Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
SUKABUMI


__ADS_3

Pagi hari setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, Raya segera pergi ke dapur untuk menemui Nina yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.


"Sarapan apa kita hari ini Mbak Nina?" Raya melewati Nina yang sedang mengupas telur puyuh yang telah direbus lalu membuka kulkas dan memindai isinya. Mencari bahan yang ia inginkan, tapi hasilnya nihil.


Nina menoleh ke arah Raya. "Tuan Juna minta dibuatkan sup telur puyuh Non. Mungkin nanti Mbak tambahkan sambal dan ayam goreng. Non Raya ingin Mbak masakin yang lain?" Nina melihat Raya seperti sedang mencari sesuatu.


"Oh, enggak ada Mbak, aku ikut aja. Sup juga enak buat sarapan, jangan lupa kasih jahe sedikit ya Mbak."


"Siap Non."


"Mbak, stok cumi sudah habis ya?" tanya Raya yang kini ikut membantu Nina mengupas wortel.


"Habis Non. Kalau mau nanti Mbak beli, sekalian beli yang lainnya."


"Biar Raya aja deh Mbak yang belanja."


Nina mulai merebus air sebagai permulaan untuk membuat sop. Ia lalu mengambil alih mengupas wortel. "Biar Mbak aja Non. Non bisa lakukan yang lain."


"Ya, sudah. Aku ke kamar dulu ya Mbak," ucap Raya lalu ia berlalu masuk ke kamar.


Saat masuk ke kamar ternyata Juna malah melanjutkan mimpinya dengan bergelung selimut. Raya yang melihatnya pun langsung geleng-geleng kepala. Ia mendekati suaminya dengan duduk di sisi ranjang. Raya mengguncang bahu Juna dengan maksud membangunkannya. Namun, Juna tetap bergeming. Akhirnya Raya memutuskan untuk mandi. Lima belas menit waktu yang Raya butuhkan untuk membersihkan dan menyegarkan diri. Saat membuka pintu kamar mandi, Raya dikejutkan dengan Juna yang secara tergesa-gesa menyingkirkannya supaya tak menghalanginya masuk ke kamar mandi.


"Lama banget mandinya. Mules nih!" kesal Juna lalu segera menutup pintu.


Mendengar kekesalan suaminya, Raya hanya bisa menggerutu. "Kenapa enggak pakai kamar mandi yang di luar kalau memang mules."


Juna keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos dan celana pendek. Rambutnya masih basah, terlihat tetesan air dari rambutnya yang mengenai wajahnya.


"Ray, tolong siapkan baju untuk dua hari. Aku mau ke Sukabumi untuk audit dan juga melihat sesi pemotretan model sepatu yang baru," perintah Juna pada Raya yang kebetulan sedang membuka lemari.

__ADS_1


Perusahaan tempat Juna bekerja bergerak di bidang manufaktur yang memproduksi sepatu ekspor dengan brand sadida. Sebenarnya perusahaan ini merupakan perusahaan turun temurun dari sang kakek. Pak Anwar selaku CEO Asia Power Galaksi (APG) mulai melimpahkan pekerjaannya pada sang anak yang nantinya akan menggantikan kedudukannya. Maka dari itu, semenjak menikah Juna sering terjun langsung ke lapangan untuk untuk lebih memahami perusahaan yang akan ia pegang. Hari ini ia akan pergi perusahaan cabang Sukabumi untuk melakukan proses audit dan juga melihat sesi pemotretan sepatu model baru.


Sebenarnya sudah ada tim khusus audit yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan baik itu mengenai data maupun produksi secara langsung. Namun, karena sudah satu tahun ini cabang Sukabumi dua kali mendapatkan claim yang pastinya merugikan perusahaan, sehingga Juna ingin sidak secara langsung tanpa pemberitahuan sebelumnya.


"Mas Juna mau ke Sukabumi?" tanya Raya membuka koper mini dan mulai memasukan semua apa yang Juna perlukan nantinya di Sukabumi.


"Iya. Kenapa? kamu mau ikut?"


"Enggak, cuma nanya aja. Lagi pula hari Jumat udah harus berangkat dari sini."


Juna baru ingat kalau ia juga ingin ikut mendaki gunung. Kenapa ia bisa sampai lupa. Ah, tapi dia di Sukabumi hanya dua hari jadi masih bisa untuk mengejar supaya sampai sini Kamis malam.


