyak-banyaknya
Klik favorit supaya kamu tau kalau novel ini update
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya
Terima kasih 😍😘
__ADS_1