Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
WANITA HEBAT


__ADS_3

Sebelum baca jangan lupa like dulu yah, terima kasih 😘


Happy reading ...


Alarm berbunyi menunjukan pukul 04.30. Raya segera matikan bunyi alarm yang cukup bising. Menoleh ke samping kiri, melihat sang suami yang masih tertidur lelap.


Tentu saja masih sangat lelap, karena mereka baru tertidur dua jam yang lalu. Sejatinya Raya pun masih mengantuk, namun ia harus memaksakan matanya untuk tetap terbuka karena ia tak mau nantinya akan terlambat bangun.


Raya mencoba untuk duduk dengan menahan selimut di dadanya. Ia ingin bersandar sebentar sebelum memutuskan untuk membersihkan diri setelah olahraga malamnya bersama sang suami yang membuat tubuhnya terasa remuk.


Bagaimana tidak remuk, mereka melakukannya hampir lima jam. Ya Tuhan! kalau mengingat betapa liarnya Juna semalam, bagaikan singa di padang pasir yang telah menemukan mangsanya setelah sebulan berpuasa.


Habislah Raya terkena terkaman sang raja hutan selama berjam-jam. Wajahnya seketika terasa panas, perutnya bagaikan dihinggapi ribuan kupu-kupu, sungguh menggelikan karena terasa menggelitik.


Namun, tak bisa Raya pungkiri. Setelah melakukan olahraga malam bersama sang suami, ternyata membuat perasaan Raya menjadi tenang dan nyaman. Tidurnya pun sangat nyenyak meski hanya tertidur dua jam.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Juna dengan suara khas orang bangun tidur.


Raya mengerjap mendengar suara berat di sampingnya. Ia menoleh ke sumber suara lalu menggelengkan kepalanya secara kaku.


"Ingat yang semalam, hm? Apa perlu diulang?" tanya Juna sambil berbisik di depan wajah Raya.


Raya menggeleng namun seketika langsung memejamkan matanya saat Juna mendekatkan wajah mereka.


Juna tersenyum miring. Istrinya memang sangat menggemaskan. Menolak dan menyambutnya secara bersama.


Ketika terdengar adzan subuh berkumandang, Raya langsung membuka matanya dan mendorong pelan wajah Juna.


"Kenapa?" tanya Juna karena penolakan Raya.


"Sudah subuh Mas!" jawab Raya kesal.


"Lalu?"


"Ya, kita harus segera mandi. Biar bisa sholat subuh berjamaah sama yang lain. Nan ...."


"Aakkhhh!"


Raya belum selesai berbicara namun, sudah terpotong karena Juna langsung mengangkat tubuhnya yang polos karena selimut yang sedari tadi ia pertahankan untuk menutupi tubuhnya, sudah teronggok di lantai.


"Mas Juna, selimutnya."


"Enggak perlu. Memangnya kamu mau mandi pakai selimut?"

__ADS_1


Juna berjalan ke kamar mandi sambil menggendong Raya yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Panas dan merah. Kalau tidak ingat akan sholat berjamaah, mungkin Juna sudah melahap kepiting rebus dengan rasa candu itu.


***


Mobil yang Juna kendarai berbelok mulai memasuki area pemakaman di pinggiran kota Jakarta.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Juna menoleh ke belakang demi melihat istrinya yang sedari tadi hanya tertunduk untuk menutupi wajah gusarnya.


Risma yang duduk di samping Raya mengangkat tangannya untuk dilabuhkan ke pundak sang menantu yang masih tertunduk. Diusapnya dengan lembut bahu kurus itu.


"Ayo," ajak Risma pada sang menantu. "Umi pasti senang melihat kamu berkunjung," sambungnya lagi.


"Kalau Raya belum siap, gak apa-apa. Kita bisa kembali lain waktu, menunggu kamu siap," ucap Anwar tiba-tiba, yang membuat Raya mendongakkan wajahnya.


Dengan segera Raya menggeleng. "Raya siap Pah," ucapnya lalu membuka pintu mobil. Menunggu yang lainnya kalau dari mobil, Raya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru area pemakaman.


Area pemakaman yang Raya kunjungi memang tidaklah mewah, tetapi kerapian, kebersihan serta kemananan nya patut diacungi jempol.


Hari ini Raya ditemani oleh sang suami dan kedua mertuanya. Selain karena Raya yang mengajak mereka ke sini, tentu ada tujuan khusus bagi Juna dan Risma.


Alasan Juna selain menemani Raya, ia pun ingin berziarah dan memperkenalkan diri di hadapan ibu kandung istrinya. Mengingat setelah menikah dan tahu siapa Raya, Juna belum pernah sekalipun berkunjung ke makam almarhumah sang mertua.


