
Sudah aku edit ya 😉, silahkan dibaca ulang. Part-nya juga lebih panjang dibanding dengan yang tadi ya
Happy reading 😘
Setelah makan siang bersama, kini Raya, Mira serta Budi sedang berada di gazebo di dekat kolam renang. Hanya bertiga? Ya, karena baik Juna serta kedua orang tuanya sedang memberikan waktu untuk Raya supaya bisa berbicara dengan Mira dan Budi.
Pasti akan banyak yang ingin Mira dan Budi sampaikan setelah kejadian Raya jatuh dari lantai paling atas rumah sakit, juga penjelasan Risma tentang siapa Raya sebenarnya.
"Apa Raya boleh datang saat pernikahan Mbak April nanti?" Raya membuka pembicaraan diantara ketiganya.
Budi menghembuskan nafasnya dengan panjang. Sementara Mira tersenyum hangat pada sang putri.
"Tentu boleh Sayang. Tapi, Bunda minta kamu menemuinya saat mereka selesai ijab kabul."
Raya mengangguk, meski ada rasa nyeri di sepenggal hatinya. Sungguh, Raya sama sekali tidak menginginkan situasi seperti ini. Ia menginginkan suasana seperti dulu saat mereka masih sama-sama sekolah.
Suasana saat mereka bertengkar hanya karena berebut mainan atau sekedar ingin lebih dulu disisir rambutnya oleh sang bunda.
Suasana ketika mereka sama-sama menangis namun seketika bisa kembali tertawa bersama lagi hanya karena dijanjikan akan diajak ke mall.
Raya rasa, hal itu sudah lama sekali. April mulai berubah ketika Raya memasuki bangku SMA. Mereka sedikit merenggang. Sebenarnya hanya April yang menjauh darinya. April juga sering mengatakan kata-kata yang menyakiti Raya. Yang mengatakan bahwa Raya hanyalah anak pungut, anak tanpa ayah, dan masih banyak lagi.
Namun, saat itu Raya tidak pernah menanggapi atau pun diambil hati. Raya pikir, April melakukan semua itu karena rasa emosi di dalam dirinya. Wajar saja, remaja seusia mereka sedang masanya mencari jati diri, sehingga terkadang susah mengontrol emosinya yang menjadikannya sering meledak-ledak.
"Sayang, Ayah sama Bunda minta maaf. Bukan maksud kami untuk menyembunyikan fakta yang ada, tapi kami menunggu waktu yang tepat." Budi mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya secara perlahan.
"Lagi pula saat itu bunda kamu belum siap. Ia terlalu khawatir kamu marah kepada kami karena menyembunyikan semua ini bertahun-tahun."
"Iya, benar Sayang. Tidak ada maksud apa-apa kalau kami merahasiakan ini semua. Kami hanya tidak ingin kamu merasa sedih atau merasa canggung karena tau yang sebenarnya." Mira membenarkan dan mencoba meluruskan.
__ADS_1
"Tapi, perlu kamu tau, Sayang. Hingga detik ini sampai seterusnya, Bunda sama Ayah tetap orang tau kamu. Kami tetap menyayangi Raya, jangan pernah merasa canggung. Bersikaplah seperti biasa sebelum Raya belum tau semuanya," sambung Mira kembali sambil mengerjakan matanya karena sudah ditutupi embun.
Raya kemudian merengkuh Budi dan Mira secara bersama. Walaupun ia telah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung, namun rasa sayang kepada kedua orang tuanya tidaklah berkurang sedikitpun, justru malah semakin bertambah karena Raya tau mereka merawat dan membesarkannya dengan tulus.
"Ayah, Bunda. Terima kasih karena sudah sayang sama Raya. Mungkin kalau enggak ada Ayah sama Bunda, Raya enggak tau akan seperti apa . Maafin Raya. Raya udah bikin Mbak April sakit hati karena kehadiran Raya. Bahkan Raya sampai menikahi pria yang seharusnya menjadi suami Mbak April," ucapnya terbata sambil menahan isak tangisnya.
"Ssstt. Enggak Sayang, kamu enggak salah. Memang sudah benar kalau Juna itu menjadi suami kamu," jawab Mira sambil menciumi puncak kepala Raya, yang tentunya air mata Mira pun seolah tak bisa berhenti untuk mengalir.
Budi menekan sudut matanya yang sudah mengeluarkan bulir bening.
