Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
INGIN BERTEMU


__ADS_3

Juna menatap kotak makan yang ada di pangkuannya. Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena sikapnya kepada Raya.


Ia bukannya tidak peka dengan wajah sendu istrinya. Memang ia kecewa dengan jawaban Raya, tapi ia yakin istrinya tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang diucapkannya. Mungkin , jika Raya mengatakan itu sebelum ia bertemu dengan Dewa, hatinya akan lebih bijak menanggapi jawaban Raya, Namun karena ucapan Dewa telah memprovokasi dirinya, jadilah ia seperti remaja yang baper an terhadap pacarnya.


"Kalau tidak mau, buat aku aja Bos," ucap Vero memecahkan lamunan Juna.


Juna langsung menatap sahabatnya itu dengan tajam. Tanpa menanggapi ucapan Vero, Juna langsung membuka kotak makan berwarna biru muda itu dan mengambil isinya.


Digigitnya roti panggang dengan isian mentega dan telur mata sapi itu. Meskipun sederhana tapi karena Raya yang membuat, jadi terasa begitu nikmat.


Satu tangkup roti telah ia habiskan. Saat menggigit roti yang kedua, tangan kirinya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Diambil ah gambar roti yang telah digigit setengahnya itu. Lalu dalam sekejap roti yang disiapkan Raya untuknya telah habis tanpa sisa.


Setelah mengelap tangannya dengan tisu basah, Juna lalu mengirimkan foto yang diambilnya tadi kepada sang istri.


[Terima kasih, sarapannya. Ini enak. Jaga diri selama aku pergi]


Setelah pesan terkirim, ia segera memberikan ponselnya dan menyimpannya kembali.


"Vero, bangunkan aku kalau sudah sampai," ucapnya sebelum memejamkan matanya.


Ia butuh istirahat, mengingat semalam ia tidak dapat tidur karena ucapan Raya. Sedangkan sampai Jepara nanti, sudah banyak agenda yang menanti. Jadi ia putuskan untuk istirahat selagi dalam perjalanan.


Sesampainya di Jepara, Juna langsung mengunjungi pabrik sepatu yang mendapat suplai bahan baku dari perusahaanya di Jakarta. Ia harus melihat kondisi tempat dan kinerja karyawannya. Mengingat, seminggu ke depan, akan ada buyer sadida yang akan walk through di pabrik tersebut.


Sampai di hotel jam sepuluh malam setelah makan malam bersama dengan para petinggi yang bekerja di pabrik itu. Tadinya ia ingin menghubungi Raya, mengingat ia belum menghubungi sama sekali istrinya itu, namun rasa kesal masih bersarang di hatinya. Sehingga ia mengabaikan pesan dan panggilan telpon dari Raya dan memilih untuk mandi setelah itu ia lanjutkan dengan tidur.


Sudah lima hari di Jepara, Juna sangat disibukan dengan walk through. Selain kunjungan, mereka juga melakukan audit. Semua perusahaan memang harus sering melakukan audit demi kemajuan perusahaannya. Bahkan ia sampai ke hotel sudah larut malam, karena saking padatnya jadwal di Jepara. Ia juga harus mengunjungi supplier outsole yang ada di sana. Belum lagi kunjungan ke supplier chemical, karena chemical yang digunakan pada sepatu juga harus diteliti. Karena itu merupakan satu dari beberapa unsur yang mempengaruhi kekuatan dan ketahanan sepatu.


Selama lima hari pula komunikasinya degan Raya tidak lancar. Hanya beberapa kali berkirim pesan itu pun Raya dulu yang memulai. Jika Raya melakukan panggilan telepon atau video call, Raya hanya bilang sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Tapi, itu memang benar, bahkan jam makannya kini sangat berantakan.


Saat malam ke enam di Jepara, seketika ia merindukan istrinya. Ia rindu akan senyum manis sang istri. Raya merupakan gadis yang ceria, ia selalu tersenyum meski hatinya sedang bersedih. Bahkan ketika Juna berangkat ke sini dengan sikap dinginnya, Raya tetap mencoba tersenyum, meskipun Juna tau, senyumnya merupakan senyum antara senyum tulus, bingung, sedih, dan khawatir.


Malam ini Juna benar-benar tidak dapat menahan rindunya. Ia ingin mendengar suara merdu istrinya meski hanya suara de$ahan nafasnya pun sangat merdu di telinga Juna. Namun, untuk menelponnya saat ini rasanya kurang tepat. Pasti istrinya itu sudah tertidur, karena memang sudah jam dua pagi.


Untuk mengobati rasa rindunya, Juna ingin melihat wajah cantik Raya yang sedang tertidur, tapi ia tidak mungkin mengganggu istrinya yang sedang tertidur.


Akhirnya ia menghubungi adik perempuannya. Yah, untung saja Jani sedang berada di rumah, sehingga ia melakukan video call dengan Jani lalu meminta adiknya itu untuk masuk ke kamarnya dan mengarahkan kameranya kepada Raya.