Sedangkan Risma tentu saja selain menemani sang menantu, juga karena rasa rindu terhadap sahabatnya yang telah berpisah selama puluhan tahun.


Mereka berjongkok mengelilingi makam yang selalu bertaburan bunga segar di atasnya. Penjaga makam setiap hari selalu menabur bunga dan menyirami air di kuburan Arini karena permintaan Budi.


Dan memang benar, semenjak Raya lulus SMA, Budi dan Mira hanya dapat berkunjung setahun dua kali, pada saat menjelang puasa ramadhan dan setelah idul Fitri, itu pun tanpa mengajak Raya maupun April.


Raya mengusap batu nisan itu dengan tangan bergetar. Tak terasa satu tetes air matanya jatuh di atas batu nisan dan disusul dengan tetesan-tetesan berikutnya.


"Kita berdoa dulu untuk Umi ya?" ajak Juna dengan membisikan di telinga Raya.


Raya mengangguk dan segera menghapus air matanya. Juna yang memimpin doa. Saat mendengar doa yang dipanjatkan oleh sang suami, hati Raya bergetar. Sungguh saat saat situasi seperti inilah Raya merasa merindukan uminya.


Meskipun belum pernah sekalipun bertemu dan mendengar suaranya, Raya yakin uminya adalah perempuan yang lemah lembut dan penyayang.


Dilihat dari beberapa foto yang tertera di album yang mama Risma berikan kemarin. Kalau diizinkan Raya ingin sekali bertemu dengan uminya walupun hanya lewat mimpi. Raya ingin merasakan dekapan hangat wanita yang telah mengandung dan melahirkannya. Menyusuinya sampai batas waktu umur yang telah ditentukan.


Andai saja saat itu Raya sudah mengenal uminya, pasti ia akan memilih untuk ikut bersamanya.


Isak tangis bersahutan disela-sela doa yang dipanjatkan. Juna menutup doa dan mulai menyirami makam dengan air yang dibawanya dari rumah. Raya dan Risma segera menabur bunga sehingga mempercantik makam itu.


Raya memeluk batu nisan sang ibu yang dinaungi pohon kamboja yang sangat rindang namun tidak terlalu besar dengan bahu bergetar karena tangisan yang tak kunjung henti. Juna memberikan waktu kepada istrinya untuk menumpahkan perasaannya.

__ADS_1


Raya jadi teringat, saat itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Mira dan Budi mengajaknya ke sini. Saat itu Raya masih memakai seragam sekolahnya.


"Bunda, memangnya siapa yang sedang tertidur di sini?" tanya Raya kecil sambil menunjuk makam yang sedang dibersihkan oleh Budi.


Mira menggenggam tangan Raya. "Yang sedang tertidur di sini adalah wanita yang sangat penting dan berharga untuk Raya. Wanita hebat yang berani menukar nyawanya demi mendapat ampunan dari Allah."


Raya kecil hanya mengangguk meskipun belum terlalu paham dengan jawaban sang bunda.


Raya lalu berlari ke arah tanaman Kamboja yang tak jauh dari makam Arini. Raya lalu mematahkan cabang pohon Kamboja lalu dibawanya ke hadapan sang bunda.


"Wanita hebat gak boleh kepanasan. Raya mau tanam pohon ini untuk melindungi makam ini dari panasnya sinar matahari."


Raya lalu menanam cabang pohon Kamboja yang dipetiknya dengan dibantu oleh Budi.


"Raya juga ingin jadi wanita yang hebat, bunda."


"Pasti Sayang. Raya harus jadi wanita yang hebat," jawab Mira lalu merengkuh Raya ke dalam pelukannya.


Raya tersenyum saat melihat pohon Kamboja itu tumbuh dengan indah dan mampu menghalau sinar matahari saat terik.


"Pulang sekarang?" tanya Juna karena dilihatnya Raya yang sudah tidak menangis lagi.


Raya mengangguk. Memberikan kecupan pada nisan wanita yang sangat berharga baginya.


"Awsh." Raya merasakan sakit pada perutnya saat akan berdiri.


Juna segera membantu dan menopang tubuhnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Risma cemas.


"Gak apa-apa Mah. Cuma sedikit nyeri perut," jawab Raya bohong, karena ia merasakan perutnya serasa diremas-remas.


Ada apa ini? Tidak biasanya sakit seperti ini. Apa sudah waktunya tamu bulanan datang?


Raya menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ia tidak ingin membuat semua orang khawatir padanya.


"Raya!"


"Raya! Hey!"


Juna dan Risma berteriak saat mendapati Raya pingsan padahal baru beberapa langkah meninggalkan makam.


TBC

__ADS_1


Kalau gak ada halangan nanti malam update lagi 😁


Jangan lupa dukungannya kakak-kakak yang cantik dan baik hati 🥰😍😘


__ADS_2