"Berangkatnya tunggu aku. Kalau aku belum pulang, jangan coba-coba pergi." Juna menuju lemari untuk mengambil pakaian yang akan dikenakan untuk berangkat nanti.


Setelah sarapan Juna langsung berangkat menuju Sukabumi. Sedangkan Raya pergi belanja bersama Nina untuk stok selama seminggu dan juga rencananya Raya akan membuat sambal cumi untuk bekal nanti naik gunung.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Raya dan juga Nina kembali ke unit. Raya mulai mengeksekusi cumi segar yang telah ia dapat. Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan cumi yang masih segar dan juga besar-besar.Ia sengaja tidak memilih baby cumi supaya gampang mencucinya. Raya memulai dengan mencabuti tulang rawan yang menempel di kulit bagian dalam cumi. Begitu juga dengan kantung tinta yang menempel pada tubuh bagian dalam. Karena Raya menginginkan cumi dengan tampilan putih cantik, maka ia mengupas kulit ari nya yang berwarna kemerahan atau ungu dengan pisau. Setelah itu ia mencuci cumi tersebut dengan air mengalir.


"Mas Juna suka sambal cumi?" tanya Raya penasaran.


"Iya Non. Suka banget asalkan jangan terlalu pedas," jelas Nina penuh semangat.


Raya manggut-manggut dan tersenyum miring. Sepertinya otaknya sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum geli.


Kurang lebih satu jam Raya telah menyelesaikan sambal cuminya. Ia taruh di dalam toples plastik ukuran 150 ml yang berjumlah dua puluh toples. Rencananya sambal cumi ini untuk bekal nanti naik gunung. Raya sengaja menaruh di dalam toples kecil supaya mudah dibawa dan nanti gampang juga membaginya dengan teman yang lain.


Siang harinya sambil santai di ruang tengah ia memainkan ponselnya. Tujuannya untuk menghubungi Ana dan Anjani. Saat itu Raya mendapat pesan dari Juna. Juna mengirimkan foto dirinya yang sedang di tempat makan yang di bawahnya terdapat kolam ikan koi. Juna pun mengirimkan pesan setelahnya.


["Suamimu telah sampai dengan selamat istriku."]

__ADS_1


Raya merinding membaca pesan yang dikirimkan oleh Juna kepadanya. Ia pun segera membalasnya.


["Enggak ada yang nanya suamiku." ðŸĪŠ]


Tak lama ia segera mendapat balasan dari sang suami.


["Cieee, udah mengakui aku sebagai suami nih."]


["Makin sayang." ðŸĪŪ]


Setelah membaca balasan dari Juna, ia memilih untuk tidak membalasnya lagi. Menurutnya, chat-nya akan terus berlanjut apabila Raya meladeninya.


Raya memilih melihat-lihat story. Saat melihat story milik kakaknya rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Ia melihat tempat April mengambil gambarnya sama persis dengan tempat yang ada di foto yang Juna kirim. Dugaan itu diperkuat saat ia membaca caption story sang kakak.


Sukabumi 22 derajat Celcius ðŸĨķ


Entah mengapa hati Raya seperti ditusuk ribuan jarum. Apakah Juna memang sengaja menemui April? Kalau dugaan Raya benar, terus maksudnya apa saat di rumah Bunda, Juna seolah-olah acuh dengan April, bahkan terlihat membencinya. Raya sebenarnya ingin menanyakan perasaan Juna kepada kakaknya itu seperti apa. Apakah masih cinta? atau biasa saja atau bahkan menjadi benci. Kalau memang masih cinta, untuk apa ia menyuruh Raya untuk tetap bertahan di sisinya.


TBC


RayJun kembali 😉âĪïļ


Mohon maaf sekali karena dua hari tidak update, hari ini pun updatenya sore sekali


Entah kenapa otak, pikiran dan hati tidak sejalan. Padahal udah nulis dari kemaren sore dan sore ini baru kelar itu pun hanya 1000 kata


Semoga kalian tetap menjadikan novel ini favorit ya


Maaf apabila part ini terasa hambar 🙏 🙏 🙏

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya


Terima kasih 😍 😘 😘


__ADS_2