Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
JUJUR


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Raya mengucap salam saat memasuki rumah orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam," jawab sang bunda yang langsung menghampiri Raya dan menarik tangan Raya untuk mengikutinya ke dapur.


"Mbak April mana Bun? katanya pulang."


"Sssttt. Pelankan suara kamu. April ada di kamarnya ... ditemani Juna."


Mendengar penuturan sang bunda, Raya berusaha memahami. Sudah pasti Juna akan menemani mantan kekasihnya atau status mereka mungkin masih menjadi pasangan kekasih meskipun dimata agama dan negara Juna adalah suami Raya. Jangankan hanya menemani, menjemputnya di bandara saja sudah Juna lakukan. Hanya saja Raya tak habis pikir, kenapa Juna harus sampai membohonginya. Mengatakan bahwa akan ke Sukabumi karena urusan pekerjaan. Padahal kalau saja Juna mengatakan padanya dengan jujur, sudah pasti akan Raya izinkan. Toh menurut Raya yang orang asing bagi Juna adalah dirinya. Karena ia yang telah masuk diantara hubungan Juna dan April yang menurutnya hanya terjeda karena kepergian April.


"Tapi kenapa perasaanku enggak nyaman begini?" gumam Raya dalam hati.


"Bunda belum bilang kalau Juna sudah menikah dengan kamu. Bunda bingung bagaimana mengatakannya. Maka dari itu Bunda menyuruh kamu datang supaya kamu dan Juna saja yang menjelaskan," ucap Mira tiba-tiba.


"Jadi selama ini Mbak April belum tau kalau pernikahan itu tetap berjalan dengan aku yang menggantikan sebagai mempelai wanitanya?" tanya Raya yang juga ikut bingung bagaimana menjelaskan pada kakaknya itu.


Mira menggeleng. "Ayahmu melarang waktu Bunda ingin menelpon April untuk memberitahu semuanya. Katanya tidak perlu peduli dengan anak yang tidak memperdulikan perasaan orang tuanya."


"Apa Mas Juna juga belum bilang yang sebenarnya ya?"


"Bunda rasa belum. Kalau sudah, kenapa April menghubungi Juna buat menjemputnya di bandara."


"Kok Bunda tau Mas Juna yang jemput Mbak April di bandara?"


"April tadi yang bilang. Kalau Juna semenjak datang, Bunda belum denger suaranya. Sudah sana temui mereka di kamar. Engga baik juga berduaan di kamar."


"Kalau Bunda tau itu enggak baik, kenapa Bunda biarin mereka berduaan di kamar? kenapa enggak Bunda temani saja," protes Raya.


"Bunda juga maunya begitu, tapi April minta dibuatin sup jagung sama Bunda enggak mau yang lain."


"Raya temui mereka sekarang kalau begitu."


"Jangan lupa bawa supnya." Mira lalu menyerahkan nampan yang telah berisi satu mangkuk sup jagung dan satu gelas air putih.


Raya membawa nampan itu dengan hati-hati. Saat sampai di depan pintu kamar April, Raya berhenti sejenak untuk mengatur laju jantungnya. Membuang napasnya dengan pelan, ia segera mengetuk pintu dan membuka dengan perlahan pintu kamar itu.


Saat pintu terbuka, pemandangan pertama yang dilihat oleh Raya adalah dua orang manusia yang sedang berpelukan. Karena mendengar suara pintu dibuka, maka keduanya melepaskan pelukan itu. Juna tampak membulatkan matanya saat menyadari bahwa Rayalah yang melihatnya berpelukan dengan April. Raya berjalan menghampiri kakaknya, menaruh nampan di atas nakas.


"Mbak April sakit apa? mukanya pucat banget Mbak."


"Kata dokter hanya perlu istirahat. Sudah enggak papa kok." April lalu meraih tubuh Raya untuk dipeluknya. "Dari depot ya?" tanya April.

__ADS_1


"Makan dulu Mbak, supnya. Mumpung masih hangat." Raya mencoba mengalihkan pertanyaan yang April lontarkan padanya. "Raya suapi ya?"


April menggeleng lalu melirik Juna yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kamu suapi aku mau Bee?"


"Aduh! kamu makan sendiri aja ya, aku sakit perut, ikut ke kamar mandi ya." Juna berlari masuk ke dalam kamar mandi sambil memegangi perutnya.


"Sini, Raya aja yang suapi."


