Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
PULANG


__ADS_3

Tidak terasa usia pernikahan Raya dengan Juna sudah memasuki bulan ke dua. Hari-hari mereka lalui dengan penuh warna. Bukan penuh warna sih sebenarnya, lebih tepatnya penuh dengan pertengkaran. Namun, perlu diketahui. Pertengkaran mereka bukanlah pertengkaran seperti pasangan suami istri pada umumnya seperti istri mengomel karena suami pulang telat atau uang belanja berkurang, suami marah-marah karena istri tidak membuatkan masakan untuknya karena keasyikan main ponsel. Atau istri yang mendadak tensinya naik karena suami menaruh handuk basah di atas kasur, atau juga istri menjadi sangat cerewet karena sang suami mengambil pakaian di lemari tidak rapih.


Sebenarnya pertengkaran mereka tidak yang mengarah ke KDRT atau pun perceraian karena salah satu diantara mereka selingkuh. Meskipun mungkin nantinya mereka juga akan bercerai setelah April kembali. Mungkin lho ya. Pertengkaran mereka itu sebenarnya sepele. Seperti Juna yang memaksa Raya turun dari motor Dewa lalu menggendongnya untuk masuk ke mobilnya, atau Raya yang sering kesal dan ngomel karena keisengan Juna yang terkadang tiba-tiba sudah menempel di sampingnya saat Raya tidur.


Dan perlu diingat bahwa pertengkaran mereka mengenai kain segitiga yang lalu tidak pernah terjadi lagi. Karena Raya sudah dengan legowo dan tanpa diminta, ikhlas mencuci semua pakaian milik sang suami tanpa pilih-pilih.


Kini dalam unit milik Juna tidak hanya mereka berdua yang tinggal di sana. Sekarang bertambah satu orang lagi yang tak lain merupakan asisten rumah tangga di rumah Risma yaitu Nina. Risma meminta Nina untuk tinggal di unit Juna supaya bisa bantu-bantu dan juga menemani Raya.


Jadi sudah bisa ditebak kan, kalau sekarang Juna dengan Raya tidur satu kamar, karena unit yang ditempati Juna hanya memiliki dua kamar. Nina sekarang yang menepati kamar bekas Raya. Meskipun tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur, tapi mereka masih menjaga jarak. Salah satunya tidur dengan adanya guling sebagai pembatas diantara keduanya.


Hari ini Juna sudah berangkat sebelum subuh karena ia akan dinas luar ke Sukabumi untuk mengikuti beberapa training dan juga kunjungan pada anak perusahaannya.


Raya hari ini tidak datang ke depot karena sang adik ipar yang bernama Sekar Anjani ingin berkunjung dan tidak memperbolehkan Raya pergi kemana-mana.


"Non Raya ingin disiapkan makan siang sekarang?" tanya Nina karena waktu memang sudah menunjukan jam makan siang bahkan sudah lewat.


"Nanti saja Mbak, tunggu Jani datang. Mbak Nina kalau mau makan duluan enggak apa."


"Nanti saja Non, Mbak masih kenyang."


"Mbak Nina sudah enggak ada yang harus di kerjakan kan? sini Mbak, temani Raya nonton," ajak Raya pada sang asisten rumah tangga.


"Enggak ada Non, tapi nanti sekitar jam tiga mau setrika baju, tapi nunggu bajunya kering dulu."


"Ya udah sini nonton dulu sambil ngobrol."


Nina menghampiri Raya yang sedang duduk di sofa, dia memilih duduk di karpet berbulu di dekat Raya duduk.


"Ngapain duduk di bawah Mbak. Sini duduk samping Raya."


"Di sini aja Non, biar bisa selonjoran," tolaknya secara halus sambil nyengir.


Tak lama, terdengar bel pintu unit berbunyi. "Kayaknya itu Non Jani sudah datang. Biar Mbak buka dulu pintunya," ucap Nina kemudian berjalan menuju pintu untuk membukakannya.


"Assalamualaikum. Eh, ada Mbak Nina. Apa kabar Mbak?"


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik Non. Silahkan masuk."


Jani masuk ke unit milik kakak laki-laki satu-satunya itu. Ia langsung menuju dimana Raya duduk.

__ADS_1


"Assalamualaikum Kakak ipar."


"Wa'alaikumsalam. Bawa apa tuh?"


"Oh, ini Mamah tadi nitip bekal makan siang katanya. Mbak Nina, tolong siapkan ya." Jani lalu menyerahkan kantung bekal makan siangnya pada Nina.


