Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
KEMBALI


__ADS_3

Juna dan Bima pulang dengan tangan kosong. Ya, April masih menghindar. Ia sama sekali tidak mau menemui Bima dan Juna. Padahal Bima sudah mencoba membujuk untuk berbicara berdua, namun tetap pintu kama itu tertutup rapat bahkan terkunci.


Raya serta Mira segera menuju teras ketika mendengar deru mesin mobil. Mereka sudah tidak sabar menanyakan hasilnya. Namun, ketika Juna dan Bima sudah turun dari mobil tanpa ada orang lain selain mereka berdua, Mira mendadak murung. Ia sudah tau jawabannya.


Mira berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Bima segera memanggilnya.


"Tante!" seru Bima menghentikan langkah Mira. Mira menoleh ke arahnya lalu menipiskan bibirnya.


"Tidak apa-apa, kita serahkan saja kepada yang berwajib," ucap Mira ketika mengetahui mereka tidak berhasil menemukan April.


Raya mengusap pundak Mira bermaksud uuntuk menenangkan.


"Kami berhasil menemukannya," ucap Bima kemudian.


Raya dan Mira sama-sama melebarkan matanya antara percaya dan tidak.


"Iya, kami berhasil menemukan April, tetapi sepertinya April masih memerlukan waktu untuk mau berbicara dengan kita dan diajak pulang," sahut Juna menjelaskan.


"Sungguh?" tanya Mira dengan suara bergetar.


Bima dan Juna sama-sama mengangguk.


"Alhamdulillah. Lalu di mana sekarang April?" tanya Mira sambil melihat ke arah mobil. Ia mengira April masih berada di dalam mobil itu.


"Sebaiknya kita duduk dulu Bunda," ajak Raya yang segera dipatuhi oleh Mira yang diikuti Juna juga Bima.


Setelah mereka duduk tenang, Bima segera menceritakan di mana April ditemukan. Ia juga mengatakan bahwa April masih enggan menemui mereka. Seperti apa yang dikatakan oleh Mpok Hana, mereka memberi waktu kepada April untuk menenangkan diri dan siap untuk kembali ke rumah.


"Ajak Bunda ke sana. Bunda ingin bertemu April. Ajak Bunda Nak," pinta Mira kepada Bima dan Juna.


"Bunda, Bunda tenang ya. Sebaiknya Bunda tidak langsung menemuinya sekarang. Mungkin besok Bunda bisa datang ke sana bersama Bima dan Ayah," saran Juna kepada Mira.


"Iya benar Tante. Kalau sekarang pasti April masih syok," ucap Bima.


"Tapi Bunda sudah ingin bertemu April. Bunda kangen sama dia Nak," ucap Mira dengan pilu sambil menyeka air matanya yang terus menerus mengalir.


"Bunda, apa yang dikatakan Mas Juna dan Bang Bima itu benar. Lagi pula Ayah belum pulang kalau Bunda ingin ke sana sekarang. Jadi, Bunda istirahat dulu, besok baru Bunda temui Mbak April," ucap Raya membujuk Mira.


Akhirnya Mira menuruti perkataan Raya untuk menemui April esok hari. Kini Bima telah pulang. Raya dan Juna memutuskan untuk menginap karena mereka juga ingin bertemu Budi.


Keesokan harinya, Bima menjemput Mira dan Budi untuk bertemu dengan April. Mira sangat ingin bertemu anak sulungnya itu. Ia berharap April mau diajak pulang. Tetapi, kalaupun April masih menolak, tidak masalah baginya. Setidaknya April harus tetap di sana dan tidak mencoba kabur lagi. Sehingga Mira bisa setiap hari berkunjung hanya untuk melihat April.


Raya dan Juna pulang pamit kepada Mira dan Budi. Sebenarnya Raya ingin ikut ayah dan bundanya untuk bertemu April, tetapi Juan mengingatkan bahwa waktunya belum tepat. Sehingga Raya menurut ikut Juna pulang.


"Mas, aku turun di depot ya, udah kangen sama Mbak Ana dan yang lainnya," ucap Raya saat mereka di perjalanan.

__ADS_1


"Kalau mampir, nanti aku telat. Kamu pasti nggak sebentar kalau ngobrol, belum lagi aku harus antar kamu ke rumah dulu."


"Mas Juna antar aja, nanti pulangnya Raya bisa naik taksi."


"Kamu masih harus banyak istirahat Raya. Mas nggak mau kamu terlalu capek. Di sana pasti nanti kamu nggak akan diam saja kan?"


"Raya janji sebentar doang kok Mas," pintanya dengan tatapan memohon.


Juna akhirnya mengalah. Ia tidak tega melihat Raya bersedih.


"Hanya dua jam. Setelah itu pulang jangan lupa kabari Mas," ucap Juna ketika mereka sudah sampai di depot.


Raya mengangguk lalu mengantar Juna menuju mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Raya mencium tangan Juna yang dihadiahi sebuah kecupan di dahi Raya. Raya merasakan perutnya penuh dengan ribuan kupu-kupu.


