Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
MENCAPAI NIRWANA


__ADS_3

Raya menggeliat pelan. Tubuhnya terasa remuk setelah olahraga berdua Juna semalam. Jika mengingat kejadian semalam, Raya merasa bahagia sekaligus malu. Bahagia? ya, tentu saja Raya bahagia bisa mereguk nikmat bersama sang suami yang berbuah pahala. Ia juga merasa malu karena merasa seperti bukan dirinya yang bisa cepat mengimbangi bahkan mendominasi permainan Juna. Namun, di sisi lain ia juga merasa seperti wanita yang egois dan jahat. Bagaimana bisa, suaminya sedang menghadapi masalah yang Raya sendiri pun masih ragu apakah benar suaminya telah melakukan hal yang dilarang oleh agama kepada kakak perempuannya. Dirinya malah dengan sukarela menyerahkan kehormatan yang ia jaga selama ini.


Namun, dimana letak kesalahannya seorang istri melayani suaminya. Biarlah Raya dianggap wanita egois, untuk saat ini Raya hanya ingin menikmati moment bahagia berdua dengan suaminya, yang mungkin tidak lama lagi ia akan kehilangan moment itu. Jika membayangkan kemungkinan ia akan berpisah dengan Juna hatinya terasa perih. Ia hanya bisa berharap, apa pun yang terjadi nantinya, yang terpenting baginya, ia mempunyai kenangan indah yang bisa ia kenang sampai kapan pun. Bahkan, kalau Raya boleh meminta, ada kehidupan yang hadir di dalam rahimnya.


Tanpa sadar, Raya mengusap-usap perutnya, tapi ... tunggu kenapa perutnya keras dan bidang begini? Ia raba lagi perutnya, eh tapi perut itu kan ada di bawah, kenapa yang ia raba ada dibawah pipinya. Raya membuka matanya. Ia sempat terbelalak karena saat membuka mata, ia disuguhkan dengan dada bidang milik suaminya.


"Roti sobek," bisiknya dalam hati sambil menelan kasar ludahnya.


"Berhenti Raya," ucap Juna dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Raya mendongak menatap muka bantal suaminya. "Kenapa?" tanyanya polos.


"Kamu dapat membangunkannya."


"Oh, jadi Mas Juna bangun karena Raya pegang dadanya ya?"


"Ya itu juga, tapi yang lebih berbahaya kalau adikku yang bangun."


Raya mengerutkan dahinya. "Siapa? Jani? Memangnya Jani ada di sini?"


Juna menggeleng. "Bukan Jani, tapi ... anaconda," ucapnya sambil menunjuk dengan dagu, apa yang ia maksud.


Raya langsung melihat ke arah tempat anaconda berada. Raya terkejut, matanya melotot melihat anaconda yang ternyata sudah berdiri tegak, meskipun tertutup selimut. Ia bergidik ngeri, sekelebat bayangan kegiatan yang ia lakukan melintas di pikirannya.


Juna setengah bangun lalu mengungkung istrinya. Sambil tersenyum, ia lamat-lamat menatap istrinya.


"Mas Juna mau ngapain?" tanya Juna agak panik.


"Sekali lagi ya?"


Raya menggeleng. "Kita harus mandi, sudah masuk waktu subuh," tolak Raya sambil memalingkan wajahnya.


"Tidak ada penolakan. Aku janji hanya sekali pagi ini, setelah itu kita mandi," ucap Juna.


Mau menolak juga percuma, Raya tidak akan sanggup melawan Juna kalau di atas tempat tidur. Apalagi saat Juna meraih bibirnya. Kesan lembut, hangat dan manis membuat Raya makin melayang seperti terbang ke langit.

__ADS_1


Saat Juna menyentuhnya dengan lembut, bagai ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutnya. Di dalam dadanya seperti ada banyak bunga bermekaran. Biarlah Raya egois kali ini, selagi Juna masih menjadi suaminya.


Melihat Juna bergerak di atasnya dengan beberapa peluh mulai menetes di dahinya, membuat kadar ketampanan Juna meningkat.


Raya merasakan bahwa dirinya akan segera sampai ke nirwana.


"Sudah mau sampai?" tanya Juna dengan terbata.


Raya menjawab dengan anggukan. Nafasnya mulai terengah-engah. Peluh mulai membanjiri dahi hingga lehernya. Rambut panjang Raya yang biasanya terurai dengan rapih, kini mencuat dimana-mana. Namun, bagi Juna yang melihat itu, Raya terlihat makin cantik, apalagi dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia pun bangga karena itu semua akibat dari perbuatannya.


