Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
DINGIN-DINGIN EMPUK


__ADS_3

Juna melihat Rolex di pergelangan tangan kirinya. Ia menoleh ke samping dan berbicara pada orang kepercayaan papanya yang umurnya sedikit lebih muda dari papanya.


"Pak Indra, bagaimana kalau kita cari tempat makan terlebih dahulu. Sudah masuk jam makan siang juga," ucapnya sambil memperlihatkan penunjuk waktu di tangan kirinya.


"Tapi apa tidak sebaiknya kita makan siang di hotel tempat kita menginap Pak. Mungkin Pak Juna ingin istirahat dulu," saran pak Indra.


"Tidak. Kita cari tempat makan sekitar sini saja. Setelah itu kita langsung menuju APG 2 untuk sidak," perintahnya.


"Siap Pak." Pak Indra lalu mengarahkan supir untuk menuju tempat makan yang cukup terkenal di wilayah Sukabumi. Selain terkenal dengan masakannya yang mampu menggoyangkan lidah hingga meneteskan air liur, tempat makan itu bersuasana asri khas pedesaan yang sangat tepat untuk kuliner sekaligus refreshing.


Mereka telah sampai di tempat makan yang Pa Indra sarankan. Satu hal yang terlintas di pikiran Juna saat masuk ke resto itu adalah sangat luas. Dan yang paling asik, para pengunjung bisa menikmati aneka makanan sambil duduk di tepi danau. Serasa piknik 'kan?


Namun Juna lebih memilih makan lesehan di dalam saung-saung tradisional. Posisi saung yang berada di atas kolam ikan, membuatnya betah duduk sambil memberi makan ikan-ikan.


Setelah memesan makanan yang diinginkan, Juna memotret dirinya dengan tujuan untuk memberi kabar pada Raya bahwa dirinya telah sampai di Sukabumi dengan selamat. Juna juga tidak ingin Raya menduga dirinya hanya mengada-ada terkait kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya dengan bodohnya meninggalkan tanggung jawabnya hanya untuk menjemput April di bandara yang asistennya bilang saat itu bahwa April sedang sakit.


Maka ia mengirimkan foto yang telah diambilnya, tak lupa memberi kabar bahwa dirinya telah sampai. Juna pikir pesannya tidak akan dibalas oleh sang istri, namun hanya dalam hitungan beberapa detik, ia sudah mendapatkan notif balasan pesan dari Raya. Juna tertawa membaca balasan pesan sang istri, ia pun dengan jahil menggoda Raya. Namun setelah ditunggu beberapa menit pesannya hanya dibaca oleh sang istri tanpa membalasnya.


Juna memilih memberi makan ikan koi dengan makanan yang telah disediakan oleh pihak resto. Kurang lebih lima belas menit, makanan yang ia pesan telah datang dan siap untuk disantap. Juna merasa tentram dan damai dengan suasana pedesaan resto ini. timbul ide di otaknya, bahwa suatu saat ia akan membawa Raya berkeliling mengunjungi desa-desa yang cantik dan indah di setiap pulau di Indonesia. Hitung-hitung bulan madu 'kan?


Sembari menyuap makanannya, matanya mengedar ke seluruh penjuru resto. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada satu titik pemandangan yang membuatnya sedikit tidak percaya. Bagaimana mungkin April berada di tempat yang sama dengannya. Apakah April diam-diam mengikutinya? Tapi untuk apa April melakukan itu.


"Ya, untuk apa lagi kalau bukan untuk menggoda mu Juna," kata suara hatinya.


Ah ... Juna jadi teringat saat makan malam di rumah mertuanya. Apa yang April lakukan pada dirinya dan Raya membuat ia semakin mantap untuk melupakan wanita yang pernah mengisi sebagian ruang di hatinya.


Juna segera menyelesaikan makan siangnya. Ia juga meminta pada Pak Indra dan supirnya untuk melakukan hal yang sama dengannya. Setelah selesai, mereka segera meninggalkan resto tersebut untuk menuju APG 2.


