
"Mas, aku ke toilet dulu ya. Kebelet nih," ujar Raya ketika mereka baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta.
"Mas antar."
"Nggak usah. Nganter juga nggak bisa masuk." Raya mendorong pelan tubuh Juna agar duduk saja di kursi tunggu.
"Ya, sudah. Hati-hati."
"Siap, Bos." Raya kemudian berjalan menuju toilet yang tersedia di bandara.
Juna menghubungi Risma juga Mira bahwa mereka telah sampai di Jakarta. Sewaktu Juna menelpon, mengabarkan bahwa mereka akan akan pulang lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Tentunya membuat Risma dan Mira terkejut dan bertanya-tanya. Namun, ketika Juna menjelaskan alasan mereka pulang lebih dulu, justru membuat Risma berteriak senang. Hal itu membuat Juna heran.
"Halo, Mah. Kita sudah sampai di Jakarta." Juna melirik jam yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Lumayan malam juga mereka sampai. Pantas saja ketika ia menelpon ibu mertuanya, suara sang mertua terdengar serak. Mungkin tadi sang mertua sudah tidur dan terbangun karena mendapat telepon darinya. Untung saja, Juna hanya memberi kabar bahwa mereka telah sampai. Sehingga ia tidak terlalu merasa bersalah karen telah mengganggu ibu mertuanya.
"Ya, sudah Mama sama Papa jemput ya?" ujar Risma di seberang sana.
"Nggak usah Ma. Sudah malam. Mama sama Papa tidur aja. Besok kita ke rumah."
"Loh, kok besok."
"Lha terus?"
"Malam ini juga kalian pulang ke rumah Mama. Kasian Raya pasti capek. Rumah Mama kan paling dekat denga bandara. Kasian cucu Mama, baru juga mulai berkecambah udah disuruh capek-capek."
"Cucu apa sih, Ma." Juna terkekeh sambil menggeleng.
"Amiin kan dong Jun. Semoga Raya pengin makan masakan Mama itu karen ngidam. Di rahimnya telah bersemayam calon cucu Mama. Anak kalian," ucap Risma dengan kesal.
"Aamiin. Juna juga berharap seperti itu Ma. Tapi jangan terlalu heboh dulu lah. Kan belum cek ke dokter juga. Nanti kalau hasilnya nggak sesuai dengan keinginan kita. Bisa-bisa besar rasa kecewa kita Ma."
"Iya juga sih. Tumben kamu ngomongnya bener. Kesambet setan pa di sana?"
Juna hanya menanggapi ucapan ibunya dengan tertawa keras. Lalu ia memutuskan sambungan telepon nya karena merasa sang istri lama belum juga kembali.
Juna pun segera menuju toilet. Ia berjalan dengan cepat karena khawatir terjadi sesuatu dengan Raya.
Wajah Juna menegang. Rahangnya mengeras, ketika mendapati Raya tengah dipaksa oleh seseorang.
"Menjauhlah Dewa. Aku bisa sendiri." Raya terlihat begitu lemas karena hampir semua isi perutnya telah ia keluarkan.
Dewa mendekat. Niatnya ingin membantu Raya supaya tidak jatuh. Namun, niatnya pun tidak tulus, sempat terlintas di dalam pikirannya untuk mengerjai Raya.
__ADS_1
Dewa memegang tangan Raya dan juga pinggang, karena Raya hampir saja terjatuh. Karena ada kesempatan, tangan kanan ia turunkan dari pinggang ke bawah, setelah sampai ditempat yang dituju, ia lalu mengusap perlahan.
Tentu saja hal itu membuat Raya terkejut dan langsung mendorongnya hingga terpental. Entah kekuatan dari mana yang Raya dapatkan hingga membuat tubuh besar Dewa terjungkal. Padahal tadi ia sangat lemas. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja ia kesulitan.
"Jangan kurang ajar lo Dewa!" Bentak Raya dengan menatap tajam.
"Ayolah Raya. nggak perlu malu atau takut. Mumpung sepi. Kalau lo ingin berteriak pun gue rasa nggak akan ada orang yang menolong." Dewa berdiri lalu berjalan perlahan mendekati Raya.
Raya menatap sekeliling. Benar saja, lorong tempatnya berada sangatlah sepi. Kemana orang-orang?
Mana mungkin bandara sepi begini bukan? Pasti ada saja orang yang seharusnya ingin ke toilet. Tapi kenapa suasananya sangat sepi. Apa karena sudah malam? Ah, seharusnya tidak berpengaruh.
