
Raya tidur dengan memunggungi Juna. Sebenarnya setiap hari pun demikian, mereka tidur dengan saling memberi punggung dan tak lupa ada guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas. Namun kali ini Juna menyingkirkan guling itu, memindahkannya ke sisi tempat tidur. Bergerak mendekati istrinya yang ia yakin belum tertidur. Sengaja Juna mulai mendekap erat tubuh ramping wanita cantik di depannya.
"Maaf ... maaf karena belum bisa meyakinkan perasaan ini. Aku mohon, beri aku waktu," bisiknya lirih di telinga Raya.
Raya yang memang belum tertidur, hanya memejamkan mata. Merasa dadanya semakin bergemuruh. Ia bergeming. Biasanya ia akan protes atau langsung menendang Juna apabila sedikit saja Juna melewati batas tempat tidurnya. Kali ini, ia biarkan suaminya mendekapnya erat, sebab ia pun sama, masih meraba-raba perasaannya.
Saat tiba di unit tadi, Juna mengajak Raya untuk berbicara. Juna menjelaskan bahwa ia tidak berbohong. Bahwa memang benar ada dinas luar yang mengharuskannya untuk berangkat ke Sukabumi. Namun, saat masih dalam perjalanan ia mendapat telepon dari asisten April yang mengatakan mereka sudah tiba di bandara Soekarno Hatta. Juna pun sempat terkejut, pasalnya yang ia tahu April terikat kontrak kerja selama satu tahun di Perancis.
Sang asisten model cantik itu meminta Juna untuk menjemput mereka atas permintaan April. Ia mengatakan April sangat lemas karena perjalanan yang lama dan juga keadaannya yang sedang tidak sehat. Juna sempat menolak, mengatakan bahwa dirinya kini sedang dalam perjalanan ke luar kota dan Juna meminta sang asisten yang ia ketahui bernama Bima untuk segera membawa April ke rumah sakit. Sang asisten pun menyetujui, tetapi April menolak, ia tetap ingin Juna yang menjemput dan mengatakan akan bunuh diri apabila Juna tidak menurutinya. Alhasil Juna meminta Arya--- sang asisten untuk menggantikannya.
***
Pagi harinya Raya bangun lebih dulu dari sang suami. Raya sedikit terkejut melihat tangan Juna masih setia melingkar di perutnya. Itu tandanya semalam mereka benar-benar tidur bersama tanpa adanya guling pembatas dengan Juna yang memeluknya erat.
"Apakah karena pelukan ini, sehingga aku bisa tertidur dengan nyenyak?" gumam Raya dalam hati.
Semenjak menikah Raya jarang bahkan tidak pernah tertidur lelap. Entah karena sikap waspada ya atau apa, Raya juga tidak mengerti. Sedangkan semalam ia merasa nyaman dan tertidur nyenyak sekali, sehingga saat bangun seperti sekarang terasa segar.
Perlahan Raya mencoba menyingkirkan tangan Juna. Namun, bukannya terlepas tangan itu makin mempererat melingkar di pinggang Raya.
"Sebentar Ray. Please," bisik Juna.
"Bangun sudah subuh Mas! Mas harusnya kasih yang baik."
"Begini jauh lebih baik," ucap Juna sambil menyeringai, sedangkan matanya masih terpejam.
"Bangun! atau mau kena sikut lagi?" ancam Raya.
"Tapi nanti lanjut lagi ya?" pintu Juna sambil melepaskan pelukannya.
Raya segera bangun dari tidurnya lalu meraih guling dan melemparnya ke Juna. "Lanjut nih sama guling." Melangkah cepat ke kamar mandi meninggalkan Juna yang senyum-senyum sendiri.
Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah. Usai sholat, sudah menjadi kebiasaan Juna menyodorkan punggung tangan kanannya pada Raya. Raya menerima tangan itu lalu menciumnya. Mereka memanjatkan doa masing-masing. Namun, harapan dalam doa mereka sama. Di luar mendoakan kedua orang tua dan meminta kesehatan serta usia yang berkah, mereka juga bermunajat semoga pernikahan yang mereka jalani merupakan pernikahan yang pertama dan terakhir.
Usai sarapan, ponsel Raya berdering di atas meja makan. Juna yang masih berada di sana melihat siapa nama yang memanggil. Setelah membaca nama yang tertera di layar, ia segera menyerahkan ponsel itu pada sang pemilik yang sedang mencuci piring.
"Bunda," ucap Juna menyodorkan benda pipih itu ke hadapan Raya.
Raya segera membasuh tangannya lalu mengeringkan dengan kain lap, kemudian menerima benda pipih itu dan segera menggeser layar.
"Assalamualaikum, ada apa Bunda?"
"Raya, apa Juna belum berangkat kerja?" tanya Bunda dengan nada yang panik.
__ADS_1
"Belum, apa terjadi sesuatu?"
"Apa bisa kalian ke rumah sakit Harapan sekarang?"
"Bunda tunggu saja. Kita akan segera berangkat." Raya memutus sambungan telpon. Ia menghampiri Juna yang ternyata sedang menggantikannya mencuci piring, karena Nina sedang pergi belanja ke supermarket, sehingga ia membantu Raya dengan mencuci piring yang kotor.
