Pengganti Yang Dinanti

Pengganti Yang Dinanti
FAKTA


__ADS_3

Tujuh orang tampak sedang menikmati makan malam di kediaman Pak Budi yang notabene Ayah dari April dan Raya. Makan malam yang diselingi dengan candaan yang dilontarkan kepada pasangan pengantin baru tentu saja membuat suasana menjadi ramai dan hangat.


Namun Raya juga merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ayahnya.


"Sudah isi belum Nak?" tanya Budi kepada Raya yang untungnya tidak dalam keadaan mengunyah atau sedang minum, sehingga tidak membuat dirinya tersedak.


Meski terkesiap mendengar pertanyaan ayahnya, tapi ia langsung bisa menguasai diri. Menormalkan air mukanya, kembali tenang dan bisa menjawab dengan tenang.


"Belum Yah, doakan semoga segera diberi kepercayaan," ucapnya sambil tersenyum menatap ayahnya, kemudian menunduk tak hanya untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda lantaran pertanyaan dari sang ayah tadi tapi juga guna menutupi wajahnya yang memerah.


Semua orang yang tengah menyantap sajian makan malam hanya bisa tersenyum dengan hati yang gundah.


"Ayah pengen banget punya cucu?" tanya April tiba-tiba.


"Sebentar lagi juga Ayah akan punya cucu," sambungnya kemudian.


Wajah Mira sudah sangat pias. Ia memegang tangan April dengan menggelengkan kepala, pertanda untuk menghentikan ocehannya.


"Ingin itu pasti, iya enggak Pak Anwar," ucapnya sambil melihat ke arah ayah Juna.


"Tapi Ayah juga enggak memaksa Raya untuk segera hamil. Semua kan tergantung Allah. Kalau sudah waktunya pasti akan diberikan," ucapnya sambil tersenyum ke arah Raya.


Raya yang mendengarkan obrolan kakak dan ayahnya hanya bisa menahan napasnya. Sedangkan Juna sudah mengetatkan rahangnya dan menatap tajam ke arah April.


Setelah makan malam mereka duduk di ruang keluarga guna untuk membicarakan tentang kehamilan April.


"Raya di mana Juna? April juga katanya mau gosok gigi tapi lama banget" ucap Mira karena tidak melihat keberadaan kedua anaknya.


"Tadi lagi di kamar, lagi sakit perut. Juna panggil dulu deh."


Juna beranjak meninggalkan para orang tua untuk menuju kamar istrinya. Juna membuka pintu kamar kemudian masuk untuk menemui Raya. Namun, orang yang dicari tidak ada di kamarnya. Kamar mandi dan balkon yang menjadi tempat favorit Raya pun kosong.


"Kemana itu anak?"


Juna kemudian keluar kamar. Ketika ia menutup pintu, Raya keluar dari kamar Ayah dan Bunda dengan wajah sembab.


"Raya."


Juna menghampirinya. "Kamu kenapa? Habis nangis?" tanyanya karena melihat wajah murung istrinya.


"Enggak Mas. Tadi kebetulan ingin lihat foto-foto waktu aku kecil dulu. Terus, pas mau ngambil album foto di atas lemari tenyata banyak debunya, jadi aku bersin-bersin terus."


Juna mengangguk paham. "Udah lihat fotonya?"


Raya mengangguk. "Ya sudah, ayok sudah di tunggu," ajak Juna.


Mereka berjalan ke ruang keluarga yang ternyata April sudah berada di sana. Ketika akan duduk, Raya melirik ke arah April yang ternyata April sedang memandangi nya dan tersenyum miring.


"Oke, karena semua sudah berkumpul, maka Bunda akan langsung saja memberitahu Ayah."


"Ada kabar apa nih, sampai harus kumpul keluarga dengan besan juga," ucap Budi setelah mendengarkan penuturan istrinya.


Baik Anwar maupun Risma hanya bisa tersenyum dengan tangan saling bertautan untuk saling menenangkan.


"Begini Yah, Bunda minta selama Bunda bicara Ayah jangan memotong ucapan Bunda."

__ADS_1


Budi mengangguk. "Serius kayaknya ya?" tanyanya sambil terkekeh.


Mira menghela napasnya dengan panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Bismillah," doanya dalam hati.


"April anak kita hamil Yah. Dan menurut pengakuan putri kita, ia sedang mengandung anak dari menantu kita."


Budi masih bergeming. Namun, beberapa menit kemudian ia tertawa terbahak sampai terpingkal-pingkal yang membuat semua orang yang sedang berkumpul kebingungan.


"Bunda ini mau ngeprank apa salah sebut nama?" tanya Budi masih dengan tertawa.


"Bunda enggak lagi ngeprank atau salah sebut nama Yah. Bunda lagi mode serius ini," ucap Mira kesal.


Budi langsung menghentikan tawanya.


"Maksud Bunda April hamil anak Juna?" tanya Budi memastikan.


Mira mengangguk.


Seketika wajah Budi memerah. "Apa benar yang dikatakan oleh Bunda, April Juna?"


April langsung mengangguk dengan cepat sedangkan Juna menggelang.


