Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
ARINI GALUH


__ADS_3

Saat Raya keluar dari kamarnya tiba-tiba April menarik tangan Raya untuk dibawa menuju kamar kedua orangtuanya. Tak lupa April menutup pintu dan menguncinya.


"Ada apa Mbak? Kenapa kita ke kamar Bunda?"


"Aku mau tunjukin sesuatu, supaya kamu sadar siapa kamu sebenarnya," tukas April dengan memandang tajam ke arah Raya.


April menuju ke sebuah lemari kecil yang menurut Raya tidak pernah ada yang membukanya karena memang Mira melarang siapa saja yang ingin membuka lemari itu.


Ia mengeluarkan beberapa album foto dan juga sebuah buku yang Raya pikir seperti buku diary. Melemparkannya barang-barang itu tepat di sebelah telapak kaki Raya.


"Coba kamu buka," perintah April pada Raya.


Raya meraih satu foto album yang berukuran sedang lalu perlahan membukanya. Di sana terdapat foto beberapa gadis cantik yang tampak menggunakan seragam sekolah. Ada yang terlihat sendiri ada juga yang foto bertiga. Gadis-gadis itu nampak cantik.


Pandangan Raya tertuju pada satu foto gadis yang nampak berbeda, ia sendiri yang memakai kerudung. Wajahnya seperti tidak asing. Di sana terdapat nama pada masing-masing foto.


Ada gadis berambut lurus berwarna hitam legam, dibawahnya terdapat tulisan (Mira Puspita).


"Apakah ini Bunda? Bunda memang sangat cantik dari dulu, sama persis seperti Mbak April," ucapnya dalam hati sambil meraba foto tersebut.


Lalu ia beralih ke foto yang lainnya yaitu gadis berambut hitam dan ikal. Sangat cantik. "Sekilas mirip Anjani, apakah ini Mamah Risma?" batinnya. Dan benar saja saat ia membaca tulisan di bawah foto itu terdapat nama ( Risma Damayanti).


Raya beralih pada satu foto yang terdapat tulisan (Arini Galuh). Foto gadis manis berhijab yang terlihat malu-malu.


"Udah, enggak usah kelamaan. Nih lihat yang satunya," ucap April merebut album foto yang sedang Raya lihat dan menggantinya dengan album foto yang lain.


Dalam Album itu terdapat foto beberapa wanita yang sedang hamil. Ya, di sana Raya melihat Bunda Mira yang sedang mengelus perut besarnya, disampingnya ada Ayah yang sedang merangkul pundak Mira.


Ada juga foto Mamah Risma yang sedang hamil dengan menggandeng seorang anak laki-laki kira-kira berusia 5 atau 6 tahun.


Lalu ada foto wanita yang berhijab sedang duduk menyamping, menunduk dan tersenyum sambil memegang perutnya yang tampak besar.


April lalu merebutnya. "Enggak perlu lama-lama. Di foto ini jelas bukan? bahwa Bunda sedang mengandung aku, lalu Tante Risma sedang mengandung Anjani, dan wanita yang satunya jelas sedang mengandung anaknya dengan status tanpa suami."


April lalu merapikan album tersebut dan menyimpannya ke tempat semula. Lalu ia memperlihatkan buku yang belum sempat Raya lihat.


"Di dalam buku ini, semua fakta tentang siapa lo sebenarnya terkuak."


Raya tercengang karena sang kakak menyebut dirinya dengan sebutan lo.


"Jadi seharusnya lo tahu dan sadar diri. Bunda sama Ayah sudah suka rela merawat dan membiayai hidup lo sampai segede ini. Karena kehadiran lo, perhatian Ayah dan Bunda jadi terbagi."


"Sayang, kamu mau makan apel atau pear? Nanti Mamah kupaskan."


Raya mengerjai. Ingatan saat makan malam di rumah mengurai begitu saja seiring dengan pertanyaan dari Mamah Risma.


"Kamu melamun?" tanya Risma lagi.

__ADS_1


Raya menggeleng samar sambil tersenyum.


"Ada apa Sayang? Ada yang ingin kamu katakan?" Risma mengelus lembut tangan Raya.


"Mah, Mamah sama Bunda sudah bersahabat sejak lama 'kan?"


"Iya Sayang. Sejak sekolah menengah Mamah dan Bunda sudah bersahabat baik."


"Apa benar kalau Raya ini bukan anak kandung Bunda? Lalu siapa itu Arini Galuh?"


DEG


Jantung Risma seketika berdetak dengan kencang, saat nama yang sudah lama tidak terdengar itu menyapa indera pendengarnya. Terlebih yang menanyakan itu adalah Raya.


"Mamah kupaskan apel ya? Kamu pasti lapar 'kan? Sambil menunggu Juna beli makan, lebih baik kamu makan buah dulu." Risma mencoba mengalihkan pertanyaan Raya.


