
Juna merapikan berkas-berkas pekerjaannya. Saatnya ia kembali ke kamar bergabung dengan istrinya.
"Untuk urusan kantor, jangan terlalu di pikirkan. Papah masih bisa menghandelnya dengan bantuan Vero dan Pak Amin," ucap Anwar menasehati putranya.
"Iya, Pah. Maafkan Juna, seharusnya Papa kini sudah tidak perlu mengurusi kantor lagi. Tinggal istirahat di rumah temani Mamah," ujar Juna penuh penyesalan.
"Tidak masalah. Nanti kalau sudah saatnya, Papah pasti akan meyerahkan semuanya kepada kamu."
"Iya Pah. Sebaiknya kita langsung istirahat."
Anwar setuju dengan pendapat Juna. Ketika mereka akan melangkah untuk keluar ruangan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang sangat keras. Semakin lama, ketukan itu berubah menjadi gedoran dan Juna mendengar namanya dipanggil-panggil oleh seseorang di balik pintu.
"Ada apa Mbak?" tanya Juna setelah membuka pintu dan mendapati Nina di sana.
"Non Raya. Non Raya banyak darah di kakinya Tuan."
Juna langsung berlari menuju kamar begitu juga dengan Anwar. Juna melihat Raya yang tampak kesakitan dengan wajah yang memucat. Sedangkan darah terus mengalir dengan deras diantara kedua kakinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Juna panik.
"Gak tau. Tiba-tiba aja Mbak Raya sudah mengeluarkan banyak darah," jawab Jani yang masih setia memangku kepala Raya.
"Cepat angkat istrimu, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," perintah Anwar pada Juna.
Juna segera menggendong Raya yang tampak sangat kesakitan. Bahkan darah yang mengalir di antara kedua kakinya terus saja keluar dengan deras. Bisa diibaratkan seperti air yang keluar dari kran yang kencang.
Risma telah selesai memasukan beberapa keperluan yang perlu di bawa ke rumah sakit ke dalam tas.
"Jani ikut ya, Mah," pinta gadis berponi depan itu pada sang ibu sambil meraih tas yang Risma bawa.
Risma mengangguk lalu menyerahkan tas yang di bawanya. Menggandeng tangan Jani keluar bersama menuju mobil.
***
Sampai di rumah sakit, Raya segera di USG untuk memastikan apakah rahimnya sudah bersih atau belum. Karena kalau sudah bersih biasanya tidak perlu diambil tindakan kuretase. Namun, saat di USG ternyata lapisan jaringan dinding rahimnya belum bersih, sehingga harus dibantu dibersihkan dengan cara kuretase.
Juna segera menandatangani surat pernyataan bahwa benar istrinya akan dilakukan kuretase. Ia juga harus mengisi data-data yang diperlukan.
Sedangkan Raya kini sedang bersama perawat untuk diambil sampel darahnya, mengukur tekanan darah dan lain sebagainya. Termasuk dipasangi infus di tangannya dan juga Raya melihat seperti obat berukuran sedang dimasukkan ke dalamnya. Kata susternya obat itu bertujuan untuk memperlebar jalan lahir.
"Sabar ya Sayang, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik." Risma mencoba menenangkan Raya.
Raya hanya bisa mengangguk dan meringis menahan sakit pada perutnya.
"Maaf ya, Mamah tidak dapat bantu apa-apa kecuali doa."
Raya mencoba tersenyum walaupun tipis. "Doa Mamah itu yang utama."
__ADS_1
"Kehamilan pertama ya, Bu?" tanya perawat yang sedang menyiapkan Raya untuk siap dibawa ke ruang operasi.
"Iya Sus," Jawab Risma mewakili Raya.
"Gak apa-apa Bu, Insya Allah nanti akan cepat hamil lagi. Tapi diberi jarak tiga bulan ya untuk kehamilan berikutnya, supaya rahimnya benar-benar pulih," ucap sang suster sambil tersenyum ke arah Raya yang sedang berusaha menahan sakit.
"Ibu lebih beruntung, karena ini hanya kehamilan kosong sehingga tidak begitu kehilangan, lagi pula embrionya belum terbentuk."
"Sebelum ini saya menangani seorang ibu yang sudah hamil 36 minggu namun, bayinya meninggal di dalam, sehingga harus dilakukan operasi secar untuk mengeluarkan bayinya."
"Bayangkan Bu, sudah hamil besar tinggal menanti kehadiran sang buah hati, tetapi Allah berkehendak lain. Jadi, Ibu Raya tidak perlu bersedih, karena ada orang yang kurang beruntung dibandingkan dengan Ibu." Sang suster mencoba menghibur Raya supaya tidak berlarut dalam kesedihan.
"Iya benar Sayang, apa yang dikatakan suster. Jangan berlarut ya sedihnya."
Raya mengangguk lagi.
"Aasshh."
"Masih sakit ya Bu? Sabar ya, sebentar lagi Ibu akan dibawa ke ruang operasi," ucap sang suster rumah sakit yang bertubuh mungil.