"Mana yang benar?!"


"Mas Budi, sebaiknya kita dengar penjelasan dari keduanya, supaya bisa kita telaah. Saya sendiri pun sangat syok saat mendengar berita ini," ucap Anwar mencoba untuk menenangkan pria yang sudah berwajah garang.


"Oke. Jelaskan."


"Maafkan April, Yah. Maaf," ucapnya sambil terisak.


Budi menatap tajam Juna. "Bisa kamu jelaskan?"


"Bisa Yah."


Juna meraup wajahnya terlebih dulu sebelum menjelaskan pada ayah mertuanya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya untuk diberikan pada Budi. Budi menerima ponsel itu lalu melihat adegan demi adegan video yang sedang berputar.


Karena penasaran, Mira mendekati suaminya untuk ikut melihat video yang ada di ponsel tersebut.


Mira berteriak histeris. "Ini enggak mungkin! Ini pasti salah!"


Wajah Budi makin merah saking marahnya. Ia meletakan ponsel Juna di atas meja yang kemudian diambil oleh Risma, karena ia pun penasaran dengan isi video yang diputar.


PLAK!


"Ayah!"


"Ayah!"


Raya dan Mira berteriak saat Budi melemparkan tamparannya yang cukup keras pada April. Wajah April sampai menoleh karena saking kerasnya tamparan sang ayah. Pipinya memerah terdapat bekas tangan ayahnya. Sudut bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah.


Mira memeluk putrinya sambil menangis. "Cukup! Cukup Yah!" teriaknya saat Budi akan kembali melayangkan tangannya.


"Tenang Mas." Anwar mencoba menenangkan Budi. Ia membawa Budi untuk kembali duduk.

__ADS_1


"Maksud Ayah apa?! Harusnya yang Ayah tampar itu Juna bukan aku!"


"Lihat video ini!" Budi melempar ponsel Juna tepat di pangkuannya. "Bisa kamu jelaskan?!"


Wajah April menegang saat melihat video itu. Kemudian ia menangis dan berlutut di depan ayahnya.


"Maafkan April, Yah. April melakukan itu karena April cinta sama Juna, April enggak ingin kehilangan Juna."


"Tetap saja, perbuatan itu sungguh memalukan. Harus ditaruh di mana muka Ayah ini April?!"


Mira menghampiri April dan memeluk putrinya yang masih saja menangis. Ia membawa April untuk duduk di samping Budi.


"Kejadiannya sebelum kalian merencanakan pernikahan bukan?"


Juna dan April sama-sama mengangguk. Budi memijat pelipisnya.


"Kalau kamu cinta dengan Juna, kenapa kamu lebih memilih karirmu dan meninggalkan pesta pernikahan yang akan dimulai?" tanya Budi geram pada putrinya.


"April bingung Yah, April cinta Juna tapi April juga ingin menjadi model terkenal. Dan itu kesempatan untukku."


"April, boleh Tante tau, kenapa kamu melakukan semua itu kepada Juna? kalau alasan kamu tidak ingin Juna meninggalkan kamu, kenapa kamu tidak minta dinikahi dengan cara baik-baik, tanpa ada acara seperti di video itu." Risma tak habis pikir dengan jalan pikiran April.


"Entahlah Tante. Maafkan April."


"Juna, kamu harus bertanggung jawab. Karena meskipun ini salah April tapi tetap saja bayi yang dikandung April itu anak kamu," ucap Budi menatap Juna yang sedang menggenggam erat tangan Raya.


"Ada yang ingin aku tunjukan lagi," ujar Juna lalu ia menaruh beberapa kertas di atas meja yang langsung di ambil oleh kedua orang tuanya juga mertuanya.


"Apa lagi ini?"


"Itu merupakan rekam medis April saat menjalani kuretase di Paris seminggu sebelum pulang ke Indonesia," jawab Juna.


"Itu artinya April sudah keguguran?" tanya Risma.


"Enggak! Aku enggak pernah keguguran. Ini anak kamu Juna!"


"Ini sudah ada buktinya Nak, kalau kamu keguguran. Bilang sama Bunda kalau kamu sedang tidak hamil kan? atau kamu sekarang hamil tapi dengan orang lain?" tanya Mira tidak percaya, ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Enggak Bund. Itu rekam medis sengaja aku buat supaya bisa membatalkan kontrak. Karena setelah ditimbang-timbang, aku lebih membutuhkan Juna dari pada karirku."


"Kita buktikan saja lewat USG kalau perlu test DNA," ucap Juna yang langsung ditatap tajam oleh April.


TBC


Selamat Tahun Baru 2022, semoga di tahun ini kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kesejahteraan, dilimpahkan Rizki, dan selalu diberkahi oleh Allah SWT. Aamiin


Maaf teman-teman, beberapa hari ini aku tidak update, karena habis sakit kemarin jadi mood nya jelek banget.


Insya Allah mulai hari ini updatenya akan lancar, tapi random ya gak bisa tetap jam tayangnya 🤭😁


Happy reading


Semoga suka


Sampai jumpa di part selanjutnya 👉

__ADS_1


Terima kasih 😘 😍


__ADS_2