"Ngapain bawa bekal. Di sini juga masak."


"Mamah tadi bikin rendang sama sambal cumi. Kata Mamah sambel cuminya buat kapan-kapan bisa."


"Mau makan siang sekarang?" tanya Raya.


Jani lalu duduk di samping Raya. "Nanti aja, Mbak Nina juga masih siapin."


"Gimana kuliah lancar?" tanya Raya.


"Alhamdulillah lancar. Oh iya. Dua Minggu lagi aku sama temen-temen FMI mau muncak ke gunung Papandayan. Mau ikut enggak? Katanya ingin merasakan jadi anak gunung."


"Pengen sih. Tapi liat gimana ntar aja deh."


"Ah gimana sih. Ajak aja Mas Juna. Jadi kalau capek minta gendong dia aja."


"Cieee, kasian doang nih?" ledek Jani.


Raya hanya bisa mengulum senyum saat diledek oleh adik iparnya.


"Mas Juna lagi ke Sukabumi ya?"


"Iya. Kenapa kangen?" tanya Raya. "Nanti malam biasanya jam 11 nyampe sini. Kalau mau ketemu nginep aja."


"Ogah! yang ada kalau aku sama Mas Juna ketemu itu selalu berantem.


"Makan siangnya udah siap Non."


Mereka pun akhirnya makan siang bertiga dengan Raya dan Jani makan di ruang makan, sedangkan Nina makan di meja dapur. Katanya sungkan kalau makan bareng satu meja. Padahal Raya sering sekali mengajaknya makan bareng di meja makan tapi Nina selalu menolak dengan halus. Begitu juga saat masih di rumah orang tua Juna. Nina tidak pernah mau ikut makan satu meja dengan tuan rumah, apalagi ikut duduk santai ngobrol di ruang keluarga. Nina ini orangnya memang agak pemalu.


Baru saja selesai makan siang yang sedikit terlambat. Raya mendapat telpon dari bundanya yang mengabarkan bahwa April ada di rumah baru saja sampai diantar oleh Juna. Bundanya bilang, April izin pulang selama satu bulan karena sakit. Sekarang Raya diminta untuk datang ke rumah.


"Beneran pulang karena sakit?" tanya Jani setelah mendapat informasi dari Raya.

__ADS_1


"Bunda bilangnya begitu."


"Terus itu kenapa Mas Juna udah ada di sana?" tanya Jani yang sepertinya mencurigai kakaknya.


"Nanti kamu tanyakan saja langsung sama orangnya. Aku ke rumah bunda dulu ya. Kamu mau ikut atau bagaimana?"


"Aku langsung pulang aja Ray. Mau bilang sama Mamah kalau mantan calon menantunya udah pulang dan dijemput sama anak laki-lakinya."


Raya tahu kekesalan yang dirasakan oleh Jani. Jangankan Jani, Raya sendiri pun tidak habis pikir. Bukankah tadi pagi Juna pamit untuk pergi ke Sukabumi karena urusan kantor. Kenapa sekarang sudah ada di rumah orang tua Raya dan tadi Irma bilang April datang bersama dengan Juna.


Raya pergi ke rumah orang tuanya dengan diantar oleh sang adik ipar.


"Tolong getok kepala Mas Juna ya Ray," ucap Jani saat mobil yang ia kendarai sudah berhenti di depan gerbang rumah orang tua Raya. Raya menanggapinya dengan tertawa. "Kenapa mau getok Mas Juna?" tanya Raya yang masih terkekeh.


"Pokoknya getok aja, biar sadar," jawabnya.


"Yaudah aku masuk ya. Hati-hati, jangan ngebut."


"Boleh pesan sesuatu?" tanya Jani. Raya mengangguk. "Boleh, apa itu?"


"Jangan pernah lepasin Mas Juna Ray," ucapnya dengan mata sendu.


Raya tersenyum getir. Entah ia harus menjawab apa. Apakah ia berhak dan pantas untuk mempertahankan pernikahan yang ia sendiri di sini hanya sebagai pengantin pengganti.


TBC


Lunas ya gaes .....hehehehe


Semoga suka dengan part ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote, dan hadiah yang banyak ya 👍


Tekan favorit juga supaya kalian tau kalau novel ini update


Sampai jumpa di part selanjutnya


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏


Terima Kasih 😘😍

__ADS_1


__ADS_2