
"Mas ... se-sebaiknya Mas Juna segera ceraikan Raya lalu menikahi Mbak April."
Rahang Juna mengeras, wajahnya memerah merasa kesal dengan permintaan Raya.
"Jangan ngawur kalau ngomong," ucapnya sambil menatap Raya dengan tajam.
"Aku hanya pengganti Mas, lagi pula sesuai perjanjian awal, kita akan bercerai ...."
"Sampai kapan pun, aku enggak akan menceraikan kamu!"
Juna beranjak berdiri lalu keluar kamar dengan rahang yang mengeras dan wajah yang memerah karena menahan marah.
Raya menundukkan wajahnya, memilin ujung baju yang ia kenakan. Tanpa terasa satu bulir bening jatuh membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak ketika meminta cerai kepada Juna.
Namun, apa yang bisa ia perbuat? ia tidak ingin membuat hati orang tuanya semakin terpuruk dengan keadaan anak perempuannya yang hamil di luar nikah.
Ia meminta cerai kepada suaminya karena ia ingat perjanjian di awal mereka menikah, bahwa Juna akan menceraikannya saat usia satu tahun pernikahan.
Raya menyadari bahwa selama ini dirinya sudah mulai nyaman berada di sisi Juna. Bahkan jika pria itu tidak ada di sampingnya, hatinya merasa kesepian. Juna juga memperlakukannya dengan baik, meskipun kadang masih ada saja sikapnya yang membuat Raya kesal.
Namun, apakah rasa nyaman saja cukup? Belum lagi, ia pun tidak tahu bagaimana perasaan Juna kepadanya. Menurut Raya, selama ini Juna baik kepadanya karena memang Juna pria yang baik. Terhadap April yang telah meninggalkannya di saat hari pernikahan pun Juna masih bersikap baik. Seandainya pria itu bukan Juna, sudah pasti April sudah mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Bahkan Juna masih mau bekerjasama dengannya untuk menjadi model produk sepatu di perusahaannya.
Raya memilih untuk naik ke atas ranjangnya. Tidur meringkuk sambil terisak menahan sesak di dada.
Sementara itu, Juna kini tengah berada di taman depan unitnya. Duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sana. Wajahnya ia tengadahkan ke langit. Matanya lekat memandangi bulan yang malam ini sangat bersinar dengan terang. Di sekitar bulan itu ribuan bintang terhampar menambah cantik langit malam ini.
Menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu duduk tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam mengingat ucapan istrinya beberapa menit yang lalu.
Juna pun maklum bila Raya berkata seperti itu, mungkin ia memikirkan perasaan kedua orang tuanya. Namun, mengapa Raya tidak memikirkan perasaannya? Apa Raya tidak merasakan apa-apa ketika berdekatan dengannya? Apa Raya hanya menganggap saat melakukan hubungan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja? Tidak adakah terselip namanya di hatinya, sehingga dengan mudahnya ia meminta untuk berpisah?
"Aaarrggghh!"
Juna berteriak untuk meluapkan emosinya. Tidak peduli jika ia akan ditegur oleh pihak keamanan unit karena membuat keributan di malam hari.
Matanya terpejam pikirannya melayang beberapa tahun yang lalu. Juna melihat seorang gadis yang menurutnya sangat cantik dan selalu ceria. Ia merupakan mahasiswi di kampus tempat kuliah Juna beberapa tahun yang lalu. Juna juga sering melihatnya keluar masuk toko bunga. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat berangkat dan pulang kerja, Juna selalu melewati toko bunga itu. Ia pun sesekali membeli bunga di depot tersebut demi melihat gadis pujaannya. Bunga hasil pembeliannya ia berikan pada mamahnya. Sampai mamahnya heran setiap kali pulang kerja selalu diberi bunga oleh anaknya, baik itu buket bunga maupun tanaman hias.
Suatu hari Juna mengantarkan April pulang ke rumahnya, karena mobil yang April kendarai mogok. Mereka sudah bekerjasama sejak lama. Juna senang bekerjasama dengan April karena selain baik, April selalu tepat waktu.
Saat tiba di rumah April, Juna melihat gadis pujaannya sedang menyirami tanaman di halaman rumah April.
"Itu siapa?" tanya Juna pada April dengan mata terus memandang Raya dari dalam mobil.
April mengikuti arah pandang Juna. Ia pun tersenyum. "Namanya Raya, adek gue. Kenapa? Suka?"
Juna hanya tersenyum. Dalam hati Juna bersorak, ternyata gadis yang selama ini dikaguminya merupakan adik dari teman kerjanya.
"Enggak usah senyum-senyum. Kalau suka, mending kubur deh perasaan lu sekarang, dari pada makin subur tapi akhirnya patah."
Juna mengernyit. "Kenapa? Udah punya suami?" tanya Juna penasaran.
April menggeleng. "Belum, tapi udah dijodohin dari semenjak di dalam kandungan."
__ADS_1
Juna terkekeh mendengar ucapan April. "Masih jaman ya dijodoh-jodohin. Memangnya dia setuju?"
