
Raya sedang memotong ujung tangkai bunga mawar dengan menyerong yang nanti akan ia taruh ke dalam wadah yang cukup besar yang telah terisi air. Bunga mawar itu baru saja datang dari perkebunan yang ada di Bogor. Sebagian dijadikan bibit, sebagian lagi dijadikan untuk hiasan.
Raganya memang sedang berada di depot bunga miliknya, tetapi siapa yang bisa menebak, kalau pikiran gadis, ... tunggu, benar 'kan Raya masih gadis? Yah pikiran Raya sedang berkelana entah kemana. Yang pasti ia masih terngiang-ngiang perdebatan seru yang terjadi antara suami dan kakak perempuannya sore kemarin.
"Aku hamil."
Juna yang tadinya akan berdiri seketika urung. Ia kembali duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Satu kakinya ia tumpukan di kaki yang lain.
"Terus, apa hubungannya kamu berbicara seperti itu?" tanya Juna dengan wajah datarnya.
Sedangkan Raya hanya bisa memandangi dua orang di depannya yang saling bersitegang. Meskipun hatinya bergemuruh juga terasa perih, namun ia mencoba untuk tenang, supaya tidak memperkeruh suasana.
April tersenyum miring. "Tentu saja untuk meminta tanggung jawab darimu," jawab April sambil menatap Juna dan Raya secara pergantian.
Juna terkekeh karena merasa perkataan April sangat konyol. "Aku tidak akan tanggung jawab karna aku bukan ayah dari anak yang kamu kandung."
"Apa kamu lupa? Tujuan kita dulu berencana menikah itu apa? Kalau lupa, akan dengan senang hati kujelaskan."
"Apa pun alasanmu, aku tidak peduli karena aku tidak merasa pernah melakukannya."
"Kamu lihat Raya? Suamimu itu semacam kacang lupa kulitnya. Habis manis sepah dibuang."
"Awshhh." Raya langsung meletakan guntingnya di meja. Ia berlari menuju wastafel untuk mencuci luka yang ia perbuat akibat memotong tangkai mawar tadi.
"Ada apa Ka Ray?" Tanya Ana melihat Raya berlari menuju wastafel.
"Tanganku sedikit terkena gunting."
Ana melihat tangan Raya dengan hati-hati. "Wah, ini lumayan dalem juga Ka. Ayo, aku bantu obati." Mereka berdua menuju area belakang depot. Ana mengambil kotak obat dan segera memberi antiseptik pada tangan Raya yang terluka. Setelah diberi obat tetes, ia segera menutup luka itu dengan kain kasa.
Tak lama ponsel Raya berdering. Ia sedikit kecewa saat melihat siapa yang menelponnya. Orang yang diharapkan menanyakan keadaannya tak juga kunjung menelpon atau sekedar mengirim pesan.
"Halo, Di?"
"Nonton yuk. Suntuk nih, butuh penyegaran biar otak gue fresh lagi."
Raya melihat pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih jam tiga sore. Raya pikir, tidak akan pulang terlalu larut apabila ia menuruti keinginan sahabatnya. Ia juga butuh penyegaran dan juga teman curhat bukan?
"Oke. Di tempat biasa 'kan?"
"Betul."
"Segera meluncur."
Raya menutup panggilan dari Diana. Ia lalu beralih mencari nomor suaminya. Mencoba melakukan panggilan, namun nomor yang ditujunya sedang berada di luar jangkauan. Raya lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada Juna,mengabarkan bahwa ia pergi nonton bareng Diana.
__ADS_1
***
Juna tampak memijit pelipisnya. Di saat Raya sudah mulai mau menerimanya kenapa muncul masalah yang menurutnya sengaja dibuat oleh April. Juna masih mengingatnya, saat beberapa bulan yang lalu, April pun datang kepadanya dengan meminta tanggung jawab darinya. April memberikan beberapa foto yang mana dalam foto tersebut Juna dan April terlihat sedang tidur berdua dan tanpa mengenakan pakaian.