April pun menerima suapan. demi suapan yang Raya berikan. Pada suapan terakhir, tiba-tiba April mencengkeram tangan Raya.


"Kamu sudah menikah?" tanya April dengan menyipitkan kedua matanya.


Raya yang ditanya jadi gugup. "Siapa laki-laki yang beruntung menikahi adik Mbak yang cantik ini?"


Raya masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tak lama sebuah rengkuhan, Raya rasakan di pundaknya. "Aku laki-laki yang beruntung itu." Seketika April dan Raya sama-sama menoleh pada orang yang baru saja memberikan jawaban.


"April melepaskan tangan Raya. Ia terkekeh. "Kamu itu memang suka bercanda Bee. Maaf ya karena aku pergi, pernikahan kita jadi gagal."


"Pernikahan kamu saja yang batal tapi tidak dengan pernikahanku," jawab Juna menoleh pada Raya yang sudah berwajah ketakutan.


April lalu memandang Juna dan Raya secara bergantian. "Jangan bilang kalau kalian ...."


"Ya. Aku dan Raya telah menikah. Kamu bisa lihat cincin yang kita pakai sama bukan?"


"Mbak, Raya bisa jelasin semuanya."


"Enggak perlu! Pergi kalian! pergii!!"


Juna memaksa Raya untuk keluar dari kamar. Mira yang mendengar teriakan April, segera menghampiri Raya dan Juna yang baru saja keluar dari kamar April.


"Ada apa?" tanya Mira panik.


"Mbak April sudah tau kalau Mas Juna sudah menikah denganku dan dia sepertinya syok Bund," tutur Raya sambil mengusap air matanya.


"Biar Bunda yang bicara nanti. Kalian sebaiknya pulang saja. Sebentar lagi Ayah sampai di rumah."


Raya menggeleng. "Raya perlu jelasin sama Mbak April Bund. Mas, kita jelasin semuanya ke Mbak April, biar dia enggak salah paham."


"Kita jelaskan nanti saja. Lagi pula, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan."


"Tapi ...."

__ADS_1


"Benar kata Juna. Sebaiknya kalian pulang saja. Kalau terjadi sesuatu pasti Bunda hubungi kalian."


Mereka akhirnya berpamitan pada Mira. Juna ingin meraih tangan Raya Naum segera ditepis oleh istri manisnya itu. Juna sepetinya mengerti mengapa Raya menolaknya. "Akan aku jelaskan nanti saat sampai unit."


"Tidak perlu!" jawab Raya ketus.


Juna tersenyum melihat Raya yang mengerucutkan bibirnya membuatnya gemas ingin mengecupnya. Juna segera menggeleng membiarkan pikiran kotornya lenyap seiring dengan gerakan kepalanya.


"Ini motor siapa?" tanya Raya pada sang suami karena motor yang akan ia naiki tidak sama dengan motor yang selalu di pakai Juna.


"Teman," jawabnya dengan singkat. "Ayo naik!" ajak Juna yang sudah lebih dulu menaiki motor itu.


"Motornya terlalu tinggi. Susah aku naiknya."


Juna turun dari motor. "Mas Juna!" pekik Raya.


Dengan ringan Juna mengangkat Raya untuk didudukkan di atas motornya. Raya pun terpekik dengan kelakuan Juna yang seenaknya saja.


"Gampang kan? Enggak perlu pegangan pundak."


"Mas Juna nyindir aku ya?"


Juna menaikan kedua bahunya lalu menaiki motor dan segera melajukan kendaraan beroda duanya itu dengan cukup kencang hingga membuat Raya reflek melingkarkan tangannya pada pinggang Juna. Saat Raya akan melepaskan pelukannya, Juna segera memegang tangan Raya. "Begini lebih baik."


Entah kenapa setelah kejadian di rumah orang tuanya tadi membuat suasana hatinya menjadi nano-nano. Raya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga apapun yang terjadi kedepannya nanti, itulah yang terbaik untuknya.


TBC


Hay...RayJun kembali lagi 😍😍


Gimana kabar kalian hari ini?


Adakah yang suasana hatinya seperti Raya? 😁


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote dan hadiah sebanyak-banyaknya


Jangan lupa klik favorit supaya kalian tau kalau novel ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏


Sampai jumpa di part selanjutnya

__ADS_1


Terima kasih 😍😘


__ADS_2