Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
TERJUN BEBAS


__ADS_3

Juna tampak berlari menuju ruangan petugas rumah sakit.


"Apa di sini ada matras?" tanyanya dengan panik.


"Ada Pak, kamu biasa gunakan untuk keperluan senam hamil," ucap salah satu petugas.


"Bisa bantu saya untuk bawa semua matras itu keluar?"


"Ada apa memangnya Pak? Kami tidak diperbolehkan membawa keluar barang rumah sakit tanpa izin terlebih dahulu."


"Ada yang mau loncat dari gedung ini."


"Apa?!" Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


"Tapi, matras yang ada itu tidak tebal. Jadi kalau seandainya digunakan sebagai pelindung sepertinya kurang maksimal."


Juna sudah tidak sabar lalu segera menghubungi polisi. Namun, baru saat akan menyentuh layar benda pipih itu, ada panggilan masuk dari sang adik.


"Ada apa?"


"Mas Juna di mana?"


"Di rumah sakit."


"Mamah sama Papah Juga? Pantesan rumah sepi."


"Jani, bisa tolong Mas?"


"Enggak ada yang gratis," ucap Jani sambil tergelak di seberang sana.


"April akan bunuh diri dengan loncat dari atas gedung rumah sakit ini. Tolong minta bantuan, Mas tunggu di sini."


"Apa?! Bunuh diri? enggak kreatif banget. Huh. Ya sudah, tunggu nanti Jani ke situ, rumah sakit mana?"


Juna memberitahu alamat rumah sakit kepada sang adik sebelum ia mengakhiri sambungan. Ia kemudian berjalan ke luar sambil mendongak ke atas gedung. Tak berapa lama ia melihat April mulai naik ke tembok pembatas.


"Pak, apa matras ini masih di perlukan?" tanya petugas rumah sakit sambil membawa matras yang biasa di pakai untuk senam hamil yang diikuti beberapa orang di belakangnya.


"Ya, taruh saja di sana. Lumayan untuk jaga-jaga."


Seketika suasana di pelataran rumah sakit di buat heboh dengan hilir mudiknya petugas membawa matras dan meletakannya di bawah.


Tak lama Jani pun datang bersama teman-temannya yang terlihat membawa matras yang lebih besar dan tebal.


"Mas!" ucapnya sambil menepuk bahu Juna. "Di taruh di sana aja Rio," ucapnya pada salah satu temannya yang membawa matras yang cukup lebar dan tebal sambil menunjuk ke arah matras-matras kecil yang diletakan oleh petugas rumah sakit tadi.


Juna yang melihat orang-orang meletakan matras yang begitu besar dan tebal pun mengernyit menatap adiknya.


"Dapat dari mana kamu matras sebesar ini?"


"Jani gitu loh," jawabnya sambil menepuk dadanya yang sengaja dibusungkan.


Akhirnya Jani menjelaskan bahwa ia menghubungi temannya yang mempunyai club olah raga lompat tinggi. Ia pun meminta bantuan kepada temannya itu untuk membawakan matras ke rumah sakit dengan bayaran 10 juta.


"Ternyata adik Mas ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi," ucap Juna bangga sambil merangkul bahu adiknya.


"Hehehe, iya dong. Tapi jangan lupa Mas, sediain ya yang 10 juta."


Juna lalu melepaskan rangkulan itu. "Gak jadi bangga," ucapnya lalu melipat tangannya di depan dada dan mendongak melihat drama yang April perankan.


Jani nyengir lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Gadis berponi depan itu membawa kedua telapak tangannya di samping mulut yang bertujuan sebagai toa, dengan mendongak ia pun berteriak.


"Mbak April! Cepetan loncat sini, udah disediain kasur empuk nih!"


"Ah elah, pake acara loncat dari atas segala sih. Beneran dia hamil Mas?" tanya Jani sambil menoleh ke arah kakaknya.


Juna hanya melirik ke arah adiknya lalu menghedikan kedua bahunya.


"Mbak, please."


"April, please percaya sama gue. Kita bisa lalui ini bersama Pril."


"Mundur kalian!" teriak April. Ia melangkah mundur, namun karena lantai yang licin, ia pun terpeleset sehingga jatuh.


"April!"


"Mbak!"