Sesampainya Juna di APG 2, ia segera menemui Andre selaku pimpinan teratas di APG 2. Tentu saja kedatangan Juna dan Pak Indra membuat syok serta kalang kabut para staff di sana. Setelah menyampaikan tujuan dari kunjungannya, Juna segera melakukan audit yang pertama yaitu mengenai data.


Juna mulai mengecek laporan-laporan dari team finance, lalu menuju ke team marketing dan bisnis. Kemudian dilanjutkan ke bagian purchasing, warehouse, kemudian produksi dan yang terakhir ke bagian quality dan team laboratory.


Untuk mengenai data Juna rasa semuanya aman, hanya ia meminta salinan laporan produksi dan juga ekspor selama satu tahun. Untuk masalah claim yang sudah dua kali terjadi, Juna menegaskan agar lebih teliti terutama mengenai aksesoris yang ada pada sepatu yang akan di ekspor. Jangan sampai ada yang terlewat sehingga membuat perusahaannya mendapatkan claim yang sudah pasti sangat merugikan.


"Apa kita akan langsung melihat proses pemotretan peluncuran sepatu yang terbaru Pak?" tanya Pak Indra pada Juna setelah mereka menyelesaikan audit.


"Ya, kita lihat sekarang. Dan setelah ini saya ingin langsung kembali ke Jakarta," ucap Juna pada Pak Indra.


"Lho. Bapak tidak jadi menginap? Bukannya besok kita ada lagi tinjauan seperti apa yang tadi Bapak minta dalam laporan selama satu tahun."


"Kita bahas di Jakarta saja Pak."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Jadi untuk hotel saya batalkan saja?"


"Kalau Bapak ingin menginap tidak masalah, saya akan pulang sendiri," jawab Juna.


"Tidak Pak. Kalau Bapak pulang hari ini saya pun ikut pulang."


Juna mengangguk lalu menuju ruangan yang biasa digunakan untuk sesi pemotretan. Saat memasuki ruangan itu, Juna tercengang melihat model yang bekerjasama denga perusahannya. Ia lalu membalikan badan dan bertanya pada Andre yang sedari audit mengikuti Juna.


"Apa kita bekerjasama dengan April Pradipta?" tanya Juna.


Andre mengangguk. "Betul Pak. Karena menurut saya selain cocok, yang saya dengar Bapak dekat dengannya."


Juna menggeram. "Pak, kita pulang sekarang!" ucapnya pada Indra sambil berjalan meninggalkan dua orang yang saling memandang penuh keheranan.


Baik Andre maupun Indra segera menyusul langkah Juna. Juna dan Indra segera kembali ke Jakarta. Tak lupa ia mampir ke pusat jajanan guna membeli oleh-oleh untuk sang istri, mamahnya juga mertuanya.


Juna tiba di unit sekitar jam sebelas malam, karena sebelumnya ia mampir dulu ke rumah orang tuanya dan juga sang mertua untuk memberikan oleh-oleh.


Saat masuk ke unit, suasana sudah gelap. Sudah pasti baik sang istri maupun sang asisten rumah tangga nya sudah tidur. Ia membuka kamar, dan benar saja Raya nampaknya sudah tertidur pulas. Juna memutuskan untuk membersihkan badannya terlebih dulu sekalian berganti pakaian. Setelahnya ia mulai bergabung dengan istrinya.


Juna sengaja menempel pada Raya yang tidur membelakangi nya. Juna merapikan rambut Raya yang sedikit menutupi wajahnya. Sambil memeluk, ia pun mengelus rambut panjang istrinya. Nampaknya perbuatan Juna mengusik tidur lelap sang istri.


Seketika kedua mata Raya yang tadinya terpejam, sekarang membuka dengan lebar. Ia merasakan hembusan napas hangat yang mengenai tengkuknya. Raya lalu menoleh dan mendapatkan senyum manis yang sudah dirindukannya padahal baru beberapa jam tidak berjumpa. Tadinya raya ingin membalas senyum itu dengan senyum yang tak kalah manisnya. Namun, ia teringat dengan story sang kakak yang ia lihat siang tadi.