"Sejak awal, memang seharusnya Juna menikah dengan kamu Nak," ucap Budi disela tangisan para wanita di dalam dekapannya.
Raya mengurai pelukannya. "Maksud Ayah?" tanyanya penasaran.
Budi pun mulai menceritakan kepada Raya bahwa selain meminta untuk menjaga Raya, Arini juga memintanya untuk menjodohkan dengan Juna. Karena Arini yakin bawa Juna kelak pasti akan menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.
Arini melakukan itu, karena ia melihat siapa orang tua Juna. Ia percaya bahwa Risma dan Anwar mampu mendidik putranya untuk menjadi laki-laki sejati yang tidak akan menyakiti hati perempuan, apalagi perempuan itu adalah istrinya.
Selain humoris, Risma dan Anwar pun terlihat tidak pernah bertengkar yang hebat. Mereka selalu bisa menyikapi permasalahan rumah tangganya dengan kepala dingin.
Maka dari itu baik Budi dan Mira, Risma dan Anwar pun menyetujui permintaan Arini.
"Namun, Allah berkehendak lain Nak. Kami sering melihat April pergi bersama Juna, pulang pun Juna sering sekali mengantar April, lalu ketika Ayah bertanya dengan April, ia pun mengaku bahwa mereka sedang menjalin hubungan. Sampai rencana pernikahan itu, tapi nyatanya Allah lagi-lagi memperlihatkan kebesaran-Nya."
"Sebesar apa pun manusia berencana, namun apabila Allah belum berkehendak, maka tidak akan bisa mewujudkannya. Dan akhirnya kamulah yang menjadi pengantin di hari bahagia itu. Ayah dan Bunda yakin rencana Allah sangatlah lebih indah. Kalian memang berjodoh, jadi Ayah minta jangan merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa mbakmu."
Raya ingat dulu saat masih duduk di bangku kuliah saat semester lima. Mira mengatakan wani padanya bahwa ia sudah dijodohkan dengan anak dari sahabatnya. Namun, saat itu Raya hanya menganggap bahwa itu adalah akal-akalan bundanya saja, supaya ia tetap fokus pada kuliahnya tanpa harus memikirkan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki.
Kenyataannya sekarang, Juna telah menjadi suaminya. Apakah Juna sudah mengetahui bahwa mereka telah dijodohkan? Kalau sudah tau kenapa ia berpacaran dengan April. Ah, namanya juga laki-laki.
__ADS_1
Tapi yang membuat Raya bertanya-tanya kenapa sejak awal menikah Juna selalu bersikap baik, meskipun kadang sikapnya selalu menjengkelkan.
"Lalu bagaimana dengan anak yang sedang dikandung Mbak April?"
"Kamu tenang saja Nak, Ayah yakin itu bukan anak Juna. Bima sendiri sudah mengakuinya. Tapi, setelah anak itu lahir, Ayah tetap akan melakukan test DNA untuk lebih memastikan. Supaya dikemudian hari tidak terjadi kesalahpahaman di antara kalian."
"Halo." Mira tampak sedang menerima panggilan melalui gawainya.
"Apa?! Kabur?!" Mira sampai berteriak untuk memastikan ucapan pria di seberang sana.
Mira segera menghampiri suaminya dengan tergesa setelah sambungan tersebut ia akhiri.
"Ada apa?"tanya Budi yang ikut merasakan cemas mendengar istrinya berteriak dan juga wajahnya yang sedikit memucat.
"April. April kabur."
"Astagfirullah."
"Astagfirullah, ada apa lagi itu anak? Bukannya ia sudah setuju untuk menikah dengan Bima minggu depan?"
"Sudahlah Yah. Yang kita lakukan saat ini adalah segera mencarinya."
"Sayang, Bunda pamit dulu yah. Kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan. Bunda harap semoga secepatnya kamu hamil lagi."
Raya mencium tangan Mira lalu memeluknya sebentar. "Terima kasih, hati-hati Bunda."
Budi mengelus rambut putrinya. "jaga diri ya, maaf jika Ayah dan Bunda nantinya lama berkunjung ke sini lagi."
"Iya Ayah, nanti Raya yang akan pulang, jika semuanya sudah pulih."
__ADS_1
Raya mengantarkan Mira dan Budi sampai teras. Raya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan April. Dan secepatnya April bisa ditemukan.
TBC