Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
MENDAKI GUNUNG


__ADS_3

Jumat pagi, Raya serta Juna terlihat sedang mempersiapkan keperluan mereka untuk mendaki. Mereka akan berkumpul dengan anak-anak FMI termasuk Sekar Anjani tentunya. Mereka berkumpul di Kampung Rambutan karena mereka akan menaiki bus Primajasa dengan jurusan Garut. Jam sebelas siang mereka semua harus sudah berada di lokasi titik kumpul.


Juna dan Raya masing-masing menyiapkan keperluan pribadi lalu memasukannya ke dalam keril. Tak lupa obat-obatan serta makanan untuk persiapan di perjalanan telah Raya siapkan. Untuk masalah tenda, sudah menjadi tanggung jawab anak FMI sehingga Raya tidak perlu membawanya. Sebenarnya makanan dan obat-obatan pun telah disediakan oleh anak FMI karena setiap peserta yang ikut dikenakan biaya yang sudah termasuk untuk makan dan lain sebaginya. Namun Raya memilih untuk membawa sendiri untuk berjaga-jaga.


Juna telah selesai mempacking, tak lupa ia membawa sleeping bag dan tenda cadangan. Ia menghampiri Raya lalu menyodorkan segelas susu hangat ke hadapan istrinya yang masih sibuk mengemas pakaiannya untuk dimasukan ke dalam keril.


"Minum dulu selagi hangat, biar aku yang packing."


Raya menatap gelas yang berisi susu hangat di hadapannya. "Aku masih kenyang Mas, belum lama kita sarapan," ucapnya. Ia kembali memasukan bajunya satu persatu ke dalam tas gunungnya. "Kalau kekenyangan kebelet pup di sana," imbuhnya mencoba menjelaskan pada Juna supaya sang suami tidak tersinggung.


Juna berhasil memaksa Raya untuk menerima gelas dari tangannya. "Gunung Papandayan itu cocok untuk pemula seperti kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau ingin buang hajat, karena di sana tersedia toilet umum," jelas Juna sambil menyelesaikan packingannya.


***


Mereka kini telah sampai di terminal Kampung Rambutan. Beberapa anak dari FMI sudah tampak di sana. Raya memberitahu Juna untuk menghampiri Jani yang sedang melambai ke arah mereka.


"Itu Jani Mas, yuk kita ke sana," ajaknya pada sang suami.


Mereka menghampiri gadis berambut sebahu itu.


"Ikut juga, kirain omong doang," sindir Jani pada sang kakak.


"Enggak perlu banyak komentar. Berapa orang lagi yang harus kita tunggu?" tanya Juna yang tidak senang apabila harus menunggu lama apalagi sampai jam keberangkatan diundur. Sebenarnya kebiasaan orang Indonesia itu ya jam karet. Janjinya kumpul jam sebelas tapi kenyataannya jam sebelas mereka baru berangkat dari rumah.


Jam 11.45 mereka baru berangkat menaiki bus dari Kampung Rambutan menuju Garut. Perjalanan yang akan ditempuh kira-kira memakan waktu kurang lebih lima jam. Karena perjalanan yang lumayan jauh, mereka memanfaatkan waktu luang dengan tidur. Namun, tidak dengan Raya, ia asik ngobrol dengan Diana karena ternyata Diana dan Dewa ikut juga dalam pendakian kali ini.


Setelah lima jam perjalanan akhirnya mereka sampai di terminal Guntur, Garut. Beruntungnya mereka sampai sebelum jam enam sore, sehingga bisa menaiki mini bus menuju pertigaan pasar Cisurupan yang memakan waktu satu jam. Selanjutnya mereka menaiki pick up menuju camp David atau pos 1. setelah dilakukan pengecekan kelengkapan administrasi oleh relawan-relawan dari sekitar Gunung Papandayan, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Dari Pos Camp David, pendakian akan dimulai dengan medan dengan batuan belerang dan beku.


Sekitar lima menit melewati medan yang berbatu dan di kanan kiri pepohonan, mereka akan langsung memasuki medan yang terbuka dan bisa melihat aktivitas kawah-kawah Gunung Papandayan. Kawah Gunung Papandayan yang bisa dilihat oleh pendaki adalah Kawah Mas, Kawah Baru, dan Kawah Nangklak. Sekitar 20 – 30 menit berjalan melewati kawah, sebuah jalan setapak kecil akan membawa mereka ke punggung bukit.


Selama perjalanan Juna selalu menggenggam tangan Raya. Menanyakan ini itu pada sang istri. "Kalau lelah, kita bisa istirahat dulu."

__ADS_1


"Mau minum?"


"Mau makan coklat?


"Kalau kedinginan bilang ya."


