
Juna masih belum bisa memejamkan matanya, padahal waktu sudah menunjukan hampir subuh, tapi malam ini ia sangat sulit untuk tertidur.
Juna tersenyum melihat Raya yang sepertinya sedang tertidur pulas. Juna berdiri dari tempat duduk di sebelah tempat tidur Raya. Mengedarkan pandangannya yang terasa sepi.
Orang tua serta adiknya telah kembali ke rumah, setelah Juna yang memintanya. Karena menurutnya, cukup ia saja yang menemani Raya. Lagi pula menurut dokter, jika tidak ada keluhan, besok siang Raya sudah diperbolehkan pulang.
Mungkin satu gelas kopi atau coklat panas sangat pas dinikmati pada saat seperti ini. Tubuhnya lumayan letih, karena dari kemarin ia sama sekali belum tertidur. Saat Raya berada di dalam ruangan operasi pun ia sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada pintu ruangan operasi yang tertutup rapat. Hingga pintu itu terbuka dan keluarlah dokter perempuan yang menangani Raya allu ia pun menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"
Dokter tersebut tampak berbicara terlebih dulu dengan salah satu perawat, baru setelahnya ia menatap laki-laki yang tengah cemas dengan keadaan istrinya.
"Alhamdulillah, Pak. Semuanya berjalan dengan lancar. Ibu Raya sedang dalam masa observasi terlebih dulu selama dua sampai tiga jam, setelah itu baru bisa dipindahkan ke kamar perawatan.
Seketika perasaan Juna tampak lega. Bagaikan berlari di padang pasir yang kemudian menemukan oase. Sungguh sangat bahagia, tak lupa ia pun berucap syukur Alhamdulillah kepada Sang pemilik nyawa.
"Aku ke kantin dulu ya," pamit Juna pada Raya yang masih tertidur. Tak lupa ia memberikan kecupan sayang di dahi wanita yang mampu memporak-porandakan hatinya.
Juna keluar kamar melangkah menuju kantin. Saat tiba di kantin, Juna langsung memesan coklat panas. Setelah mendapatkan pesanannya ia segera mencari tempat duduk.
Ah, tapi kalau dipikir-pikir lebih baik ia menikmati kopi panasnya sambil memandang wajah cantik istrinya. Ia pun tersenyum sendiri ketika pikiran itu terlintas di benaknya.
Juna segera melangkah membawa satu cup coklat panas yang telah dibelinya menuju kamar tempat Raya dirawat.
Saat ia membuka pintu, ia mendapati istrinya yang sudah bangun dan sedang duduk di atas tempat tidurnya. Raya menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka. Juna tersenyum hangat sehangat satu cup coklat yang berada di tangannya.
Mendekat ke arah istrinya. "Sudah bangun?" Pertanyaan yang sia-sia karena tidak memerlukan jawaban. Tanpa menjawab dan dengan hanya melihat pun Juna tahu bahwa Raya sudah bangun.
Namun, tidak dengan Raya. Ia tetap mengangguk, memberikan jawabannya.
"Butuh sesuatu?" tanya Juna lagi.
Raya hanya memandang Juna dengan pandangan yang tidak dapat terbaca oleh Juna. Raya lalu beralih ke tangan Juna yang sedang memegang cup yang berisi coklat hangat.
Juna mengikuti arah pandang istrinya. Lalu ia pun menawarkan minuman yang belum sempat ia cicipi rasanya.
"Mau minum coklat hangat?"
"Apa boleh?" tanya Raya ragu-ragu.
"Tentu saja boleh. Enggak ada pantangan apapun 'kan kata dokter?"
Raya mengangguk sambil tersenyum. Ketika Juna menyerahkan satu cup coklatnya, Raya pun menyambutnya dengan senang.
__ADS_1
Diseruputnya sedikit demi sedikit coklat hangat yang nikmat itu. Perasaan Raya menjadi hangat dan nyaman. Masa iya sih, hanya dengan meminum coklat hangat menjadi nyaman? Apa karena coklat itu pemberian sang suami? Raya segera menggeleng untuk menepis pikirannya yang sepertinya sedikit berkeliaran kemana-mana.
Juna hanya bisa menelan ludah saat Raya menghabiskan satu cup minuman itu. Raya menoleh ke arah suaminya untuk menyerahkan cup yang telah kosong. Namun, seketika rasa bersalah bercampur malu melanda dirinya ketika ia baru menyadari bahwa suaminya membawa minuman itu hanya satu. Yang itu artinya sang suami belum sempat meminumnya malah telah dikandaskan olehnya.
"Maaf Mas, minumannya aku habisin, hehehe," ucapnya dengan rasa bersalah dan juga malu.