"Ayolah Raya. Beri gue kesempatan untuk memuaskan elo. Gue jamin, Lo bakal ketagihan." Dewa mendekat dan mencoba menarik tangan Raya, namun segera Raya tepis.
"Pergi Lo dari hadapan gue!" Teriak Raya dengan sisa tenaga yang ada.
"Ayo lah manis. Gue udah nggak ta-"
Bugh!
Dewa terpental karena hantaman keras mengenai rahangnya. Belum sempat ia menoleh, pukulan susulan di kedua pipi, bibir dan hidungnya mampir secara bertubi-tubi.
Dewa pun tersungkur lalu mendongak memegangi hidungnya yang mengeluarkan banyak darah. Ia ingin melihat orang yang berani berbuat kurang ajar kepadanya.
"Sekali lagi Lo berbuat ulah, mengusik kehidupan kami. Gue nggak akan segan-segan kirim Lo ke neraka!" ancam Juna sambil menendang punggung Dewa terakhir kali sebelum ia menggendong Raya lalu meninggalkan Dewa yang kini menjadi tontonan orang.
"Sialan! Awas kau Juna! Akan ku balas!" Dewa berteriak lalu dengan susah payang ia berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
Orang-orang yang berada di sana pun menyorakinya.
"Huuuuuuu!"
"Bangsat!" Dewa berjalan sambil memegangi hidungnya yang terus menerus mengeluarkan darah.
"Mana tadi yang ribut-ribut?" tanya petugas keamanan setempat yang datang terlambat.
"Yah, telat pak," ujar wanita berambut ikal.
"Kayak polisi India aja pak. Datangnya belakangan," ujar yang lain.
***
__ADS_1
Juna membawa Raya masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan. Tadinya Vero ingin menjemput, namun dilarang oleh Juna karena sudah malam. Juna meminta Vero untuk istirahat saja, karena ia ingin berbicara dengan asistennya itu besok pagi. Tentunya membicarakan apa yang sudah menimpa istrinya tadi.
Taksi pun melaju membelah jalanan ibu kota yang meskipun sudah malam namun tetap ramai.
Di dalam taksi baik Juna maupun Raya tidak ada yang berbicara satu kata pun. Hanya saling memeluk erat. Sesekali tangan Juna mengelus punggung istrinya juga mengecup puncak kepala Raya.
Diperlakukan dengan lembut seperti itu membuat Raya mulai tenang dan nyaman. Ketakutan dan rasa lemasnya perlahan menghilang. Ia pun memejamkan matanya namun masih bisa mendengar suara di sekitarnya. Terutama suara detak jantung Juna dari yang sangat cepat hingga kini mulai normal kembali.
Juna memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah orang tuanya. Saat sampai tentu sja disambut histeris oleh sang mama. Namun, Juna meminta Raya untuk langsung istirahat. Mereka pun memutuskan untuk langsung tidur setelah berganti pakaian.
Pagi harinya, Juna terbangun karen mendengar suara orang yang sengaja muntah-muntah sedari tadi. Mungkin ada sekitar sepuluh menit. Padahal mata Juna masih sangat berat. Namun, ketika menyadari bahwa yang sedang mengeluarkan isi perutnya itu adalah Raya, maka ia bergegas beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang." Juna membantu Raya memijat tengkuknya.
Raya mencuci mulutnya lalu berbalik menghadap Juna dengan mata berkaca-kaca.
"Mas." Raya memeluk Juna dan terisak di dada Juna.
"Kita ke dokter ya. Siapa tau ucapan Mama jadi kenyataan."
"Apa?" tanya Raya sambil mengusap matanya yang basah.
"Semoga di sini telah tumbuh Juna atau Raya Junior." Juna mengusap dengan lembut perut Raya.
Raya hanya diam dengan tatapan kosong.
"Kamu nggak suka? Atau ... belum siap un-"
"Nggak Mas." Raya buru-buru memotong ucapan Juna. Ia tidak ingin suaminya itu salah paham.
"Aku ... aku hanya takut kalau terjadi seperti dulu. Ditambah kejadian semalam, membuat aku masih tidak percaya," ujar Raya sambil menunduk tajam.
"Berdoa saja, semoga jika benar kita diberi amanah kembali. Semoga sehat dan baik-baik saja. Untuk masalah Dewa, biar Mas yang urus dengan Vero."
"Tapi jgn dibunuh ya Mas.
"Kamu kasian dengan dia?"
"Nggak." Ray menggeleng. "Aku takut Mas Jun dipenjara jika terjadi sesuatu dengan Dewa."
"Ya ampun, ni bocah berdua ditungguin dari tadi malah berduaan di kamar mandi."
__ADS_1
Bersambung ...