Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
HARI YANG DITUNGGU


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dimana hari ini Raya dan Juna akan berangkat menuju benua Eropa tepatnya negara Paris untuk melakukan bulan madu yang sempat tertunda.


Rencananya mereka akan berkeliling di beberapa negara di Eropa selama tiga minggu. Tentu saja kepergian mereka menorehkan duka di hati Vero, sahabat sekaligus asisten Juna. Bagaimana tidak berduka, selama Juna pergi Vero lah yang diberi tanggung jawab untuk mengurus perusahaan.


Namun, Juna tidak semata-mata hanya memberikan beban saja kepada Vero. Pastinya Vero pun mendapatkan tambahan bonus yang membuat rekeningnya semakin membengkak.


Baik Risma, Anwar, Mira, dan Budi ikut mengantarkan anak dan menantu mereka sampai bandara. Jani tidak ikut karena ia harus pergi ke luar kota untuk tugas kuliahnya. Sedangkan April ia masih harus banyak istirahat yang ditemani oleh suaminya.


"Hati-hati Sayang. Kalau sudah sampai langsung hubungi kita semua. Supaya kita bisa lega bahwa kalian telah sampai dengan selamat," ucap Risma lalu memeluk Raya kemudian memeluk anak lelakinya.


"Siap Bu bos." Juna menjawab dengan sikap sip seperti polisi kepada atasannya yang langsung diberi pukulan oleh Risma.


Juna hanya bisa meringis. Tidak mungkin juga ia membalas. Justru ia kembali memeluk wanita yang pernah melahirkannya.


"Juna pasti kangen banget sama Mama."


"Udah deh, nggak usah bohong gitu. Paling juga nanti kalau sudah sampai sana udah lupa sama Mama. Yang penting jangan lupa permintaan Mama. Ingat cu-cu," ucap Risma sambil melepaskan pelukan Juna.


Raya hanya dapat meringis mendengar kata cucu yang diucapkan oleh Risma.


"Kangen dong pastinya Ma. Kangen Omelan Mama." Juna kemudian menghindar dan bersembunyi di belakang tubuh Raya supaya Risma tidak dapat memukulnya.


Mira yang berada di dekat Raya kembali memeluk putrinya. Tak hanya Raya, Juna pun kini minta dipeluk juga. Sehingga membuat semua orang tertawa kecuali Risma yang mencebik kan bibirnya.


"Nikmati waktu berdua kalian. Gunakan waktu itu untuk lebih memahami diri dan pasangan. Lepaskan semua beban dan masalah yang ada. Tinggalkan kesedihan dan kemarahan kalian di sana. Pulanglah hanya dengan membawa kebahagiaan kalau soal cucu itu bonus." Mira menatap anak dan menantunya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda." Raya memeluk Mira dengan hangat.


Panggilan untuk keberangkatan pun sudah terdengar. Juna dan Raya kembali memeluk semua orang yang mengantar satu per satu. Setelah itu mereka berjalan dan melambaikan tangan kepada empat orang yang mengantarnya.

__ADS_1


"Tidurlah, perjalanan lumayan panjang." Juna mengusap kepala Raya yang sedang memandang ke luar jendela pesawat.


Raya pun menoleh sambil menggeleng kemudian kembali melihat langit biru serta awan putih yang dilaluinya.


"Kok keliatan sedih sih, kaya nggak seneng gitu mau bulan madu." Juna mengusap pipi Raya dengan jarinya.


Raya menoleh sambil tersenyum kemudian memeluk Juna.


"Aku nggak sedih Mas. Justru aku bahagia karen bnyak yang sayang dengan aku. Aku lagi berkhayal saja, seandainya ayah dan ibu kandungku masih hidup pasti akan lebih bnyak lagi yang sayang sama aku."


Juna diam tidak menanggapi ucapan Raya. Ia hanya memeluk istrinya itu dengan sangat erat dan hangat. Menyalurkan rasa sayangnya.


Mereka tiba di kota Paris dan langsung menuju hotel yang tentu saja telah di pesankan oleh Vero sebagai tempat mereka menginap beberapa hari di sana.


