
Juna beserta Bima mulai melakukan pencarian di stasiun. Ia bertanya kepada petugas yang ada di stasiun dengan menyodorkan foto April. Namun, baik Bima maupun Juna tidak mendapatkan jawaban yang mengarah titik terang ketika bertanya kepada petugas. Namanya juga usaha, siapa tau salah satu diantar mereka ada yang pernah melihat keberadaan April.
"Bagaimana?" tanya Juna kepada Bima setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sebaiknya kita mencari di pemukiman warga, siapa tau April berada di salah satu rumah warga," usul Bima.
Juna pun setuju. Mereka turun dari mobil dan mulai berjalan memasuki pemukiman sekitar stasiun. Bukan pemukiman elit, namun biasa saja. Tapi cukup bersih tidak kumuh seperti beberapa tahun yang lalu.
Juna dan Bima mulai menyelusuri tiap gang,. untuk bertanya kepada setiap warga yang ditemuinya. Siapa tau diantara mereka ada yang pernah melihat April.
Sudah semua gang diantara pemukiman itu mereka telusuri namun tidak ada hasilnya.
"Kita istirahat dulu sekalian cari makan. Lapar nih," keluh Juna.
Bima setuju untuk menunda pencarian. Mereka akan istirahat sekaligus mencari makan masih di sekitar stasiun.
Bima sangat salut dengan Juna. Dia mau turun langsung mencari April, padahal sudah difitnah oleh April. April juga yang menyebabkan Raya terjatuh dari lantai atas gedung rumah sakit, namun tidak ada sedikit pun kebencian yang ditunjukan Juna kepada April atau pun dirinya.
Mereka kini sedang duduk menunggu makanan yang telah dipesannya tadi. Rumah makan Padang lah yang menjadi tujuannya untuk makan siang kali ini.
Mereka memesan berbagai masakan padang yang disajikan. Ada rendang, gulai kepala kakap, dendeng batokok, serta gulai sotong.
Sambil menunggu makanan datang, Juna menghubungi Raya.
"Halo, Assalamualaikum, bagaimana Mas?" tanya Raya penasaran di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam." Juna menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Maaf, belum ada hasil," jawab Juna.
Terdengar Raya menghembuskan nafas dengan berat.
"Enggak apa-apa Mas. Mas Juna mau bantu cari Mbak April saja Raya sudah senang. Terima kasih ya," ucap Raya.
"Iya. Kamu sudah makan?" tanya Juna. Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. "Aku lagi ada di rumah makan padang," sambung Juna kemudian.
"Wah, rumah makan padang?"
"Iya. Kamu mau sesuatu?"
"Em, bawakan aku daun singkong dan sambal hijau saja," jawab Raya.
"Yakin hanya itu?"
"Iya, lagi pula Bunda masak rendang, jadi cukup sambal hijau dan daun singkong rebus sambil menyuap nasi yang sebelumnya menggigit satu sotong yang besar.
"Em, mau deh Mas. Satu aja tapi yang besar ya. Assalamu'alaikum," ucap Raya dengan cepat lalu langsung mematikan panggilan suara itu tanpa menunggu jawaban dari Juna.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Juna lalu tersenyum sendiri sembari memandang layar ponselnya.
Bima yang sedari tadi mendengar obrolan Juna dengan Raya pun tak kuasa menahan ingin bertanya.
"Kamu terlihat bahagia Juna, menikah dengan Raya. Aku jadi ikut senang melihatnya," ucap Bima tulus.
"Alhamdulillah, ternyata Raya tidak seburuk yang dikatakan April dulu. Aku cukup menyesal karena dulu menelan mentah-mentah informasi mengenai Raya dari April."
Bima menjeda suapannya. Ia megambil gelas yang berisi air untuk membasahi tenggorokannya.
"Aku harap, kamu bisa memaafkan April," ucap Bima.
"Sudah aku maafkan sejak lama. Tapi kalau untuk percaya kepadanya butuh waktu yang lama," jawab Juna.
Bima mengangguk paham. Ia mengetahui betapa bencinya April terhadap Raya. Bima pun tau saat April memberikan informasi yang berbeda mengenai Raya kepada Juna. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa, karena rasa cintanya terhadap wanita yang sekarang sedang menghilang tersebut.
Setelah menyelesaikan makan siangnya dan istirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan pencarian.
Saat mereka menuju mobil, tanpa sengaja Bima menjatuhkan foto April yang ia bawa untuk melakukan pencarian.
"Pak! Pak! Ada yang jatuh," seru sang tukang parkir lalu menyerahkan foto itu kepada Bima.
