
"Bunda memang kecewa dengan mu Nak, tapi Bunda akan lebih kecewa jika kamu mencelakakan dirimu sendiri bahkan akan membuang anak yang tak berdosa ini," ucap Mira sambil mengelus perut rata April.
"Jangan tambahkan dosa kamu dengan melakukan hal yang akan mendatangkan murka Allah."
"Ayah sudah berbicara dengan Bima dan orang tuanya. Kami sepakat untuk menikahkan kalian secepatnya. Tapi kalian belum boleh tinggal bersama. Nanti setelah anak ini lahir, kalian akan menikah ulang. Setelah itu kalian baru bisa tinggal bersama," sambung Mira berbicara dengan April meskipun April memunggunginya.
April merasa sudut hatinya sangat perih. Mengapa Raya selalu beruntung dibanding dengan dirinya. Juna bahkan tidak menunggunya saat ia memutuskan untuk kabur di hati pernikahannya. Juna malah menerima menikah dengan Raya. Dan yang membuat April makin geram, setelah menikah hidup Raya baik-baik saja, bahkan terlihat bahagia.
April pikir Juna akan memperlakukan Raya dengan tidak baik, namun malah sebaliknya.
Hari ini Raya sudah diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, ia berpamitan dulu dengan Mira dan Budi. Mira sebenarnya sudah tidak dirawat lagi, karena ia hanya mengalami syok saat kejadian beberapa hari lalu.
Namun Mira dan Budi masih bergantian dengan Bima untuk menjaga April, mengingat kondisi psikis April yang masih belum stabil.
Raya menginginkan pulang ke rumah mertuanya. Juna pun menyetujui hal itu. Karena di unit tidak ada orang, maka Nina diminta Raya untuk ikut pulang ke rumah Risma.
Juna kembali bergelung di bawah selimut setelah menunaikan sholat subuh. Ia sengaja menahan Raya untuk tidak turun dari kasur. Dipeluknya Raya dengan erat sambil memainkan rambut coklatnya.
"Ayolah Mas, ini sudah siang. Aku mau bantu Mamah menyiapkan sarapan," rengek Raya mencoba melepaskan rengkuhan Juna namun selalu gagal.
"Sebentar lagi. Mas masih ngantuk," ucapnya malah naik. menyerukan wajahnya pada ceruk leher Raya.
"Bagun sekarang! Aku enggak mau punya suami pemalas," sungutnya sambil menepuk tangan kiri Juna.
"Sebentar saja. Lima menit. Setelah itu Mas akan mandi."
Ternyata janji Juna hanya bulan semata. Lima menit yang diminta menjadi lima belas menit. Setengah mengancam, akhirnya Raya terbebas dari belitan si anaconda. Raya tersenyum sendiri saat mengingat dulu ia hampir saja menendang anaconda kebanggaan suaminya.
"Kenapa Mbak, keluar kamar senyum-senyum? Habis enak-enak ya?" ledek Jani yang secara bersamaan keluar dari kamarnya.
Raya hanya melotot pada adik iparnya itu. Ia pun segera menuju ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan pertamanya di rumah setelah pulang dari rumah sakit.
"Duduk aja Sayang. Nih cobain, Mamah tadi habis bikin kue klepon."
Risma menyodorkan satu piring kecil berisi jual klepon ke hadapan Raya. Risma juga ikut duduk dengannya menikmati kue klepon hasil karyanya setelah subuh tadi.
__ADS_1
"Enak?" tanyanya pada sang menantu
"Enak Mah. Raya paling suka kue klepon sama lopis. Apalagi kalau disuruh dengan lelehan gula merah yang kental."
"Kenapa kamu mirip sekali dengannya? Bahkan makanan kesukaan kalian sama," ucap Risma dalam hati, memandang Raya yang sedang lahap menyantap kue bulat berwarna hijau yang dilumuri parutan kelapa.
Setelah Juna berangkat ke kantornya, Raya segera menemui Risma yang sedang menyirami tanaman.
"Mah, apa Mamah mau menepati janji Mamah?"
Risma tau apa yang dimaksud Raya. Ia pun mematikan kran, menaruh selang di tanah dan menyuruh Nina untuk meneruskan pekerjaannya.
"Ikut Mamah," ajaknya pada Raya.
Kini mereka berjalan ke kamar. Risma menutup pintu kamarnya. Ia kemudian berjalan ke arah meja untuk mengambil sesuatu lalu ia duduk di samping Raya yang telah lebih dulu duduk di sofa.
Raya mengenal benda yang mertuanya pegang. Dua buah album foto dan satu buah buku yang sama persis dengan yang Raya lihat di kamar Mira.
