Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
BERTANGGUNGJAWAB


__ADS_3

Setelah menenggak minumnya untuk melegakan tenggorokannya akibat tersedak, Juna berdehem sejenak.


"Juna enggak merasa telah menghamili April Mah," ucapnya dengan santai sembari memasukan jeruk ke dalam mulutnya.


"Juna!" Risma sangat kesal dengan jawaban Juna. Bahkan anak itu sangat terlihat tidak ada beban ketika mengatakannya.


Sedangkan Mira hanya bisa mengelus dadanya dan mengusap air matanya yang semakin deras mengalir ketika mendengar jawaban dari menantunya.


"Juna berkata jujur Mah."


"Ini apa?!" Risma melempar foto yang Mira tunjukan padanya tadi.


Juna memunguti foto yang berserakan di lantai. Sudah ia duga, foto itu pasti akan sampai ke tangan orang tuanya.


"Ini hanya foto Mah, lagi pula Juna tidak merasa pernah meniduri April. Di foto itu pun Juna tertidur pulas, sedangkan April tersenyum melihat ke kamera."


"Juna, itu terjadi saat kalian masih pacaran. Jadi sangat mungkin sekali kalian khilaf karena sedang dimabuk cinta," ucap Mira karena enggak terima Juna memojokkan April.


Sama saja seperti Juna menuduh April telah menjebak Juna sehingga Juna melakukan itu tanpa sadar. Tidak menutup kemungkinan, seseorang yang masih berpacaran sudah melakukan itu. Apalagi zaman sekarang, anak-anak banyak yang terpengaruh dengan pergaulan bebas. Ditambah dengan teknologi canggih yang isinya memberikan informasi yang diinginkan. Baik itu informasi positif maupun negatif.


"Aku rasa Bunda sudah tau bagaimana Juna. Selama pacaran Juna tidak pernah melakukan hal-hal yang melebihi batas Bun."


Di dalam hati, Risma setuju dengan ucapan anak sulungnya itu. Karena Risma yakin,. anaknya sangat menjaga diri. Buktinya dengan Raya yang sudah sah saja, ia masih menunggu Raya siap.


Dilihat saat masih berpacaran dengan April pun, lebih sering April yang mengunjungi Juna, menempel pada Juna. Sedangkan Juna sendiri menemui April hanya seminggu sekali, itu pun karena diledek oleh adiknya. Risma melihat anaknya yang tampak frustasi.


Juna menghela kasar nafasnya, meraup wajahnya lalu memijat pelipisnya untuk mengurangi nyeri yang timbul di sana. Juna mencoba mengingat-ingat, hari dimana ia terbangun tengah malam di sebuah kamar hotel.

__ADS_1


"Cepat katakan apa yang ingin kamu beritahu padaku. Aku banyak sekali kerjaan lho , sampai harus menunda karena rengekan kamu," ucap Juna di restoran hotel X.


Tadi kekasihnya menelpon dan meminta bertemu dengannya. Padahal ia sangat sibuk hari ini, tapi ia terpaksa menunda meeting hanya karena rengekan dan ancaman kekasihnya yang berprofesi sebagai model. Kekasihnya terus merengek dan mengancam akan pergi ke club. Juna sangat tidak suka apabila kekasihnya pergi ke club yang berujung meminum minuman terlarang hingga mabuk.


"Sabar dong Bee. Kita udah seminggu lebih enggak ketemu, memangnya kamu enggak kangen sama aku?" tanya April sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku banyak kerjaan Hun. Kamu tau kan, kalau menjelang tahun baru, aku sangat sibuk?"


"Aku janji ini yang terakhir kali aku memaksamu," ucap April tersenyum lalu menyodorkan minuman yang sudah dipesankannya untuk Juna. "Minumlah dulu, sambil makan nanti akan aku beritahu berita gembira itu."


Juna menerima minuman yang kekasihnya berikan lalu menyesapnya menggunakan sedotan yang ada di gelas itu. Setelahnya mereka memulai makan siang sembari membicarakan pekerjaan April. April begitu senang, saat ditawarkan untuk pergi ke Amerika untuk pemotretan sebuah tas ternama. Ia juga nantinya akan bertemu dengan model ternama asal Amerika seperti Kendal Jenner dan juga Gigi Hadid. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu.eskioun belum deal, tapi ia ingin memberitahukan berita gembira itu dengan kekasihnya.