Juna tentu saja tidak percaya, karena meskipun mereka berpacaran, tetapi Juna memiliki batasan. Jangankan tidur berdua, berciuman pun hanya dua kali ia lakukan selama berpacaran dengan April, itu pun April yang memulainya. Juna lebih sering melakukan kontak fisik seperti menggenggam tangan, mengusap kepala, atau mengelus pipi itu pun tidak sering, hanya ia lakukan ketika momen tertentu, seperti ketika April sedang sedih, sedang senang karena mendapat project yang diinginkan, atau ketika April sedang merajuk.
Ketika Juna tidak percaya dan menolaknya, April mengancam akan bunuh diri. Sehingga dengan terpaksa Juna mau bertanggung jawab dengan cara menikahi April. Namun, saat hari pernikahan itu tiba, April dengan dengan tidak tahu dirinya malah kabur meninggalkan Juna yang pastinya sangat marah dan merasa bersalah karena sudah membuat orang tuanya malu karena hampir saja pernikahan itu batal.
Menghembuskan nafasnya dengan kasar, Juna menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruangan kerjanya. Hari ini ia sangat tidak dapat berkonsentrasi akibat kejadian kemarin sore. Juna berjalan ke meja untuk meraih telepon.
"Ke ruangan saya sekarang."
Setelah menutup teleponnya, Juna duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan matanya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu disusul dengan pintu yang terbuka lalu muncullah seorang pria berpakaian rapih yang perkiraan usianya tidak jauh beda dengan Juna.
Pria itu duduk di depan Juna.
"Ada apa gerangan memanggil?" tanya pria itu dengan nada bercanda.
Juna mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya, lalu ia serahkan pada pria di depannya yang tak lain ada asistennya.
"Aprilia Pradipta? kenapa? bukannya dia sudah kabur?" tanya Vero setelah melihat sebuah foto yang Juna serahkan tadi.
"Ya, dia kembali," jawab Juna.
"Lalu?"
Vero tergelak mendengar perintah Juna. "Kenapa mudah sekali Bapa Juna ini memberikan tugas? Tentu saja jawabannya tidak perlu dicari, karena semua orang tahu, kalau April itu kekasih anda."
Juna berdecak. "Lu tau 'kan, masalah gue sama dia?" ucap Juna berbicara dengan mode sebagai sahabat, bukan lagi sebagai atasan.
"Oke, oke gue paham," jawab Vero yang masih tampak mentertawakan wajah Juna yang terlihat sangat kesal.
***
Raya tiba di unit pukul 20.30. Saat masuk ia langsung mendapat tatapan tajam dari sang suami.
"Dari mana saja kamu jam segini batu pulang?" tanya Juna yang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.
Raya mendekati suaminya lalu meraih tangan Juna untuk dikecupnya. "Tadi Raya sudah kirim pesan ke Mas Juna kalau mau nonton bareng Diana."
"Kenapa enggak tanya dulu untuk meminta izin?"
"Tadi Raya udah coba hubungi Mas Juna, tapi enggak bisa. Lagian kenapa sih Mas, biasanya juga enggak kasih kabar enggak masalah."
Juna mengetatkan rahangnya. Ia memilih menuju kamarnya dan mengabaikan Raya.
__ADS_1
Mbak Nina yang dari tadi menyaksikan kedua majikannya itu pun menghampiri Raya.
"Non." Panggil Mbak Nina.
Raya menoleh, setelah menghabiskan minuman di gelasnya. "Ada apa Mbak?"
"Bukan Mbak Nina lancang menyuruh-nyuruh Non Raya, tapi sebaiknya kalau Tuan Juna tidak dapat dihubungi, mending Non kabari Mbak Nina, kalau Non Raya mau kemana. Soalnya tadi saat pulang kerja dan melihat tidak ada Non Raya, Tuan Juna langsung keluar lagi. Sepertinya mencari Non Raya, tapi tidak lama Tuan Juna pulang dengan muka yang panik. Dia bilang Non Raya tidak ada di toko bunganya, di rumah Tuan dan Nyonya juga tidak ada. Mungkin Tuan Juna takut kalau Non Raya kabur setelah kejadian kemarin. Maaf Non, bukannya Mbak mencuri dengar obrolan Non Raya, Non April dan Tuan Juna kemarin," jelas Mbak Nina panjang lebar.