"Nanti. Belum saatnya Sayang. Mamah masih belum sanggup untuk bercerita," gumamnya dalam hati.


"Assalamu'alaikum."


Risma akhirnya bisa bernafas lega karena tidak harus terus menghindar dari pertanyaan Raya.


"Ayah." Raya sangat senang karena Budi datang ke kamar rawatnya.


Ayah dan anak itu berpelukan. Sesekali Budi tampak mencium kepala Raya. Risma memberikan ruang untuk mereka berdua. Sehingga ia memilih untuk duduk di sofa.


"Raya baik Yah. Cuma tadi sedikit pusing sama mual tapi sudah enggak lagi. Sama pergelangan kaki agak sakit, mungkin karena kepentok tembok pembatas."


"Syukurlah. Ayah dari tadi mikirin kamu terus. Maaf Ayah baru bisa ke sini, soalnya mbak kamu baru bisa ditenangkan."


"Mbak April berontak?"


Budi mengangguk.


"Lalu Bunda?"


"Bunda kamu juga sedikit tenang. Sekarang sedang tidur. Mungkin baru besok bisa nengokin kamu."


Raya menggeleng. "Enggak perlu Yah. Besok Raya saja yang ke kamar Bunda. Kasian Bunda pasti sangat syok."


Sekitar setengah jam, Budi berada di kamar Raya. Lalu ia pun pamit dan meminta tolong pada Risma supaya menjaganya, ia pun meminta maaf karena belum bisa terus-terusan berada di samping putrinya.


Tidak lama Juna pun kembali membawa nasi goreng seafood. Mereka berempat makan dengan lahap. Dengan Raya yang disuapi Juna.Risma dan Jani pun memutuskan untuk tetap bermalam di rumah sakit. Mereka tidur di sofa. Beruntung sofa yang tersedia di kamar rawat Raya cukup besar sehingga menampung dua wanita dewasa untuk tidur di sana.


Sedangkan Juna tidur di kursi di dekat Raya. Sebenarnya Raya meminta agar mereka tidur berdua dalam satu ranjang yang cukup besar. Namun Juna menolaknya. Ia takut tidak bisa mengontrol dirinya.


Hadeuh, dasar Juna mesum.

__ADS_1


Saat tengah malam, Raya terbangun karena merasa haus sekaligus ingin buang air kecil.


"Ada apa?" tanya Juna saat merasakan pergerakan dari tubuh Raya.


"Haus Mas."


Juna pun dengan cepat memberikan air yang Raya butuhkan. Setelah minum, Raya terlihat ingin turun dari ranjang, dan nampak kesusahan karena ingin membawa infus yang menempel di tangan kanannya.


"Ingin ke kamar mandi?" tanya Juna dengan lembut.


Raya mengangguk. Dengan cepat Raya kini telah berada di gendongan Juna. Ingin rasanya Raya berteriak,. namun ia ingat bahwa kini mereka sedang berada di rumah sakit.


Juna menurunkan Raya di dalam. Lalu ia mengambil alih infus yang Raya pegang.


"Mas Juna mau apa? Sana keluar aja, aku bisa sendiri."


"Aku bantu pegang infusnya. Tidak ada tempat untuk menaruh botol infus kan?"


"Tapi aku malu," ucap Raya sambil menunduk.


"Ngapain malu. Aku udah sering melihatnya bahkan mencicipinya."


Raya langsung memukul tangan Juna. Pipinya tampak merona.


"Oke. Mas aku akan balik badan. Jadi enggak akan bisa melihat. Tapi enggak janji kalau mau ngintip."


"Ih! Mas Juna aku udah kebelet. Mas Juna keluar aja."


"Aku bantu pegang dan balik badan atau pilih aku yang buka celana kamu?"


"Balik badan tapi jangan ngintip," jawab Raya cepat sambil manyun.


Juna pun balik badan sambil senyum-senyum. Raya segera menurunkan celananya lalu duduk di closet. Tak lama terdengar suara agak berisik.


Ceeoossss.


"Lagi goreng tempe Bu?" ledek Juna ketika mendengar suara yang menurutnya seperti suara saat mamanya sedang menggoreng tempe.


Raya dengan cepat menyelesaikan kegiatannya. Memukul pundak Juna karena merasa kesal sekaligus malu.


Juna tertawa dan berbalik untuk menggendong istrinya. Juna masih saja tergelak ketika keluar dari kamar mandi. Sedangkan Raya membenamkan wajahnya di ceruk leher Juna sambil tangannya terus memukuli dada Juna.


"Ada apa?" tanya Jani yang merasa terganggu tidurnya.


"Ada yang habis goreng tempe," jawab Juna lalu meletakan Raya di atas ranjang.


TBC

__ADS_1


Sambung di part selanjutnya ya.... 😍


__ADS_2