Beberapa pertanyaan Juna untuk Raya. Raya hanya menjawab dengan gelengan yang sering menyebabkan headlamp-nya miring. Tenang saja, meskipun berkali-kali headlamp Raya miring, ada Mas Juna yang siap bantu benerin. Sekitar dua jam perjalanan mereka sampai di Pondok Salada. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Raya duduk menikmati langit malam yang banyak bertabur bintang. Alhamdulillah, cuaca sangat mendukung untuk pendakian. Saat sedang menikmati tiupan angin malam sambil memejamkan mata yang mampu menenangkan hatinya, tiba-tiba ada yang menarik kepalanya untuk rebahan. Raya membuka matanya, ternyata Juna yang membawa kepala Raya untuk direbahkan di pahanya.


"Tidur sebentar, perjalanan masih panjang," ucap Juna sambil membuka botol minum lalu membasahi tenggorokannya dengan air yang menjadi sangat dingin itu.


Raya melihat aktivitas Juna dari bawah, dan tanpa sadar ia berulang kali menelan salivanya.


"Mau minum?" tawar Juna pada sang istri. Raya pun mengangguk. Namun, bukannya memberikan botol itu pada Raya, Juna malah membawa botol itu ke bibirnya sendiri. Raya yang melihatnya jadi berdecak sebal. Tapi beberapa detik berikutnya ia merasakan benda kenyal di atas bibirnya dan secara otomatis mulutnya terbuka, saat itulah ia merasakan air mengalir sampai tenggorokannya. Sejenak ia membeku atas perlakuan suaminya itu. Saat sadar barulah ia mendorong kepala Juna dan ia bangkit dari rebahannya.


"Mas Juna jorok ih!" teriak Raya pada sang suami sambil mengelap bibirny.


Juna terkekeh. "Katanya mau minum, tapi kamu enggak bangun-bangun, ya udah aku bantu kamu minum, kalau minum pakai botol sambil tiduran kan bisa tumpah kemana-mana," jelas Juna.


Juna tersenyum lalu memberikan botol berisi air itu pada Raya. Meskipun, kesal atas tingkah suaminya yang membuat jantungnya berdendang-dendang ria seperti ada yang sedang menabuh genderang, ia tetap menerima botol itu lalu segera meminum isinya. Juna juga memberikan coklat untuknya.


Raya menggeleng. "Nanti aku gendut."


"Biar gendut aku tetep sayang kok. Ayo makan, coklat bagus untuk menambah stamina dan memulihkan energi," ucap Juna.


Seketika coklat itu lenyap dari tangan Juna, tapi bukan Raya yang mengambilnya, melainkan musuh bebuyutan Juna sejak lahir.


"Kalau Raya enggak mau, buat aku aja," ucap Jani yang langsung memakan coklat itu.


Juna berdecak, biasanya kalau di rumah sudah Juna balas. Namun karena Juna butuh tenaga yang banyak untuk sampai puncak nanti, sehingga ia tahan biar tidak emosi yang akhirnya membuang-buang energinya.


"Terima kasih Mas ku tersayang. Daaahh!" Jani pun kembali bergabung dengan teman-temannya.

__ADS_1


Juna mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Lalu memberikan satu kotak kecil berisi kurma berwarna hitam untuk Raya.


"Makanlah. Jangan menolak makanan kegemaran Rasulullah," ucap Juna telak.


Raya akhirnya memakan kurma pemberian Juna. "Enak juga," pikirnya. Kurma berwarna hitam pekat itu tidak terlalu manis seperti kurma yang lain, sedikit asam dengan tekstur yang tidak terlalu lembut.


"Mas Juna enggak makan?"


Juna menggeleng, ia mengeluarkan botol madu lalu meminumnya. Namun tiba-tiba Raya memasukan satu buah kurma yang sudah disiapkan bijinya ke dalam mulutnya.


"Yang butuh tenaga kan enggak cuma aku. Mas Juna lebih butuh, apalagi kalau aku minta gendong karena capek," ucap Raya tanpa melihat ke arah Juna.


Juna tersenyum lalu mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Tenaga aku udah terkumpul banyak kok, tenang aja, jangankan gendong kamu, push up bareng kamu pun aku sanggup."


"Ngapain push up di atas gunung, kurang kerjaan," ucap Raya masih terus menyuapi Juna.


"Ya udah, push up nya kalau udah di rumah aja. Di kasur biar lebih enak. Yang penting bareng kamu."


Raya melempar biji kurma yang baru saja ia keluarkan dari mulut ke arah Juna. Setelahnya keduanya tertawa bersama.


Dari jarak beberapa meter ada yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka dengan kelakuan pasangan suami istri itu.


TBC


Maunya Juna itu mah push up diatas kasur bareng Raya 🤭🤭🤭


Kasih dukungan terus buat aku ya dengan cara like, koment, vote, serta kasih hadiah yang banyak ya, jangan lupa bintang limanya, serta jadikan novel ini favorit kalian.


Apa pun dukungan kalian aku akan sangat senang dan berterima kasih, apalagi kalau ada yang mau bantu promo hehehehe 🤭😍


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏 sampai jumpa di part selanjutnya 👉👉👉👉 Terima kasih 😘 😍 😍

__ADS_1


__ADS_2