
Raya dan Juna sama-sama tidur terlentang menatap langit-langit kamar. Mereka masih menghirup udara di sekitar dengan rakus.
Juna menoleh ke arah istrinya yang terlihat kelelahan tapi tampak menikmati. Keringat masih mengalir pada kulit sang istri.
Onda memang luar biasa. Mentang-mentang lama berpuasa, sekalinya buka langsung dihajar dengan banyak gaya. Tapi sepertinya gaya favorit Juna adalah gaya cicak nempel di dinding.
Juna kini telah berada di atas tubuh Raya yang masih terengah-engah. Ia menahan tangannya di sisi tubuh istrinya supaya tidak menindih Raya.
"Again?" tanyanya sambil memainkan alisnya.
Meskipun tenaga telah terkuras, namun Raya berusaha mendorong Juna agar ia menyingkir dari atas tubuhnya.
"Aku capek Mas. Aku lapar," ucap Raya sembari menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang setelah berhasil menyingkirkan tubuh Juna.
"Kan tadi udah dikasih makanan," ucap Juna sambil mengulum bibirnya.
"Mas, aku lapar beneran. Tadi pulang dari rumah sakit belum sempat makan siang, nyampe rumah di suruh lembur lagi."
Juna jadi merasa bersalah. Dari sore hingga malam hari ia menggarap istrinya tanpa henti. Tidak mempedulikan keadaan sang istri. Namun, semua ini bukan salah dia sepenuhnya, Onda yang harus disalahkan di sini. Karena Onda tidak tahan ingin terus masuk ke dalam sarangnya, tidak puas jika hanya sekali.
"Ayok makan," ajak Juna sambil meraih tangan Raya supaya Bagun dari tempat tidur.
"Aku mau mandi dulu Mas. Badan aku bau, nggak nyaman banget."
Raya berdiri dari tempat tidur dengan mempertahankan selimutnya yang melilit di tubuhnya.
Juna mendekat lalu membenamkan wajahnya pada leher Raya. Menghirup aroma yang menjadi candu baginya.
"Nggak bau kok. Wangi. Mas suka," ucapnya sambil terus mengecupi leher Raya.
"Mas, aku lapar. Mau mandi dulu, ini gerah banget," ucap Raya dengan nada manja.
"Oke, di lap-lap aja ya jangan mandi, ini sudah malam. Nggak baik buat kesehatan," ucap Juna lalu tangannya memegang selimut yang melilit di tubuh Raya.
"Mau ngapain?" tanya Raya curiga.
"Mau lepas selimut ini. Kamu mau ke kamar mandi masa pakai selimut."
__ADS_1
"Nggak ... nggak. Jangan. Biar Raya lepas di kamar mandi aja."
Lalu Raya jalan menuju kamar mandi masih dengan berbalut selimut. Juna mengikutinya dari belakang.
"Mau ngapain lagi Mas? Gantian aja pakai kamar mandinya, biar cepat," ucap Raya yang tidak ingin Juna ikut masuk ke kamar mandi, yang pasti nantinya akan ada ritual yang membuatnya berlama-lama di kamar mandi. Sedangkan cacing diperutnya sudah demo meminta jatah.
Juna terkekeh karena kecurigaan Raya.
"Mas mau ambil selimutnya. Masa mau pake selimut di kamar mandi?"
Raya masuk ke kamar mandi lalu melepas selimut yang melilit di tubuhnya. Lalu ia membuka sedikit pintu kamar mandi untuk memberikan selimutnya kepada Juna. Juna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Raya.
"Padahal aku sudah lihat dan mencicipi semuanya. Tapi dia tetap saja malu."
Juna memakai kolornya dan keluar kamar untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berada di luar. Untuk mempersingkat waktu, sehingga nanti Raya tidak perlu menunggunya lagi untuk makan malam.
Setelah membersihkan diri, Juna kembali ke kamar dan mengajak Raya untuk makan malam berdua. Karena jam sudah menunjukan angka sepuluh, sehingga para penghuni di rumah ini tentu saja sudah berada di kamar masing-masing.
Raya menghangatkan makanan yang ada di lemari makan lalu menghidangkannya di meja makan yang ada di dapur. Kemudian ia menyiapkan dua piring yang sudah ia isi degan nasi serta lauk pauk yang ada di meja. Satu piring untuk Juna, dan satu piring lagi untuk dirinya.
