
Juna melangkah masuk ke rumah, lalu ia berpapasan dengan Nina yang sedang menenteng kantong plastik berisi sampah sayuran yang akan di buangnya.
"Loh, Tuan Juna sudah pulang?" tanya Nina yang sedikit terkejut karena Juna muncul secara tiba-tiba.
"Nggak Mbak. Mau pergi meeting di luar tapi ada berkas yang tertinggal, jadi sekalian diambil," jawab Juna.
Nina hanya membulatkan bibirnya lalu pamit untuk membuang sampah. Namun, baru dua langkah, Juna mengajukan pertanyaan kepadanya sehingga ia menghentikan langkah kakinya.
"Raya tadi berangkat naik apa Mbak?"
"Sepertinya naik taksi Tuan. Tapi tadi katanya order taksinya susah dan lama. Terus Non Raya keluar deh sambil nyari taksi yang lewat," jawab Nina.
"Oke, terima kasih Mbak."
Juna segera menuju ruang kerja papahnya untuk mengambil beberapa berkas sebagai bahan meeting yang tertinggal. Sebenarnya, semua dokumen sudah ia simpan dalam flasdisk tapi kadang ada juga orang yang meminta salinannya langsung.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Juna kembali mengendarai mobilnya menuju tempat meeting yang diadakan di hotel Aston.
***
"Thanks, Wa. kalau lu nggak ada mungkin gue nggak jadi berangkat," ucap Raya sambil menyerahkan helm yang baru saja dilepasnya kepada Dewa.
"Sama-sama. Kalau lu butuh batuan, hubungi gue aja. Gue pasti siap antar lu ke mana pun," jawab Dewa.
"Memangnya lu nggak ada kerjaan apa?"
"Ada. Tapi kalo lu yang minta, gue nggak bisa nolak."
Raya hanya tersenyum menanggapi jawaban Dewa. Ia mengucapkan terima kasih sekali lagi lalu segera masuk ke dalam depot.
"Diantar Mas Juna?" tanya Ana tiba-tiba setelah Raya duduk di kursinya.
"Astagfirullah, Mbak Ana bikin kaget aja," ucap Raya sambil mengelus dadanya.
"Maaf Kak," sesalnya sambil terkekeh.
"Oh iya Kak. Siang nanti pengiriman pohon kelengkeng matalada, jambu kristal, sama buah tin."
"Ada berapa totalnya?" tanya Raya.
Ana langsung menyerahkan sebuah tab yang dijadikan alat untuk menghitung pemasukan dan pengeluaran yang ada di depot.
Raya langsung memeriksanya, setelah membacanya kepalanya langsung manggut-manggut.
"Banyak juga ya, Mbak."
"Iya Kak. Tapi tenang, halaman belakang sudah dirapikan. Semoga saja muat menampung tanaman yang datang nanti," ucap Ana.
"Kalau nggak muat, taruh di teras saja dulu Mbak."
__ADS_1
"Siip." Ana kemudian mengacungkan jempolnya.
Raya dan yang lainnya mulai hanyut dalam pekerjaan masing-masing. Raya mulai memilah-milah tanaman yang masih layak dijual atau tidak. Karena biasanya ada beberapa tanaman yang kalau dipajang terlalu lama akan layu. Padahal penyiraman dan pemupukan dilakukan secara berkala.
Setelah memilah tanaman, kini ia dibantu karyawan laki-laki, memindahkan beberapa tanaman dalam pot yang besar untuk ia tanam langsung di tanah di halaman belakang depot.
Ia juga mulai mengecek tanaman buah yang baru saja datang. Ia langsung mengganti plastik dan pupuknya yang dibantu oleh yang lainnya kecuali Ana. Ana ia tugaskan untuk berjaga di depan, karena biasanya ada pembeli yang hanya membeli bunga atau tanaman hias yang tidak perlu melihat ke halaman belakang.
"Ka Raya, ada yang nyari," ucap Ana yang melongokan kepalanya lewat pintu.
"Siapa?" tanya Raya.
"Biar langsung saya temui saja," ucap orang yang mencari Raya.
Karena merasa tidak asing dengan suaranya, Raya pun menoleh ke arah Dewa. Ya, ternyata yang mencarinya adalah Dewa.
"Ada apa Wa."
"Gue mau pesan buket bunga buat wisuda keponakan gue Ya."
"Tinggal bilang aja ke Mbak Ana," jawab Raya sambil mencuci tangannya. Setelah bersih, ia melapnya dengan kain lap yang menggantung kemudian menghampiri Dewa.
"Udah bilang kan ke Mbak Ana?"
"Udah si, tapi takut lupa jadi gue bilang langsung ke elu."
Raya terkekeh. "Mbak Ana udah biasa menerima pesanan ribuan buket, Insya Allah dia amanah, nggak akan lupa."
"Sudah mau pulang?" tanya Dewa yang melihat Raya yang sedang siap-siap.
"Iya, kenapa? Mau nganterin gue?" tanya Raya bercanda.
"Kalau boleh."