"Mas, Bunda menginginkan kita datang ke rumah sakit Harapan sekarang," ucap Raya pada Juna yang sudah selesai melakukan tugasnya.
"Ada apa?"
"Bunda enggak beritahu, kalau menurutku ada hubungannya dengan Mbak April."
Juna membuang napasnya kasar. Ia harus berhadapan dengan orang yang keras kepala lagi.
"Ok." Hanya kata itu yang bisa keluarkan dari mulutnya.
Tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang rawat April. Mira tadi memberitahu bahwa April di rawat di ruang Flamboyan nomor lima. Mereka menyusuri lorong rumah sakit dan tiba di depan kamar yang tertera tulisan Flamboyan 5.
Raya segera membuka pintu berwarna biru telur asin itu. Dua orang paruh baya yang ada di dalam menoleh ke arahnya.
"Raya, Juna," sapa Mira lalu menghampiri keduanya dan mengajak untuk duduk di sofa yang diikuti oleh suaminya.
"Bagaimana keadaan Mbak April Bunda?" tanya Raya cemas.
"Sakit apa kata dokter?" sekarang giliran Juna yang bertanya.
"Dokter hanya mengatakan supaya April istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi. Tidak memberitahu penyakitnya," jawab Mira yang tampak lingkaran hitam di sekitar matanya akibat tidak cukup tidur.
"Ayah tau permintaan Ayah mungkin tidaklah baik, tapi Ayah harap Juna mau menemani April di rumah sakit hingga April pulih. Karena semalaman April mengigau selalu menyebut nama kamu Jun," ucap pria paruh baya yang duduk di depan Juna.
Baik Juna maupun Raya sama-sama terkejut, tetapi Raya dengan dengan cepat menutupi keterkejutannya. Juna dan Raya saling menoleh.
"Maaf Yah, Juna enggak bisa. Ada banyak pekerjaan yang menanti Juna di siang hari, sedangkan malam harinya ada seseorang yang lebih pantas dan berhak untuk Juna temani."
"Yang Nak Juna bilang itu memang benar. Kami hanya meminta sedikit saja Nak Juna meluangkan waktunya sebelum berangkat dan setelah pulang kerja, Nak Juna mampir dulu untuk menemani April."
Sesungguhnya pria paruh baya itu tidak membenarkan permintaannya kepada Juna, karena memang Juna sudah menjadi suami Raya, tetapi sebagai ayah tentu ia tidak akan tega melihat putrinya dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.
Juna meraup kasar wajahnya. Ia menoleh ke arah istrinya untuk meminta pendapat. Raya yang tau maksud suaminya pun segera mengutarakan pendapatnya.
"A--aku tidak keberatan dengan permintaan ayah, tetapi aku beri waktu tiga puluh menit. Ya, Mas Juna hanya bisa menemani Mbak April tiga puluh menit baik sebelum atau setelah pulang kerja, bagaimana?"
Semua setuju dengan pendapat Raya, tetapi tidak dengan Juna. Ia langsung bangkit dari duduknya dan ke luar ruangan.
__ADS_1
"Biar Raya yang akan membujuk Mas Juna," ucap Raya meyakinkan kedua orang tuanya lalu segera menyusul suaminya.
Raya berusaha mengejar Juna, menyamakan langkah panjang pria yang sayangnya sangat tampan pagi ini di mata Raya.
"Mas, aku mohon demi kebaikan semua," ucap Raya saat sudah ada di samping suaminya.
Juna segera menarik tangan Raya untuk mengikutinya. Setelah sampai di tempat parkir, Juna meminta Raya untuk masuk mobilnya, ia sendiri pun segera duduk di kursi pengemudi.
Mesin mobil sudah dihidupkan, tetapi Juna masih enggan untuk menjalankannya.
"Mas mau ya, hanya sampai Mbak April pulih. Bukannya harusnya Mas Juna senang, bisa menemani Mbak April, setelah dua bulan tidak bertemu," ucap Raya.
"Ray, saya tanya sama kamu. Apa pantas seorang suami menemani wanita lain sedangkan istrinya menunggunya di rumah."
"Siapa juga yang nungguin Mas Juna," ucapnya lirih namun tetap dapat ditangkap oleh pendengaran Juna.
Juna menghela panjang napasnya. "Ok! aku akan turuti permintaan kamu untuk menemani April, tetapi aku punya satu syarat," ucap Juna.
"Syarat? syarat apa?"
Juna tersenyum penuh kemenangan. "Jadilah milikku seutuhnya."
Mata Raya langsung membulat, jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tau pasti maksud dari perkataan suaminya itu apa.
"Haruskah aku menukarnya demi Mbak April?" gumamnya dalam hati.
TBC
Halo gaes....
Harusnya part ini di update tadi malam, tapi aku ketiduran jadi baru up pagi ini
Maafkan othor yang pemalas dan tukang tidur ini 🙏🙏🙏
Semoga kalian tetap suka dan mengikuti cerita ini
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, vote dan hadiah yang banyak ya
Klik juga favorit supaya kalian tau kalau cerita ini update
Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏🙏🙏
Sampai jumpa di part selanjutnya
__ADS_1
Terima kasih 😍 😘 😘 😍