"Eh, udah pada keluar dari sarang. Lapar ya? Makan yang banyak ya," ucap Risma lalu megambil segelas air lalu meminumnya sambil duduk di kursi dekat Raya.
Raya jadi tersedak karena kaget dan juga merasa tidak enak dengan mertuanya. Padahal ia berjanji ingin membantu mertuanya memasak, tapi malah sampai malam ia tidak keluar dari kamar. Keluar-keluar langsung makan.
"Pelan-pelan Sayang," ucap Risma mengusap punggung Raya.
Raya menerima gelas yang Juna beri untuknya, lalu meminumnya.
"Lagian Mama bikin kaget aja," ucap Juna yang masih lahap mengunyah makanannya, sedangkan Raya kini hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring.
"Kalian kayaknya terlalu kusyu menikmati makanan. Jadi nggak menyadari Mama ada di sini."
"Maaf Ma," ucap Raya.
"Eh, ngga perlu minta maaf Sayang," ucapnya sambil membelai rambut Raya. "Teruskan makannya. Makan yang banyak ya, biar sehat. Jadi bisa cepat kasih Mama cucu," ucap Risma lalu meninggalkan mereka berdua.
***
__ADS_1
Sudah satu bulan semenjak kepulangannya dari Jepara, Juna selalu menyempatkan untuk mengantar jemput Raya. Mereka masih tinggal di rumah orang tua Juna.
Mereka tidak diizinkan kembali ke apartemen oleh sang mama. Katanya, kasihan Raya kalau di apartemen, tidak bisa menyalurkan hobinya, karena tidak ada lahan yang akan dijadikan penyalur hobinya dalam bercocok tanam.
Raya sendiri pun sudah nyaman tinggal di rumah mertuanya. Namun, ia kini memikirkan Mira. Pernah suatu hari Mira mengunjungi Raya, namun seperti terburu-buru karena mungkin tidak nyaman jika lama-lama di rumah besannya. Lagi pula ada kalanya ia ingin membicarakan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan juga dengan sang besan. Meskipun sejatinya mereka berdua adalah sahabat, tapi pastinya tidak semua hal tentang kehidupannya bisa diketahui oleh Risma.
"Mas, aku punya niatan untuk membeli rumah," ucap Raya di sore hari ketika mereka sedang duduk di pinggir kolam renang dengan Juna memeluk Raya dari belakang.
"Buat siapa?" tanya Juna.
"Buat kita."
"Kenapa? Biar kala Dewa antar jemput, nggak ketauan sama orang rumah?"
Raya langsung melepaskan pelukan Juna lalu menghadap kepada laki-laki yang kini wajahnya terlihat mengeras.
"Kamu ngomong apa si Mas?! Aku sama Dewa hanya sahabat, tidak lebih!" Raya tersulut emosinya, karena memang Juna sering membawa-bawa nama Dewa setiap kali mereka bicara.
"Tapi tidak dengan Dewa."
"Dewa menyukai orang lain Mas. Dia sedang menyukai seseorang, tapi aku belum tau siapa orangnya," ucap Raya yang kini nada bicaranya sudah dipelankan.
"Dia menyukai kamu. Dia bilang ke kamu kalau dia menyukai wanita yang sudah menikah 'kan?"
"Iya, Dewa memang bilang suka sama wanita yang sudah memiliki suami. Tapi pasti bukan aku Mas."
"Dewa sendiri yang bilang kalau dia menyukaimu. Bahkan pernah aku menghajarnya karena terang-terangan bicara seperti itu di depanku."
Raya melebarkan matanya, ia masih tidak percaya apa yang Juna katakan. Tapi mengingat saat dirinya menemui Dewa dan ada luka lebam di wajahnya. Apakah itu perbuatan Juna? Dewa sendiri pun mengakui bahwa ia telah dihajar oleh suami wanita yang ia cintai.
"Jangan bilang Dewa juga yang menyuruh Mas untuk menanyakan kenapa aku mau berhubungan suami istri?" tanya Raya dengan suara gemetar.
"Ya."
Raya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak pernah menyangka kalau selama ini wanita yang Dewa cintai adalah dirinya.
TBC
__ADS_1