Juna tampak menguap beberapa kali. April tersenyum melihatnya.


"Kau terlihat mengantuk," ucap April pada kekasihnya.


Juna menutup mulutnya yang sedang menguap. "Entahlah, tadi tidak begini. Apa karena kenyang jadi aku mengantuk?"


April menyeringai lalu menelpon seseorang. Tak lama, datang dia orang pria dan satu orang wanita ke hadapannya.


"Bawa dia ke kamar yang sudah saya pesan," ucap April kepada dua orang pria yang baru saja datang.


Kedua pria tersebut mengangguk lalu memapah Juna untuk di bawa ke salah satu kamar di hotel ini.


April beralih kepada wanita yang menggunakan kacamata. "Apa yang harus saya lakukan?"


Wanita itu tersenyum miring. "Saya rasa tanpa saya beritahu pun Anda sepertinya sudah paham apa yang harus anda lakukan, supaya ****** kekasih Anda keluar. Sejatinya lak-laki itu mudah terangsang, meskipun ia sedang terlelap tapi ia akan bisa merasakan sentuhan yang didapat."

__ADS_1


"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan melakukannya dengan cepat," ucap April lalu pergi meninggalkan wanita itu.


Di dalam kamar, April segera membuka seluruh pakaian Juna. Ia segera melakukan tugasnya. "Semoga saja bisa hanya dengan tangan. Aku sedang malas menggunakan mulutku, karena sedang sakit gigi," gumam April.


Tak lupa ia membuka bungkusan kecil berwarna pink. Setelah memasang benda seperti balon ke pusaka Juna, ia segera memainkan tangannya. Sepuluh menit Juna sudah mulai mengerang. Ia tambah kecepatan tangannya, tidak sampai tiga menit, ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Segera ia melepasnya lalu memasukannya ke dalam wadah khusus. Kemudian menyerahkan pada wanita tadi yang menunggunya di depan pintu hotel.


"Lakukan dengan cepat, aku segera menyusul."


April lalu berbaring di samping Juna dan mengambil potret mereka. Ada sedikit perasaan bersalah karena menjebak kekasihnya, tapi ia harus melakukan ini, karena beberapa malam sebelumnya ia sudah melakukannya dengan seseorang. April takut apabila ia jadi menikah dengan Juna, Juna akan kecewa bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Setelah memakai kembali pakaiannya, ia segera meninggalkan Juna sendiri. Ia menuju rumah sakit, tempat ia membuat janji dengan seorang dokter.


Malam harinya, sekitar pukul 22.00, Juna terbangun. Ia bingung mengapa ia bisa tertidur di tempat asing seperti ini. Ia juga melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Lalu kemana kekasihnya yang tadi siang mengajaknya makan bersama. Apakah April telah memperkosanya?


"Juna!" Teriakan Risma meleburkan lamunan Juna. Ia menatap Ke arah wanita yang telah melahirkannya.


"Juna akan tanggung jawab, jika benar terbukti itu anak Juna Mah. Tapi kita tunggu sampai anak itu benar-benar lahir," ucap Juna dengan memejamkan matanya.


"Lalu bagaimana dengan Raya?" tanya kedua wanita paruh baya itu dengan kompak.


"Raya? Raya tetap akan jadi istri Juna satu-satunya."


"Apa maksud kamu Juna?" tanya Mira dengan wajah merah menahan marah.


" Juna akan bertanggung jawab, merawat anak itu dan menyayangi nya, serta menanggung biaya hidupnya sampai ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Tapi Juna tidak akan menikahi April Bunda."


TBC


Tipis-tipis dulu ya, nanti juga akan terkuak semuanya. Tapi nanti 😁😁😁😁

__ADS_1


Terima kasih pada pembacaku yang setia, jangan lupa dukung aku terus dengan cara like, komen, vote, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya ya 😉


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 Sampai jumpa di part selanjutnya 👉 Terima kasih 😘 😘


__ADS_2