Setelah semuanya telah siap, brankar yang Raya tempati segera di dorong oleh beberapa orang perawat menuju ruangan operasi.
Juna dan yang lainnya hanya diperbolehkan menunggu. Juna merasa sangat kasihan melihat Raya yang sangat kesakitan. Andai saja rasa sakit itu dapat dibagi, ia akan dengan senang hati menerima rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya. Bahkan kalau bisa biar ia saja yang merasa kesakitan.
Setelah masuk ke ruangan, Raya segera di pindah untuk ditempatkan di meja operasi.
"Ibu ada alergi obat?" tanya salah satu perawat pria yang berada di ruangan tersebut.
Raya menggeleng, dan ia melihat perawat itu menyuntikkan sesuatu ke dalam infusannya.
"Ibu kalau mengantuk jangan ditahan ya, langsung ditidurkan saja," ucap perawat tadi.
"Sepertinya sudah mulai mengantuk. Ayo Bu baca doa dulu," ucap perawat yang lainnya.
Memang benar, Raya merasakan kantuk yang sangat hebat. Cahaya lampu di ruangan itu semakin lama semakin redup. Bahkan suara perawat yang sedang mengajaknya berbicara pun tidak terdengar lagi.
"Bu, bangun Bu. Sudah selesai."
Raya merasakan bahunya diguncang perlahan. Sedikit demi sedikit kesadarannya kembali. Ia melihat jam yang ada di dinding menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Ah, rupanya sudah cukup lama Raya tidak sadarkan diri akibat obat bius. Sudah tiga jam Raya terpisah dari suami dan keluarganya.
Dari pinggang sampai ke punggung terasa sangat nyeri dan panas yang menjalar. Ia merasakan darah masih mengalir di antara pahanya.
"Suster," panggil Raya lirih.
Suster yang sedang berjaga pun segera menghampiri Raya.
__ADS_1
"Ada yang perlu dibantu Bu?"
"Pinggang saya terasa panas Sus, terus ini darahnya belum berhenti mengalir?" tanya Raya pada suster tersebut.
"Iya, Bu. Itu wajar bagi orang yang baru saja dikuret. Untuk darah yang mengalir memang sudah semestinya karena Ibu akan mengalami semacam nifas walaupun tidak selama seperti orang setelah melahirkan," jawab sang suster.
"Oh, begitu. Apa keluarga saya masih ada di luar Sus?"
"Saya rasa masih Bu. Tadi sewaktu Ibu selesai dikuret dua setengah jam yang lalu, kami sudah memberitahu keluarga Ibu."
"Apa boleh minta tolong panggilkan suami saya Sus?"
"Belum boleh ya Bu. Nanti kalau Ibu sudah dipindah ke kamar rawat, baru keluarga boleh menemani."
Kini Raya sedang berada di ruangan observasi. Menunggu beberapa jam agar bisa dipantau baru setelah itu akan dipindah ke kamar rawat pasien.
"Kira-kira berapa lama lagi?"
Suster itu lalu melihat catatan pasien. "Tiga puluh menit lagi sudah bisa dipindah Bu. Saya bantu untuk memakai baju ya Bu."
Ya, karena Raya saat ini masih mengenakan baju operasi. Setelah sang suster membantu memakaikan kembali bajunya, Raya diminta untuk tiduran lagi.
Setelah tiga puluh menit, Raya sudah dapat pindah ke kamar rawat. Sebenarnya kalau sudah dapat buang air kecil, Raya sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, baik Juna maupun kedua mertuanya meminta rawat inap sehari untuk Raya. Supaya Raya bisa langsung istirahat setelah menjalani kuret.
"Yang sabar ya Mbak, nanti lebih semangat lagi buatnya. Kalau kata Mbok Sum, ngadonin nya yang pulen. Biar hasilnya juga bagus," ucap Jani ketika Raya sudah berasa di kamar rawat dan sudah bisa ditemani.
Raya dan Juna sama-sama tersenyum mendengar candaan dari sang adik. Sedangkan Anwar sampai terbatuk mendengar ucapan nyeleneh anak perempuannya.
Jangan ditanya apa yang akan Risma lakukan ketika mendengar putrinya semakin ngaco omongannya. Wanita paruh baya itu segera menjewer telinga Jani.
"Mbak nya lagi sedih, kok sempat-sempatnya bercanda."
"Awshh! Mamah kalau belum menyakiti pasti belum puas," keluh Jani sambil mengusap telinganya yang terasa panas akibat jeweran sang ibu.
"Lagian kamu itu kalau ngomong gak lihat sikon."
"Namanya juga lagi mencairkan suasana Mah. Tuh liat aja, Mbak Raya jadi senyum kan?"
Raya memang masih saja tersenyum, karena tingkah laku Jani menurutnya sangat menghibur.
"Jangan lupa Mas, rajin olahraga, banyakin makan sayur dan buah. Dan yang penting berdoa," ucap Jani lagi.
"Anak kecil sok tahu!"
TBC
Terima kasih semua atas dukungannya, jadi makin cinta 🤗🥰
__ADS_1