"Terima kasih Pak." Bima memandang foto itu, ia ingin bertanya kepada bapak tukang parkir apakah pernah melihat April, tapi ia sangsi kalau April akan ke tempat ini.
Tanpa Bima duga, ternyata justru Juna yang bertanya kepada bapak tukang parkir tadi. Bapak tukang parkir itu mengamati foto yang diberikan oleh Juna. Lalu tak lama ia tersenyum.
"Oh, ini Mbak Aap bukan?" sang tukang parkir justru bertanya balik kepada Juna.
"Namanya April Pak. Apa Bapak pernah melihatnya?" tanya Juna.
Karena merasa ada sedikit harapan, Bima pun akhirnya mendekati mereka.
"Benar Pak namanya April. Kami sedang mencarinya." Kini Bima menimpali.
"Kalau di tempat saya namanya Aap. Tapi mirip banget sih. Apa mungkin orang yang sama?Soalnya dia baru dua hari tinggal di kampung saya itu," ujar si tukang parkir.
"Bapak bisa bawa kita ke sana?" tanya Bima antusias.
"Bisa sih Pak. Tapi kerjaan saya bagaimana?" Tukang parkir itu enggan meninggalkan pekerjaannya, karena pastinya kalau ditinggalkan ia jadi tidak dapat uang.
Rupanya Juna menangkap maksud si bapak tukang parkir itu.
"Nanti kami ganti berapa pun, kalau yang Bapak takutkan adalah tidak mendapatkan uang karena izin bekerja," ucap Juna.
"Ya sudah Pak, saya izin bos saya dulu."
__ADS_1
Mereka kini menaiki mobil menuju perkampungan tempat Pak Handoyo--bapak tukang parkir itu tinggal. Tempatnya tidak jauh dari rumah makan tadi, hanya saja harus memasuki gang sempit. Sehingga mobil di parkir di pinggir jalan, kemudian mereka berjalan memasuki gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua orang dewasa itu pun yang satu harus berhenti dulu apa bila tak sengaja berpapasan.
Mereka memasuki kawasan rumah susun. Rumah susun yang ditempati Pak Handoyo lumayan bersih dan rapi. Terdiri dari sepuluh lantai dengan dua ratus rumah atau kamar.
Pak Handoyo kemudian langsung menuju ke rumah Mpok Hana. Wanita paruh baya yang menampung April , menurut penuturan Pak Handoko.
Rumah Mpok Hana berada di lantai tujuh. Di rumah susun ini tidak ada lift sehingga mereka harus menaiki tangga untuk mencapai lantai tujuh.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Mpok Hana. Pak Handoyo segera mengetuk pintunya.
"Assalamu'alaikum, Mpok."
Tak lama dari dalam terdengar sahutan seseorang.
"Wa'alaikumsalam."
Pintu itu dibuka dan menampilkan wanita paruh baya yang sederhana dan murah senyum.
"Ada apa Pak Han? Tumben jam segini ada di rumah, memangnya nggak kerja?" tanya Mpok Hana.
"Kerja Mpok, tapi izin dulu. Ini ada tamu yang ingin bertemu Mpok Hana," ujarnya sambil menunjuk Juna dan Bima.
Mereka kemudian masuk dan duduk di ruang tamu yang kecil itu. Bima kemudian menjelaskan tujuan mereka datang ke rumah Mpok Hana.
Mpok Hana pun membenarkan bahwa April ada bersamanya. Ia membawa April pulang bersamanya karena merasa kasihan. Mpok Hana setiap hari berjualan kue di sekitar stasiun. Saat itu ia melihat April yang sedang duduk dengan tatapan kosong. Seketika Mpok Hana teringat anaknya yang telah tiada. Sehingga memutuskan mengajak April untuk tinggal di rumahnya.
"Ap, tolong buatkan minum 3 gelas untuk tamu ya," ujar Mpok Hana dari arah ruang tamu.
"Siap Bu," jawab seseorang yang sangat Bima dan Juan kenali suaranya dari arah dapur.
"Kalau Aap belum ingin ikut kalian pulang, jangan dipaksa ya? Nanti pelan-pelan Ibu akan bujuk dia," ujar Mpok Hana memperingati Juna dan Bima.
Tak lama, orang yang ditunggu-tunggu pun muncul di ruang tamu.
"Ini Bu, teh ...."
"April."
TBC
Mohon maaf karena gak bisa update setiap hari 🙏🙏🙏
Maaf ya, untuk part ini Raya cuma lewat sebagai iklan.
Insya Allah part selanjutnya udah Raya udah tampil lagi kok.
__ADS_1