
Saat ini Daviena tengah berada di kamarnya, Arsenio kembali mengurung peliharaan manisnya. tetapi, kali ini penjagaan di luar mansion maupun di dalam mansion diperketat, mafia itu tidak ingin peliharaan nya sampai kabur lagi. "Dia Benar-benar mengesalkan, kenapa Dia terus mengurung ku di sini. sekarang aku tidak bisa kabur lagi, penjagaan nya terlalu ketat." ucapnya lesu.
Sebelum mafia itu pergi bekerja, Dia memasangkan sebuah kalung hewan pada leher mulus Daviena, kalung tersebut sudah dipasangkan pelacak. selain itu terukir nama Daviena di sana "Dia juga memasangkan kalung ini, memangnya aku peliharaan nya." gerutunya.
Daviena berusaha melepaskan kalung tersebut, namun semakin Dia ingin melepaskannya, kalung tersebut semakin melingkar kuat di lehernya "Ughh, sepertinya kalung ini bukanlah kalung biasa, ini mencekik leherku. jika terus seperti ini aku tidak akan mungkin bisa bernafas." akhirnya Daviena membiarkan kalung tersebut berada di lehernya.
Dirinya cukup beruntung karena Arsenio tidak kembali memborgol kakinya lagi, Daviena menatap kedua kakinya yang masih terlilit perban, pria itu sudah mengganti perban nya. entah apa yang merasuki diri Arsenio sehingga Dia mau mengobati dan mengganti perban kaki Daviena.
"Haruskah aku meminta bantuannya untuk balas dendam. tapi, ibu mungkin tidak akan setuju kalau aku melakukan sesuatu yang buruk seperti balas dendam." ucapnya.
"Dari pada memikirkan tentang balas dendam, kenapa aku tidak meminta bantuannya saja untuk mengeluarkan ibuku dari rumah bordil itu." Daviena memutuskan akan meminta bantuan Arsenio untuk mengeluarkan ibunya dari tempat terkutuk itu. nanti malam setelah Arsenio pulang, Dia akan mencoba bertanya padanya. "Kuharap Dia mau membantuku." ucapnya.
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah gang sempit yang kumuh. terjadi sedikit keributan di sana, seorang pria paruh baya tengah berargumen dengan seorang pria berpakaian formal, pria paruh baya itu terlihat marah dan kesal sedangkan pria berpakaian formal itu hanya menatapnya datar "Kita sudah tidak memiliki urusan, tapi kenapa kau masih menggangguku!" ucapnya kesal.
"Kau menyembunyikan beberapa informasi penting dariku, sebaiknya kau katakan saja yang sejujurnya, atau aku Benar-benar akan menghabisimu pak tua." tersenyum sinis.
"Aku sudah mengatakan semuanya padamu," ujarnya.
"Kau masih ingin berbohong," pria itu mengarahkan senjatanya kearah si pria paruh baya.
"Jika aku menarik pelatuk ini, kau akan tiada dalam sekejap. jadi, apa kau masih ingin berbohong." menyeringai,
Tubuh pria paruh baya itu mulai bergetar, perlahan tubuhnya merosot ke bawah akibat tidak kuat mendapatkan tekanan pria di depannya, atmosfir di sekitar pria tersebut terlalu kuat baginya.
"B-baiklah, aku akan mengatakan nya... aku melihat beberapa pria berpakaian formal berwarna hitam seperti mu di pelabuhan, mereka sepertinya tengah menunggu sebuah kapal di pelabuhan itu. tidak lama kemudian sebuah kapal asing datang dan menepi di sekitar pelabuhan itu, beberapa awak kapal keluar dan mendorong sebuah kotak berukuran cukup besar. aku tidak tahu apa isi kotak itu, mereka mengangkutnya ke sebuah truk, lalu setelahnya mereka pergi. hanya itu saja yang ku tahu," ucapnya.
"Terimakasih atas informasinya dan... selamat tinggal," ucapnya. DOR!, pria paruh baya itu terbujur kaku dengan bersimbah darah berwarna merah pekat. "Bereskan kekacauan ini," ucapnya pada para bawahnya.
__ADS_1
"Baik, tuan."
Pria yang baru saja membunuh pria paruh baya itu adalah Arsenio, saat ini dirinya tengah memburu beberapa tikus kecil yang berani Bermain-main dengannya, beberapa hari yang lalu telah terjadi penyerangan di mansion utamanya. ya, itu adalah mansion yang ditinggali oleh ayah dan ibunya. semua anak buahnya mati tertembak, namun untung saja saat itu keluarga nya tidak berada di sana.