__ADS_1


Meski kesal dan penuh dengan ocehan, namun adiknya itu tetap mengabulkan keinginannya. Tanpa sepengetahuan Raya, Jani masuk ke kamarnya lalu meletakan ponselnya di hadapan Raya dengan tujuan agar Juna bisa memandangi wajah Raya. Hal ini dilakukannya selama dua malam.


***


Raya menggeliat saat alarm pada ponsel berbunyi. Ia mengambil ponsel di depannya yang diletakan di dekat bantal. Dahinya berkerut saat melihat ponsel yang ada ditangannya bukanlah ponsel miliknya. Ia melihat ponselnya ada di atas nakas. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan masuklah sesosok gadis berponi depan dengan piyama helokiti masuk sambil menguap.


"Pagi Kakak Ipar," sapa Jani sambil nyengir kuda.


"Pagi," jawab Raya sambil memandang heran adik iparnya yang tumben-tumbenan masuk ke kamarnya sepagi ini.


"Ada apa Jan?" tanya Raya kemudian saat melihat adiknya naik ke atas kasur kemudian berbaring dan memakai selimut menutupi tubuhnya.


"Gak papa Mbak. Tadi bangun trus nyariin ponsel, ternyata aku lupa ponselnya ada di sini."


"Ini ponsel kamu?" tanya Raya memperlihatkan ponsel di tangannya.


Jani mengangguk dan mengambil ponsel dari tangan Raya lalu menaruhnya di bawah bantal, dan ia pun kembali memejamkan matanya. Raya hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan adik iparnya.


Enam hari berlalu tanpa suami di sisinya membuatnya tidak semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apalagi selama mereka berjauhan, komunikasinya hanya melalui pesan, itu pun sangat jarang sekali. Mungkin saat Juna pulang nanti dia akan menanyakan nya, mungkin saja ia punya salah namun tidak disadari. Namun, terlepas punya salah atau tidak, sebaiknya ia meminta maaf terlebih dulu, karena tidak seperti biasanya Juna bersikap seperti itu. Bahkan saat baru menikah, Juna selalu memperlakukannya dengan hangat.


"Siapa Mbak?"


"Namanya Bimasena."


"Suruh masuk saja Mbak."


Tak lama, ada ketukan di pintu ruang kerjanya.


"Masuk," ucap Raya.


Bima mendorong pintu kemudian masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ada apa Bang? tumben. Nggak ada masalah 'kan?"


"Alhamdulillah, Ayah sama Bunda sehat. Kalau April, dia ingin bertemu kamu."


Raya menghentikan aktifitasnya. Ia mendongak ke arah Bima dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Beneran Bang?" tanyanya tak percaya.


Tidak menunggu sampai sore atau besok, Raya segera mengikuti Bima untuk bertemu dengan April. Ternyata bukan rumah kedua orang tuanya atau pun rumah Mpok Hana yang mereka tuju.


Mereka kini berada di rumah sakit.


"Mbak April sakit?" tanya Raya ketika menyadari mereka mengunjungi tempat orang untuk berobat.


"Sebaiknya kita langsung masuk saja ke dalam," ajak Bima.


Raya mengikuti Bima masuk ke ruang perawatan. Di dalam sana, Mira sedang duduk sambil berbicara dengan April yang berbaring.


"Assalamu'alaikum," ucap Raya dan Bima serempak.


"Wa'alaikumsalam," Mira dan April menjawab salam dan menoleh ke arah pintu.


Mira tersenyum melihat putrinya datang. Ia meraih tubuh putrinya dan memeluknya dengan erat.


"Sehat, Nak?" tanya Mira pada Raya yang sedang mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah, sehat Bunda."


Raya kemudian beralih menatap April yang menatapnya sambil tersenyum hangat. Sungguh Raya merindukan senyuman hangat dari kakak perempuannya itu. Matanya sudah berembun. Ia berusaha kuat untuk tidak menangis di depan ibu dan kakaknya.


April mengisyaratkan kepada Raya untuk mendekat. Raya dengan segera mendekat namun tetap diam berdiri di samping April.


"Nggak kangen sama Mbak? Nggak pengen peluk?" tanya April sambil merentangkan kedua tangannya.


Tangis Raya seketika pecah. Ia lalu menubruk tubuh kurus kakaknya. Mereka menangis bersama meluapkan rasa rindu dan sayangnya.


Mira yang melihat kedua putrinya berpelukan sambil menangis pun ikut menangis. Bima hanya bisa mengusap pundak Mira untuk menenangkan.


"Sebaiknya kita beri waktu kepada mereka Bunda," ucap Bima.


Mira pun menyetujui. Mereka keluar dari ruangan itu, meninggalkan kakak beradik itu berdua di ruang rawat April.


TBC

__ADS_1


__ADS_2