Raya menoleh ke arah Dewa. "Bercanda Wa," ucapnya sambil terkekeh.
"Gue nggak keberatan kok. Lagian searah juga kan? Eh, tapi emangnya laki lu nggak jemput?"
"Mas Juna lagi banyak kerjaan. Tadi dia pesan pulang terlambat."
"Yuk," ajak Dewa ketika Raya sudah berpamitan dengan Ana dan karyawan yang lain.
"Beneran nggak usah Wa. Gue udah pesan ojol."
"Batalin aja Ya. Lagian mending sama gue, gratis," kelakarnya.
Raya tertawa, lalu melihat ponselnya untuk mengecek posisi driver yang ia pesan. Entah kebetulan atau apa, sang driver membatalkan pesanan karena ia sakit perut dan harus segera ke toilet.
"Kayaknya tawaran lu berguna juga. Drivernya batalin, kebelet katanya."
__ADS_1
"Tuh, kan. Ya udah ayok. Nih pake helmnya." Dewa menyodorkan helm kepada Raya.
Motor yang Dewa kendarai segera melesat meninggalkan depot tanaman milik Raya. Seperti kejadian saat Raya berangkat tadi, kini saat pulang pun ada seseorang yang merasa kecewa sekaligus bergemuruh dadanya melihat istrinya telah pulang. Terlebih, Raya pulang bersama Dewa, orang yang sama yang mengantar Raya tadi pagi.
Tangan Juna terkepal, lalu meninju setir mobil dengan cukup keras.
"Brengsek!"
Ia mencengkeram setir dengan kuat. Lalu ia memutuskan untuk menyusul Raya. Juna berhasil menemukan Raya, ia sengaja mengarahkan mobilnya sejajar dengan motor yang Raya naiki.
Rahangnya mengeras ketika melihat Raya terlihat dekat dengan Dewa, bahkan Raya tertawa lepas sambil memukul pundak Dewa berkali-kali.
Darahnya semakin mendidih ketika di lampu merah, Raya dengan asiknya mengobrol sambil tertawa dengan Dewa bahkan Raya sampai tidak menyadari mobil suaminya ada di samping kanannya.
Saat lampu hijau menyala, Juna dengan sengaja membunyikan klakson secara kencang sehingga menimbulkan bising.
"Cepat Dewa, sepertinya ada yang tidak sabar," ucap Raya seraya menepuk pundak Dewa.
Motor yang Dewa kendarai telah berhenti tepat di depan pintu utama. Raya segera turun dan melepas helm lalu memberikannya kepada Dewa.
"Thank's Wa, untuk hari ini," ucap Raya sambil menepuk bahu Dewa.
"Tidak seberapa. Setiap hari jadi tukang ojek lu, gue sih mau aja."
Terdengar suara deru mesin mobil yang menghampiri Raya. Raya serta Dewa menoleh. Raya membulatkan matanya.
"Mas Juna?"
"Gue pulang ya," pamit Dewa pada Raya. Lalu ia melajukan motornya, membunyikan klakson ketika melewati Juna.
Raya mengambil tangan suaminya untuk diciumnya. "Katanya Mas Juna mau lembur, kok udah pulang. Nggak jadi lemburnya?" tanya Raya sambil mengambil alih tas yang ada di tangan Juna.
"Ya." Juna hanya menjawabnya dengan singkat. Ia sedang malas berbicara kepada Raya, setelah apa yang ia lihat saat di jalan tadi.
Juna memang mengatakan pada Raya bahwa ia akan terlambat pulang sehingga ia tidak bisa menjemputnya. Namun, itu semua hanya alasan Juna saja. Ia ingin memberikan kejutan kepada Raya, tetapi nyatanya justru ia yang terkejut. Dua kali dalam waktu satu hari ia telah kalah cepat.
Jika tidak mengingat Raya yang masih harus terjaga pikirannya, mungkin saja ia sudah menghajar habis orang yang mengatasnamakan sahabat istrinya itu. Mereka sama-sama pria. Sudah pasti Juna tau bahwa Dewa bukan hanya menganggap Raya sebagai sahabat. Dewa menginginkan hubungan lebih dari sekedar sahabat.
Raya merasa bingung, karena tidak biasanya Juna lebih banyak terdiam. Tapi Raya memakluminya, ia menyadari bahwa suaminya banyak pekerjaan, jadi mungkin suaminya lelah karena urusan pekerjaan.
"Raya siapkan air untuk mandi ya," ucap Raya setelah menaruh tas miliknya dan tas kerja Juna di atas meja.
Namun, belum sempat Raya berbalik badan ia sudah lebih dulu terpekik karena tiba-tiba tubuhnya melayang.
"Mandi bersama," ucap Juna dengan nada tanpa penolakan.
TBC
Heeemmm, ada yang cemburu nih, panas banget kayaknya sampai mendidih gitu darahnya ðĪŠðĪĢðĪĢ
__ADS_1
Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya ya, sampai jumpa di part selanjutnya ð Terima kasih ððð