"Sebelumnya, Mamah sudah minta izin sama ayah dan bunda kamu. Seharusnya mereka yang menceritakan semua ini. Namun, sedari dulu Mira tidak pernah sanggup untuk berbicara dengan mu Sayang."
Risma mulai membuka album foto yang di dalamnya terdapat foto tiga orang gadis cantik. Persis seperti yang pernah Raya lihat sebelumnya.
Sebelum memulai cerita, Risma mengusap foto gadis manis berhijab. Matanya langsung berembun, mungkin dengan sekali kejap, bulir bening itu sudah merayap melewati pipinya.
Arini Galuh, gadis manis bermata bulat yang sangat lembut baik suara maupun tingkah lakunya. Selama dua puluh sembilan tahun ia tidak pernah berpacaran atau pun terlihat dengan lelaki. Ia sangat menjaga dirinya. Katanya jika ingin serius langsung saja melamar. Dia tidak ingin terjerumus ke dalam maksiat.
Sudah lima tahun ini, ia tinggal di rumah paman dan bibinya, karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Sepupunya yang bernama Budi sudah menikah dengan sahabatnya dan sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Namun sayang, karena satu dan lain hal, Mira yang notabene sahabat sekaligus istri dari sepupunya itu harus diangkat rahimnya, sehingga ia sudah tidak bisa hamil lagi.
Gadis seumurannya memang seharusnya sudah menikah dan mempunyai anak. Semua sahabatnya sudah menikah, bahkan Risma, salah satu sahabat baiknya telah mempunyai seorang putra yang berusia empat tahun.
Suatu hari, Arini mendatangi kedua sahabatnya. Matanya terlihat sembab.
"Ada apa Rin? Apa kamu ada masalah?" tanya Risma dengan lembut.
"Ceritakan Rin, siapa tau kita bisa membantu. Kata Ibu seharian kemarin kamu mengurung diri di kamar," ucap Mira yang mendapat informasi dari mertuanya.
__ADS_1
"A-aku ... aku hamil," ucapnya dengan lirih dengan kepala menunduk.
"Apa?"
"Astagfirullah."
"Jangan bercanda Rin!" ucap Mira tidak terima.
Arini mendongakkan wajahnya menatap kedua sahabatnya. Air matanya tak dapat dibendung lagi.
"Aku kotor. Aku berdosa," ucap ya disela Isak tangisnya.
Mira dan Risma segera memeluknya.Ikut bersedih. Mereka yakin, Arini tidak mungkin melakukan dosa besar. Ia pasti menjadi korban kebejatan lelaki bajing@n di luar sana.
"Siapa?"
"Iya Rin, katakan ke kita siapa laki-laki bajing@n itu. Biar kita beri perhitungan!" timpal Mira berapi-api.
Arini menggelengkan kepalanya. "Dia orang baik. Dia tidak sengaja melakukannya. Itu bukan kemauannya. Ini semua salahku."
"CK! Mana ada laki-laki baik yang merenggut kesucian orang."
Arini pun menceritakan kepada kedua sahabatnya, jadi sewaktu ia pulang bekerja, ia melihat Seorang pria yang sedang pingsan di pinggir gang dekat rumah pamannya.
Ia berusaha membangunkan pria itu. Pria itu pun tersadar namun tingkahnya aneh. Pria itu terlihat mengusap-usap wajah serta badannya. Pria itu sudah menyuruh Arini untuk meninggalkannya. Namun Arini merasa kasihan terhadap pria itu dan ingin menolongnya.
Arini berhasil membawa pria itu ke kosan pria tersebut yang tak jauh dari tempat pria itu tadi pingsan. Pria itu segera mendorong Arini untuk keluar dari kamar kostnya, tetapi Arini ingin membantu pria itu degan menyediakan air untuk mengompres tubuh pria itu, karena saat memegang tangan pria itu terasa sangat panas.
Karena sikap keras kepala Arini yang tidak mau mendengarkan pria itu untuk segera pergi, maka terjadilah hal yang tidak mereka inginkan, karena memang pria tersebut dalam pengaruh obat perangsang yang dimasukan temannya ke dalam minumannya.
Setelah terenggut kesuciannya Arini menjadi gadis yang pendiam. Ia sangat takut. Ia telah mengecewakan paman dan bibinya. Terlebih ia juga telah berbuat dosa yang besar. Ia takut akan murka Tuhannya.
"Kita harus temui laki-laki itu. Dia harus bertanggung jawab," ucap Mira.
Arini menggeleng. "Tanggung jawab bukan solusi yang tepat. Itu hanya untuk menutupi aib, namun tidak bisa menghapuskan dosa."
__ADS_1
TBC
Part selanjutnya masih menceritakan masa lalu Arini ya