Ia menunggu sampai mobil Juna hilang dari pandangannya. Setelah itu, ia masuk ke dalam depot untuk bertemu para karyawannya.


Selama ini, Raya memang jarang bahkan hampir tidak pernah menyambangi depot miliknya. Namun, berkat bantuan Ana yang mengiriminya laporan setiap hari, ia tetap tau perkembangan depot tanamannya.


Selain melepas kangen dengan para karyawan di depot terutama Ana, Raya juga rindu berjibaku dengan tanah dan para cacing tanah.


Sesuai janjinya kepada Juna, Raya pun pulang ke rumah setelah menghabiskan waktunya dua jam membantu membuat buket bunga pesanan orang. Ia pulang menggunakan taksi.


***


Sudah seminggu Raya hanya berdiam diri di rumah dengan sang mamah mertua. Hari ini Risma dan Anwar akan ke Yogya selama satu minggu untuk menghadiri kerabatnya yang menikahkan anaknya.


"Kalau Juna tergantung Raya, Mah. Kalau Raya masih ingin di tinggal, ya nggak masalah bagi Juna," jawab Juna sambil melirik ke arah Raya.


"Gimana, Sayang? Tinggal di sini saja ya. Di sini kan banyak orang kalau kamu ditinggal Juna bekerja," ucap Risma membujuk Raya.


"Iya, Mah. Raya juga betah kok tinggal di sini."


Risma tersenyum senang. "Baiklah, Mamah sama Papah berangkat dulu. Mau dibawakan apa?" tanya Risma kepada sang menantu.


"Nggak perlu, Mah. Yang penting Mamah sama Papah kembali dengan selamat," jawab Raya dengan tulus.


"Baik, Sayang. Jaga diri baik-baik ya."


Raya dan Juna kembali ke dalam rumah ketika mobil yang ditumpangi orang tuanya sudah hilang dari pandangan.


"Mas, mulai hari ini aku aktif di depot lagi ya, kasian Mbak Ana kalau harus ngurus semuanya."


"Bukannya ada banyak karyawan di sana?" tanya Juna sambil memakai jasnya.


"Iya, tapi kan mereka hanya bekerja menunggu perintah. Sedangkan yang mengatur pembelian, penjualan, pemesanan serta pengiriman semua Mbak Ana yang lakukan."

__ADS_1


"Ya, kamu harus ajari salah satu dari mereka untuk membantu Ana."


"Iya, makanya aku mau ajari Wita. Boleh ya, aku bosen di rumah. Mamah juga nggak di rumah."


"Ya sudah, tapi jangan terlalu lelah ya. Berangkat jam berapa? Atau mau sekalian bareng?"


"Nanti jam sepuluh. Sudah sana, Mas Juna berangkat, nanti keburu siang jalanan pasti macet."


Juna akhirnya berpamitan dengan Raya. Selepas keberangkatan Juna, Raya siap-siap. Ia juga mengabari Ana bahwa hari ini ia sudah mulai aktif lagi di depot. Tentu berita itu menjadi berita yang menyenangkan bagi Ana. Wanita beranak satu itu memang sudah kangen ingin bekerja sambil mendengarkan celotehan Raya.


Sekitar jam setengah sepuluh, Raya memesan taksi online untuk mengantarnya ke depot. Namun, entah kenapa, tidak ada satu pun yang berhasil ia pesan. Sambil terus mencoba lagi memesan taksi online, ia keluar rumah. Siapa tau ada taksi yang melintas di depan rumahnya.


"Nunggu taksi Non?" tanya salah satu petugas keamanan tempat tinggalnya.


"Iya Pak," jawab Raya singkat namun tetap memancarkan keramahan.


Tak lama, sebuah motor besar berhenti di hadapan Raya. Pengemudi membuka helmnya.


"Dewa? Ngapain lu di sini?" tanya Raya ketika mengenali si pengemudi motor itu adalah sahabatnya.


"Mau ke mana?" tanya Dewa tanpa menjawab pertanyaan Raya.


"Ke depot. Lagi nunggu taksi, nggak ada yang nyangkut nih."


"Ayo, naik!" ajak Dewa sambil menyerahkan helm kepada Raya.


"Nggak perlu. Bentar lagi juga ada taksi yang lewat," tolak Raya secara halus.


"Udah, buruan."


Karena sudah lama menunggu dan tak ada satu taksi pun yang ia dapat, maka ia megambil helm pemberian dewa lalu memasang di kepalanya. Tak lama ia pun sudah duduk di belakang Dewa.


"Pegangan," ucap Dewa ketika akan menjalankan motornya.


"CK!" Raya berdecak, ia mengabaikan ucapan Dewa. Tanpa diduga, Dewa menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi, al hasil mau tidak mau Raya berpegangan erat pada Dewa.


Tanpa Raya sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan tajam.


TBC


Raya Juna hadir kembali. Maaf lama tidak hadir karena ada beberapa kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.


Semoga masih pada setia menunggu cerita ini, jangan lupa like dan komen yang banyak ya.


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉

__ADS_1


Terima kasih 😍 😘


__ADS_2