Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
ANTAR JEMPUT


__ADS_3

Pagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan sang suami, Raya langsung membantu Mbok Dar dan Mbak Nina memasak di dapur.


Ia ingin membuatkan sarapan untuk suaminya karena memang sudah lama sekali ia tidak membuatkan makanan untuk sang suami semenjak kejadian di rumah sakit itu.


"Mau masak apa Non?" tanya Nina yang melihat Raya sedang merebus ayam.


"Buat bubur ayam saja Mbak buat sarapan," jawab Raya lalu meraih wadah yang sudah berisi beras lalu mencucinya.


Waktu itu Juna pernah bilang ingin sarapan dengan bubur ayam buatannya. Karena masih diberi kesempatan hidup dan Raya tidak mau menunda-nundanya lagi. Maka sekarang ia sangat semangat membuatkan bubur ayam spesial untuk orang istimewa.


Acara membuat bubur ayam telah selesai. Ia kini menempatkan bubur ke dalam mangkuk lalu diberi suwiran ayam goreng, daun seledri yang ia cincang halus, serta kacang kedelai goreng dan tak lupa taburan bawang goreng yang membuat bubur itu semakin nikmat. Ia membuat dua porsi bubur ayam lalu diletakkannya di atas meja makan. Ia sengaja tidak memberikan kuah dan kerupuk, karena ia akan memanggil suaminya terlebih dulu.


Raya berjalan ke kamar lalu membuka pintunya. Juna ternyata masih bergelung di bawah selimut. Padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, tapi suaminya itu masih saja memejamkan matanya.


Raya berjalan menghampiri sang suami. Ia duduk di bibir ranjang. Menatap lekat wajah tampan suaminya. Tanpa sadar Raya menyunggingkan senyumnya. Tangannya terulur menyentuh rahang tegas sang suami lalu mengusapnya.


"Mas, bangun. Memangnya hari ini nggak ke kantor?"


"Hemm." Juna hanya menggeliat.


Raya mengulas senyumnya. Hatinya berdesir ketika ia mengusap rahang tegas sang suami. Entah sejak kapan ia mempunyai hobi mengusap rahang suaminya. Hobinya bertambah selain meggesek-gesekan hidung di dada suaminya.


Juna memegang tangan Raya yang berada di rahangnya lalu menariknya, sehingga Raya ikut berbaring menabrak tubuhnya. Juna lalu memeluk Raya erat sambil membenamkan wajahnya di leher sang istri.


"Mas! Bangun ih," ucap Raya kesal karena perbuatan suaminya itu dada Raya menjadi berdebar, mungkin Juna juga merasakan debaran itu karena saking kencangnya.


Juna makin membenamkan wajahnya sekaligus menghisap kulit leher putih istrinya, Raya merutuki dirinya, jantungnya tidak dapat diajak kerjasama. Ia hampir terlena oleh sentuhan yang Juna berikan. Namun, alarm kesadarannya berbunyi sehingga ia mengarahkan tangannya ke pinggang Juna untuk melakukan satu cubitan yang mampu membebaskannya dari belenggu sentuhan sang suami.


"Aww!" Juna mengaduh lalu melepaskan hisapan mulutnya di leher Raya.


"Bangunin suami harusnya pakai ciuman, kok ini malah cubitan sih." Juna mengusap bekas cubitan Raya lalu duduk di samping istrinya.


"Mas Juna duluan yang gigit leher Raya udah kaya vampir aja."


"Masa sih?" tanya Juna seakan meragukan ucapan Raya .


"Iya, nih lihat leher aku jadi merah kan. Eh, merah? Wah gawat. Raya berlari menghadap cermin meja riasnya, lalu mengecek lehernya dan benar saja ada tanda bekas gigitan Juna. Em, lebih tepatnya tanda hisapan lintah.

__ADS_1


"Aarrgghh!" Raya berteriak histeris lalu berbalik menuju Juna dan memukuli suaminya itu bertubi-tubi.


"Kenapa digituin, Raya malu. Nanti pasti Mbak Ana dan yang lainnya ledekin Raya," ucap Raya sambil memukuli Juna.


Juna terkekeh sambil menahan tangan Raya.


"Nggak apa-apa. Mas sengaja kasih tanda kepemilikan. Biar semua orang tau kalau kamu sudah ada yang memiliki," ucap Juna sambil menaikturunkan alisnya.


"Ya, tapi nggak harus di sini."


"Owh, nggak mau di leher, terus di mana? di sini? di sini? atau di sini?" tanya Juna sambil menunjuk anggota tubuh Raya mulai dari dada lalu turun ke perut lalu turun lagi.


"Iihhh! Mas Juna!" teriaknya kesal. "Cepat bangun, cuci muka Raya tunggu di meja makan!" ucapnya sambil berlalu keluar kamar. Raya tidak mau mengambil resiko bila berlama-lama di dalam kamar bersama suami yang akhir-akhir ini menjadi sangat aktif tangannya.