"Bersama," jawab Juna yang langsung di mengerti oleh Raya.


"Aaahhh."


"Aarrgghh."


Setelah sama-sama mencapai nirwana, Juna segera menggulingkan tubuhnya di samping Raya. Raya langsung meringkuk menutupi tubuhnya dengan selimut dan membelakangi Juna. Keduanya terlihat tengah mengatur nafasnya.


Juna bangun dari tempat tidur lalu berdiri di depan Raya. Seketika Raya langsung memejamkan matanya melihat Juna yang dengan tidak tau malunya tanpa busana berjalan ke arahnya. Juna tersenyum miring langsung setengah membungkuk untuk menggendong istrinya. Raya memekik ketika tubuhnya terasa melayang.


***


"Kamu sakit Nak? Muka kamu pucat, apa perlu Bunda panggil dokter?" tanya Mira kepada anak sulungnya.


"April gak apa-apa Bun, cuma butuh istirahat aja sebentar. Kemarin-kemarin banyak pemotretan Trus lupa minum vitamin, jadinya ngedrop," jawab April sambil mengupas Apel hijau.


"Ya sudah. Mau bunda buatkan bubur atau sup?"


"Gak perlu Bunda. Sarapan ini saja sudah cukup," jawab April menunjukan Apel yang sedang dikupas di tangan kirinya.


"Kalau bisa sarapan itu yang sedikit berat Nak. Masa sarapan cuma makan apel aja. Mana itu apel hijau kan asem rasanya. Bunda takut nanti kamu malah sakit perut," ucap Mira sambil merebut apel dari tangan April.


"Nih, kalau gak mau sarapan nasi, Bunda sudah buatkan roti isi daging kesukaan kamu juga adikmu."


Mira lalu meletakan roti itu di atas piring, lalu menyerahkannya pada April.

__ADS_1


"April mau makan roti ini tapi balikin dulu Apelnya. Rasanya gak enak kalau belum makan yang asem-asem Bunda."


"Tapi nanti kamu sakit perut," tolak Mira.


"Gak Bunda. April jamin gak akan sakit perut."


Mira akhirnya mengalah memberikan apel itu pada putrinya. Ia tidak tega melihat raut wajah memelas anaknya. Ia pun melihat mata anaknya sedikit berkaca-kaca.


Setelah tiga potong apel masuk ke dalam perutnya, April mulai menggigit roti yang Mira berikan. mengunyahnya pelan dan berusaha menelannya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih lalu segera meminumnya. Satu gigit roti langsung didorong dengan satu teguk air. Hal itu ia lakukan supaya makanan yang ada di mulutnya, terdorong masuk ke perutnya bersama dengan saat ia meminum air.


Mira yang melihat tingkah putrinya hanya geleng-geleng kepala.


"Oh iya, kemarin kamu jadi mengunjungi adikmu?" tanya Mira.


April menghentikan kunyahannya lalu mengangguk.


"Bagaimana? Raya sehat kan? Apa dia terlihat bahagia? Bunda sudah lama tidak menelponnya. Waktu itu Bunda telpon, nomornya tidak aktif. Kalau kata Mbak Risma, Raya sedang mendaki gunung bareng Juna juga Jani."


April tak menanggapi ucapan ibunya. Hatinya terlalu sakit melihat kedekatan Raya dengan Juna.


'Kenapa semua orang sangat dekat dengannya?'


'Semua orang sangat menyayanginya, bahkan kadang orang tidak melihat keberadaan ku hanya untuk seorang Raya.'


'Apa hanya karena pengorbanannya terhadap keluarga ini, sehingga Ayah dan Bunda juga terlihat lebih sayang dengan anak itu dibandingkan dengan anak kandungnya sendiri.'


TBC


Nah, loh Jadi, sebenarnya April sama Raya itu kakak adik bukan? Silahkan tebak-tebak tapi gak berhadiah ya 🀭


Mohon maaf, kemarin gak bisa double up, karena mendadak kedatangan saudara dari jauh, jadinya nulis baru dapet 300 kata harus di simpan dulu. Gak enak juga kan, ada saudara dicuekin.


Dukung terus author dengan cara like, komen, vote, bintang 5, serta hadiah yang banyak ya 😍, jadikan novel ini favorit kalian supaya kalian tau kalau novel ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan πŸ™ πŸ™ Sampai jumpa di part selanjutnya πŸ‘‰Terima kasih 😘 😘 😍 😍

__ADS_1


__ADS_2