Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
MENGGAPAI ANGKASA


__ADS_3

Yang masih di bawah umur atau belum menikah, bisa di skip aja bab ini ya ðŸĪŠ


Kedua bibir Juna dan Raya masih saling menempel, membelit, menyecap, melum at serta bergantian menggigit demi memberikan kesenangan dan menyalurkan rasa rindu mereka.


Kaki Raya melingkar erat di pinggang Juna. Juna membawanya duduk di sofa di sudut kamarnya. Mereka melepaskan tautan bibir hanya untuk meraup udara sebanyak-banyaknya. Hanya beberapa detik bibir mereka telah menyatu kembali. Kali ini lebih cepat dan dalam seperti dikejar oleh waktu.


Raya seketika membuka matanya merasa kehilangan ketika Juna menjauhkan bibirnya, namun tatkala Juna menyusuri lehernya menggunakan lidahnya, Raya kembali menutup matanya dengan kepala ia tengadahkan, seolah memberi kesempatan bagi Juna untuk lebih leluasa menyusuri leher jenjangnya.


Tidak satu senti pun yang terlewatkan dari penyusuran melalui lidahnya. Sesekali Juna sesap kulit putih dan mulus itu sehingga meninggalkan warna merah hingga keunguan.


Kedua tangan Juna tidak mau kalah dari peran bibir dan lidah. Satu tangannya sudah sejak tadi memainkan kedua bukit kembar milik sang istri. Satu tangannya lagi ia tugaskan untuk mengeluarkan anak kancing pakaian Raya dari lubangnya. Dua kancing sudah terlepas dengan begitu mudah.


Raya masih menikmati peran tangan dan mulut Juna terhadap tubuhnya.


"Mas." Satu kata keluar dari mulut Raya dengan nada yang Raya sendiri sangat malu mendengarnya. Padahal mati-matian Raya menahan agar tidak lolos, namun apa daya, ketika sentuhan Juna tidak dapat ia abaikan sehingga membawanya terbang ke nirwana.


"Raya ....." Satu panggilan dari arah pintu menghentikan aktifitas kedua orang yang sedang saling mengejar sesuatu yang tidak dapat dijabarkan.


"Aduh, maaf." Risma kemudian menutup mata menggunakan telapak tangannya. "Anggap saja Mama nggak pernah melihatnya. Silahkan lanjutkan, jangan lupa tutup dan kunci dulu pintunya," ucap Risma yang kemudian meninggalkan tempat itu.


Juna berdecak sebal karena kesenangannya harus terjeda dan terganggu. Sedangkan Raya kini menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam karena malu, tangannya berusaha menutupi dadanya yang sudah terekspos, bahkan salah satu bukit kembarnya telah keluar dari wadahnya.


"Mas, Raya malu," ucapnya lirih sambil terus menunduk di pangkuan Juna.


"Udah, jangan di pikirkan. Lagian Mamah juga pasti ngerti kok."


"Mas Juna sih, mau begini nggak bilang-bilang, mana pintu masih terbuka, untung cuma Mama, coba kalau Papa juga lihat."


Juna terkekeh. Ia mengusap puncak kepala Raya. ia sangat gemas melihat Raya yang sedang malu seperti ini sampai menyalahkan orang lain padahal dia sendiri yang lupa menutup pintu.


"Memangnya tadi yang buka pintu kamar ini siapa? Yang duluan mancing-mancing pake cium-cium bibir siapa?" ledek Juna sambil memegang dagu Raya supaya ia bisa lebih jelas melihat wajah memerah istrinya.


"Ya, harusnya Mas Juna ingetin Raya," ucap Ray kesal dan mencoba membela diri.

__ADS_1


Bagaiman mau mengingatkan kalau dirinya pun sama-sama sudah dikuasai oleh kabut gairah dan n@fsu yang sudah tak tertahankan.


"Kita lanjut yang tadi ya. Tapi sebelumnya Mas mau menutup dan mengunci dulu pintunya," ucap Juna lalu menurunkan Raya dari pangkuannya dan menuju pintu untuk menutup dan menguncinya demi keamanan dan kelangsungan kegiatan menyenangkan yang akan ia lakukan bersama Raya.


Juna mengernyit ketika Raya telah mengancingkan kembali pakaiannya.


"Kok dikancingin bukan dilepas sekalian," protes Juna ketika Raya malah merapikan diri.


"Raya masih malu Mas, apa kata Mama nantinya," ucapnya sambil memandang Juna.


"Memangnya kamu nggak kangen sama Mas?" tanya Juna.


"Kangen," jawab Raya.