Juna tergelak melihat tingkah istrinya. Ia memang sangat senang membuat istrinya itu kesal. Ia membuat tanda itu di leher karena selain untuk menunjukan bahwa Raya sudah ada yang memiliki. Ia juga ingin menunjukan pada seseorang soal tanda kepemilikan itu. Supaya orang tersebut tau diri.


Juna bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia tidak perlu mandi lagi karena ia sudah mandi berdua dengan Raya saat sebelum subuh, yang tentunya tidak hanya ritual mandi yang mereka lakukan, ada ritual lain sebelum mandi yang biasa dilakukan oleh suami istri.


Raya memicingkan matanya ketika Juna menuju meja makan dengan pakaian santainya.


"Kerja," jawab Juna sambil menyuap satu sendok bubur. Lalu ia seperti menilai rasa bubur ayam yang ia makan. Ia suap sekali lagi lalu merasakannya lagi. Kemudian mengambil sate ampela lalu mengunyahnya.


"Enak," ucapnya lalu mengambil sate telur puyuh dan dimasukan ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah, kalau Mas Juna suka," ucap Raya dengan mata berbinar karena tidak sia-sia membuat bubur ayam spesial untuk sang suami dan suaminya sangat menyukainya ditambah Juna makannya sangat lahap.


"Kamu yang masak?" tanya Juna pada Raya.


Raya mengangguk sambil tersenyum.


Juna mengusap kepala Raya dengan sayang. "Terima kasih, ini enak banget. Kalau aku minta kamu masakin aku setiap hari, kamu keberatan nggak?"


Raya segera menggeleng. "Ya, nggak dong Mas. Raya justru senang kalau Mas Juna suka masakan Raya."


"Jadi mulai besok kamu buatkan sarapan plus bekal ke kantor khusus untuk aku saja, kalau untuk yang lain biar jadi urusan Mbok Dar dan Mbak Nina."


Raya tersenyum dan mengangguk. Ia merasa tersanjung karena Juna memintanya untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk dibawa ke kantor. Karena biasanya Juna tidak akan pernah mau membawa bekal makan siang ke kantor.

__ADS_1


"Mas Juna katanya kerja, kok malah ngutak ngantuk robot sih," ujar Raya ketika ia akan berangkat ke depot dan masih melihat Juna belum berangkat juga ke kantor malah sibuk dengan para robot koleksinya.


"Gundam, Raya." Juna mengoreksi ucapan Raya yang menyebut robot pada koleksinya.


"Ya, apalah itu,. yang pasti dia itu robot. Mas Juan kerja nggak sih? Itu bajunya sudah Raya siapkan. Ini udah hampir jam sepuluh."


Juna lalu mengehentikan aktifitas merakit Gundam koleksinya lalu megambil pakaian yang sudah Raya siapkan untuk dipakainya.


"Mulai hari ini, biar aku yang antar kamu ke depot, baru setelahnya ke kantor," ucap Juna setelah selesai memakai jas nya."


"Tapi, Mas Juna bisa kesiangan terus berangkatnya."


"Ada Vero yang bisa mengatasi semuanya sebelum aku datang."


"Ya, tapi itu nggak baik Mas. Sebagai pemimpin, Mas harus menunjukan kinerja yang baik dan disiplin sebagai contoh para karyawan."


Juna tampak berpikir. "Nggak masalah. Aku bisa beri alasan kalau ada meeting di luar. Lagi pula, siapa yang berani melanggar peraturan pasti ada sanksinya. Dan di perusahaan ada sanksi bagi yang terlambat masuk kantor lewat dari tiga puluh menit."


Raya menghembuskan nafasnya dengan pelan. "Terserah Mas Juna saja." Raya meraih dasi di atas kasur lalu memakaikan nya pada Juna.


"Ingat ya, jangan pulang duluan sebelum aku jemput," ucap Juna saat mereka sudah sampai di depot milik Raya.


Raya mengangguk lalu meriah tangan Juan untuk diciumnya. Sebelum Raya berbalik untuk membuka pintu mobil, Juna sudah lebih dulu menahan tangan Raya lalu sedikit menariknya.


Benda kenyal yang mencari candu itu menempel tepat di bibir Raya. Hanya sebuah kecupan ringan tapi mampu membuat jantung Raya melompat-lompat.


Juna melepas menjauhkan bibirnya lalu menuju kening Raya. Kening Raya pun mendapat perlakuan yang sama.


"Hati-hati, jangan terlalu lelah, makan yang banyak," pesan Juna sambil tersenyum.


Karena masih mengontrol kinerja jantungnya, Raya hanya bisa mengangguk dan keluar dari mobil langsung masuk ke dalam depot.


Mobil Juna melaju meninggalkan bangunan yang berisi berbagai tanaman. Tidak terlalu jauh di belakang dari tempat mobil Juna berhenti tadi, ada sepasang mata yang mengawasi sambil menatap dengan tajam.


"Sialan! Ini belum berakhir. Aku masih punya kesempatan."


TBC

__ADS_1


__ADS_2