Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 23


__ADS_3

Tubuh mungil itu bergetar, Daviena mencoba menahan tangisannya. Dia tidak mau sang ibu sampai mendengarnya dan bertanya padanya. Dia meredam suara tangisannya dengan menutup mulutnya, tanpa disadari Arsenio. gadis itu menggigit bagian dekat ibu jarinya. gigitannya cukup kuat hingga membuat bagian dekat ibu jari itu berdarah.


Tetesan darah yang mulai berjatuhan mengalihkan pandangan Arsenio dari korannya, Dia cukup terkejut melihat tetesan darah itu. "Apa yang kau lakukan! hentikan!" mafia itu berusaha menjauhkan tangan gadis itu dari mulutnya.


"Kenapa kau menggigit tanganmu sendiri!?" ucapnya.


Daviena tidak menjawab, gadis itu masih menangis. Arsenio segera memanggil maid untuk mengambilkan kotak obat. saat diobati, gadis itu hanya diam. pandangannya terus mengarah ke bawah.


"Kau melakukan sesuatu yang bodoh." ucap Arsenio.


"Bukankah, kau suka melihatku tersiksa seperti ini?... dan bukankah ini yang kau mau dariku?" menatap Arsenio.


Daviena Benar-benar begitu rapuh, Arsenio menyadari hal itu. namun Dia tetap menyiksa gadis itu, alasannya tentu saja karena Dia suka jeritan, dan tangisan Daviena. Arsenio sepertinya sudah terlalu gila, hasrat menyiksa dan menghabisi nyawa orang lain Benar-benar membuatnya senang, Dari kecil. sifat, maupun sikap mafia itu tidak pernah berubah. bahkan semenjak Dia tumbuh dewasa, sikap angkuh, sombong, bahkan percaya dirinya semakin kuat.


Terkadang Arsenio tak mampu mengendalikan dirinya sendiri, otaknya tidak bekerja sesuai keinginannya. pikiran tentang membunuh lebih kuat dari waktu ke waktu.


Sejak kecil, pria itu sudah memiliki gejala psikopat. sudah banyak dokter yang berusaha menangani gejalanya, tetapi tak ada satupun dokter yang berhasil mengatasi gejala tersebut. Arsenio terlalu liar, itu yang membuat para dokter sulit untuk mengatasinya.


"Jangan menangis, aku tidak memintamu untuk menangis."


"Tapi, bukankah kau suka melihatku menderita seperti ini!. hanya karena masalah sepele kau ingin menghabisi ibuku!" ucapnya marah.


Bukannya takut, Arsenio malah tersenyum "Kau Benar-benar terlihat sangat manis saat marah," ucapnya.


"Berhenti Bermain-main!" menatap serius.


"Apa kau selalu menganggap nyawa orang lain sebagai mainan mu?!" sambungnya.

__ADS_1


"Tanpa menjawab pun kau pasti sudah tahu jawaban ku kan." ucapnya santai.


"Aku Benar-benar membencimu, Arsenio !" batinnya.


...****************...


Reyana menatap bingung putrinya, sejak sarapan tadi pagi Daviena hanya diam. Dia bahkan tak merespon saat ibunya memanggilnya, raut wajahnya terlihat sedih. Daviena yang biasanya ceria kini berubah menjadi murung. "Ada apa dengan putriku? kenapa Dia terlihat sangat murung." gumamnya. wanita itu juga ikut merasakan kesedihan, walau Dia tidak tahu apa yang membuat putrinya merasa sedih.


Di tempat lain, Arsenio menyeringai puas menatap layar laptopnya yang menampilkan rekaman CCTV mansion-nya. Dia begitu suka melihat Daviena merasa terpuruk. mafia itu akan membuat gadis manis itu jatuh dan semakin jatuh ke dalam jurang yang penuh kekosongan. "Ini lebih baik dari pada menghabisi nyawa orang." ucapnya.


Joseph menghela nafasnya, Dia merasa kasihan pada gadis malang itu yang harus terjebak di dalam jeratan Arsenio. ini bahkan lebih buruk dari pada menghabisi nyawa orang, walaupun Joseph adalah seorang anggota mafia. Dia juga masih memiliki rasa belas kasihan pada orang lain. berbeda dengan Arsenio yang bahkan tidak memiliki hati nurani.


"Tuan, sampai kapan kau mau menjadikannya sebagai mainan?" tanya Joseph.


"Sampai aku bosan, memangnya kenapa?"


"Bukankah, ini terlalu berlebihan. anda sudah Bermain-main dengan nya terlalu lama, apakah anda tidak mau mencari penggantinya?"