Arsenio menyelidiki siapa dalang di balik penyerangan itu, ternyata Orang-orang di balik penyerangan itu sedang berusaha menjatuhkannya, itu sebabnya mereka mengincar keluarganya.
"Secanggih apapun senjata kalian, itu tidak akan berguna selama kalian berhadapan dengan ku." ucapnya, pria itu kembali menunjukkan seringaian nya.
...****************...
Waktu terus berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 15 : 46 sore. Daviena tengah tertidur pulas setelah membaca buku, tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan menampilkan seorang pria berparas tampan dan gagah.
Si pria menghampiri gadis yang tengah tertidur pulas, Dia menatapnya dengan lekat. bibir tipisnya terlihat begitu menggoda, tanpa sadar si pria terus menatap bibirnya. perlahan Dia mendekatkan wajahnya ke arah Daviena, lalu, dengan cepat menyambar bibir seksi itu.
Daviena mulai terusik, gadis itu membuka matanya dan melihat sesuatu yang sangat tidak terduga. "Eummhhpp... " Dia mencoba berontak, perlahan gadis itu mulai kekurangan oksigennya, hingga akhirnya si pria melepaskan ciumannya.
"Bibirmu membuatku candu, Daviena." menyeringai.
"J-jangan melakukan hal itu lagi, kau membuatku hampir tidak bisa bernafas," ucapnya sedikit tergagap, Dia masih belum terbiasa melihat seringaian si pria.
"Atas dasar apa, kau memintaku untuk tidak melakukannya lagi. kau itu adalah peliharaan ku." menatap kalung hewan di lehernya Daviena.
Gadis manis itu terlihat kesal, pria itu. Arsenio selalu membuat darahnya mendidih "Kenapa kau pulang dijam segini? bukankah kau biasanya pulang di malam hari?" tanya Daviena.
"Memangnya kenapa jika aku pulang di jam segini? apa kau tak merindukanku?" Arsenio kembali menggoda daviena.
"Untuk apa aku merindukan mu, akan lebih baik jika kau menghilang saja dari muka bumi ini, tuan Arsenio." tersenyum mengejek.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Arsenio merasa kesal, kenapa gadis itu selalu saja mengatakan apapun tanpa berpikir terlebih dahulu, padahal dirinya tahu sedang berhadapan dengan siapa. "Apa kau tidak bisa menjaga lisanmu itu, sekali lagi kau mengatakan hal buruk tentang ku. maka aku akan memotong lidahmu itu," ucapnya memperingati.
Daviena tersentak, gadis manis itu lalu menundukkan kepalanya saat Arsenio menatapnya tajam. "M-maaf, " ucapnya.
"Sebagai seorang gadis, kau itu sangat liar Daviena, belum pernah ada seorangpun yang berani melawanku. apalagi itu seorang wanita, namun kau begitu berani padaku." tangan kanan Arsenio menyentuh pipi kiri Daviena.
"Parasmu yang cantik menjadi daya tarik kaum pria, pantas saja mereka menatapmu penuh nafsu saat berada di Pelelangan."
Daviena hanya diam saat tangan Arsenio menyentuh pipinya, Dia tidak mau sampai membuat pria itu marah. Tiba-tiba dirinya teringat bahwa Dia harus meminta bantuan Arsenio untuk mengeluarkan ibunya dari rumah bordil itu. "T-tuan Arsen,"
"Hmm, ada apa?"
"Apakah anda bisa membantuku?" tanya Daviena.
"Membantu apa?"
"Membantuku mengeluarkan ibuku dari rumah bordil itu, aku tidak mau ibuku terus berada di sana." ucapnya.
"Untuk apa aku membantumu, memangnya apa yang bisa kau berikan padaku jika aku berhasil mengeluarkan ibumu dari sana?" menyeringai.
"Tuan, apa anda sedikit pun tidak memiliki rasa belas kasihan. hanya untuk kali ini saja, tolong bantu aku." ucapnya memohon.
"Aku sama sekali tidak tertarik membantu ibumu, mungkin takdir ibumu memang menjadi seorang Lac*r," tersenyum mengejek.
"Ibuku bukan wanita seperti itu, Dia adalah wanita yang sangat baik, lemah lembut, dan penyayang." ucapnya yang merasa tidak terima dengan hinaan yang di berikan oleh Arsenio.
"Seharusnya aku tidak mengharapkan bantuan nya, karena sampai kapanpun Dia tidak akan mungkin mau membantuku." batinnya.
__ADS_1