"Raya itu anak yang penurut. Perintah yang keluar dari mulut Bunda dan Ayah selalu ia laksanakan."
Juna enggak peduli semua itu. Ia jadi makin sering main ke rumah April hanya untuk bisa melihat Raya. Meskipun saat di rumah April, Juna tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dengan Raya. Baik karena Raya yang selalu menghindar ataupun April yang selalu mempunyai cara agar Juna tidak bisa bicara berdua dengan Raya.
Selama enam bulan Juan berusaha namun tidak ada hasilnya. Ia juga melihat bahwa Raya selalu bersikap dingin kepadanya. Sedangkan dengan laki-laki yang sering Juna lihat mengantar Raya pulang, Raya terlihat sangat ramah dan hangat. Apakah laki-laki itu yang sudah dijodohkan dengan Raya?
Karena selama mendekati Raya, April selalu menempel padanya, lama-lama ia pun menjadi terbiasa nyaman dengan April. Ia pun mencoba melupakan Raya dan menjalin hubungan dengan April. Meskipun, tidak bisa sepenuhnya ia melupakan Raya.
Di dalam kamar, Raya terbangun ia menoleh ke sampingnya. Kosong. Sepertinya masih rapih, tanda bahwa suaminya belum kembali. Raya melihat jam di atas nakas sudah pukul 01.00.
"Mas Juna belum pulang?"
Raya turun dari tempat tidur. Menyambar kardigan untuk menghalau dingin karena ia bermaksud untuk mencari suaminya.
Seluruh ruangan di dalam unit sudah ia sambangi, tapi suaminya tidak ada di sana.
"Mas Juna ada di mana?"
Timbul perasaan bersalah sekaligus khawatir. Ia mencoba mencari suaminya di luar. Saat bertemu petugas keamanan, ia pun bertanya, siapa tau bapak itu melihat suaminya.
"Pak, maaf, apa Bapak melihat suami saya?" tanyanya pada petugas kemanan yang sedang berjaga di dekat meja resepsionis.
"Pak Juna?"
Raya mengangguk.
"Saya lihat tadi ada di taman depan Mbak, cob ---."
Setelah sampai di sana hanya terlihat beberapa tanaman hias, kolam ikan dan juga beberapa bangku sebagai tempat duduk bagi pengunjung.
Raya menghela nafasnya dengan kasar. Begitu besar kah marahnya Juna terhadap dirinya?
Raya berniat untuk kembali ke dalam. Mungkin ia akan mencoba menghubungi melalui ponsel.
"Semoga saja Mas Juna membawa ponselnya," gumam Raya.
Saat ia berbalik, ia dikejutkan dengan dada bidang yang membuat dahinya terbentur di sana.
"Astagfirullah!"
Raya terpejam, ia takut ada penampakan di depannya. Tapi ia juga penasaran. Maka sedikit ia mencoba membuka matanya. Namun, seketika matanya terbuka lebar, hatinya pun merasa lega. Seseorang yang dicarinya ternyata ada di depannya.
Raya langsung menghambur memeluk Juna dengan erat. Diletakkan kepalanya pada dada bidang Juna yang terdengar sangat bergemuruh.
"Apa Mas Juna juga merasakan apa yang aku rasakan?" ucapnya dala hati.
Tidak masalah jika Juna tidak membalas pelukannya. Yang terpenting ia dibiarkan bisa memeluknya saja Raya sudah sangat bersyukur.
Raya mendongak dengan tetap memeluk Juna dengan erat.
__ADS_1
"Maaf," ucapnya dengan suara yang sangat pelan nyaris tidak terdengar.
Matanya sudah berembun, mungkin degan sekali kedip saja, embun itu bisa terjun bebas membasahi pipinya yang mulus.
Juna tidak membalas ucapan Raya. Ia langsung memajukan kepalanya, lalu dilahapnya bibir ranum istrinya, yang diakhiri dengan kecupan yang panjang. Raya menerima ciuman suaminya dengan memejamkan mata. Disaat itulah air yang menggenang di matanya turut terjatuh.
Melepas pagutan bibirnya. Jemari Juna mengusap bibir istrinya yang telah bengkak akibat perbuatannya.
"Ini hukuman, karena kata-kata yang tidak aku sukai telah keluar dari mulut ini."
TBC
Kalo hukumannya begitu, aku juga mau Jun 🤭
Hay, jangan lupa, like, komen, vote, dan hadiahnya ya
Oh iya kalau aku minta tolong bakal dikabulin gak ya? aku minta sama kalian semua para reader's aku tercinta yang selalu support aku, aku minta kalian untuk memberi bintang pelindung kepada karyaku, caranya gampang banget
Klik seperti gambar di bawah n
Klik aula kehormatan novel 2021
Ketik di kolom pencarian Pengganti yang Dinanti, lalu klik lindungi
Kirimkan bintang kalian, berapa pun bintang yang kalian berikan, itu sangat berarti untukku
Oh iya selain Pengganti yang Dinanti, lindungi juga karya ku yang lainnya seperti Elena (Yang nomor dua ya)
__ADS_1
Terima kasih 😘 😍