Baik Raya maupun Bima segera berlari untuk meraih tubuh April. Tangan April pun bisa di raih oleh Raya. Dengan bantuan Bima April bisa sampai lagi ke atas. Namun, April melepaskan tangannya yang di pegang oleh Raya. Dan tanpa ada orang yang tahu, April sengaja menendang kaki Raya lalu mendorongnya sehingga Raya terjatuh.

__ADS_1


"Akh!"


"Raya!"


Bima ingin meraih tangan Raya namun gagal. Ia hanya bisa meraih angin.


Risma, Anwar, serta Budi langsung berlari untuk mencoba menyelamatkan Raya namun terlambat. Tubuh Raya sudah terjun bebas.


"Raya!!" Risma berteriak sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


"Raya!"


"Astagfirullah!"


Sedangkan Mira sudah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Baik Mira maupun April diangkat oleh beberapa petugas rumah sakit yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan kejadian yang begitu cepat itu.


"Raya! Mas, itu Raya bukan?" Teriak Jani saat melihat wanita yang terjatuh.


Juna berlari menghampiri seseorang yang terjatuh, untungnya tepat di atas matras. Benar saja wanita itu merupakan istrinya. Matanya terpejam dan wajahnya pucat. Ia segera meraih tubuh istrinya lalu dibawa ke dalam gendongannya.


"Cepat bawa ke IGD Mas," ucap salah satu orang yang ikut berkerumun.


Juna segera membawa Raya ke dalam IGD yang diikuti oleh Jani.


***


Raya merasakan tenggorokannya kering. Ia mencoba membuka matanya namun, ia pejamkan kembali karena tidak tahan dengan silau lampu tepat di atasnya.


Selain kerongkongannya yang kering, ia juga merasakan sakit pada kepalanya. Seketika ia mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Ia sangat takut saat menyadari tubuhnya melayang lalu terjun dari atas gedung dalam waktu yang sekejap.


"Aakkhhh!"


"Raya." Seseorang menyebut namanya bersamaan dengan tangannya yang telah digenggam erat oleh telapak tangan yang besar. Seketika ia merasa nyaman dalam genggaman telapak tangan yang hangat itu.


Raya perlahan membuka matanya. Pandangannya bertemu dengan netra yang sangat tajam namun teduh. Ia melihat bibir pria itu tersenyum. Nampak sekali kegelisahan dan kekhawatiran terdapat dalam bola mata yang hitam legam tersebut.


"Mas." Raya langsung memeluk dengan erat sang suami yang ada di hadapannya. Terisak melepaskan segala beban yang ada di pikirannya.


Raya merasa takut namun juga lega, ternyata ia masih bisa melihat wajah tampan suaminya. Saat terjatuh, di dalam pikirannya hanya ada wajah Juna yang terkadang tersenyum, cemberut, jahil, semua terbayang dan Raya berfikir tidak akan melihat wajah itu lagi.


"Sssttt. Tenang, semuanya baik-baik saja," ucap Juna mencoba menenangkan istrinya.


"Sayang, kamu sudah sadar Nak," ucap Risma yang baru masuk ke dalam ruangan ada Jani juga di sampingnya.


Juna dan Raya melepaskan pelukan keduanya. Raya beralih ke Risma, mengulurkan tangannya pertanda minta untuk segera dipeluk.


"Mah."


"Syukurlah Nak. Mamah tadi sangat takut. Apa ada yang sakit?"


"Sedikit pusing sama mual aja Mah."


"Panggil dokternya Mas." Jani menyuruh pada kakak laki-lakinya yang sedang menatap istri dan ibunya yang sedang berpelukan.


Juna mengangguk lalu menekan tombol berwarna biru di samping bed yang Raya tempati.


Tak lama, seorang dokter pria paruh baya dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan.


"Selamat malam," sapa sang dokter.


"Malam Dok."


"Saya coba periksa dulu ya pasiennya."


Sang dokter memeriksa Raya, tak lupa menanyakan apakah ada keluhan.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Juna mencoba tenang.


"Alhamdulillah, tidak terjadi sesuatu yang dikhawatirkan. Nona Raya hanya perlu istirahat dan jangan dulu mengingat kejadian yang membuatnya histeris. Rutin ya minum obatnya, bisa membantu menenangkan juga."


"Saya permisi dulu. Cepat pulih Nona Raya," ucap sang dokter sebelum keluar dari ruangan.


"Terima kasih Dok."


"Alhamdulillah," ucap Risma dan Jani bersamaan.