Juna tersenyum. "Mas juga sama, kangeeeen banget sama kamu. Apa lagi Onda, di lebih kangen sama sarangnya. Onda kangen sama sarangnya yang hangat dan sempit. Kasian Onda harus dua kali muntah dilantai kamar mandi yang dingin," ucap Juna berusaha membujuk Raya.


"Mas Juna muntah-muntah? Mas Juna sakit?" tanya Raya panik sambil menangkup kedua pipi Juna.


"Kamu merasakannya 'kan? Onda sudah bangun sejak tadi. Ia ingin segera masuk ke dalam sarangnya, supaya bisa muntah di tempat yang hangat," ucap Juna sambil membimbing Raya mengelus sesuatu dalam dirinya yang sudah berdiri tegak seperti batang singkong.


Raya sempat menjauhkan tangannya dari sesuatu yang keras itu. Ia mencebik ke arah Juna.


"Oh, jadi ini yang sudah muntah di lantai kamar mandi?" tanya Raya yang mendekatkan tangannya untuk menyentuh Onda.


"Iya," ucap Juna sambil memejamkan matanya karena gerakan lembut tangan Raya. Namun, tak lama Raya sudah menggenggamnya dari luar dengan sangat kencang.


"Aduh! Sakit Raya."


"Katakan, siapa yang menjadi fantasi Mas selama mas bersolo karir di kamar mandi hingga Onda sampai muntah-muntah?" tanya Raya penuh selidik tanpa mengendurkan genggamannya.


"Tentu saja dirimu Sayang. Mas harus rela menunggu kamu tertidur dulu. Setelah Mas pikir kamu sudah tidur, Mas video call Jani untuk meletakan ponselnya di depan kamu agar Mas bisa puas memandangi wajah istri Mas yang cantik ini dan mengobati rasa rindu karena hampir seminggu kita nggak bertemu, dan pada akhirnya, Onda pun beraksi lalu terpaksa Mas muntahkan di lantai kamar mandi. Kalau nggak percaya tanya saja Jani," ucap Juna lalu melepaskan tangan Raya dari pangkal pahanya.


"Jani tau semuanya?"

__ADS_1


"CK!" Juna berdecak. "Ya nggak. Dia cuma masuk ke kamar kita lalu meletakan ponselnya di posisi yang Mas mau, setelah itu dia kembali ke kamarnya."


Ah, sekarang Raya tau alasannya mengapa adik iparnya itu, dua kali mendatangi kamarnya pagi-pagi hanya untuk mengambil ponsel yang Raya temukan di tempat tidurnya.


"Maaf Mas, Raya pikir ... aakkhh!"


Sebelum Raya menyelesaikan kalimatnya, Juna sudah terlebih dulu merobek baju yang Raya kenakan.


"Mas!" Raya tidak terima karena Juan merobek bajunya hingga kini dirinya telah polos bagian atasnya.


"Kelamaan, Mas udah nggak tahan," bisiknya di telinga Raya. Lalu ia menjulurkan lidahnya, menggelitik telinga serta memberikan gigitan-gigitan kecil.


Raya langsung terhanyut dalam pusara gelombang kenikmatan yang diberikan oleh lidah dan tangan Juna.


Kini keduanya telah polos tanpa sehelai benangpun. Posisi mereka masih berada di sofa.


"Ingin mencoba gaya baru?" bisik Juna.


Raya masih mencoba mencerna pertanyaan Juna, namun Juna sudah lebih dulu menggendongnya di depan dengan kaki Raya lingkarkan ke pinggang Juna.


"Siap, dengan gaya kanguru?"


Tanpa menunggu jawaban dari Raya, Juna sudah menyatukan miliknya dengan milik Raya. Raya sempat terkejut karena ia belum siap dan masih mencerna. Namun gerakan lembut yang Juan berikan, membuatnya nyaman dan menginginkan lebih, sehingga memacu tubuhnya untuk ikut bergerak.


Semakin lama semakin cepat, Raya sudah hampir menggapai bintang terang benderang di hadapannya. Ia gerakan tubuhnya semakin cepat untuk mengejar bintang itu.


"Aaahhh!" Akhirnya ia mampu menggapai bintang itu yang mana setelah ia mencapainya bintang itu meledak, namun memberikan kebahagiaan yang tidak ternilai.


Sekarang giliran Juna yang ingin segera mencapai bulan. Ia berpacu sangat cepat untuk mengejar keindahan dan kepuasan yang ada di hadapannya. Tak lama, ia pun dapat menggapai bulan yang sudah sangat ia rindukan.


TBC


Kaboor ah ðŸ‘ŧ🙈🏃ðŸŧ‍♀ïļ

__ADS_1


__ADS_2