Juna menerima cup yang telah kosong itu lalu tersenyum.
"Enggak apa-apa, masih ada alternatif lain kok, buat aku untuk menikmati minuman coklat tadi."
"Mas Juna harus beli lagi dong," jawab Raya.
Juna menghembuskan nafasnya dengan cepat. "Tidak perlu," jawab Juna cepat sebelum ia menyambar bibir ranum milik istrinya.
Raya mengerjap karena tindakan secara tiba-tiba yang dilakukan suaminya. Namun, makin lama ia pun terbuai dengan sentuhan lembut dan mendamba sang suami. Lama-lama ia pun turut membalas tindakan sang suami.
Raya merutuk di dalam hati, bisa-bisanya ia larut dalam gelora rasa indah dan menggelitik yang mampu menerbangkannya ke angkasa. Lebih-lebih ia turut andil dalam menciptakan gelora rasa tersebut.
Seketika alarm pengingat dalam dirinya berbunyi saat tangan Juna sudah merambat kemana-mana.
"Mas!" Raya melepaskan tautan bibir mereka dan juga menepis tangan Juna.
Juna menggeram frustasi. Matanya sudah memancarkan kabut g@irah. Raya tidak tega sebenarnya, namun mau bagaimana lagi. Kalau dibiarkan pasti akan lebih menyiksa Juna.
"Berapa lama, Mas harus puasa?" tanya Juna dengan tak berdaya.
"Kalau kata dokter tiga bulan ...."
"Apa?! Tiga bulan?!"
Ya Tuhan! Apa bisa, dirinya berpuasa selama itu?
"Mas harus temui dokter itu. Biar omongannya enggak ngawur. Masa tiga bulan Ray?"
Raya menggeleng kemudian mencebik. "Tiga bulan itu jarak minimum kalau mau hamil lagi Mas, tapi kalau ... itunya, setelah bersih tidak mengeluarkan darah lagi juga boleh."
"Itunya? Itunya itu maksudnya apa?" tanya Juna dengan tersenyum miring.
"Tau ah, pikir sendiri!" Raya kemudian berbaring membelakangi Juna.
"Anaconda masuk ke sarangnya ya?" bisik Juna di telinga Raya.
Kalau ingat anaconda, Raya menjadi ingin tertawa. Mengingat betapa polosnya dirinya sewaktu Juna akan kasih lihat si anaconda.
__ADS_1
***
Raya kini telah sampai di rumah. Ia sudah diperbolehkan pulang sejak jam sepuluh tadi. Mereka memilih untuk kembali ke rumah orang tua Juna.
Juna pikir, kalau Raya pulang ke rumahnya, akan lebih banyak orang yang mengawasinya saat dirinya bekerja. Dan Raya pun senang-senang saja tinggal di rumah mertuanya. Ia nyaman tinggal di sana karena sikap hangat dan kadang konyol yang ditunjukkan oleh para penghuni rumah itu.
Ketika ia memasuki rumah, ternyata di dalam sana, orang yang selama ini ia rindukan sedang duduk di ruang tamu.
"Bunda!" teriak Raya sambil berlari mendekat ke arah Mira.
Raya langsung memeluk Mira dengan erat. Mira pun membalas memeluk tak kalah eratnya.
"Bagaimana keadaan kamu Sayang? Maaf Bunda baru tau tadi pagi, dan kata mamah kamu, akan pulang hari ini. Jadi Bunda langsung ke sini menunggu kamu."
"Raya baik Bunda."
"Semoga Allah segera mengganti dengan kebaikan yang berkali-kali lipat ya Nak," ucap Mira menangkup wajah Raya.
"Duduk sini dekat Bunda Nak," ajak Mira, karena saat ini Raya tengah bersimpuh di hadapan Mira.
"Ayah enggak ikut?" tanya Raya.
"Ikut, tapi sekarang lagi diajak mancing sama papah kamu," jawab Risma.
"Mbak April bagaimana kabarnya Bunda?"
"Sudah lebih baik. Sudah enggak pernah memukuli perutnya juga."
"Terus siapa yang jagain Mbak April?"
"Ada Bima. Mungkin Bunda datang ke sini juga mau memberitahu bahwa minggu depan Bima akan menikahi April."
TBC
Oh iya, untuk yang bertanya-tanya kenapa Arini harus di rajam, sedangkan dia tidak berzina, jadi ada hukuman yang lebih ringan dari pada di rajam.
Jawabannya ada di satu part khusus nanti ya. Tapi kayaknya part itu masih jauh si.
Maka dari itu yang penasaran ikutin kisah novel ini terus ya...
Sampai jumpa di part selanjutnya 👉👉😍
Good Night
__ADS_1
Terima kasih 😍 😍 😘