"Tadinya gue lagi nungguin Mbak April yang meluncur bebas, eh gak taunya elo Ray. Sempat panik juga sih tadi meskipun sudah ada matras," ucap Jani sambil merangkul bahu Raya.


Risma menepuk tangan Jani cukup keras.

__ADS_1


"Awsh! Mamah, sakit tau," ucap Jani dengan mengerucut bibirnya.


"Enggak denger kata dokter barusan?"


"Kan Jani cuma mau bilang kalau Jani juga khawatir sama kakak ipar. Iya enggak Ray." Jani menaikturunkan alisnya sehingga membuat Raya tersenyum.


"Udah sana lebih baik kamu pulang. Urusin anak-anak kamu."


"Anak?" tanya Raya heran. Karena setaunya Jani ini belum menikah.


"Iya anaknya banyak, Mamah sampe pusing kalau lagi pada berantem. Berisik banget. Enggak berhenti mengeong," jawab Risma sambil menggelengkan kepalanya.


"Anak-anak Jani udah Jai titip ke Mbok Sum. Malam ini mau nginep di sini ah, bareng Mamah."


"Terserah kamu. Awas, kalau besok kamu uring-uringan karena Mbok Sum salah ngasih makanan," ancam Risma.


"Mamah lebih baik pulang saja bareng Jani. Biar Juna saja yang bermalam di sini," ujar Juna pada sang Mamah.


"Besok aja pulangnya. Lagian di rumah juga enggak ada Papah kamu."


Anwar tadi sore berangkat ke Yogya, karena ada urusan kerja yang mendadak, sehingga ia terpaksa meninggalkan menantunya yang belum sadar.


"Bagaimana keadaan Mbak April sama Bunda Mas?" tanya Raya cemas.


"Mereka semua baik-baik saja. Ada Bima dan Beri yang Mas suruh untuk menjaga mereka."


Raya langsung bernafas dengan lega. Namun, tetap saja ia ingin sekali melihat secara langsung keadaan ibu dan kakak perempuannya.


"Apa aku bisa menemui mereka Mas?"


"Besok saja. Lagi pula ini sudah malam. Saatnya kamu istirahat. Mereka juga pasti sedang istirahat."


Juna membaringkan Raya supaya rebahan. Ia mengatur posisi bantal supaya istrinya bisa tidur dengan nyaman. Juna duduk di samping kepala raya sambil mengelus-elus rambut istrinya.


Sedangkan Risma dan Jani ada di sisi kanan dan kiri kaki Raya.


"Minum Mas," pinta Raya.


"Oh iya.


Juna langsung memberikan minuman pada sang istri.


"Ingin makan sesuatu Sayang?" tanya Risma.


Raya mengangguk, karena memang ia merasakan lapar. Tadi pagi saja perutnya terisi makanan dan itu pun hanya sedikit. Sekarang sudah jam 8 malam. Pantas saja perutnya keroncongan.


"Kamu cara makanan sana, biar Mamah yang jagain Raya."


Juna mengangguk. "Aku keluar dulu," pamitnya pada Raya.


"Aku ikut Mas," ujar Jani.


Setelah mereka keluar, Raya memandang Risma dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Mengetahui dirinya sedang ditatap oleh menantunya, Risma pun tersenyum.


"Ada apa Sayang? Ada yang ingin kamu katakan?" Risma mengelus lembut tangan Raya.


"Mah, Mamah sama Bunda sudah bersahabat sejak lama 'kan?"


"Iya Sayang. Sejak sekolah menengah Mamah dan Bunda sudah bersahabat baik."


"Apa benar kalau Raya ini bukan anak kandung Bunda? Lalu siapa itu Arini Galuh?"


TBC


Siapa itu Arini Galuh? 🤔🤔🤔 Jangan lupa tekan like, komen, vote juga beri author hadiah yang banyak yah. Favoritnya jangan lupa ditekan ya, supaya kalian tau kalau novel ini update. Bintang lima nya juga jangan lupa ya, Kalau bisa bantu promo juga supaya novel ini lebih banyak lagi yang membaca 😘😍


Aku kasih bonus foto RayJun dan Jani ya 😉




Kalau yang ini Adiknya Juna yang gak bisa diem, hobinya mainan sama kucing, yang punya cita-cita jadi dokter anak


Sekar Anjani



__ADS_1


__ADS_2