Tidak hanya hotel yang berada di Paris. Hotel di berbagai negara yang akan Raya dan Juna kunjungi pun sudah dipesankan oleh Vero. Sedangkan untuk kendaraan, Juna lebih memilih menaiki kendaraan umum selama berbulan madu. Alasannya, selain ia ingin mencoba berbagai transportasi umum di negara lain, juga karena ia bosan jika harus berpergian dengan menggunakan mobil pribadi. Ia ingin lebih berbaur dengan orang yang berada di sana, meskipun percuma karena kebanyakan orang bule itu cuek tidak memperhatikan orang lain.


"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga di hotel," ucap Raya yang langsung merebahkan tubuhnya pada kasur berukuran besar yang tentu saja empuk sama seperti di rumahnya. Hanya suasananya sja yang berbeda.


"Langsung apa?" tanya Raya melotot.


"Ck! Juna mencebik namun langsung tertawa dengan keras. "Ya mandi dong sayangku. Memangnya mau langsung apa?"


Raya menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Kirain mau langsung tidur gitu. Ya kali matahari baru muncul kita malah tidur."


"Nggak masalah kalau kmu mau istirahat dulu. Pasti capek kan, setelah perjalanan yang cukup panjang." Juna mengusap kepala Raya yang menatap ke arahnya.


"Tapi aku lapar Mas," bisik Raya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Jangan digigit, biar Mas aja." Juna pun mengecup bibir Raya cukup lama dan panjang sehingga membuat Raya kehabisan nafas.

__ADS_1


"Mas!" Raya segera mengambil oksigen sebanyak-banyaknya baik melalui mulut maupun hidungnya setelah Juna melepaskan tautan bibirnya.


"Makanya jangan suka gigit-gigit bibir. Nanti Onda bangun gimana?"


"Alesan aja Onda. Padahal mesum." Raya kemudian duduk untuk menghindari suaminya yang sudah terlihat berbeda dari tatapannya. Sepertinya suaminya pun lapar tapi lapar yang berbeda.


"Lapar Mas." Raya merengek karena Juna masih saja tiduran sambil memandanginya.


Juna pun ikut duduk di atas kasur di samping Raya. "Mau sarapan apa? Mau di luar pa di kamar saja?"


"Terserah Tuan Muda Juna saja," jawab Raya malas kemudian kembali rebahan sambil menarik selimut.


Juna pun tersenyum semirk lalu ikut berbaring, oh tidak lebih tepatnya ia mengunci tubuh Raya berada di bawah tubuhnya.


"Mas, aku lapar lho. Katanya mau pesan sarapan."


"Tadi bilang sarapannya terserah tuan muda?"


"Ya, udah sana Mas Juna buruan pesan. Makan di kamar aja deh. kayaknya habis makan aku mau tidur dulu. Capek banget, padahal tadi di pesawat juga tidur terus."


Raya kemudian melirik ke bawah kakinya untuk memastikan bahwa dugaannya tidak benar. Namun, tentu saja dugaannya tidak pernah salah. Ia melihat suaminya dengan asiknya menciumi betisnya dan beberapa detik kemudian.


"Mas Junaa!"


"Tadi bilangnya terserah tuan muda. Tuan muda maunya sarapan yang bikin merem melek sekaligus berkeringat."


Juna langsung membenamkan wajahnya diantara kedua paha sang istri.


"Mas, kan bisa pesan ayam geprek level lima belas atau nggak pesan seblak cabe setan. Kan sama-sama bikin keringetan sekaligus merem melek." Raya berusaha bernego dengan suaminya meskipun ia sendiri sudah merasakan kegelisahan karena ulah sang suami."

__ADS_1


"Di sini mana ada ayam geprek apalagi seblak setan." Ucap Juna mengangkat kepalanya untuk melihat wajah istrinya yang sudah memerah karena menahan sesuatu. "Udah pokoknya jangan ganggu. Aku mau sarapan kue apem dulu." Kembali Juna membenamkan wajahnya sehingga membuat Raya menjerit.


__ADS_2