"Kok udah pulang?" tanya Raya yang masih mempertahankan membelakangi Juna.


"Kangen," jawab Juna seenaknya di telinga Raya. Raya mendengus dengan sebal. Lalu ia memekik karena Juna tiba-tiba memeluknya. Raya lalu melepaskan pelukan suaminya.


"Jangan sok akrab deh," ujar Raya lalu duduk bersandar di kepala ranjang yang diikuti oleh Juna. "Mas Juna bukannya mau menginap dua hari di Sukabumi?"


"Rencana awal memang begitu. Tapi karena aku kangen sama istriku yang ...." Juna nampak memindai Raya. "Yah, bisa dibilang lumayan manis dan juga empuk," jawabnya yang langsung dihadiahi cubitan yang cukup keras di perutnya.


"Awshh! galak banget. Mau ngerasain yang dingin-dingin empuk kenyal gitu enggak?" tanya Juna sambil menaikturunkan alisnya.


Raya menatap Juna dengan kebingungan, namun karena melihat Juna yang menaikturunkan alisnya, timbul rasa curiga sekaligus waspada. Ia lalu melihat ke bawah ke arah kaki Juna, namun ia melihat ada sesuatu yang terbangun dari bagian tubuh Juna. Seketika ia pun menjerit.


"Aaaaaaa! Dasar mesum! teriaknya sambil melempar bantal ke arah Juna.


Juna bingung kenapa istrinya malah histeris gitu. "Hey, kenapa teriak gitu sih, padahal aku belum menunjukkan yang dingin-dingin empuk dan kenyal itu. Gimana? mau enggak?"


"Ogah! Dasar mesum!" Raya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Yakin? entar nyesel lho kalau aku kasih ke Mbak Nina."


Seketika Raya membuka kedua tangannya lalu memandang suaminya dengan pandangan seolah-olah tak percaya.


"Astagfirullah! Istighfar Mas! Jangan karena aku belum siap terus Mas Juna main kasih ke orang lain. Ingat dosa Mas."


"Dosa? yang ada aku bakalan dapet pahala karena memberikan kenikmatan pada Mbak Nina. Kayaknya Mbak Nina udah lama enggak mendapatkan nya."


"Astagfirullah. Mas!" teriak Raya kesal pada Juna. Ia tak habis pikir kenapa suaminya dengan santainya mengatakan semua itu pada dirinya.


"Apa mungkin selama ini Mas Juna sudah melakukan dosa dengan Mbak Nina?"


"Beneran enggak mau coba? jangan nyesel ya kalau aku kasih ke Mbak Nina."


Tanpa terasa Raya meneteskan air matanya. Juna yang melihat istrinya menangis pun langsung mendekatinya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Ssttt, Hei, jangan nangis gitu. Masih ada kok, aku simpan di kulkas untuk es krim mochi nya,untuk kue mochi nya masih ada di meja makan. Mbak Nina belum tau kok."


Seketika Raya terbelalak. "Mo-mochi?" tanyanya pada Juna.


"Iya. Emang kamu pikir apa?"


"A-aku pikir ...." Raya lalu menunduk dan melihat ke arah sesuatu yang masih berdiri dengan tegak. Juna pun mengikuti arah pandang istrinya. Seketika ia melotot kemudian ia menutupinya dengan selimut.


"Maaf. Aduh, dia memang dingin-dingin empuk kenyal juga sih, tapi kalau lagi udara dingin begini biasanya dia hangat dan gak kenyal lagi. Yang ada justru keras." Ada jeda sejenak lalu Juan melanjutkan kata-katanya. "Mau nyoba bantu supaya dia kenyal lagi?"


"ENGGAK!"


TBC


Aduh sebenernya yang mesum Raya atau Juna sih?


Jangan lupa dukung aku terus dengan cara like, komen, vote, dan kasih hadiah yang banyak ya


Jangan lupa tekan favorit supaya kalian tau kalau novel ini update


Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏 🙏


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉


Terima kasih 😍 😘 ❤️

__ADS_1


__ADS_2