"Ya sudah, Raya ke kamar dulu ya Mbak."
"Tuan Juna juga belum makan dari sepulang kerja Non."
Raya berbalik lalu menuju dapur. "Biar Raya yang bujuk Mas Juna makan Mbak."
Raya membawa makanan untuk Juna. Ia tidak mendapati suaminya saat masuk ke dalam kamar. Ia lalu membuka kamar mandi pun kosong. Raya lalu beralih ke balkon, dan benar saja suaminya sedang berdiri memandangi langit yang penuh dengan bintang.
Raya meraih tangan Juna lalu menuntunnya untuk duduk di sofa. Juna hanya menurut saja. Meskipun hatinya sangat perih atas sikap Raya yang terlihat baik-baik saja. Raya masih bersikap manis kepadanya. Juna lebih senang kalau Raya marah kepadanya atas ucapan April, yang itu tandanya ada rasa cemburu di hati Raya. Bukankah cemburu itu tandanya cinta? Setelah kemarin, Juna sudah mencoba menjelaskan pada Raya, bahwa ia merasa tidak pernah melakukannya, tetapi Raya hanya tersenyum, dan itu membuat hati Juna perih karena mungkin Raya tidak ada perasaan apa pun kepadanya.
"Buka mulutnya," ucap Raya yang berniat menyuapi Juna. Juna pun melakukan apa yang Raya perintahkan. Tidak ada yang mau memulai berbicara. Mereka saling diam, melaksanakan tugasnya masing-masing.
Setelah selesai menyuapi Juna, Raya langsung mandi dan sekarang sudah bersiap menyusul suaminya yang tampaknya sudah terlelap. Raya membaringkan tubuhnya tetapi tidak langsung memejamkan matanya. Ia memilih menikmati wajah tampan suaminya.
"Sudah puas?" tiba-tiba membuka matanya dan bertanya. Raya terkejut dengan pertanyaan Juna barusan.
"Siapa juga yang ngeliatin. Pede banget."
"Masih enggak mau ngaku? Hemm?" ucap Juna yang langsung melancarkan aksinya menggelitiki Raya.
Raya terkekeh karena geli. Mencoba menghindar tapi tidak bisa karena sekarang Juna sudah mengungkung tubuhnya. Juna berhenti menggelitiki Raya. Kini tatapan mereka beradu dan saling mengunci. Tanpa pikir panjang, Juna meraih bibir Raya untuk dilumatnya. Karena merasa tidak ada penolakan, Juna melanjutkan aksinya dengan menyesap dan memagutnya.
Rupanya Raya hanyut dalam sentuhan lembut yang Juna berikan. Kini bibir Juna sudah berada di leher mulus istrinya, menyesapnya dengan kuat hingga meninggalkan warna merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
Karena terlalu menikmati dan meresapi sentuhan dan cumbu@n yang Juna berikan, tanpa Raya sadari, semua pakaian yang melekat pada tubuhnya, sudah ditanggalkan oleh Juna.
"Aaaaahh, ...." Raya tersentak saat Juna berhasil menyatukan dirinya.
TBC
Fyuh ... akhirnya mereka menyatu juga.
RayJun kembali lagi, maaf kemarin enggak bisa update, karena jaringan muter-muter terus.
Double up enggak ya kira-kira hari ini? Doain aja semoga bisa ya double up sebagai ganti kemarin karna enggak update.
Jangan lupa dukung author terus dengan cara beri like, komen, vote, bintang lima, dan juga hadiah sebanyak-banyaknya 😉 🤭
__ADS_1
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏 Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😍 😘