"Tapi, bukankah akan lebih baik jika anda mencari penggantinya. masih banyak wanita di luar sana yang lebih sempurna dari gadis itu." ujar Joseph.


Arsenio mengerutkan alisnya "Kenapa kau menginginkan ku mencari penggantinya?, apa kau merasa kasihan padanya... Joseph, apa kau sudah lupa. apa yang akan terjadi pada mainan ku bila aku sudah bosan dengan mereka?" menatap tajam.


"Tuan Arsen akan menghabisinya." jawabnya.


"Jika kau sudah tahu, lalu kenapa kau memintaku mencari penggantinya. bukankah kau merasa kasihan padanya?"


"Menghabisinya lebih cepat tidak akan membuatnya merasakan lebih banyak rasa sakit, sebaliknya. jika anda terus menahannya, gadis itu akan mendapatkan rasa sakit yang lebih menyakitkan dari kematian." ucap Joseph

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Arsenio tertawa, bukankah itu tidak ada bedanya dengan apa yang mafia itu lakukan saat ini "Tuan Arsen, yang kumaksud adalah anda melepaskan nya. setelah anda menemukan penggantinya," sambung Joseph.


Tawa mafia itu terhenti saat Joseph mengatakan sesuatu yang paling tidak disukainya. "Melepaskan nya?, jangan bermimpi terlalu tinggi Joseph. aku tidak akan pernah melepaskan gadis itu!, bukankah kau sudah tahu bahwa aku tidak akan membiarkan satu mangsa pun lolos dariku!" ucapnya marah.


Joseph menunduk, sepertinya Dia telah membuat teman sekaligus Bos nya itu marah. "Maaf tuan Arsen, saya tidak bermaksud membuat anda marah." ucapnya.


"Jangan mengatakan hal apapun yang berkaitan dengan peliharaan ku, kau tidak perlu ikut campur." ucapnya menegaskan.


...****************...


Daviena Benar-benar merasa frustasi, gadis itu tidak memiliki semangat hidup lagi. Arsenio terlalu mengekang nya, Dia seperti seekor burung yang terjebak di dalam sangkar. Benar-benar sangat menyedihkan. Dia menangis saat sendirian, Reyana Benar-benar gelisah melihat putrinya yang bersikap tidak biasanya.


Saat jam makan siang pun Daviena sama sekali tidak menyentuh makanan nya, gadis manis itu bersembunyi di dalam selimutnya. "Sayang, apa kau sakit? kenapa kau terus diam?" tanya wanita itu seraya mengusap kepala sang putri yang terhalang oleh selimut. tidak ada sahutan sama sekali, wanita paruh baya itu kembali menghela nafasnya.


"Ibu taruh makan siangmu di atas meja nakas. jika kau lapar, kau bisa langsung memakannya." Reyana pergi dari kamar anak perempuannya. mungkin saat ini Daviena ingin sendirian.


Sore harinya, Arsenio kembali ke mansion-nya. para maid menyambut kepulangannya " Mana Daviena?" tanya mafia itu pada Reyana.


"Dia, ada di kamarnya tuan. sejak pagi, Daviena sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya. Dia bahkan tidak menyantap makan siangnya." ucapnya sedih.


Arsenio berjalan ke arah kamar gadis itu, ketika membuka pintu kamar Daviena. Dia melihat gadis manis itu tengah menatap lurus ke depan, tatapannya tampak begitu kosong. kedua matanya terlihat sembab, sepertinya Dia banyak menangis. Arsenio berjalan mendekati Daviena, gadis itu terlihat tidak peduli dengan kedatangan orang lain di kamarnya.


"Kenapa kau tidak mau makan? apa kau kesal karena kejadian tadi pagi?" tanya Arsenio.


Daviena tidak merespon, menoleh pun tidak. "Daviena." panggilnya. tetap saja tidak ada respon apapun. Arsenio mengusap kasar wajahnya, mafia itu hanya memiliki sedikit kesabaran. "Jika kau terus bersikap seperti ini, maka aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada ibumu!" ucapnya kesal.


Mendengar hal itu, membuat gadis itu langsung menoleh ke arah mafia itu. "Kau boleh menghukumku, tapi kau tidak boleh menyentuh sedikit pun ibuku. Dia hanyalah wanita rapuh yang tidak tahu Apa-apa." ucap Daviena sedih.

__ADS_1


"Maka dari itu jangan pernah sekalipun kau menentang semua Kata-kata dan perintah ku. selain itu, sikapmu ini membuat ku merasa sedikit kesal."


"Maaf." lirih nya.


__ADS_2